Friday, July 27, 2007

Akeelah and the Bee

"You know that feeling when everything feels right? When you don't have to worry about tomorrow or yesterday, but you feel safe and you kno you're doing the best you can? There's a word for that kind of feeling. It's called love. L-O-V-E."

Kadang-kadang nggak perlu film yang super-duper bagus, masuk box office dan dipuji banyak kritikus untuk membuat kita tersentuh.
Itu yang saya alami saat menonton film ini: "Akeelah and the Bee."

"Akeelah and the Bee", jenis film anak-anak dan ABG yang dulu sering saya tonton di layar RCTI waktu tayangan RCTI baru bisa dinikmati dengan dekoder. Ceritanya sederhana, endingnya tertebak dan penokohannya agak klise, tapi saya tetap suka. Lho, jadi suka apanya dong, ya? Hehehe...

Akeelah, gadis hitam manis berusia 11 tahun yang kurang perhatian. Ayahnya sudah meninggal, ibu dan kakak perempuannya sibuk. Akeelah sangat suka mengeja. She had something with words. Dia bisa mengeja kata-kata sulit yang belum tentu bisa dilakukan oleh anak-anak lain yang lebih tua atau orang dewasa sekalipun. Dengan mengeja, dia bisa melupakan kesedihannya karena ditinggal ayah.

Singkat cerita, karena desakan kepala sekolahnya, Akeelah akhirnya ikut kompetisi mengeja. Dibimbing Dr. Larabee -mantan dosen UCLA-, Akeelah maju dari tingkat lokal sampai nasional. Segala konflik, masalah serta hal-hal menyenangkan silih berganti muncul dalam kurun waktu itu.

Saya menonton Akeelah saat Pendar sedang tidur suatu siang. Ini namanya kemewahan. Sekarang saya sulit sekali menemukan waktu untuk menonton DVD. Baru 3/4 film berjalan, Pendar tahu-tahu melek. Waduh...
Tapi ternyata putri saya memang anak baik. Saya dudukkan dia di samping saya. Saya beri 'kotak isi segala rupa' yang memang sering dia acak-acak. Dan dia duduk tenang sampai film berakhir. Terkadang ikut melihat ke televisi, tapi kemudian sibuk sendiri lagi. Sekali-kali saya peluk dia sambil ikut-ikutan Akeelah mengeja. "Ayah: A-Y-A-H. Bunda: B-U-N-D-A. Pendar: P-E-N-D-A-R! P-E-N-D-A-R! P-E-N-D-A-R!" Pendar tertawa-tawa saat namanya dieja. Oh, how i love my baby girl.

Anyway, saya suka Akeelah and the Bee. Film sederhana, seperti hidup saya, tapi semua pemerannya bermain bagus sesuai porsinya. Saya suka Javier -sobat cowok Akeelah sekaligus lawannya dalam kompetisi mengeja. Duh, itu anak kalau sudah besar pasti ganteng. Huehehehe...
Saya suka karena film ini menghibur dan juga mendidik. Dia mengingatkan saya untuk tidak takut... pada diri saya sendiri. Dia mengingatkan bahwa ketakutan terbesar kita bukan karena kita tidak mampu, tapi justru karena sebaliknya. Dan kita merendahkan diri dengan berpikir 'siapalah saya'.

Saya suka happy ending.
Dulu saya justru suka sad ending, tragic ending. Tapi seiring usia dan banyaknya kenyataan hidup yang saya lihat dan rasakan sendiri (halah), sekarang saya lebih suka happy ending. Saya suka film yang membuat saya senang :)

Saya tak akan menganjurkan orang lain (kecuali anak-anak dan ABG) menonton Akeelah and the Bee, karena belum tentu (atau besar kemungkinan) efeknya tidak akan sama. Hehehe... Tapi kalau ada kesempatan menonton lagi -apalagi ditemani Pendar yang anteng di samping saya-, I'd really looooooovee.... to.

Papa

Pendar sudah bisa menceracau beberapa patah kata. Entahlah apa dia sesungguhnya memahami arti kata itu atau tidak.
Salah satu kata favoritnya sekarang adalah 'papa'.
Semua laki-laki di rumah dipanggil 'papa' oleh Pendar.
Ayah dipanggil 'papa' (Dan kami tetap kekeuh mengajarinya "A...YAAAH....")
Angku dipanggil 'papa'.
Om Omar dipanggil 'papa'.
Om Zaki dipanggil 'papa'.

Kemarin dua orang bapak-bapak menelepon di wartel kami.
Sejak mereka datang, menelepon, lalu membayar, Pendar menataaaap... terus.
Ketika mereka keluar, Pendar tiba-tiba memanggil "Papa!"
Weleh! Huehehehehe......

***Adek Pendar..., laki-laki selain ayah dan Nicholas Saputra, jangan dipanggil 'papa' ya Nak.. ;D

Thursday, July 19, 2007

Pendar sudah 9,5 bulan sekarang. Alhamdulillah :)
Hobinya mandi, tertawa, melihat cicak, teriak-teriak, joget dan ngoprek ponsel ayah :D
Lihatlah fotonya. Itu Pendar.
Semua di wajahnya serba besar: Mata, hidung, bibir...
Seperti ayahnya (semoga kalau sudah besar, badannya nggak sebesar badan ayah ya, Nak).
Saya paling suka melihat dia tertawa. Tawanya menular.
Saya juga suka berbaring di sampingnya. Biasanya dia akan ikut berbaring, lalu berbalik menghadap saya, lalu senyam-senyum :)
Pendar itu pelipur lara, penerang jiwa, penyemangat hari.

Muah muah adek...!!!


Monday, June 04, 2007

Probably

Life will probably be so much easier when I just stay home and spend the whole time with my daughter -Pendar.

But then again, "probably" is a powerful word.

Wednesday, May 23, 2007

Another day.

Seperti biasa, tadi pagi saya bangun jam empat subuh (!). Suatu hal yang tak mungkin terjadi kalau status saya masih lajang. Memanaskan air, mandi, sholat, main sama Pendar yang tahu-tahu kebangun, ganti baju, lalu cabut ke kantor sekitar 15 menit sebelum pukul 6. Sampai di kantor, sarapan nasi uduk, naik ke lantai tiga, dandan di toilet, nonton acara gosip di TV lalu duduk manis depan komputer. Dan sekarang baru jam setengah delapan pagi.

Dua minggu kemarin GILA. Saya GILA, maksudnya. Serasa dikejar-kejar syaiton (hehehe) dan hampir lupa napas. Mata perih karena menatap komputer dari pagi sampai malam. Tapi syukur, sekarang semua sudah lewat.

Seorang teman bilang saya berubah. Lebih pendiam.
Saya agak kaget karena ternyata dia memperhatikan. Akhir-akhir ini saya memang lebih malas ngomong. Teman lain pernah berkata, "Dunia ini tempat yang ribut." Sekarang saya baru menyadari kalau dia benar. Terlalu banyak konsep, teori, keluh-kesah, teriakan-teriakan, bebunyian. Bikin capek. Dan bikin saya semakin malas untuk ikut meramaikannya.

Selain itu, saya juga tidak sesabar dulu lagi. Sedikit-sedikit, jengkel. Sedikit-sedikit, kesal. Meskipun tidak saya perlihatkan, tapi semua mengendap di hati.
Membaca buku pun begitu. Dulu saya masih sabar membaca buku yang awalnya saya anggap membosankan. Siapa tahu, semakin banyak halaman yang dibaca, semakin menarik buku itu jadinya. Tapi sekarang, begitu vonis 'membosankan' saya jatuhkan (halah), buku itu saya lempar.

Sekarang saya bingung.
Sebenarnya saya mau ngomong apa, mau nulis apa?
Hmmm..., mungkin saya cuma ingin menulis sesuatu. Apa saja. Supaya halaman blog ini bertambah. Dan supaya apa yang terpendam dalam hati bisa keluar walau sedikit. Dan supaya saya terlatih (kembali) menulis hal lain yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Supaya saya tidak jadi robot yang gerak-geriknya sudah terprogram, atau jadi tukang yang hanya bekerja sesuai pesanan.
Saya ingin menulis sesuatu yang berarti, setidaknya buat saya. Tapi bagaimana saya bisa menulis sesuatu yang berarti kalau semangat untuk menulis hal remeh-temeh pun tak ada.

Ah, itu dia! Kata itu yang dari tadi saya "cari". Semangat!
(kata 'cari' sengaja saya beri tanda kutip karena sebenarnya dari tadi saya tidak dengan sengaja mencari apa pun. Saya tahu ada yang hilang, tapi saya tidak sedang mencari. Ternyata kata itu memunculkan dirinya sendiri)

Saya sedang mengumpulkan semangat saya lagi.
Untuk menjalani remeh-temeh kehidupan dan menuangkannya di sini.
Untuk mencari-cari ide dan perlahan-lahan mewujudkannya menjadi sesuatu yang berarti.
Untuk berangkat kerja tanpa merasa ada batu besar yang diikat di kaki.
Untuk menyadari bahwa hidup bukan cuma serangkaian rutinitas yang terus berulang.

Tuesday, May 22, 2007

KERUPUK!

Lebih dari sebulan lalu, saya menerima e-mail dari sahabat lama yang (waktu itu) sedang menetap di Aceh. Di paragraf terakhir email itu, dia meminta saya berkisah tentang "kehidupan domestik" yang kini menjadi bagian dari diri aaya. Mungkin, daripada menghitung suara tokek atau mencabut kelopak bunga satu persatu, dia memilih bertanya (hei, saya mulai terdengar seperti dia). Anyway, jadi berceritalah saya.
Siapa sangka, email jawaban saya turn out to be one of my favorite e-mail that I ever wrote. Ini dia:


Subject: Re: nannoo.....nannnnoooo
From: "LARILARIKECIL"
Date: Thu, April 5, 2007 16:15
To: "JU"
Priority: Normal

> Eyi, my best pren.Coba ceritakan keindahan dari kehidupan mu.
> Secuplik embun bening dari kenyataan keseharian, kehidupan domestik.
> Ada enggan yang mengakar di bawah kesadaran rasanyah, enggan untuk menyentuh yang domestik itu.
> Tapi kalo kau ceritakan padaku keindahannyah, maulah aku juga mencicipinyah.
> Keseharian ketika lu jalani hidup berkeluargamu dengan berjibun komitmen dan tanggung jawab itu.

maaf bahasanya ya ey, kapan lagi dan sama siapa lagi bisa ngomong dengan cara sejijay ini hehehehehehehe

-Ju-



Keindahannya, Ju? The beauty is Pendar herself :)

Keindahannya adalah menemukan bahwa hal-hal paling sederhana dalam hidup ternyata membawa kebahagiaan.

Contohnya: Kerupuk. (Lho???) Hehehehehe...

Beberapa hari lalu, gue lagi ngegendong Pendar, sambil nonton TV. Di TV lagi ada acara "Sisi Lain' (kalau ngga salah) tentang proses pembuatan kerupuk.

As usual, gue mengajak dia bicara tentang apa yg gue lihat.
"Eeh.., itu tuh Dek, di TV lagi ada cara bikin "kerupuk".
Saat mengucapkan kata "kerupuk", gue menolehkan kepala dari TV ke dia.
And u know what, Ju? She laughed! She laughed at the sound of "kerupuk" (or so I thought).

Gue diam sebentar, agak ragu, lalu gue mengulang kata itu: "Kerupuk?"
N she goes "hehe.."

"Kerupuk?"
"Hehe"

Gue makin pede: "Keruuuuu...puk!"
N she goes again: "Hehe.."

Gue lanjut: "Keeeeee...rupuk!"
And my baby stil goes: "hehehe"...


Coba gue ucapkan kata ini keras-keras buat lo, Ju: KERUPUK!!!!
K-E-R-U-P-U-K!!! Do you even smile?

Senyum (apalagi ketawanya) seorang anak itu kuat banget, Ju. Indah banget. It's her weapon. Sebelum2 ini, gue juga suka sama anak kecil, tapi sama anak sendiri beda banget. Senyum anak lain indah, tapi senyum anak sendiri indaaaaaaaaah.... banget. (Trust me, lo nggak akan BENAR-BENAR MEMAHAMI apa yang gue katakan ini sebelum punya anak sendiri)

Kalau mengutip grup band tempo dulu 'Michael Learns to Rock':
"It's a picture of a thousand sunsets, it's a freedom of a thousand doves."
(BO! MLTR, BO!) :D :D :D
I'll go the distance to bring out the smile on her face.

Kalau di kantor lagi bete, lagi capek, lagi pusing, I simply remember her laughter/smile, n gue pasti langsung ikut senyum juga. Tentu aja, masalah kerjaan gue ga selesai cuma dengan tersenyum. Tapi memori tentang Pendar yang sedang ketawa adalah sanctuary gue sekarang.

Another story:
Dua hari yang lalu, malam-malam, Pendar belum tidur. I knew it's her bedtime, so gue gendong dia n I sang her a lullaby:
"Twinkle-twinkle little star, how I wonder what u are.."

After singing the song, I whispered it to her:
twinkle-twinkle-little-star
how-I-wonder-what-u-are

Dan mata Pendar mulai merem, melek, merem, melek, makin lama makin berat..
N it's just... simply beautiful. Ga tahu gimana ngejelasinnya.

.....................................

Gue nggak tahu apa dua potong cerita ini cukup "indah" sehingga bisa bikin lo mau nyicipin kehidupan domestik :D
But to tell you the truth, I'm not trying to do that. I'm not trying to lure you to enter the huge gate of "marriage, commitment, n responsibility" (aaaaawww...) :D

I believe in time, now. I believe in season.
So when your season come, embrace it with happiness, ya.

Take care, Ju

-Eyi-

Wednesday, March 21, 2007

My Lil' Princess

Foto pertama di blog ini. Foto pertama setelah sekitar 3 tahun ngeblog.

Ini dia, Pendar Ramadhani Anitya. Lima setengah bulan usianya. Alhamdulillah. Sudah pintar guling-gulingan. Beberapa hari ini suka teriak-teriak 'aaaaaaaaaa.....'. Kalau bangun subuh-subuh, pasti langsung senyum. Nggak nangis, nggak bengong, pasti senyum. Sayang Bundanya nggak punya kamera digital yang oke. Jadi foto adek Pendar sedikit :(
Nggak apa-apa ya, Nak. Kan duitnya ditabung buat beli rumah. Hehehehe...

Friday, January 05, 2007

Pendar Ramadhani Anitya

I'm back!

Akhirnya, setelah cuti melahirkan, minggu kemarin saya mulai kembali ke kantor, balik ke dunia nyata, meninggalkan bayi perempuan yang kini genap berusia tiga bulan di rumah.

Pendar Ramadhani Anitya namanya.
Saya yang memberi nama :)
Lahir di Jakarta, 4 Oktober 2006, 00:55 WIB.
Beratnya 3,285 kg, tinggi 48 cm.

I'm glad I came up with this name.
Saya suka kata itu: 'pendar', 'berpendar'. Semakna dengan 'cahaya', 'sinar', 'nur'.
Semoga kelak dia menjadi pendar dalam kehidupannya sendiri, syukur-syukur dalam kehidupan orang lain juga. Yang jelas, sebelum lahir pun dia sudah berpendar dalam hati saya, hati kami-orang tuanya.

Sayangnya, TERNYATA tidak semua orang pernah mendengar kata 'pendar'.
Seorang teman lama mengirim SMS yang isinya kira-kira: “Selamat atas kelahiran adik PENDRA”. Tadinya saya kira dia salah ketik atau bercanda, tapi ternyata dia serius. Serius salahnya :P Seminggu setelah itu, dia mengirim SMS lagi: “Eyi, gue mau ke rumah lo. Mau nengok PENDERA.” Ealah..., salah lagi. Sewaktu saya balas SMS-nya dengan “PENDAR, tauuuu....”, dia malah menjawab, “Ganti aja deh, nama anak lo. Biar gue ngga salah terus.” Huhuhu, asal-asalan...

Bukan cuma dia. Mertua saya -abah dan nek'nya Pendar- juga bingung mendengar nama itu. “Artinya apa? Nama dari mana?”


Buat saya, melahirkan Pendar mungkin the highest point of this year – or maybe of 27 years :)

Apa saja yang berubah setelah melahirkan Pendar? Well, di antaranya....:

1. Sekarang saya paham kenapa Malin Kundang dikutuk ibunya (Huehehe... kidding)
2. Saya berubah jadi ibu-ibu pekerja lainnya di kantor: Datang cepet, pulang cepet. In my case, datang jam setengah tujuh pagi, pulang jam empat atau setengah lima. Tamat sudah karier Eyi Si Perempuan Malam :D
3. Kalau jalan-jalan di mal (which I rarely do), rasanya resah dan gelisah. Keingatan Pendar yang dijaga ibu di rumah. Gulity feeling karena merasa saya seharusnya di rumah supaya Pendar bisa dapat ASI dan bukan susu formula.
4. Melihat-lihat baju di toko masih tetap menyenangkan, tapi sekarang ada suara di kepala “Nanti-nanti aja, deh.” Tapiiii.... kalau kepentok di toko perlengkapan bayi, rasanya betah berlama-lama. Segalanya terlihat lucu, semuanya bagus dan bikin mau beli :D
5. Saya lebih menghargai perempuan-perempuan yang sudah jadi ibu. Serius, sesaat setelah melahirkan Pendar, rasanya saya ingin menyalami semua perempuan istimewa itu sambil berkata “Baagoooooos... Huebaaaat...”. Khusus yang anaknya banyak, saya sembah sekalian aja-lah! :D Hihihi, hiperbolik deh..
6. Dulu, kalau melihat ibu-ibu yang bawa bayinya ke tempat umum, saya cuma membatin “Iiih.. bayinya lucu ya..” Nggak mikir macam-macam. Tapi kemarin sewaktu melihat anak bayi yang dibawa ke ITC, saya malah kasihan, “Duh... orang sebanyak ini.. Banyak virus, banyak kuman, banyak yang ngerokok, banyak yang batuk pilek... Semoga bayinya kuat.”

.................................................

Saya sudah harus mengakhiri posting ini, tapi belum ketemu kata-kata penutup yang pas (alah!). Masih banyak yang mau diceritakan, tapi nanti aja deh.

Dadah yuk bye bye
(hehehe, hi aa) ;)

Friday, September 01, 2006

Goodbye

Sudah sekitar tiga tahun ngeblog, tapi terkadang saya masih sering terkagum-kagum pada wadah maya ini.

Ajaib aja.

Ajaib, hanya dengan membaca blog seseorang -tanpa berkomen, tanpa meninggalkan pesan di shoutbox-nya, tanpa menyapa, tanpa membuat dia tahu bahwa saya ada dan sering mengunjunginya- saya sudah bisa merasa dekat pada si empunya blog.

Sok kenal? Iya, mungkin. Padahal apa yang ditulis orang itu di blog mungkin cuma sepersekian dari kehidupannya, ya?

Seperti kejadian baru-baru ini.

Sekitar minggu lalu, saya berkunjung ke blog ayah tiga anak. Setelah membaca komen-komen di postingan terbarunya, saya dapat link ke blog ibu ini: Bunda Zidan & Syifa.

Begitu melihat halaman si Bunda Zidan-Syifa, saya baru sadar kalau dulu saya sudah pernah berkunjung ke sana.

Baca baca baca, lihat-lihat fotonya, lihat-lihat resepnya, melihat tampang pemilik blognya (kok mirip banget sama adiknya suaminya adik saya ya?), lalu terjadilah hal itu: Saya merasa mengenal si Bunda.

Besok-besoknya, saya datang dan datang lagi. Saya bongkar-bongkar archive-nya, jatuh cinta pada kedua anaknya yang manis dan pintar, tertawa-tawa membaca sebuah postingan, terharu di postingan yang lain.

Saya membatin dalam hati: Mbak ini nyenengin banget ya, orangnya? Sepertinya dia menikmati every single second of her life. Tulisannya ringan, lucu, dan berkisar kehidupan sehari-harinya di Singapura: Ngurusin anak, masak, bikin kue, ngajar orang lain bikin kue, jalan-jalan, makan-makan...
Apa adanya. Nggak pernah terjebak untuk menulis sesuatu yang... (apa ya namanya?) pretensius (???).

Dan anak-anaknya... Ah... tadi saya sudah bilang kan, saya jatuh cinta pada anak-anaknya? Tempo hari, setelah membaca sebuah postingan, saya jadi nggak sabar menunggu anak saya lahir dan jadi batita. Supaya bisa mendengar dia berceloteh.

Beberapa hari belakangan, dalam perjalanan pulang kantor, saya punya bahan cerita baru untuk dibagi pada suami. Biasanya dia senyam-senyum aja mendengar saya bercerita.

Dan saya masih juga belum menampakkan diri, meskipun sudah ada niat.

Rabu kemarin (30/8), waktu membuka blognya, saya kaget karena shoutbox si Bunda penuh dengan kalimat 'semoga cepat sembuh', 'semoga cepat sadar, ingat Zidan dan Syifa', 'semoga dikuatkan'.
Dari blog kawan-kawannya, saya jadi tahu kalau dia sedang terbaring koma di rumah sakit. Padahal, posting terakhir tanggal 29/8 masih bernada ceria karena ummi-nya si Bunda sedang berkunjung ke Singapura.

Aduh, sedihnya.. Beneran, saya sedih, bukan sok sedih (ngapain juga, ya?). Ikut berdoa, ikut baca Yassin menjelang Maghrib kemarin, ikut memantau update-an di blog-blog lain.

Lalu tadi pagi, dari blog ibu ini, saya dapat kabar that she didn't make it :(

Innalillahi wa innailaihi rajiuun...

Soe Hok Gie bilang, beruntunglah orang-orang yang mati muda dan yang paling sial itu orang yang berumur panjang.

Good people die young.


Selamat jalan, Mbak Inong. Kemarin saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya “dipertemukan” dengan kamu menjelang ajalmu. What should I learn from you? Maaf, saya nggak percaya sama yang namanya 'kebetulan'. There's gotta be something bigger behind all things.

I pray for you, your family, and especially your little ones. Semoga Allah menjaga kalian semua.

Saya nggak tahu apa ucapan Soe Hok Gie soal mati muda itu benar. Yang jelas, saya tahu kalau kamu MEMANG orang yang beruntung. Saya yakin, begitu banyak yang sayang sama kamu meskipun kamu mungkin belum pernah bertemu muka dengan sebagian orang-orang itu.

Dulu saya pernah membatin, kalau tulisan saya bisa menyentuh hati SATU orang saja, betapa beruntungnya saya.

Well Mbak..., you've touched mine, and I thank you for that.


Goodbye for now.

Tuesday, August 22, 2006

Di Depan Rutan Salemba

Engkau mungkin takkan pernah tahu
(dan sampai kapan pun aku takkan memberitahumu)
Siang terik itu aku tergugu sejenak di lapangan parkir,
di seberang rutan
Memandangi tembok tinggi yang menghalangi kita
Begitu dekat, hanya terhalang tembok
Begitu jauh, karena dihalangi tembok
Aku mengira-ngira,
sudah berapa kali pikiran itu melintas di kepalamu
Untuk melompati tembok
dan berlari mendapati anak istrimu

Sailor Moon VS Orang Kaya

Sekitar tahun 1997 lalu, saya bercita-cita jadi Sailor Moon, superheroine pembela kebenaran yang selalu tampak cantik dengan rok mininya.

Sekarang, hampir 10 tahun kemudian, cita-cita saya berubah: Saya 'cuma' ingin jadi orang kaya. Iya, orang berduit, supaya bisa memperbaiki pagar rumah tanpa banyak cingcong dan tak perlu terkenang-kenang pada para TKW dari kompleks sebelah -pelanggan VIP Wartel Global di masa jayanya- yang kini tak pernah datang lagi karena sudah pada punya handphone.

Thursday, August 10, 2006

Sita oh Sita

Pas liputan tadi, ada bintang tamu: Sita RSD. Aduuuuww... cantiknya... Sejak pertama kali RSD muncul, Sita selalu jadi favorit gue. Ternyata aslinya jauh lebih cantik daripada di foto atau TV. Kulitnya putih, rambutnya panjang agak-agak bergelombang gitu, badannya tinggi, hidungnya mancung dan ada tahi lalat kecil di batang hidungnya.

Seperti testimonial Sita di acara tadi, awal tahun 2002 lalu, berat badannya masih 89 kg. Sekarang? Cukup 62 kg aja. Sembilan bulan pertama, dia berhasil turun sampe 22 kg! Hu hu hu, hebat amat...

Selama 7.5 bulan hamil, kayaknya gue nggak pernah ngebatin pengen anak gue nanti kayak siapa. Tapi tadi, di acara itu, tiba-tiba aja gue ngomong dalam hati: “Aduuh..., kalau anak gue cewek, semoga cantik kayak Sita RSD gitu yaa...” ;)
(Eh, tapi ntar orang2 malah bingung kali ya? Masa' muka ibu bapaknya semblep-semblep, tapi anaknya kinclong geneh??? Hehehehe... Amiiin...)

Terus, tadi juga pertama kalinya dalam hidup, gue punya niat untuk foto berdua artis!
Bwahahahha... Norak amat ya. Tapi beneran, sebelum2nya, siapa pun lewat depan gue sih bodo' amat (kecuali Udjo Project Pop. Waktu dulu dia mampir ke kantor gue, gue panas dingin :D Tapi sama Udjo sih lebih pengen kenalan, bukan pengen foto bareng).
Eh, tapi tadi foto bareng Sitanya ngga kesampean ding, soalnya dia keburu dibajak kru infotainment :P

Thursday, August 03, 2006

God's Opinion

"A baby is God's opinion that the world should go on."

(Carl Sandburg)


A really nice explanation, Carl :)
Thank you.
Now i know what to say to my (future) children when they ask me 'the difficult question.'

Tuesday, July 18, 2006

Missing You

For the truth, I know takes longer.
I've the cunning of the tigger and the wisdom of the trees.
I won't be sad,refuse the sorrow.
I look forward tomorrow.
I'll release my anger,
'cause I'm proud to be a dread.

I'm kissing you.

Pride can stand a thousand trials
The strong will never fall
But watching stars without you,
My soul cried. Heaving heart is full of pain,
Oh, oh, the aching.

'Cause I'm kissing you, oh.
I'm kissing, oh.

Sebelum nikah, bahkan sebelum pacaran, masih PDKT, suami saya (yang saat itu masih 'calon') pernah bertanya sesuatu. Waktu itu kami sedang duduk di Bakoel Koffie Cikini (oh, I miss the place..), menikmati sore, ngobrol-ngobrol, membaca majalah gratisan. Dia memperlihatkan pada saya cara jitu bermain MasterMaze, saya bilang caranya curang.
Lalu pertanyaan itu terlontar,
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?" :D

Hehehe, kalau diingat-ingat lagi, kalimatnya gombal juga. Dan saat mengetik postingan ini saya baru kepikiran: mungkin saya bukan orang pertama yang dia tanyai seperti itu.
Anyway, waktu itu saya cuma menjawab lempeng, "Nggak pernah. Kalau kangen ya berarti karena orang itu jauh."
Dia mengangguk-angguk.

Lucunya, sekarang setelah kami nikah, saya jadi sering kangen sama dia, meskipun kami berada di ruangan yang sama, meskipun sedang berbaring samping-sampingan.
Terutama belakangan ini.

Sudah dua minggu ini kami pindah. Dari 'tempat itu' ke rumah orang tua saya. Finally, I got my freedom back, walaupun tidak 100% karena sekarang pun judulnya masih nebeng.

Berarti sudah dua minggu ini juga kami beradaptasi, khususnya dia. Selain beradaptasi dengan tempat tinggal baru (plus penghuninya yang kadang-kadang ajaib), dia juga sedang beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Kami juga harus beradaptasi dengan pengaturan waktu baru. Jam empat subuh bangun, pukul setengah enam pagi sudah harus berangkat ke kantor :( . Padahal, waktu masih tinggal di 'tempat itu' (yang notabene dekat dengan kantor), kami baru mandi pukul tujuh dan berangkat ke kantor sekitar setengah sembilan.
But well, everything has its own price, and I'm not complaining about this actually (at least, not yet, hehehe)

Bagi saya, yang lebih sulit dari beradaptasi pada kondisi-kondisi baru ini, adalah melihat suami saya beradaptasi. Kalau saya terbiasa melewati proses adaptasi dengan diam dan tahu-tahu mewek, dia beradaptasi dengan manyun dan ngomel- ngomel :P
Selain itu, sekarang setelah lebih dari setahun menikah, segala masalah rumah tangga yang 'klise tapi nyata' itu mulai (lebih sering) bermunculan: beda pengaturan uang, beda pendapat (dia merasa benar, saya merasa nggak salah, hehehe),beda kebiasaan, beda prioritas, beda kebutuhan, dan beda-beda lain yang membuat kami lebih sering perang tarik urat saraf.

Situasinya mungkin lebih sulit karena sekarang saya juga sedang mengandung; lebih cepat capek, lebih sensitif, lebih ingin dimaklumi.

Sejak pertama kali tahu saya hamil sampai sekarang (jalan tujuh bulan), entah sudah berapa puluh kali saya mendengar ucapan ini: "Orang hamil itu jangan stres... Jangan sedih... Jangan mikir yang berat-berat... Santai aja..."

TAPI BAGAIMANA MYUNGKIIIN WEICEEEEEEEE......????

Iya, bagaimana mungkin tidak stres kalau badan ini ogah diajak kerja sama.
Duduk agak lama = pinggang pegel, kadang-kadang punggung juga.
Berdiri agak lama = perut mengeras, memberat.
Berbaring = nyeri-nyeri di pinggang dan panggul.
Bangun setelah berbaring = tidak bisa berputar ke kanan karena sakit, tidak bisa mutar kiri karena sakit, tidak bisa langsung bangun ke depan karena sakit juga (ini yang paling menyiksa!)
Jalan biasa = berrraaat dan lambaaaattt...
Lari = apalagi dong ah!

Jadi ketika perubahan fisik, persoalan adaptasi dan masalah 'klise tapi nyata' ini harus dihadapi bersamaan, duh makan ati, makan ati! (Harusnya saat ini ada yang ngasih saya teh botol, ya. 'Kan udah makan ati...' Halah! :P )

Above all these, as I said before, I miss my hubby.

Dalam perjalanan pulang, di mobil, setelah menjemput saya dari kantor, dia kadang-kadang sudah tidak punya tenaga untuk mengobrol.

Sesampainya di rumah, setelah makan, bersih-bersih, dan shalat, dia langsung tidur. Kadang-kadang, ritualnya dibalik. Tidur dulu sampai jam 10, baru bangun dan melakukan sisanya.
Terkadang, kalau masih tersisa sedikit tenaga, dia lebih memilih main game komputer, refreshing katanya.

Saya maklum. Serius.
Selama dia nggak ngomel-ngomel (karena satu dan lain hal), I can still take it.

Tapi kemarin, waktu mendengar lagu Kissing You-nya Desree, saya tiba-tiba teringat pertanyaan yang dia ajukan dulu, ketika kami bahkan belum pacaran:
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?"

..........

Iya, pernah. Sekarang.

Miss you, baby bala bala..

Tuesday, June 20, 2006

Perasaan Paling Sepi

Menurut saya -setidaknya sampai saat ini- perasaan paling sepi di dunia adalah ketika kamu pulang ke rumah, lalu mendapati lampu kamar tidur telah dipadamkan dan suamimu sudah terlelap tanpa menunggumu karena kamu pulang terlambat.

Thursday, June 15, 2006

The Name: Cut Gianna Naifa Dharmawan

Bulan ini istimewa.
Kemarin, Kamis 14 Juni 2006, menjelang adzan Maghrib, keponakan saya lahir lewat proses operasi :)
Namanya seperti di atas itu. Cut Gianna Naifa Dharmawan.
Panggilannya pasti Gigi. Sejak sebelum menikah, adik saya dan suaminya sudah sepakat untuk memberi nama Gigi kalau kelak mereka punya anak perempuan. Dan kemarin mereka dapat anak perempuan. Thank U, Allah :)

Beratnya 2,4 kg. Tingginya (kalau nggak salah) 45 cm.
Mendengar beratnya ‘cuma’ segitu, saya kaget juga. Pasalnya, selama hamil, bobot adik saya naik sampai 22 kg! Ouch!
Bayinya putih. Tapi menurut cerita orang-orang, bayi masih bisa berubah-ubah.
Saya sendiri belum lihat langsung. Baru lihat di layar kamera digital.
Ajaib ya, adik saya kok bisa punya anak.
Padahal dia sendiri kan juga masih kanak-kanak... :D

Semalam waktu menengok dia di rumah sakit, saya takjub melihat adik saya yang bengep-bengep. Kayak petinju yang sudah bertarung sengit 10 ronde tapi akhirnya KO juga. Hehehe...
Saya baru sadar, ini pertama kalinya saya menjenguk orang yang benar-benar baru bersalin. Selama ini, saya hanya pernah melihat ibu-ibu setelah beberapa hari melahirkan. Saat saya datang, adik saya sudah mulai merasa perih-perih di perut. Efek biusnya sudah mulai menghilang, rupanya.

Saya jadi ingat salah satu adegan dalam film komedi situasi Suddenly Susan. Waktu itu Susan yang baru patah hati bertanya pada Nana, neneknya:
“Kenapa sih, kita harus bertemu pria-pria yang ‘salah’ dulu? Kenapa kita nggak langsung menemukan ‘the one’ saja?”
Si Nana menjawab:
“Maybe it’s the same as delivering a baby. You have to go through all the pain before finding out how full of magic he is.”

Welcome to the world, Baby Gigi!
Tante Eyi is here for you :)


PS: Kandungan saya sendiri sudah lima bulan lewat. Mual-mual sudah lama berlalu. Aah... senangnyaaa... Tapi sekarang sakit pinggang, sakit pinggul, sakit punggung menyerang. Halah...
Insya Allah, due-nya Oktober. Mohon doa restu ya teman-temaaaaan.... :D

Gara-gara Bola?

Tadi malam, saya naik taksi tarif baru dari Kuningan ke arah Pondok Kopi.
Supirnya ngantuk!!!
Mula-mula saya nggak sadar. Tapi lama-kelamaan saya merasa laju mobilnya makin lama makin tidak enak. Sewaktu saya intip di kaca spion, halah, mata supir tinggal segaris!!!
Waktu mobil berhenti sejenak karena lampu merah, dia malah merem sa’merem-meremnya! Waktu jalan di depan agak lengang, dia justru jalan pelaaaan.... sekali.

Pagi ini, saya naik taksi lagi. Kali ini tarif lama. Dari sekitar Kampung Melayu ke Kuningan.
Suami saya turun duluan. Saya masih melaju dengan taksi itu menuju kantor.
Tak lama setelah suami saya turun, si supir tiba-tiba berteriak kuenceeeng... “YA ALLAAAAH.....!!!!!!!!!!!”

Huek! Sumpah, saya kaget! Kenapa nih orang? Sutris gara-gara macet? Ah, macetnya juga nggak seberapa...

Tapi ternyata yang kaget bukan cuma saya. Begitu melihat muka saya dari kaca spion, si supir juga langsung kaget.
“Eh, ibu, maaf Bu...” (Wah, salah dua kali nih orang! Udah bikin kaget, sekarang manggil gue ‘ibu’ pula. Kagak tahu gue paling nggak doyan dipanggil ‘ibu’..)
“Kenapa, Pak?”
“Nggak... Saya ngantuk...” (Halah!)
“Waduh, jangan ngantuk dong, Pak! Kan lagi nyupir...”
“Iya Bu. Saya kira udah nggak ada sewa... Soalnya tadi kan bapak udah turun.. Kalau lagi ngantuk dan nggak ada sewa, saya biasa tereak gitu. Saya jadi malu... (Salah tiga kali! Body segede gini, masa ngga kelihatan dari kaca spion???? Padahal, saya kan duduk tepat di belakang dia...)
“Begadang ya, Pak? Nonton bola ya?!”
“Nggak kok, Bu. Saya tidur jam sembilan. Tapi kenapa masih ngantuk ya? (Ah, masa sih? Masa sih? Masa sih???)

Menjelang siang, ketika sudah di kantor, saya mendengar kabar kalau salah satu supir kantor saya kecelakaan. Motornya ringsek pagi tadi. Alhamdulillah dia nggak apa-apa karena sudah keburu loncat.
Tanpa bertanya duduk perkaranya, saya langsung menuduh: “Pasti gara-gara ngantuk! Nonton bola ya, dia?!?!”


Hehehe, si Eyi suuzon aja, ya? Berburuk sangka sama event Piala Dunia. Padahal bisa saja mereka ngantuk karena alasan-asalan lain.
Ah, nggak kok... Saya seneng juga ada Piala Dunia. Soalnya, beberapa hari ini, jalanan selalu lengang ketika saya pulang sekitar jam tujuh malam. Sekalian aja tanding bolanya setahun penuh, biar jalanan tetap lancar...

Tuesday, May 23, 2006

Iseng

Minggu siang kemarin, hubby ngantuk.
He’s a morning person, tapi kalau menjelang siang biasanya tergoda untuk tidur lagi –terutama kalau di rumah.
Melihat dia nyaris ketiduran, saya langsung nggak rela. Soalnya, saya nggak ngantuk. Nanti kalau dia tidur, saya ngapain dong? Nonton TV, nggak ada acara bagus. Baca buku, lagi nggak mood.
Akhirnya, saya mencoba segala cara supaya dia nggak ketiduran.

Pertama, saya mendesak supaya dia bergeser. “Aa, awas dooong... Aku mau tidur di sini. Ini kan tempat tidur akyuuuu....” (ketika kami menggunakan kata ganti ‘aku’, berarti bisa dipastikan kami tidak dalam serius mode on)
Hubby bergeser malas-malasan, lalu membalikkan badan.
“Ih, punggungnya jerawatan! Nih, ada yang udah putih! Pencetin ya!”
“Hmmm..”
Saya lalu memencet asal-asalan, pokoknya asal dia nggak ketiduran.
“Aduh!”
“Nih, hampir pecah nih!” (Padahal nggak)
“Aduh!”
.......
“Aduh!”

Dia lalu menjauh dari saya, ke ujung tempat tidur sebelah sana.
“A, kenapa engkau berpaling dari akuuuu...????”

Diam sebentar, lalu saya mulai bernyanyi-nyanyi sendiri.
“Aku sediiiih.....
Duduk sendiriiii.....
Mama pergiiiiii.....
Papa pergiiiiii.....”
(Salah satu lagu dari masa kecil yang nggak pernah saya lupa. Penyanyinya Yoan Tanamal)

Ajaib, hubby langsung mendekat lagi, walaupun matanya masih merem. Mungkin kesian kalau istrinya beneran sedih ;)
“Diam doong... Ngantuk nih!”
“Ooo.. ngantuk, ya? Mau tidur ya? Mau dinyanyiin lagu pengantar tidur nggak?”
“Ssstt.. Diem!” Hubby berbalik badan lagi, memunggungi saya.

“Ya? Ya? Dinyanyiin, ya? Dinyanyiin, ya?”
.............

(Hmmm... nyanyi apa yang annoying, yaaa...?)
Diam sejenak, lalu saya tancap suara:
“Akang haajiiiiiii..... Sindang palit!” (lagu Sunda yang baru saya dengar beberapa hari lalu. Ngga tahu bener atau salah)
“Hehehe...” (eh, ketawa juga dia!)
“Palitna keee.....”
(Berhenti. Saya lupa lanjutan liriknya)
“Palitna ke mana, A’? Ke sungai Ci... apa?”
........... (nggak ngejawab)
“Palitna keee... sungai Ci.. Ci.. Cikokol...” (asal bangget!)


Hehehe...
Ternyata dia beneran ngantuk. Saya pun nyerah. Setelah terbengong-bengong sebentar, saya bangkit, lalu mandi. Sudah hampir azan dzuhur.

Friday, May 19, 2006

A Nice Quote

Life may not be the party we hoped for.
But while we here, we should dance.

Hey, hey, lucu banget kutipannya.
Bikin semangat.

YAK! BERSEMANGAT! :D

Thursday, May 18, 2006

Depresi?

Dari sebuah majalah luar, Okt 2000:

Signs of Low-Grade Depression

1. You feel sad, dissatisfied or pessimistic most of the time, altough you still have days when you feel normal.

2. Your appetite changes.

3. You're tired most of the time.

4. You have insomnia or you're sleeping too much.

5. You're harder on yourself than you should be.

6. You're not working at your peak, and you're having trouble concentrating.

7. Simple decisions somehow take forever.

8. You feel that every day is more or less a struggle.

If you have 2 symptoms-especially the first one-see your doctor for a checkup, and if you're physically healthy, ask for a referral to a mental-health professional.

Dua dari delapan gejala, katanya.
Dan barusan saya mencontreng empat dalam hati
.

Wednesday, April 26, 2006

An Imaginary Conversation with My Little One

Kemarin pagi, di kamar mandi

+ Bunda kok nangis? Sedih, ya?
- Nggak, De. Bunda nggak sedih. Bunda cuma kesel.
+ Kalo kesel kok nangis? Kalo nangis kan berarti sedih...
- ..... Iya, mungkin sedih sedikit.
+ Kenapa, Bunda? Gara-gara 'orang itu' ya?
- Iya, De. Dia-dia lagi, lagi-lagi dia.
+ Bunda jangan kesel, jangan sedih. Kalau Bunda sedih, dede jadi ikutan sedih.
- Aduuh..., maaf ya, Nak. Masa belum lahir aja kamu udah sedih juga. Nanti kalau udah lahir, semoga kamu ngga cengeng kayak Bunda, ya.
+ Makanya Bunda udahan dong nangisnya..
- Bunda udah nggak nangis lagi, kok.
+ ......
- De, cepet gede ya, Nak. Tumbuh yang sehat dan kuat. Nanti kalau Dede udah tujuh bulan di perut Bunda, ayah mau bawa kita pindah dari sini.
+ Kok mesti nunggu sampai tujuh bulan, Bun? Kenapa nggak besok aja?
- Soalnya perjanjian ayah sama bunda memang gitu, De.
+ Pindahnya ke mana sih, Bunda?
- Belum tahu sih, De...
+ Kok belum tahu?
- Bunda sama ayah mau cari-cari dulu. Pengennya, tinggal di tempat yang cuma ada kita bertiga aja: ayah, bunda, dede.
+ Asyiiik...
- Dede seneng?
+ Seneng, Bun!
- Bunda juga. Tos dulu, dong De..
+ Tossss!!!

(Saya menepuk lembut perut yang membuncit, lalu keluar dari kamar mandi)

End of Conversation
===================

Tuesday, April 04, 2006

Ke-27

Happy birthday dear me :)

Friday, March 10, 2006

....................

Oooooooooh... rindu

Rindu aku akan ketegaran jiwa...

Friday, January 20, 2006

:(

Kenapa ya? Makhluk yang namanya cowok biasanya males disuruh ke dokter? Kalau nggak pakai tarik-tarikan urat leher dulu pasti nggak sah. :(

Wednesday, January 18, 2006

Unwell

All day staring at the ceiling
Making friends with shadows on my wall
All night hearing voices telling me
That I should get some sleep
Because tomorrow might be good for something

Hold on
Feeling like I'm heading for a breakdown
And I don't know why

But I'm not crazy, I'm just a little unwell
I know right now you can't tell
But stay awhile and maybe then you'll see
A different side of me
I'm not crazy, I'm just a little impaired
I know right now you don't care
But soon enough you're gonna think of me
And how I used to be...me

I'm talking to myself in public
Dodging glances on the train
And I know, I know they've all been talking bout me
I can hear them whisper
And it makes me think there must be something wrong with me
Out of all the hours thinking
Somehow I've lost my mind

But I'm not crazy, I'm just a little unwell
I know right now you can't tell
But stay awhile and maybe then you'll see
A different side of me
I'm not crazy, I'm just a little impaired
I know right now you don't care
But soon enough you're gonna think of me
And how I used to be

I've been talking in my sleep
Pretty soon they'll come to get me
Yeah, they're taking me away


...............................................

Ini soundtrack saya tahun lalu.
I wasn't well.
Entah kenapa.
Hope things will get better this year.
I believe things will get better this year.

Demam ‘Narutooooo!!!!’

Suami saya sedang tergila-gila Naruto – kartun Jepang yang katanya pernah ditayangkan di Trans TV, tapi nggak sampai tamat.
Mulanya sih saya senang saja, ikutan nonton dan ngikutin seri demi seri. Tapi nggak berapa lama, saya mulai bosan. Ceritanya sebenarnya lumayan menarik, tapi kagak nahan banget dah (!) kalau si jagoan udah berhadap-hadapan dengan musuhnya. Bukannya langsung mulai duel, mereka ngobrol dululah, flash back dululah, menganalisa kekuatan masing-masing dululah, tatap-tatapan dululah... HALAH! KESUEN, MAS!!!

Tapi suami saya mah teteeuup.... Pagi, siang, sore, malam, kapanpun ada kesempatan, pasti NARUTOOOO!!!
Tadinya saya pikir, “Paling nggak lama. Emang seberapa panjang sih, ceritanya?” Tapi ternyata oh ternyata...
Satu keping CD itu ada 25 episode, padahal total kepingannya ada TUJUH (!), kalau nggak salah. Sampai sekarang, kepingan di rumah kami baru ada tiga atau empat gitu. Berarti sisanya masih... BANYAK! Omigod..

:D :D :D

Cewek Matre Cewek Matre...

Sebelum nikah, saya punya rekening di dua bank: Bank BCA dan Bank Mandiri.

Sekarang, setelah nikah, tambah satu bank lagi: Bank Rommy. Huhehehe..

Ternyata enak juga. Kalau kurang dana, tinggal bilang, “Bagi duit dooong...” Ke mana-mana dibayarin, ongkos dibayarin, makan dibayarin, pulsa abis tinggal minta diisiin, dompet tipis minta ditambahin.

Tentu saja, nggak ada satu hal pun di dunia ini yang BENER-BENER ENAK TANPA ADA TAPINYA. Karena gaji dia sudah habis untuk ini itu, gaji saya nggak boleh terlalu banyak diutak-atik. Harus ditabung, buat beli rumah. Amin amin amin... Tapi akibatnya, gerak-gerik saya jadi terbatas. Mau beli ini itu rada susah. Beli ini nggak boleh, beli itu apalagi. Hehehe...


PS: Ini postingan pertama di tahun baru. Nggak penting buat di-posting dan dibaca sama semua orang, sebenarnya. Tapi untuk membangkitkan semangat ngeblog yang benar-benar mengendur di tahun lalu, saya bertekad untuk lebih sering menulis (lagi) di sini. Apa pun isinya, bagaimanapun cara penulisannya. Segala yang terlintas di kepala saya (coba) tulis saja. Mohon doa restu, semoga saya tak terjebak dalam kemalasan dan kejenuhan berkepanjangan lagi ;)

Tuesday, November 29, 2005

A Three Seconds Perfection...

............

is when you wake up early in the morning
when it’s still chill and dark and the rest of your world is still sleeping,
realizing that you are laying on your own bed,
in your own room,
with your husband beside you,
and your own family in the other rooms,
knowing that today is Sunday,
and you can do anything you want,
and you dont have to go to the fucking office,
and doing the fucking job.

PERFECT


(mengenang satu hari sempurna, Minggu 27 November 2005)

Tuesday, November 22, 2005

Doain Ya....

Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya


Ada sesuatu yang sedang saya inginkan. Usaha sudah dilakukan, mungkin belum optimal, apalagi maksimal (emang ada bedanya?), tapi setidaknya itu yang bisa dilakukan dalam waktu cukup singkat.

Katanya, keputusannya besok. Jadi sekarang saya sedang H2C alias 'harap harap cemas' ;)
Deg-degan sih nggak, tapi tetap berharap. Ahai! :D

May the best happen-lah! Amiiin...
Hehehe...

The End of the Holiday

HOLIDAY IS OVER

OVER IS HOLIDAY

IS HOLIDAY OVER

OVER HOLIDAY IS

:(


Bye-bye Holiday! I'll see you soon..

Thursday, October 13, 2005

Asing

Pagi ini, seperti biasa, saya turun dari mikrolet setelah melewati underpass (abaikan fakta ini. Ini tidak penting). Setelah itu, saya melangkah menuju tempat pemberhentian kopaja.
Tep tep tep tep tep tep tep tep tep tep....
Hep, sampai.
Berdiri saya di sana.
Menunggu sejenak.
.....................

Lalu tep tep tep tep, Hep, datanglah wanita ini. Orang kantoran, dengan kemeja hitam garis-garis dan celana hitam pula.

Saya melihatnya sekilas, lalu.......... TENG....... Sial, saya merasakannya lagi!!!
Perasaan itu lagi! Saya pikir dia sudah lama hilang.

Perasaan apa?

Perasaan asing.

Dulu saya kerap merasakannya. Rasa yang sulit saya terangkan sebenarnya. Rasa asing, saya menyebutnya. Sebentuk rasa tak nyaman, kosong dalam dada, aneh, menggelikan, membuat saya berpikir ‘hey i don’t belong in this place’, lalu ingin kabur dan meringkuk sendirian di pojok ruangan entah di mana.

Sebelum naik kopaja yang datang kemudian, saya bertemu seorang teman kantor. Kami ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan dan perasaan itu masih terus ada. Saya bicara dengannya, tapi saya benar-benar merasa berjarak, merasa saya tidak seharusnya berada di sana, tidak seharusnya mengobrol dengan dia.

Wednesday, October 12, 2005

Here's to You :)

One of the things I love most about my husband is: He’s not afraid to love me... OUTLOUD.
He’s not afraid to show anyone, anywhere, anytime, that he loves me. Ahai!

Hehehe, iya, benar.
Dia bisa begitu santainya memanggil saya ‘sayang’ di depan siapapun: Orang tua saya, orang tua dia, eyang saya, nenek dia, saudara-saudara saya, saudara-saudara dia, teman-teman saya, kawan-kawan dia, pelayan restoran, supir taksi, siMbok, orang-orang tak dikenal... Well, you got my point.

Dia juga nggak canggung mencium (kening) saya di pinggir jalan, memandangi saya (yang duduk di jok belakang mobil) dari kaca spion sambil senyum-senyum (padahal selain kami berdua, ada orang tua dan eyang saya di mobil itu), mengirim cake ke kantor dengan tulisan besar-besar di atasnya: ‘Selamat Ulang Tahun Eyi Sayang’, atau... ber-Mmmmmmmuah di telepon untuk menyudahi pembicaraan dan membuat teman-teman kantor di sekitarnya bersuit-suiiit.. atau berteriak “Dicium tuh telepon!” ;D

Hehehe, penting ya?
PENTING!
Apalagi buat saya, yang selama ini mengira kalau laki-laki tidak bisa mencintai dengan cara itu. Saya, yang sering malu dan canggung untuk banyak hal.

Tentu saja, SEBAGIAN BESAR contoh di atas terjadi sebelum kami menikah.
Waktu itu, saya sampai punya motto: ‘Everyday is a valentine’s day.’
Sekarang, setelah hampir setengah tahun menikah, tentu saja mottonya berubah:
NOT everyday is a valentine’s day ;p Makin lama, kegiatan menye-menye begitu makin berkurang. Yang bertambah malah frekuensi berantemnya. Huehehehe...

“Iyalah..., masa mau honeymoon terus?” kata semua orang.

“Mauuu!” kata saya. Saya sih mau. Masa ada yang ngga mau sih? :D

Anyway, kadang-kadang kangen juga sama hal menye-menye gitu.


Baru ingat.
Awal September lalu, pagi-pagi, saya sedang mandi. Dia nonton TV di ruang depan. Tak berapa lama, ponsel saya bunyi, ada SMS masuk.

Sehabis mandi, saya masuk kamar dan langsung meraih ponsel.
Lho?
It was my husband. Dia mengirim SMS dari ruang depan.

Pesannya?
I love you more each day, Ade sayang.

Huhuhu...

..............................................................

HAPPY BIRTHDAY, HUNY...
Wish you all the best. Like they all say, you're only 29 once. This is the end of your 20s, so live your best life :)
Here's to YOU.
See..., i'm loving you outloud now ;)


Oh btw, sampai nanti malam.
Makan makan makan makan makan makan makan makan....

Tenaaang..., tante yang bayar.. :D

Wednesday, September 14, 2005

Kangen (lagi)

Saya kangen rasa itu. Kangen duduk di depan PC dan mengklak-klik mouse, loncat dari satu blog ke blog lain, feeling warm inside, meninggalkan pesan dan komen di sana-sini, senang karena (merasa) kenal banyak orang baru tanpa proses adaptasi (saya selalu sulit beradaptasi), kagum saat menemukan blog dengan cerita menarik atau mungkin cerita sederhana tapi dituturkan secara menarik.

Saya kangen mengurai kata-kata tidak penting di dalam kepala, mengetik sampai kantor hampir kosong dan ditanya redpel majalah tetangga, “Eyi, kehidupannya cuma di depan komputer itu ya?” Kangen pada kesediaan tangan untuk menuruti kemauan otak dan hati ketika ada ide atau pikiran melintas, kangen mengklik ‘publish post’ di blogger.com.


Kok sekarang nggak seperti dulu, ya?

Wednesday, September 07, 2005

SYUKURIN!!!!

HUAHAHAHAHHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA......
SYUKURIN!!!! SYUKURIN!!!! RASAKAN ITU,WAHAI KALIAN ORANG-ORANG SOMBONG BERSUARA KERAS YANG NGGAK PUNYA MANNER!!!! YA BAPAKNYA, YA IBUNYA, YA TANTENYA, YA ANAKNYA, YA PONAKANNYA, YA TEMANNYA, YA KERABATNYA, YA KRONI-KRONINYA!!!! SYUKURIN...!!! RASAKAN ITU, WAHAI KALIAN ORANG-ORANG TAK BERHATI YANG HANYA INGIN SUARANYA DIDENGAR DAN TIDAK MAU MENDENGAR SUARA ORANG LAIN!!!! RASAKAN ITU, WAHAI KALIAN YANG KETIKA MURKA MAKA SEDAPAT MUNGKIN SELURUH DUNIA HARUS MENGETAHUINYA!!!! HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...... MALU! MALU! MALU! NANGIS! NANGIS!!

Wednesday, August 10, 2005

Lama Nggak Nge-blog

Kangen ngeblog deh..
Udah lama banget rasanya sejak tulisan terakhir. Bukannya nggak ada cerita, tapi lagi bosen banget aja kayaknya. Kemarin-kemarin itu, jangankan posting di blog sendiri, ngelongok postingan orang lain aja nggak sesering dulu lagi.
Saya juga bosen sama layout blog ini. Pengen ganti layout lain, pengen masuk-masukin foto juga biar ga plain banget kayak gini, tapi... (apa lagi?) mualesssss...

Beberapa minggu ini lagi banyak kerjaan. Ah, nggak banyak-banyak banget sih, cuma rasanya lagi lebih ribet aja dari edisi kemarin. Akhir Minggu ini Insya Allah mau liputan ke luar kota dan masih ada utang satu artikel. Dan bukannya ngerjain itu artikel, saya malah sibuk berkeluh kesah di sini.

Hmmm..., ada cerita apa ya???
Seharusnya sih banyak. Tanggal 17 besok, saya berarti sudah menikah selama empat bulan :) So many stories, so little time so much to do. Banyak enaknya, banyak kesel- keselannya juga. Hehehe..

Hari Minggu tanggal 7 Agustus kemarin, adik perempuan saya yang nikah. IYA, KAWINNYA DALAM TAHUN YANG SAMA. SO WHAT GITU LHOOOOOOH?!?! Ada suara-suara sumbang yang bilang seharusnya nggak boleh, tapi aduuh.. gimana ya, Bismillah aja deh. Lagian adik saya itu udah pacaran hampir enam tahun sama (mantan) cowoknya itu, jadi daripada ditunda- tunda, ya udah dikawinin aja. Udah sama-sama lulus, sama- sama kerja, sama-sama mau, sama-sama siap lahir batin, jadi kenapa kita mesti menghalang-halangi kalau niat mereka baik? Cerita acara kawinannya sendiri lumayan seru. Nanti-nanti aja diceritain.

Udah ya, mau ngetik artikel lagi nih. Doain semoga selesai. Amin...

Friday, June 17, 2005

What is Blue?

Blue is the sea
Blue is the sky
Blue is the happy tears running down a mother's cheek
Blue is beautiful
Blue is the thought rambling on your mind
Blue is hope
Blue is the boyband playing on TV
Blue is a pond hidden deep in the forest

Blue...
is the way I feel right now
:'<

Si Mulut Besi

Akulah Si Mulut Besi
Aku kejam lagi keji
Bila aku pasang aksi
Semua orang pasti ngeri

Hai kamu Si Mulut Besi!
Pergi kamu dari sini!
Jangan tertawa hahahihi!
Nanti kami tambah benci!

Akulah Si Mulut Besi
Sadis jahat tak berhati
Jika aku unjuk gigi
Pontang-panting kalian lari

Hai kamu Si Mulut Besi!
Sudah buruk lagi tuli!
Enyah kamu dari sini!
Biar kami sepi sendiri

Tuesday, June 07, 2005

A New Motto (Ayo, Eyiii....!!!!)



BERANI KARENA BENAR!!!!






(dan jangan pernah takut walaupun salah ;> )

Thursday, June 02, 2005

About Letting Go

"Beruntunglah kita bila pernah memiliki seseorang yang begitu berharga sampai membuat kita sulit mengucapkan selamat tinggal."

Ternyata benar. Semua yang kita berikan pada orang lain:Ucapan, perbuatan, hadiah, sekecil apapun, sengaja atau tidak, asal diberikan dengan ikhlas, ternyata bisa jadi sesuatu buat orang itu.

***Makasih Dee, buat ngingetin gue :)

Friday, April 29, 2005

5W1H

What?
Saya menikah.

When?
Minggu, 17 April 2005 kemarin.

Akadnya pukul 9.00. Molor SATU SETENGAH JAM dari rencana awal. Don't blame me. Perias yang seharusnya datang pukul lima subuh itu baru kelihatan bulat kondenya (bukan batang hidungnya) pukul setengah tujuh pagi! Begitu dia muncul dengan dandanan rapi, saya langsung membatin: Ohh.. nih orang telat karena kelamaan dandan sendiri kali ya?
On the other side, saya sebenarnya girang karena dia terlambat. Bukan apa-apa, saya butuh waktu sekitar setengah jam sampai empat puluh lima menit kemarin untuk memasang lensa kontak. Iya, saya tahu, orang lain mungkin cuma perlu dua detik. Mau apa lagi? I'm a chicken shit. Menempelkan benda asing itu ke bola mata saya? Ewwwww....

Resepsinya pukul setengah dua belas, molor setengah jam dari rencana semula. Seorang teman yang "sangat mengenal" saya bertanya selesai acara, "Lo tuh kawin aja ga bisa ga telat, ya?" Hehe, saya emang rajanya ngaret.

Where?
Graha Kencana BKKBN, Halim, Jakarta Timur.

Why?
Well, why not?
Sebelum ini, saya tak pernah berpikir soal pernikahan. Uh uh, never. Saya tak punya impian tentang pernikahan ideal ala saya. Ada teman ingin pernikahan sederhana yang anggun, ada lagi yang ingin pesta malam hari di Kafe Dedaunan, diterangi obor, ada yang ingin pesta taman. Tapi saya tak punya gambaran apapun.
Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya pada saya, "Kenapa lo memutuskan untuk nikah sama dia?" Saya jadi mikir, kenapa ya..?? Saya lupa. Iya, saya lupa apa yang ada di pikiran saya ketika pertama kali menjawab "iya". Mungkin saya menjawab "iya" karena saya justru tak berpikir macam-macam. Padahal waktu itu kami baru-baru saja pacaran. Baru berapa lamanya, saya lupa. Dia juga lupa. Dia lupa kapan dan di mana persisnya mengajak saya menikah.
Yang saya ingat: rasa yang nyaman, hati yang tenang. Bukan kembang api meletup-letup dalam dada, tapi terang lilin yang hangat dan membawa tentram.

Who?
Namanya Rommy . Saya mengenalnya pertama kali lewat blognya (jangan salah orang, dia tidak pakai nama aslinya di blog ;> ) Kami bertemu waktu acara jalan-jalan dengan blogger lainnya, Februari 2004 kemarin. Dia nyaris tidak ikut karena ada penugasan liputan. Di detik-detik terakhir, dia dapat kabar kalau penugasannya diundur. Dan jadilah kami bertemu. Mungkin sudah jalannya begitu.
Thanks to pencipta blogger, whoever u are man :)
Makasih juga buat Jabrik, Okke, dan Atta: Tiga orang pertama yang blognya 'menggoda' saya untuk akhirnya membuat blog sendiri.

How?
How... How apa nih? How was it? How was the wedding, maksudnya?
Well, acara pernikahannya alhamdulillah lancar-lancar aja, meskipun pake ngaret.
How's marriage? So far so good. Saya sendiri suka lupa kalau sudah nikah :D Rasanya seperti masih pacaran, tapi sudah boleh tinggal bareng. Hehehehe....
Pernah dengar cerita soal istri-istri yang memarahi suaminya karena si suami memencet odol dari tengah dan bukan dari bawah? Siapa coba yang belum? Dulu saya pernah berpikir cerita seperti itu terlalu mengada-ada, tapi kejadian sejenis ternyata kami alami sendiri. Bedanya, dia yang memarahi saya:
Dia: Kalau habis dari kamar mandi, klosetnya ditutup dong.. Terus gayungnya ditaruh di pinggir bak, jangan dibiarin di dalam.
Saya: Oo... Iya. Emangnya kenapa?
Dia: Ya biar rapi aja.
Ya ampun, ternyata cerita-cerita itu beneran ya!

Biasanya juga, istri yang membangunkan suami pagi-pagi. But i'm not a morning person. Sekarang malah dia yang membangunkan saya tiap subuh. Saya butuh usaha yang teramat sangat keras buat membuka mata. Selesai solat jamaah, dia biasanya masih duduk di sajadah, baca Quran. Saya? Saya juga masih duduk di belakangnya dengan punggung menempel ke lemari. Ketiduran lagi! Huehehehe...

Jangan marah kalo istrinya bandel ya, Sayang.. U know i luv u so much. Mmmmmmmwaahh! (huhuhu, ngerayu..)

Monday, April 04, 2005

Ulang Tahun (Lagi)

Alhamdulillah, bisa ulang tahun lagi tahun ini :)

Sudah (atau masih) 26 tahun saya. Jadi ingat tahun lalu, merayakan ulang tahun dengan pergi sendirian ke Bogor

..................................................................................................................................... OOps, udah dijemput. Postingan ditunggu sampai besok (atau lusa, atau hari lain. Seperti semboyan saya: "Jangan tunda besok apa yang bisa dikerjakan lusa").

Happy birthday dear me :)

Friday, March 04, 2005

Tidak Sempurna

Saya tahu, saya tidak sempurna.
Saya jauh dari itu.
Saya tahu tidak ada manusia yang sempurna.

Tapi ketidaksempurnaan kadang melelahkan.
Kamu melakukan A B C D lalu kamu pikir itu cukup tapi ternyata tidak karena kamu akan salah kalau tidak melakukan E lalu setelah itu ada F dan sebelum kamu bisa melakukannya, muncul lagi G dan kamu mulai berpikir mungkin nanti ada H I J K L M N O P Q R S...

t-i-d-a-k--s-e-m-p-u-r-n-a

Ketidaksempurnaan itu seperti galon air yang bocor di mana-mana.
Kamu mencoba mengisinya sampai penuh lalu 'menambal' bagian yang bocor dengan jarimu. Satu jari dua jari tiga jari empat jari, lalu kamu mulai takut jumlah jemarimu tak cukup dan galon airnya tidak akan pernah penuh.

Thursday, February 24, 2005

A Conversation, Few Years Ago

Gue:
Gimana seandainya seluruh alam semesta ini cuma latar belakang sebuah film? Gimana seandainya kita semua adalah tokoh-tokoh dalam film yang sedang dibuat –atau mungkin ditonton- oleh Tuhan?
Dan selayaknya sebuah film yang pemeran utamanya PASTI hanya beberapa orang saja, bagaimana kalau gue cuma seorang figuran kecil dan apa pun yang gue lakukan atau katakan sebenarnya ga terlalu berarti, ga penting, dan ga ngaruh.
Mungkin ga, sih?

Seorang teman:
Hmmm..... mungkin aja.
Tapi tenang aja, Ey... Kalau semua ini memang cuma sebuah film, lo sedang duduk di samping pemeran utamanya kok ;-)

Thursday, January 27, 2005

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang
siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


Petikan dari:
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, 1987


SAPARDI EMANG DAHSYAT!

Thursday, January 20, 2005

Satu Pagi, Sebuah Mikrolet, Seorang Pemuda

Pagi itu -seperti biasa- saya mencegat mikrolet di perempatan lampu merah dekat rumah. Setelah mikrolet jurusan Cawang itu datang, saya -seperti biasa- memilih duduk paling pojok, dekat jendela belakang yang besar itu. Tepat di depan saya, duduk seorang pemuda bertopi, telinganya tersumbat earphone. Ini juga biasa. Yang tidak biasa adalah ketika saya tiba-tiba melihat dia mulai mengangguk-angguk.

Apa yang kamu pikirkan kalau melihat seorang pemuda memakai earphone sambil mengangguk-angguk?
"Ah, dia pasti sedang mengikuti beat musiknya."
Begitu? Iya, saya juga -biasanya- berpikir begitu.

Tapi ada sesuatu yang tidak biasa dari anggukan- anggukan si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.

Bagaimana saya menjelaskannya?
..............................
Dia mengangguk dengan beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak keras menghentak.

Jelas? Belum, ya?
Jadi begini: Kalau satu anggukan = 'tep', maka yang dia lakukan begitu mengangguk adalah 'tepteptepteptep'. Pendek-pendek, cepat, dan agak keras menghentak. Setelah itu diam. Tak lama, dia ber-'tepteptepteptep' lagi.

Terus? Kamu mungkin bertanya, apa yang aneh dari itu? Apa yang 'tidak biasa'? Tidak, seharusnya mungkin tidak aneh, biasa saja. Tapi saya tak bisa menganggap begitu.

Kenapa?
Karena saya tiba-tiba teringat masa kecil saya.
Dulu, jaman SD, saya nyaris selalu punya kebiasaan jelek. Salah satunya -ya, tul!- mengangguk-angguk itu. Beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak menghentak.
Saya sendiri tidak tahu kapan kebiasaan itu berawal, atau kenapa. Yang saya ingat, tahu-tahu saya jadi sering mengangguk-angguk. Saya terganggu juga sebenarnya, dan berusaha menghilangkan kebiasaan itu. Kalau keinginan untuk mengangguk datang, saya tahan sekuat mungkin. Tapi biasanya gagal. Tak berapa lama, saya kembali mengangguk-angguk lagi, lebih keras dari biasanya malah, sebagai pelampiasan hasrat mengangguk yang tadi sempat ditahan.

Lalu suatu hari kebiasaan mengangguk itu hilang.
Kok bisa?
Karena saya menggantinya dengan kebiasaan lain.
Bukan jadi menggeleng, tapi berkata 'eb'('e' bedak, bukan 'e' bebek). Ya, betul.
'Eb'. Coba bilang 'eb', tapi katupkan mulutmu. 'Eb', tanpa membuka mulut. Ya, begitu. Tiap beberapa menit sekali, saya spontan berucap 'eb'.

Kebiasaan ini juga akhirnya hilang suatu hari, tapi saya kemudian punya kebiasaan jelek lain (tentunya). Tahu-tahu, saya terbiasa menjulurkan leher. Pendek saja, asal terasa di leher ya sudah.

Masih ada lagi. Saya pernah punya kebiasaan menggosok dan memencet hidung, terutama kalau sedang grogi. Walhasil, hidung saya sekarang adalah organ tubuh yang cukup sering kena sindir orang lain karena bentuknya yang memang mengundang komentar:( Hehehe...

Saraf?
Sepertinya bukan. Toh sekarang saya bisa berhenti dan tak punya kebiasaan jelek lagi. Kata seorang teman yang lulusan fakultas psikologi, saya dulu pasti memiliki tingkat kecemasannya tinggi. Kecemasan itu ditekan sedemikian rupa lalu keluar dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan jelek itu.

Aneh?
Memang. Tapi sepertinya penjelasan soal 'tingkat kecemasan yang tinggi' itu memang masuk akal. Saya dulu MEMANG sering cemas berlebihan, takut pada banyak hal, dan kurang percaya diri. Semua itu masih suka terbawa-bawa sampai sekarang, tapi -syukurlah- dalam taraf yang sudah tak terlalu mengkhawatirkan. Minimal tidak sampai membuat saya mengangguk, ber-'eb', atau menjulurkan leher.


Kembali ke pagi itu, di mikrolet, saat saya bertemu si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone dan cara mengangguknya mengingatkan saya pada (salah satu) kebiasaan jelek saya dulu.

Saya memalingkan wajah dari dia, tak berani memandang lagi. Bahkan ketika beberapa orang di samping saya turun, saya bergeser menjauh.

Kenapa?
Karena saya tiba-tiba merasa takut kalau anggukannya itu menular. Saya takut kalau tahu-tahu saya terbiasa mengangguk-angguk lagi.

Dari sudut mata, saya melihat dia mengangguk lagi, seketika saya merasa jijik.
Lho? Kenapa mesti jijik?
Mungkin saya tidak jijik pada dia, atau anggukannya. Mungkin saya jijik karena teringat kalau saya dulu punya kebiasaan yang menjijikkan. Tak tahulah, saya nggak ngerti juga. Yang saya tahu, saya makin merasa tidak nyaman berada semikrolet dengan pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.

Saya mulai menimbang-nimbang. Apa saya harus keluar dari mikrolet itu dan berganti mikrolet lain?
Ah!

Monday, January 03, 2005

1 Januari Kemarin

Terima kasih Tuhan...






...untuk mengurai kusut dalam kepalaku.

Wednesday, December 29, 2004

Kata Driver Kantor tentang Bencana di Aceh

"Bukannya saya ngarepin ketimpa musibah, Mbak, tapi kenapa ya Tuhan nggak ngedatengin bencana besar itu ke Jakarta aja? Padahal Jakarta kan pusatnya segala kemaksiatan, kejahatan. Kenapa justru orang-orang daerah melulu yang ketimpa bencana?"

Thursday, December 23, 2004

50% Padang, 25% Jawa, 25% Sunda

Setahun lagi, dua tahun lagi, lima tahun lagi, tigapuluhtujuh tahun lagi, nggak akan ada yang berubah. It will still be me.

It's just me.

Ralat (Think Positive!!!)

i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time


Running Out of Time

im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time


SHOOT! I'M RUNNING OUT OF TIME!!!

Tuesday, December 14, 2004

Pekerjaan ini. Masihkah saya menginginkannya?

Thursday, December 02, 2004

The Perfect Year

i dont need a crowded ballroom
all i really need is here
if you're with me
next year will be
the perfect year..


By.... (lupa penyanyinya)

Thursday, November 25, 2004

Serpihan

Beberapa hari lalu, lagu ini tiba-tiba melintas di kepala:
towet towet
towet towet
senang hatiku.. towet towet
towet towet
baju baruku..

Akhir pekan kemarin, berdiri di kamar mandi, sudah siap mandi, selembar kertas tabloid bekas di tangan, sebuah cerpen di sana. Membaca cerpen, sambil berdiri di kamar mandi, padahal sudah siap mandi (bagi saya, mandi itu perlu persiapan). Cerpennya jelek, jadi saya relakan kertas tabloid itu sebagai bungkus pembalut bekas.

Memandang keluar dari jendela taksi. Hujan. Musim hujan sudah datang. Jakarta basah. Harusnya bersyukur, ya? Atau tidak? Karena hujan biasanya diikuti dengan macet dan banjir. Cuaca begini cuma enak untuk tidur.

Tadi. Menekan sederet nomor ponsel dan lagu pengganti nada sambung itu mengalun.
Have yourself a merry little christmas
Let your heart be light
From now on,
our troubles will be out of sight....
Saya selalu suka lagu ini. Saya jatuh hati pada lagu ini, pada suasana Natal dalam film-film produksi Hollywood.

Sore, bandara Soekarno-Hatta. Es krim A&W cokelat vanila kami ternyata membuat iri gadis kecil yang duduk di sebelah bersama ibunya. Sang ayah terpaksa bangkit dan membelikan es krim untuknya, lalu bangkit lagi dan tergopoh-gopoh mencari tisu basah karena lelehan es krim mengotori muka dan baju si gadis kecil.

Sebuah pertanyaan, "Ibu, andai saja boleh memilih, maukah kamu menerima saya sebagai anakmu?"


Ini serpihan, teman. Saya hanya sedang mengumpulkan serpihan.

Monday, November 22, 2004

Syawal 1425 H

Hai kalian..
Minal Aidin Wal Faidzin...
Maaf lahir batin...
Semoga Lebarannya kemarin asyik..
Ngomong-ngomong, tahun ini kok nggak ada SMS 'seputih salju sebening embun' ya? :D

Wednesday, November 10, 2004

Da Vinci Code

Akhirnya, selesai juga baca Da Vinci Code..

Dan seluruh dunia berkata serempak, "KEMANE AJE, MPOOOK???" :D

Hehehe.. Sudah begitu banyak review, komentar, artikel, tanggapan, kritik, dan pujian terhadap buku ini, jadi dengan penuh kesadaran, saya tidak akan menulis berpanjang-panjang soal Da Vinci Code. Basi.

Satu kata: DAHSYAT!!
Beberapa kata: Rasanya bener-bener seperti nonton film kelas satu. Pace-nya yang cepat, deskripsinya yang mendetail, thriller-nya, dramanya, ceritanya(pasti).

Trus, KALAU MISALNYA saya disuruh menulis komentar untuk backcover Da Vinci Code (yeah right..), maka tulisannya akan berbunyi seperti ini:
"Inilah buku PERTAMA yang membuat saya merasa tidak percaya diri untuk menulis novel."
(Great, kemarin alasannya males, dan sekarang ga PD???) Hehehe..

PS: Buat JABRIK(!), DASAR SPOILER!!! Gara-gara baca postingan kamu, saya jadi tahu duluan siapa dalangnya :( Btw, Liv Tyler sih nggak cocok jadi Sophie. Yang cocok itu Sophie Marceau.

Tuesday, November 09, 2004

Alangkah menakutkannya pertemuan,
karena perpisahan mengintai di belakangnya
Alangkah mengerikannya harap,
karena kecewa menanti di baliknya
Alangkah menyebalkannya janji,
karena ada ingkar walau tak pasti
Alangkah perihnya cinta,
karena benci tinggal sekedip mata..

Friday, October 29, 2004

Always be My Baby

Kemarin kami baru ketawa-tawa, senang-senang, ngopi-ngopi, jalan-jalan, senyum-senyum, sayang-sayang.
Hari ini kami diam-diam, kesal-kesal, ngambek-ngambek, sedih-sedih..

Yah, namanya juga hidup, namanya juga dua orang, namanya juga dua kepala.
.........................................

Jumat ini bau weekend sudah menyengat, jadi walaupun deadline (banget), suasana kantor lebih santai. Supaya nggak terlalu manyun, ambil walkman aja, deh. Sudah ada Mariah Carey di dalamnya. Pencet play. Ceklek.

We were as one
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'll let you fly
'Cause I know in my heart
Our love will never die
............................


Liriknya sih sama sekali tidak pas dengan situasi sekarang, tapi entah kenapa, mungkin karena beatnya, mungkin karena alunan musiknya, badan mulai goyang kiri (TOING!), goyang kanan (TOING!). Sambil dengar musik, tangan membalik-balik majalah. Ada biomini Jackie Kennedy yang ternyata belum pernah saya baca.

You'll always be a part of me
I'm part of you indefinitely
Boy dont you know you cant escape
Ooh darling 'cause you'll always be my baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're ever gonna shake me
Oh darling 'cause you'll always be my baby
............................


Mariah Carey, Jackie Kennedy, artikel menopause yang baru seperempat jadi menggantung di layar monitor..
Lalu tiba-tiba, pertama kalinya sejak entah berapa bulan ini merasa sumpek di kantor, saya merasa sangat rileks.
Hei, ini masih kantor yang sama, kan?
Jadi ingat kata Dewi Lestari, “Vacation is a state of mind”.

I aint gonna cry
And I won't beg you to stay
If you're determined to leave boy
I will not stand in your way
But inevitably you'll be back again
'Cause you know in your heart babe
Our love will never end

I know that you'll be back boy
When your days and your nights get a
little bit colder
I know that you'll be right back baby
Oh baby believe me it's only a matter of time

Selesai. Turun ke bawah untuk makan siang (saya tidak puasa hari ini) lalu berjalan ke bank di gedung belakang (katanya ‘menabung pangkal kaya, pelit pangkal disumpahin’). Mataharinya cukup ramah. Setelah beberapa jam terkurung di gedung ber-AC, jalan-jalan sejenak di luar rupanya menyenangkan.

Balik ke meja, komputer, dan kursi kantor yang amat sangat tidak ergonomis sekali. Pukul satu tigapuluh menit. Shalat Jumat sudah selesai dari tadi pasti. Dan sehabis menuntaskan postingan ini, saya akan meraih gagang telepon dan menghubunginya. Berharap semoga tadi dia juga mendengarkan Mariah Carey (atau apapun) dan sekarang sudah berada dalam suasana hati yang enak. Atau minimal, sudah kangen saya (mungkin nggak ya?).

Ok, here we go. Wish me luck!

Bismillah..

Wednesday, October 20, 2004

Bulan Puasa

Happy fasting everybody, walaupun telat.. (but then again, 'telat' is my middle name).
Selamat Ramadhan 1425 H, selamat puasa. Maap maap kalau ada sala kate, sala tulis, sala komen.. :)


.................................

MAAK!!! LAPER MAAAAKKK!!!
Hehehehehe...

Tuesday, October 12, 2004

For You Know Who

Selamat ulang tahun, Sayang... :)

Semoga selalu sehat..
Semoga panjang umur..
Semoga tambah pinter.. (biar bisa cari beasiswa atau kerjaan di luar negeri, jadi kalau INSYA ALLAH kita nikah dan punya anak, anaknya lahir di luar. huhuhu.. kayaknya keyen aja gichu ;> )
Semoga tambah sabar..(terutama ngadepin saya yang biang telat, berantakan, pemales, dan kadang2 mikirnya ga panjang2 banget. hehehe..)
Semoga lebih rajin olahraga..(biar sehat koook..., bukannya biar langsing. tapi yaaa itu bonus aja sih ;> )
Semoga lebih bisa mikir positif.. (ingat: energy follow the mind energy follow the mind energy follow the mind energy follow the mind..)
Semoga kariernya lebih bagus.. (supaya kalau suatu hari nanti saya jadi penulis kere yang kerjanya di rumah doang, kamu tetap bisa ngebiayaain kita. huehehehehe)

Hmmm... kok doanya buat kepentingan pribadi gini, ya? :D :D

................
................

Di atas semuanya, semoga kamu selalu bahagia dan ikhlas, meskipun sebagian (atau semua) harapan di atas nggak terkabul.
Semoga kamu selalu ingat dan diingat Allah.
Semoga apapun yang terjadi pada kita, kita tetap saling sayang, tetap bersahabat, dan tetap menganggap apa yang kita miliki sekarang sebagai sesuatu yang berharga.

Amin.

Luv u, hunny. Mmmmmmmwahh!!! :)

Mmmm.. Trus, makan-makannya di mana? Huhuhu..teteeeeeep...

Wednesday, October 06, 2004

Kenapa, ya?

Saya ini kenapa, ya?
Sudah beberapa minggu (atau bulan?), saya dihinggapi 'PENYAKIT MALES NGAPA2IN'. Karena itulah blog ini lama terbengkalai. Tunggu, jangan keliru. Males itu memang penyakit bawaan saya sejak dulu. Selama ini sih malesnya masih dalam tahap wajar (MENURUT SAYA!), tapi 'PENYAKIT MALES NGAPA2IN' yang sekarang ini kayaknya parah banget, udah akut.

Penyakit ini tentu ngga bisa dibawa ke dokter, tapi menurut diagnosa pribadi, sepertinya saya jenuh.. Jenuh sama kerjaan, sama rutinitas, jenuh harus bolak-balik Kalimalang-Kuningan tiap hari (desak2an di bus, macet, panas, polusi, bising, bising, bising, bising, PUSING!!).

Lalu gimana?
Enak kali ya, kalo bisa liburan. Bukan, bukan sehari dua, tapi seminggu penuh, minimal.

Trus mau ngapain?
Hmmmm..enak kali ya, kalau bisa ke Lombok. Membenamkan telapak kaki ke pasir putih yang basah, menghirup udara pantai, menanti matahari terbenam.

Okelah. Lombok mungkin terlalu jauh atau terlalu mustahil, saya mungkin akan cukup puas dengan Ancol. Iya, Ancol. IYA, ANCOL!! Menggelar tikar di pinggir pantai, makan nasi rames, dan minum teh tawar dalam kantong plastik yang kalau mau minum harus digigit ujungnya. Hmmm, saya dan adik perempuan saya (yang sama-sama doyan makan) pernah mengeluarkan dalil: 'Tak ada satu tempat pun yang di dunia ini yang lebih cocok untuk makan nasi rames kecuali Pantai Ancol.' :))

Enak kali ya, kalau bisa ke... ke.... mmmm....
Sejujurnya, saya tidak tahu mau ke mana. Anywhere but here, I guess. Kabur seminggu, itu saja. Mungkin saya tidak perlu Ancol, Lombok, pasir putih, atau matahari terbenam. Mungkin saya cuma perlu sebuah ruangan sejuk untuk tidur atau rebahan seharian. Kalau bosan, saya tinggal bangun, menarik sebuah buku dan membaca. Kalau bosan lagi, buku itu tinggal saya lempar lalu ganti dengan buku lain, atau koran, atau majalah. Kalau bosan lagi, saya tinggal menonton TV atau VCD. Kalau masih bosan, saya tinggal rebahan lagi, menutup mata..
Nanti dulu, lusa kemarin saya sudah melakukan itu. Tapi cuma sehari. Kurang lama, berarti..

Wednesday, September 22, 2004

A Prayer

Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother

Amen.

Wednesday, September 15, 2004

Teroris dan Torey Hayden

Ia terdiam. Di hadapannya, seorang pria duduk meminum teh. Pria itu anggota kelompok teroris Tamil Tigers yang beberapa detik lalu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul di rumahnya dan menodongkan senjata.

Ia tak kaget. Sebagai pendiri salah satu komunitas Buddha di Sri Lanka, ia sudah lama menjadi target pembunuhan Tamil Tigers. Ia tahu, cepat atau lambat, seseorang akan datang dan berusaha merampas nyawanya. Kalau bukan pria yang sedang minum teh itu, pasti orang lain. Jadi ketika pria itu datang, ia sama sekali tidak terkejut.

“Bila Anda mau menembak saya, silakan. Tapi sebelumnya, masuklah dulu dan minum secangkir teh. Ceritakan kenapa Anda begitu ingin membunuh saya. Bagaimanapun, Anda berhutang penjelasan. Anda bisa membunuh saya setelahnya.”

Pria itu –si (calon) pembunuh- terperangah. Hanya sebuah undangan minum teh, memang. Namun bila yang mengundang adalah laki-laki yang sedang ditodongnya dengan senjata?
Singkat cerita, (mungkin) karena kagum dan penasaran, si (calon) pembunuh masuk. Menikmati secangkir teh, berbincang-bincang dengan laki-laki itu, dan akhirnya pulang tanpa melepas tembakan.

Too good to be true? Mungkin. Tapi saya termasuk orang yang lebih suka berpikir positif (setidaknya ‘berusaha’ begitu). Mungkin saja, laki-laki pendiri komunitas Buddha itu memang punya kharisma luar biasa atau aura positif yang begitu pekat (atau apalah namanya) sehingga mampu mempengaruhi si (calon) pembunuh. Mungkin saja, yang kita butuhkan memang cuma telinga untuk menyimak dan pikiran yang terbuka. Jadi, atas asumsi cerita ini benar, it’s simply wonderfull.
(BTW, saya jadi ingat seorang teman yang pernah menyentak saya dengan perkataan, “Kamu tuh maunya mikir yang indah-indah aja, yang bagus-bagus aja. Dunia ini nggak begitu!” Saya lupa kalimat persisnya, tapi saya ingat betul nada sewotnya.)

Kisah pria (calon) pembunuh dan laki-laki target pembunuhannya itu dituturkan pada saya oleh Torey Hayden, seorang psikolog, terapis, pengajar anak-anak luar biasa, sekaligus penulis buku bestseller 'Sheila. Luka Hati Seorang Gadis Kecil'.

..............................................................

Kamis, 9 September 2004 lalu, setelah siang harinya dikejutkan dan dibuat sedih oleh peristiwa meledaknya bom di depan Kedubes Australia, Kuningan, saya sebenarnya cuma ingin cepat pulang. Tapi saya masih punya janji wawancara dengan Torey Hayden pukul tujuh malam. Saya pikir, peristiwa bom Kuningan itu akan membuatnya memundurkan jadwal wawancara ke hari lain. Ternyata saya salah. Torey malah memajukan wawancara ke pukul lima sore.

Jadi berangkatlah saya. Hal pertama yang kami bicarakan begitu bertemu muka adalah –tentu saja- bom tadi siang.
“I wasn’t frightened. I’m very much believe that if it’s my day to die then i shall die and if it isn’t, i wont. So there’s no point worrying about that in the interim.
To me, the terorist is like a child having a tantrum. A child having a tantrum is a child out of control. Nothing is more inappropriate for handling that child than to be afraid of what he’s doing, to be frightened or to be upset by his actions. He’s so overcome by sense of powerlessness, by lack of a voice, by frustration of his situation. He just can’t control it any longer and it explodes. I think it’s the same situation that these terorists are feeling. They’re feeling powerless, they lack of voice, they dont know how else to express themselves than violently. We need sane people around them who can say ‘yes i understand how you feel. But we get to find a different way to solve the problem.’ So i dont feel frightened.”
Lalu barulah saya mendengar kisah percobaan pembunuhan yang gagal itu.

.............................................................

Rasanya tulisan ini harus diakhiri, karena sudah terlalu panjang. Masih banyak yang ingin saya bagi, tapi yah sudahlah. Saya juga belum menemukan kalimat penutup yang pas, tapi yaa.. ya sudah. Sudah saja.
(Huh, malas banget ga sih ending-nya?)

Tuesday, August 31, 2004

sebel

tulisan itu sebenarnya sudah selesai. profil tiga halaman yang saya buat PAKAI HATI. tapi dibalikin lagi. ganti format jadi q&a katanya. selain itu tulisannya ga sesuai pakem yang selama ini ada, jadi harus diubah.

iya, emang agak beda, tapi kl diperhatiin, itu sama sekali ga keluar pakem. saya cuma membuatnya jadi 'agak beda'. bosen. bosen sama yang selama ini ada dan terus diulang-ulang.

sekarang mau nulis lagi jadi males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males.

tulisan itu sudah selesai. dan saya bikinnya PAKE HATI. PAKE HATI!(jarang2 nulis pake hati) Sekarang, begitu harus nulis lagi, saya udah ilfil. saya bilang dalam hati 'ya udah, sekarang ga usah pake hati bikinnya.' tapi tetep aja sebel. sebel. sebel. sebel. sebel. sebel. sebel.

beginilah risikonya jadi penulis yang juga pegawai, atau jadi pegawai yang menulis? Hhhhh..

Wednesday, August 25, 2004

Dari Seorang Teman

"Salah satu cara terbaik mengisi hari mungkin dengan membiarkan hari mengisimu."

Selamat nikmati hari! Get relax!
Have a nice day everyone!

Sender:
*u*e***
0818xxxxxxxx

Sent:
25-Aug-2004
10:10:40

*Thank's, bro. Amazing how words can inspire us, huh? :)

Tuesday, August 10, 2004

Hootie and the Blowfish

Kalau hidup ini film,
dan saya adalah pemeran utamanya,
maka soundtrack yang sekarang sedang mengalun adalah lagu Hootie and the Blowfish:

"Well there's nothing I can do
I only wanna be with you
You can call me a fool
I only wanna be with you..."


*Maaf, saya tak pandai berkata-kata.
Ataukah bahagia tak menginspirasi sebaik derita?

Wednesday, July 28, 2004

Gua Kecil

Kadang-kadang,
saya cuma ingin punya gua kecil,
tempat mundur dari semua hiruk-pikuk dunia.

Gua kecil,
tempat saya bisa memilih apa yang ingin dan tak ingin saya kerjakan,
tempat bebas dari kewajiban bicara, berbasa-basi, menjelaskan, memutuskan, menentukan,
tempat boleh berbuat bodoh tanpa merasa jadi orang bodoh,
tempat tak lagi memikirkan pendapat orang lain, apalagi pendapat diri sendiri.

Gua kecil,
hanya ada saya,
atau orang-orang tertentu yang saya ajak masuk ke dalamnya.

Friday, July 23, 2004

Semalam

Semalam, di kamar, saya dan adik perempuan.

........................................................
+ Kalo pake celana item ini gimana?
- Jangan!
+ Kenapa?
- Lo jadi keliatan gendut banget.
+ (buang celana hitam ke kasur) Kalo gue pake celana item lo aja gimana?
- Celana item gue? Yang mana?
+ Yang itu... yang item...
- Yang 'Executive'?
+ Yang 'Executive' mah celana gue tadi!
- Lo kira celana gue bukan 'Executive?'
+ Lho? Emangnya iya?'
- Bukan.
+ Yeeee.... Terus gue pake apaan dong? Atau pake celana biasa aja ya?
......................................................
+ Atasannya pake kemeja putih ini gimana?
- Mmmmmm..... (pasang tampang ga setuju)
+ Abis apa lagi?
- Kenapa ga pake baju terusan lo aja sih?
+ Yang mana?
- Yang mana lagi? Yang dulu suka lo pake.
+ Hah? Itu? (ngeluarin baju terusan dari lemari) Yang ini?
- Iya. Itu lebih rapi.
+ (pake baju terusan) Emangnya ga berlebihan ya?
- Ya nggaklah!
+ Lo yakin?
- Iya!
+ Tapi terus tasnya nggak bisa pake yang biasa. Pake apa dong?
- Ya yang item kulit aja.
+ Itu kan udah jelek banget!
- Nggak, ah.
+ Iya! Nih. lihat pinggirnya udah ngelupas.
- Lagian! Beli tas baru dong!
+ Iya deh. Ntar.
..........................................................
+ Rambut gue berantakan banget.
- Dibando aja.
+ Hah? (coba pake bando) Kayak gini?
- Kok jadi aneh? Dijepit aja coba.
+ (coba ngejepit rambut) Gini?
- Kayak anak kecil. Jangan gitu ngejepitnya. Sini gue jepitin.
+ Aduuuh.. ga usah deh.. Ntar sebelum nyampe juga udah gue lepas lagi..
..........................................................
- ...... (lagi tidur)
+ Donna! Don!(ngeguncang-guncang bahu si adik perempuan).
- Mmmmmmm...????
+ Lo YAKIN baju terusannya ga berlebihan?
- KAGAAAAAAAKKKKK!!!!!

Bukan mau ke pesta, bukan mejeng di tipi, bukan mau kencan, bukan wawancara kerja, bukan ketemu narasumber kelas atas, tapi sumpah, bikin kelimpungan banget. :)

Wednesday, June 30, 2004

The Season

I have something with words.
Ada beberapa kata yang menurut saya lebih indah dari kata-kata lain. Salah satunya, 'musim', 'season'.

Apartemen Four Seasons, lagu Boyz II Men; 'Four Seasons of Loneliness', Nine Seasons-boysband Indonesia yang dulunya bernama ME.

Waktu SMP dulu, saya pernah membaca sebuah cerita bersambung di majalah Gadis, 'Menanti Musim Berganti'. Pengarangnya adalah salah satu penulis favorit saya di zaman itu: Tika Wisnu, kalau tidak salah.

Tahun kemarin, saya terkagum-kagum pada satu lagu di album Norah Jones, judulnya 'Shoot the Moon'. Tapi tentu saja, semua lagu di album itu mengagumkan.

the summer days are gone too soon
you shoot the moon
and miss completely
and now you're left to face the gloom
the empty room that once smelled sweetly
of all the flowers you plucked
if only you knew the reason
why you had to each be lonely
was it just the season?
now the fall is here again
you can't begin to give in
it's all over
when the snows come rolling through
you're rolling too with some new lover
will you think of times you told me
that you knew the reason
why we had to each be lonely
it was just the season

Cerita itu, lagu itu, jadi jimat yang kemudian saya bawa-bawa ketika menjalani hari. Waktu saya sedih, saya berbisik dalam hati, "Nggak apa-apa, Ey. It's just the season of sadness. Sebentar lagi musim ini berganti. Lihat saja." Waktu saya merindukan masa-masa indah bersama beberapa sahabat lama, saya katakan pada diri sendiri, "Tiap musim akan berulang. Kalaupun musim itu tak kembali, akan datang musim lain yang tak kalah indah."

Bukankah hidup memang cuma deretan musim yang silih berganti?

Dulu, ada musimnya ketika saya tak pernah mau jauh dari ibu saya. Lalu musim itu pergi. Saya jadi lebih suka sendirian di rumah.
Dulu, ada musimnya ketika saya tergila-gila main orang-orangan kertas. Lalu musim itu beranjak. Saya jadi lebih suka berkumpul dengan teman-teman: nonton VCD, ke mal, ngobrolin cowok.
Dulu, ada musimnya ketika saya memandang semua kejadian begitu hitam atau putih. Lalu musim itu mengabur. Kini banyak hal yang tampak sangat abu-abu.

Iya, betul. Hidup memang cuma deretan musim yang silih berganti.

dan sekarang..
adalah musimnya..
memalingkan wajah..
yang bersemu merah..
karena tatapmu..
tak jua lepas dari mataku..

Thursday, June 24, 2004

Sedikit Narsis(?) ;)

Sudah beberapa minggu ini (atau bulan, ya?), saya BENCI BANGET(!!!) sama rambut saya. Panjangnya udah tanggung, ujungnya keluar-keluar, berantakan, acak-acakan. Niat potong rambut sih ada , tapi belum sempet. Masih nunggu waktu yang tepat untuk menggunakan voucher potong rambut gratis dari seorang teman.

Tapi siang ini, pas ngacaan di kamar mandi dan ngeliat pantulannya, kok saya tiba-tiba berpikir, "Eh, bagus juga ni rambut. Sesuai kepribadian (maksudnya kepribadiannya nanggung dan acak-acakan gitu?). Apa ga usah dipotong aja kali, ya?"

Hehe.. Duile Eyi... ;)

Wednesday, June 16, 2004

Ibu; Sekarang dan Dulu

Saya mencintaimu, Ibu. Iya, cinta, saya yakin. Saya mencintaimu karena.. Nanti dulu, adakah cinta butuh 'karena'? Saya mencintaimu karena cinta itu sendiri. Karena rasa hangat yang merambat ketika episode-episode masa kecil itu terputar ulang dalam kepala.

Saya telanjang, memeluk pinggul ibu erat-erat, mata terpejam, kepala tengadah. Pelan-pelan, guyuran air jatuh ke kepala, membasahi rambut dan seluruh tubuh. Lagi, lalu lagi, lalu lagi. Lalu wangi shampo bayi dan pijitan lembut di kepala. Lalu air lagi, lalu lagi, lalu lagi.
Lalu pertanyaan itu: "Nanti kalau aku udah gede trus punya suami, tapi belum bisa keramas sendiri gimana?"
Dan jawabannya: "Nanti lama-lama juga bisa.."

Saya ingat. Saya ingat perasaan lega dan nyaman yang selalu hadir ketika kamu menjemput saya di sekolah. Saya ingat betapa gelisahnya saya ketika kamu tak ada, dan begitu girangnya saya kala kamu pulang.

But nothing stays the same, they say.
Ada apa dengan kita? Sosokmu berubah jadi telunjuk besar yang menuntut saya untuk bertindak, bersikap, bertutur, berpakaian, bersahabat, berpacaran, berdiri (iya, BERDIRI!) seperti yang kamu mau.

Lalu pergilah saya. Saya tiadakan kamu dalam sebagian besar langkah saya. Kenapa? Karena segalanya hanya akan bertambah rumit kalau kamu tahu. Karena tiap aksi hanya akan mengundang reaksi yang tak saya harapkan. Jadi saya pergi.

Kamu tak ada, ibu. Kamu tak tahu kalau putri sulungmu ini pernah beberapa kali kabur ke Bandung untuk bertemu seorang laki-laki. Kamu tak ada di malam-malam jahanam saya, ketika saya terisak keras sampai begitu sulit bernapas. Kamu tak tahu kalau saya pernah membenturkan kepala ke kaca jendela karena menyesali satu perbuatan tolol yang saya lakukan.

Tapi saya mencintai kamu, ibu. Dan saya yakin kalau kamu mencintai saya ratusan kali lipat lebih besar. Jadi maafkan saya, ampuni saya karena kemarin saya telah memantapkan hati: Kelak, saya tak ingin jadi ibu seperti kamu.

Tuesday, June 08, 2004

:(

Huhuhu.. dicekek-cekek deadline. Bentar lagi mungkin dicekek beneran sama redaktur.
Yah, beginilah kalau punya motto: "Jangan kerjakan sekarang apa yang bisa ditunda sampai nanti." Hehehe..

Thursday, June 03, 2004

Sepenggal Kemarin


Gara-gara ngebongkar laci meja kantor, jadi ketemu gambar ini lagi.
Sebelum ada yang bertanya: Bukan saya yang menggambar.

Friday, May 28, 2004

A Guilty Pleasure

Saya Teramat Sangat Suka Sekali...... AFI.

Thursday, May 27, 2004

Jatuh Cinta

Kata Aa' Gym, jatuh cinta itu seperti memasukkan ayam kampung ke dalam kamar. Susah ngusirnya. Kalaupun bisa diusir, kamar kita sudah berantakan. Penuh jejak dan bau di mana-mana.

Iya, A', bener. Berantakan, penuh jejak, dan bau...

Thursday, May 20, 2004

Muhammad Zaki Zulkarnain

Langit kelam. Laut murka. Angin meniup kencang bak orang kesetanan.
Siangkah? Malamkah? Entah. Semua gelap.

Itu adikku! Ia berlari di atas bebatuan yang menggigil ditampar ombak.

...........................

Oh bukan, bukan dia. Adikku bukan bocah kecil kurus yang sepertinya belum lancar melafazkan huruf 'r' itu.

...........................

Iya! Itu dia! Itu pasti dia! Itu adikku! Itu adikku!
Ia berlari di atas bebatuan yang menggigil ditampar ombak...

'Adik, jangan ke sana!'

Aku berlari mengejarnya.
Laut makin ganas. Gulungan ombak menebal, mencakar angkasa.

Adik!
Hup! Dapat! Ia dalam pelukku kini. Tubuhnya yang ringkih menegang, ketakutan.
'Jangan takut, adik. Takkan kulepas. Sampai kapan pun takkan kulepas.'

...........................

Aku tak tahu bagaimana akhirnya kami mencapai bibir pantai. Tak tahu bagaimana kami melewati neraka dunia itu. Basah. Dingin. Ngeri. Di belakang, laut belum berhenti mengamuk. Langit hanya hitam.

'Tapi lihat, adik. Tlah kutepati janjiku. Tak kulepas kau barang sedetik. Kita selamat. Kita selamat.'

Kubaringkan tubuhnya di pasir pantai. Matanya terpejam. Lama ia kutatap sebelum akhirnya kesadaran datang menghantam.
Bukan 'kita' yang selamat. 'Aku' selamat. 'Ia' tidak. Ia berlalu dalam pelukku. Adikku, pergi dalam pelukku.

...........................
Namanya Muhammad Zaki Zulkarnain. Semua orang memanggilnya Zaki. Februari kemarin, umurnya genap 14 tahun. Kulit hitam, badan gempal, berkacamata minus. Zaki, adik bungsu saya.

You are my sunshine, my only sunshine You make me happy when the sky is grey You never know dear How much i love you Please don't take my sunshine away

Setiap menyanyikan lagu ini, saya selalu teringat Zaki. He is my sunshine. Tak pernah sedih, tak pernah merasa punya masalah, jarang kesal, jarang marah. Suaranya lantang. Bagi Zaki, tiada hari tanpa bernyanyi.

Suatu hari saya pernah bertanya: "Caranya gimana sih, Zak, supaya bisa seneng terus kayak kamu?" Jawabnya: "Mmm... banyak tidur dan main PS!"

Zaki, adik bungsu saya, memang luar biasa MALASnya. Malas mandi(!), malas belajar, malas membuat PR. Kalau suatu hari nanti dia menulis buku, mungkin buku pertamanya akan berjudul '101 Cara Menghukum Siswa yang Tak Membuat PR'. Waktu masih SD, Zaki kenyang dengan berbagai jenis hukuman: Berdiri depan kelas, berdiri depan kelas sambil mengangkat satu kaki, dikeluarkan dari kelas, lari keliling lapangan, skotjam(?), memunguti sampah di halaman, membersihkan WC.

Sejak kecil, dia bukan anak yang takut pada orang asing. Dia ramah, senang mengobrol, suka bercanda, doyan plesetan. Cuma Zaki yang bisa membuat ibu saya yang sedang mengomel panjang lebar jadi tertawa-tawa.

Zaki, adik bungsu saya.

...............................


Malam itu, ketika saya bermimpi tentang amuk laut yang merenggutnya, tempat tidur Zaki basah. Akil baliq dia, rupanya.

Lalu apa artinya? Adakah mimpi punya arti? Seorang teman memberi pendapat, "Mungkin sudah saatnya kamu melepas dia, Ey. Dia sudah besar sekarang. Bukan anak kecil yang harus selalu kamu lindungi lagi."

Mungkin saja. Mungkin sekali.


Zaki, if you ever read this someday, Mbak Eyi just want to say that I love you soooo.. very much. Jadilah kamu laki-laki dewasa yang baik. Lebih baik lagi, jadilah kamu orang yang selalu bahagia, as you are now. I won't always be here, but I know that whatever happen, you will always be good. Luv you, 'Ndut! Mmmmuach!!!

Wednesday, May 12, 2004

A New Template

Template baru (lagi!). Yang ini dari Blogger. Bakalan banyak yg pakai nggak, ya? Ah, gak apa-apa, deh.

Thursday, May 06, 2004

Bla bla bla.. (kayaknya lebih baik ga dibaca)

It's raining outside.
Saya masih di kantor, menghadap layar komputer. Hanya segelintir orang tersisa di lantai tiga. Selain itu, ada empat laki-laki yang harus digarap jadi tulisan delapan halaman: Antonio Banderas, Kevin Costner, Mel Gibson, dan Jack Nicholson.

Mau nulis, tapi nggak juga. Mau pulang, tapi nggak juga. Mau jalan, tapi nggak juga. Nggak tahu mau ngapain.
Detik ini, di atas segalanya, saya cuma pengen komputer di kantor ini menyediakan fasilitas chatting.

Mata kiri saya perih. Bintitan dia. Kalau ngedip, rasanya ada yang ngganjel. Heran, what's wrong with me? Beberapa minggu lalu, jempol kiri kejepit pintu patas AC. Kemarin, sariawan di lidah yang parah banget sampai efeknya ke kuping. Kalau ngomong atau ngunyah, kupingnya langsung tuiiiingggggg... suaaaakiiiiiiiittt... Sariawan hampir sembuh, betis kena knalpot motor. Bekasnya belum hilang sampai sekarang. Ehh... sekarang mata bintitan..

...........

Mungkin perlu diruwat. Buang sial. Atau potong rambut? Mbak Manda udah teriak-teriak, "Cukur!!! Udah gondrong tuh rambut!" Atau.. ganti nama, kali? Kalau bisa dan boleh, nama apa yang akan saya pilih? Dulu, sebelum diberi nama Sherly Puspita, orang tua saya terpikir untuk menamai saya Karina. Untung nggak jadi. Kebagusan kayaknya. Pilihan lainnya Gravel. Iya, artinya 'batu kerikil'. Saya sebenarnya suka, tapi nama itu bisa menimbulkan harapan yang terlalu tinggi. "Gravel". Mungkin lebih cocok kalau kulit saya lebih putih, dan rambutnya agak kecoklatan :)

Azan Isya dari masjid depan. Sudah lewat jam tujuh.

Saya haus. Pengen minum, tapi nggak juga. Males ngambilnya.

Pengen pulang. Naik taksi kayaknya enak, tapi kemarin udah naik taksi, pagi ini udah naik taksi, masa malamnya naik taksi lagi? Boros. Lagipula, naik taksi malam-malam dan sendirian itu mengerikan.

Sekarang ada Dido, White Flag. Saya baru ngeh sama liriknya:
i know you think that i shouldn't still love you or tell you that
but if i didn't say it, well i'd still have felt it, where's the sense in that
i promise i'm not trying to make your life harder or return to where we were..


Dulu saya pernah berpikir: Pasti tak ada yang baru tentang cinta. Segala yang kita alami sekarang, pernah dialami sedikitnya oleh satu orang entah kapan dan di mana. Apa, coba? Perselingkuhan? Perjodohan? Putus karena beda agama? Putus lalu nyesel dan balik lagi? Putus lalu pengen balik tapi nggak bisa balik? Putus lalu bunuh diri? Pacaran bertahun-tahun lalu kawin? Pacaran bertahun-tahun lalu putus dan malah kawin sama orang yang baru dikenal sebulan? Pacaran jarak jauh dan sukses? Naksir orang yang udah punya pacar? Ditaksir orang tapi udah punya pacar? Naksir tujuh tahun tapi begitu pacaran cuma bertahan tujuh bulan? Pacaran lalu putus lalu pacaran lagi lalu putus lagi lalu pacaran lagi lalu putus lagi? Kawin lalu bahagia selamanya? Kawin lalu cerai? Kawin lalu nggak bahagia tapi nggak cerai juga? Kawin lalu dipukulin?

Luka baru (atau bunga baru), tapi semuanya cerita lama. Nyaris tak ada yang terlalu istimewa lagi ketika dikisahkan. Hanya bisa jadi istimewa bila penyampaiannya cukup cantik. Tergantung pembungkus. Maka, saya setuju sekali dengan iklan Nokia(?) yang bunyinya: "Karena fungsi saja takkan memuaskan Anda." Eh, nyambung nggak, ya? Ah, bodo'. Gak penting. Ga ada yang penting (selain mata yang bintitan dan betis tompel keceplak knalpot motor).
Blog ini juga ga penting.

...................

Eh, penting deh, penting deh. BUAT SAYA. Jadi judulnya gini seharusnya:
larilarikecil --> ENAK DIBACA DAN PENTING
Huehehhehhehehehehehe.... HUEEKH!!! Ngomongnya aja malu..
Atau begini:
larilarikecil --> ENAK DITULIS DAN PENTING
Nah, ini lebih bener. Nulisnya enak, dibaca belum tentu.
Tiba-tiba ingat: Katanya, tiap orang punya potensi untuk jadi gila. Saya curiga, malam ini potensi saya melonjak tinggi. :)

Jadi? Udah jam 8, saya mesti pulang. Sebelumnya, saya mau ngambil minum dulu. Ini penting, karena saya sudah teramat sangat haus sekali.
Btw, kok dari tadi ngga ada SMS/telpon yang masuk, ya?
Hmmm.. begini: Kalau pas saya ngambil minum ada yang nge-sms atau nelpon, maka kalau dia perempuan akan saya anggap sebagai saudara dan bila dia laki-laki akan saya anggap........(apa, ya?) saudara juga deh! Biar gampang. Soalnya kalau dianggap pacar kan belum tentu sayanya mau..(LHO?) UDAAAH!! AYO AMBIL MINUM!!!!!

......................

Udah ngambil minum. Nggak ada SMS, berarti nggak dapet tambahan saudara.

Udah ah, pulang. Malam garing nasional ini harus segera diakhiri. Mari kita tutup dengan bacaan Hamdallah: Alhamdulillahirrabilalamiin..


**Buat Jeng Okke, untuk chat kita yang Mahatidakpenting kemarin dan untuk kata 'ga penting'nya. (hehehe, sebenarnya nggak seniat itu kok, Ke, baru kepikiran di kalimat2 akhir, tapi gpp deh. Siapa tahu kalau ada "dedicated to..."-nya, postingan ini jadi RADA penting sedikit. Ciieh..)

Iya, iya, saya tahu. Kalau blog ini bisa nimpuk, saya udah benjol dari tadi.

Tuesday, May 04, 2004