There's a wonderful old Italian joke about a poor man who goes to church every day and prays before a statue of a great saint, begging, “Dear Saint—please, please, please... give me the grace to win the lottery.” This lamment goes on for months. Finally the exasperated statue comes to life, looks down at the begging man in weary disgust, “My Son—please please please..., buy a ticket.”
Prayer is a relationship; half the job is mine. If I want transformation, but can't even bothered to articulate what, exactly, I'm aiming for, how will it ever occur? Half the benefit of prayer is in the asking itself, in the offering of a clearly posed and well-considered intention.
(Eat Pray Love, Elizabeth Gilbert)
Friday, March 28, 2008
Tentang Sahabat
Sahabat adalah orang-orang baik yang membantumu mengeluarkan yang terbaik dari dirimu.
Bersama mereka, kamu mencintai, dicintai, berani, menari, terbahak, lupa keperihan masa lalu atau betapa mencemaskannya masa depan.
Bersama mereka, kamu 'menjadi'. Bersama mereka, kamu bahkan tidak perlu 'menjadi'. Bersama mereka, yang terpikirkan hanya 'saat ini'. Kamu penuh. Kamu kosong. Kamu menuang dan dituang.
Kamu bersyukur.
Bersama mereka, kamu mencintai, dicintai, berani, menari, terbahak, lupa keperihan masa lalu atau betapa mencemaskannya masa depan.
Bersama mereka, kamu 'menjadi'. Bersama mereka, kamu bahkan tidak perlu 'menjadi'. Bersama mereka, yang terpikirkan hanya 'saat ini'. Kamu penuh. Kamu kosong. Kamu menuang dan dituang.
Kamu bersyukur.
One Day in Your Life
One day in your life
you'll remember a place
Someone's touching your face
You'll come back and you'll look around you
One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life
When you find that you're always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life
When you find that you're always longing
for the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
**Kemarin waktu lagi potong rambut, dengar lagu ini berkumandang di salon.
Luv it so much.
you'll remember a place
Someone's touching your face
You'll come back and you'll look around you
One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life
When you find that you're always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life
When you find that you're always longing
for the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
**Kemarin waktu lagi potong rambut, dengar lagu ini berkumandang di salon.
Luv it so much.
Tuesday, March 18, 2008
Friends
Lagi kangen sama masa-masa kuliah, Depok, kampus jaman dulu (yang tidak terlalu banyak tempat parkirnya) dan yang paling penting... teman-teman seangkatan: Zhongwenxi 97. Nimen hao ma?
Saya mengumpulkan beberapa foto dan kabar mereka. Belum semua, sayangnya. Kemarin-kemarin saya berpikir untuk bikin satu blog khusus untuk kami. Tapi kemudian kepikiran, ngurus blog sendiri aja keteteran ya? Ah, tapi yang penting kan niat ya ;)
Oke deh, here we go.
Juferdy.
Ju sedang menikmati hujan bola warna-warni. Merah, pink, biru, hijau, abu-abu, hitam...
Ayu dan Seto nikah. Dua-duanya teman saya (tapi SEMUA teman Ayu rasanya jadi teman saya juga--walaupun saya tak pernah bertemu dengan each one of them. Ini akibat saking seringnya mendengar tentang mereka. Ya kan Yu? *wink wink*).
Saya tahu cerita Ayu dan Seto sejak... sebelum mereka pacaran. Saya mengikuti kisah mereka seperti menonton serial Friends. Hehehehe...
Damas is having a baby. Bagas namanya. (Nama lengkapnya siapa ya Dam? Lupa.. Ini fotonya sudah diganti ;) )
Dari semua teman seangkatan, saya paling sering bertemu Ayu dan Damas. Belakangan ini, mungkin karena berbagai perubahan, kami jadi lebih jarang bertemu. Padahal dulu sih jam berapa aja hayuuuuk....
Iska menikah. Putri Novotel cantik yang menemani saya menghabiskan hari ulang tahun ke-25 dengan berjalan-jalan di Bogor. Kumaha damang, Ka? ;)
Lisa dan suaminya Elkana sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Saya jadi ingat resepsi mereka tahun lalu. Baru sekali itu saya datang ke resepsi di mana pasangan pengantinnya BERDUET! Hihihihi... Lisa adalah salah satu teman saya yang paling easy going and naturally...funny :)
Kiri: Yovan. Tengah: Kie.
Yovan sekarang di Deplu. Terakhir bertemu, dia sedang bersiap-siap berangkat ke Portugal (kemudian diganti Guang Zhou). Wah.. senangnya Van... (plus ngiri karena I've never been anywhere
Kie bekerja di perusahaan produsen Glass (atau Gelas, Ki?) Pa kabar jeng? Kangen euy.... Kie ini penyemarak suasana. Asal ada dia, acara apa pun rasanya rame. Ya kan, Ki? ;)
To be continued ah...
Saya mengumpulkan beberapa foto dan kabar mereka. Belum semua, sayangnya. Kemarin-kemarin saya berpikir untuk bikin satu blog khusus untuk kami. Tapi kemudian kepikiran, ngurus blog sendiri aja keteteran ya? Ah, tapi yang penting kan niat ya ;)
Oke deh, here we go.
Ju sedang menikmati hujan bola warna-warni. Merah, pink, biru, hijau, abu-abu, hitam...
Saya tahu cerita Ayu dan Seto sejak... sebelum mereka pacaran. Saya mengikuti kisah mereka seperti menonton serial Friends. Hehehehe...
Dari semua teman seangkatan, saya paling sering bertemu Ayu dan Damas. Belakangan ini, mungkin karena berbagai perubahan, kami jadi lebih jarang bertemu. Padahal dulu sih jam berapa aja hayuuuuk....
Iska menikah. Putri Novotel cantik yang menemani saya menghabiskan hari ulang tahun ke-25 dengan berjalan-jalan di Bogor. Kumaha damang, Ka? ;)
Lisa dan suaminya Elkana sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Saya jadi ingat resepsi mereka tahun lalu. Baru sekali itu saya datang ke resepsi di mana pasangan pengantinnya BERDUET! Hihihihi... Lisa adalah salah satu teman saya yang paling easy going and naturally...funny :)
Kiri: Yovan. Tengah: Kie. Yovan sekarang di Deplu. Terakhir bertemu, dia sedang bersiap-siap berangkat ke Portugal (kemudian diganti Guang Zhou). Wah.. senangnya Van... (plus ngiri karena I've never been anywhere
Kie bekerja di perusahaan produsen Glass (atau Gelas, Ki?) Pa kabar jeng? Kangen euy.... Kie ini penyemarak suasana. Asal ada dia, acara apa pun rasanya rame. Ya kan, Ki? ;)
To be continued ah...
Tuesday, March 04, 2008
You Make Me Feel Like...

Saya tidak pernah merasa penting.
Tidak pernah punya posisi penting.
Terus terang, saya juga tidak merasa ada penting-pentingnya untuk 'merasa' penting, atau 'menjadi' penting.
Saya pernah dengar kalimat 'It's nice to be important, but it's more important to be nice.'
Saya suka kalimat itu. Suka maknanya. So I try to be nice (semoga berhasil).
Lalu sekarang saya punya anak.
Lho, apa hubungannya?
Ada. Banyak. Sangat.
Punya anak -di satu sisi- ternyata membuat saya merasa .... jadi orang penting. :)
Coba bayangkan.
Begitu pulang kantor, anak saya menyambut saya dengan suka cita.
Dia bertepuk tangan, tertawa terbahak-bahak, matanya berpendar.
Dia tertawa begitu keras sampai kepalanya menengadah.
Seumur hidup, belum pernah ada orang yang begitu gembira melihat saya seperti itu.
Ketika saya menghilang dari pandangannya -mungkin karena ke dapur atau ke kamar mandi atau sekadar keluar kamar sebentar- dia menangis. Dia mencari-cari saya, "Nda? Nda? Nana? Nana? (=bunda? mana?)
Waktu dia masih menangis karena mencari saya, lalu saya muncul lagi, tangisnya bisa langsung berhenti dan dia tertawa lagi dan kadang-kadang bahkan melonjak-lonjak. "Hehehe..."
Lain waktu, jika dia ingin 'melaporkan' sesuatu pada saya, dia datang tergopoh-gopoh dan berseru sekeras-kerasnya (she has a BIG BIG voice),"NDAAA! NDAAAA! INIIII! INIIII!!!!" Seolah dia takut saya akan melewatkan apapun yang dia tunjuk itu.
Kalau saya bernyanyi, dia akan menyimak penuh perhatian. Di akhir lagu, dia bertepuk tangan(!) buat saya!!! Kadang-kadang, baru nyanyi dua baris saja, saya sudah dihadiahi tepuk tangan :D Oh how I love my babygirl..
Belakangan ini, kalau saya minta 'disun', dia akan menempelkan pipinya ke pipi saya. Mmmuaahh...
...................................
Selama nyaris 29 tahun ini, saya pernah merasa senang, sedih, gembira, bahagia, takut, ragu, patah hati, kecewa, haru, bangga, marah, murka...
Tapi tak pernah -saya tak bisa mengingatnya- ... merasa penting.
Dulu, saya sering berpikir 'siapalah saya?'
Tapi sekarang kalau 'diri saya' mulai meremehkan 'diri saya' dengan ucapan 'siapalah saya', saya sudah punya jawaban:
"I'm a mother. And I'm important." :)
PS: Di atas itu foto pertama saya di blog ini setelah ngeblog sejak tahun 2003. Sebagai orang penting, bolehlah sesekali majang foto - selama masih di blog sendiri. Hihihiihi...
Friday, February 29, 2008
Lucky Number S7vin
| Your Life Path Number is 7 |
|
You are very spiritual, and you are interested in the mysteries of life. You are quite analytical and a great thinker. You have many theories and insights. A life of solitude is perfect for you. You need time to think and do things your way. In love, you are quite charming. You attract many with your confidence and wit. While you enjoy being alone, sometimes you take it to an extreme. You can become too isolated, shutting out loved ones and friends. Express yourself a little bit more, and you'll be surprised where it takes you! |
Imagine

Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one
-John Lennon
*Menurut saya, lagu ini cantik banget, very touching n moving.
Tapi setelah menggumam-gumam sekian lama, saya jadi mikir sendiri: Bener ga ya? Bener ga ya, kalau kita ga punya konsep surga-neraka, negara, agama, kepemilikan, rasa tamak dan lapar, kita akan hidup damai?
*Picture's taken from Getty Image
Vote for David Archuleta!
OMG.... I really really really like this boy!Good voice, good attitude, very talented n very very cute!
Semalam lihat David A di Global TV (maklum ga punya cable), nyanyi Imagine. Huhuhuhu...
Lucu deh, anak ini kalau dipuji jadi tersipu-sipu. Kayak nggak tahu kalau dia emang 'sekeren itu'.
Kalau gue masih SMP, mungkin udah kirim fanmail (seperti yang pernah gue lakukan pada Leonardo diCaprio, pemain Beverly Hills 90210, dan pemenang Asia Bagus. Dasar ABG centill...) Hehehehe...
David A, keep up the good work!
Gue yakin lo masup pinal! :D Muah! Muah! (Halah, Bundanya Pendar jadi ganjen gini)
Wednesday, December 12, 2007
Pendar 14 Bulan
My beautiful baby girl sudah bisa:Jalan!
Yippiiiii..... Senangnya dan oh capeknya mengejar dia ke sana kemari.
Makan nasi seperti the rest of the family (Gigi Pendar sudah tujuh. Empat di atas, tiga di bawah).
Lauknya biasanya orak-arik telur, tahu, bayam... Tapi kadang-kadang Pendar bosan. Kalau disuapin, nasinya disembur-sembur keluar. Jadi kadang-kadang nasinya diblender dan tetap makan bubur instan untuk sarapan.
Kumur-kumur air putih.
Kalau lagi berbaring sambil ngedot air putih, Pendar suka jail. Air putih disimpan banyak-banyak dalam mulut, lalu mulut dimonyongin, dan krrrrrrr..... Airnya dikumur-kumur, lalu dikeluarkan dari mulut. Bajunya pasti basah dan harus diganti.
Kiss bye.
Ini benar-benar cuma saya yang mengajari. Sebelum berangkat ke kantor, saya menurunkan kaca jendela mobil dan melempar 'cium jauh' ke arah dia yang memandang dari balik pintu kaca. “Mmmuah!”
Menunjuk 'Bunda'.
Pendar suka mengacak-acak dompet ayah. Kalau menemukan KTP ayah, dia menunjuk foto ayah dan berseru, “AYAH!” Dari dulu, Pendar bisanya baru 'ayah'. Bilang 'bunda' belum bisa. Saya lalu mengajari, “Iya, ini ayah. Kalau bunda yang mana? Ini bunda...” Saya menepuk-nepuk diri sendiri. Setelah itu, kalau saya tanya, “Bunda mana, Dek?” Dia akan menepuk-nepuk dirinya sendiri. Hehehe, ini salah yang ngajarin ya?
Akhirnya, ajarannya diubah sedikit. Saya pegang tangannya, lalu saya arahkan ke dada saya. “Ini bunda...” Sekarang kalau ditanya, “Bunda mana?” Dia menepuk-nepuk saya. :) Anak pintar...
Menelepon.
Dari dulu, Pendar suka ngoprek ponsel ayah bunda. Sekarang, dia suka menempelkan HP ke kupingnya sambil ngomong (apa lagi?)... AYAH??? Lucunya, dia suka bertelepon sambil jalan kian-kemari, kayak bos-bos sok sibuk :D Kemarin, setelah mencet-mencet remote rusak, mencoba mengganti channel TV, Pendar menempelkan remote itu ke kuping; AYAH...??? Semalam, waktu kaos Pendar jatuh ke lantai, dia membungkuk untuk mengambilnya, lalu menempelkan kaos itu ke kuping: AYAAH...???
Ngomong:
'Ga apa-apa'. Tempo hari waktu dijaga Yangti, Pendar jatuh. Yangti langsung merasa bersalah. “Aduh, maaf ya, Pendar... Maaf, ya...” Pendar yang sudah berdiri langsung ngeloyor pergi sambil bilang. “Ga papah...” Saya takjub! Kok bisa ya dia jawab gitu?
'Siapa-siapa'. Satu malam, Pendar terbangun dan minta diajak keluar kamar. Saya gendong dia, lalu saya tunjukkan ruangan-ruangan yang gelap dan kosong. “Tuh kan... Masih malam. Ga ada siapa-siapa.” Pendar membeo, “Siapa-apah...”
'Mimik' atau 'memey' yang berarti air putih. Suatu ketika, Pendar terbangun malam-malam. Setelah mengerjapkan mata, kata itu meluncur lancar dari mulutnya, “MIMIK!” Ini bukan pertama kalinya dia bilang 'mimik' tapi pertama kalinya saya mendengar kata itu begitu lantang dari mulutnya.
Pernah, satu malam, saya tidak menyiapkan botol air putih dan cuma menyiapkan susu. Sewaktu Pendar rewel, saya berikan dia susu. Tapi Pendar nggak mau. Tangannya menunjuk-nunjuk ke rak besi tempat saya biasa meletakkan botol air putihnya. “Memey, memey...” Pendar baru tenang setelah diambilkan air putih. Hehehe, rupanya dia haus.
'Nyanyah?' Artinya 'mana'. Kalau dia sedang memainkan sesuatu, lalu barangnya kami sembunyikan, Pendar akan celingukan sambil bertanya, “Nyanyah? Nyanyah?”
'Aaalkoooo...' Semalam hidung Pendar meler lagi. Padahal baru sembuh dari flu. Hiks hiks.. Sambil menggendong dia, saya raih botol obat pilek Alco di meja makan. “Pendar minum Alco, ya, supaya sembuh.” Dia membeo lagi, “Aaalkooo...”
Thursday, November 22, 2007
Simply Beautiful
I had no one to talk me out of despair and that was a mistake. You need to keep people close. You need to give them access to your heart.
Charley Benetto, For One More Day
...there's a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother's story, because hers is where yours begin.
- Charley Benetto, For One More Day
Just finished reading For One More Day by Mitch Albom. Gila ya tuh orang. Keren banget :)
Seperti dua buku Mitch Albom sebelumnya -'Tuesdays with Morrie' dan 'Five Paople You Meet in Heaven'- buku ini menyinggung kematian (dan seiring itu juga kehidupan), old folks, past-present, love and self forgiveness.
To tell you the truth, for some reasons, I'm not really a big fan of 'Tuesdays with Morrie' (or is it because I only read the translated version ya? :p) but I reeeally love the other two books, especially this last one. Even after I closed the book, the story echoed in my heart.
Charley Benetto, For One More Day
...there's a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother's story, because hers is where yours begin.
- Charley Benetto, For One More Day
Just finished reading For One More Day by Mitch Albom. Gila ya tuh orang. Keren banget :)
Seperti dua buku Mitch Albom sebelumnya -'Tuesdays with Morrie' dan 'Five Paople You Meet in Heaven'- buku ini menyinggung kematian (dan seiring itu juga kehidupan), old folks, past-present, love and self forgiveness.
To tell you the truth, for some reasons, I'm not really a big fan of 'Tuesdays with Morrie' (or is it because I only read the translated version ya? :p) but I reeeally love the other two books, especially this last one. Even after I closed the book, the story echoed in my heart.
Friday, September 21, 2007
Tuhan dalam Sekantung Buah Plastik
Membaca posting salah satu pengarang favorit saya -Dee- di 'sini' membuat saya berpikir, dan juga teringat akan sesuatu.
Dua pertanyaan itu: Apa itu Cinta? Apa itu Tuhan?
Bagi saya, menjawab pertanyaan pertama kini lebih mudah.
Cinta adalah Pendar, love is Pendar. Titik.
Saya tidak menjelaskan lebih panjang atau lebih baik dari itu.
Dan Tuhan?
Tuhan saya muncul dalam kenangan tentang sekantung mainan buah plastik yang dibeli ibu di pasar pagi Rawamangun.
Waktu itu saya masih SD. Kelas berapa tepatnya, saya lupa.
Saya sedang bermain di rumah saudara sepupu di bilangan Kelapa Gading. Kakak sepupu saya itu punya sekantung mainan buah-buahan plastik. Saya lupa apa saja buah-buahannya. Mungkin ada apel, jeruk, pisang... Standar.
Entah kenapa -mungkin karena pada dasarnya saya doyan makan?- saya sangat terkesan. Saya ingin, sangat ingin punya mainan yang sama. Tapi bagaimana caranya? Saya tak punya uang. Saya tak pernah diberi uang jajan sewaktu masih SD – kecuali kalau ibu bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan.
Malamnya, sebelum tidur, setelah berbaring di ranjang, saya memejamkan mata dan berdoa dalam hati: “Allah, Eyi pengen mainan buah-buahan plastik seperti punya Uni Meitia. Amin...”
Tepat keesokan paginya, kami sekeluarga -ibu, ayah, saya dan adik perempuan- pergi ke pasar. Sementara ibu belanja, ayah mengajak saya dan adik menunggu di warung Padang dalam pasar. Rasanya baru sebentar, ibu sudah muncul lagi sambil menenteng sekeranjang belanjaan. Dia lalu menyodorkan sesuatu pada saya. “Ini buat Eyi.”
Itu dia. Tepat seperti yang saya minta tadi malam pada Tuhan. Sekantung mainan buah-buahan plastik. Mainan itu nyata, saya menggenggamnya.
Saya takjub. “Kok cepet banget, Tuhan?”
Tahun-tahun berlalu.
Dalam perjalanan waktu, sejak peristiwa buah plastik itu hingga sekarang, saya pernah meragukan perintah salat, konsep surga-neraka, perhitungan pahala-dosa dan entah apa lagi.
Tapi saya tak pernah mempertanyakan Tuhan. Saya tahu Dia ada di dekat saya: melihat, mendengarkan—bahkan kalimat yang tak terucapkan, memahami dan menjawab...
Dua pertanyaan itu: Apa itu Cinta? Apa itu Tuhan?
Bagi saya, menjawab pertanyaan pertama kini lebih mudah.
Cinta adalah Pendar, love is Pendar. Titik.
Saya tidak menjelaskan lebih panjang atau lebih baik dari itu.
Dan Tuhan?
Tuhan saya muncul dalam kenangan tentang sekantung mainan buah plastik yang dibeli ibu di pasar pagi Rawamangun.
Waktu itu saya masih SD. Kelas berapa tepatnya, saya lupa.
Saya sedang bermain di rumah saudara sepupu di bilangan Kelapa Gading. Kakak sepupu saya itu punya sekantung mainan buah-buahan plastik. Saya lupa apa saja buah-buahannya. Mungkin ada apel, jeruk, pisang... Standar.
Entah kenapa -mungkin karena pada dasarnya saya doyan makan?- saya sangat terkesan. Saya ingin, sangat ingin punya mainan yang sama. Tapi bagaimana caranya? Saya tak punya uang. Saya tak pernah diberi uang jajan sewaktu masih SD – kecuali kalau ibu bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan.
Malamnya, sebelum tidur, setelah berbaring di ranjang, saya memejamkan mata dan berdoa dalam hati: “Allah, Eyi pengen mainan buah-buahan plastik seperti punya Uni Meitia. Amin...”
Tepat keesokan paginya, kami sekeluarga -ibu, ayah, saya dan adik perempuan- pergi ke pasar. Sementara ibu belanja, ayah mengajak saya dan adik menunggu di warung Padang dalam pasar. Rasanya baru sebentar, ibu sudah muncul lagi sambil menenteng sekeranjang belanjaan. Dia lalu menyodorkan sesuatu pada saya. “Ini buat Eyi.”
Itu dia. Tepat seperti yang saya minta tadi malam pada Tuhan. Sekantung mainan buah-buahan plastik. Mainan itu nyata, saya menggenggamnya.
Saya takjub. “Kok cepet banget, Tuhan?”
Tahun-tahun berlalu.
Dalam perjalanan waktu, sejak peristiwa buah plastik itu hingga sekarang, saya pernah meragukan perintah salat, konsep surga-neraka, perhitungan pahala-dosa dan entah apa lagi.
Tapi saya tak pernah mempertanyakan Tuhan. Saya tahu Dia ada di dekat saya: melihat, mendengarkan—bahkan kalimat yang tak terucapkan, memahami dan menjawab...
Friday, September 14, 2007
Ramadhan Berpendar
Ketemu Ramadhan lagi. Alhamdulillah... Mohon maaf lahir batin. Selamat puasa buat semua yang menjalankan, ya... Ramadhan tahun lalu -karena hamil, melahirkan lalu menyusui- saya sama sekali tidak berpuasa. Ramadhan tahun ini menyenangkan, karena saya sudah bisa ikut puasa lagi dan karena Pendar sebentar lagi genap satu tahun.Iya lhooo..., Pendar sudah besar sekarang, sudah 11 bulan. Tanggal 4 Oktober besok, Insya Allah dia ulang tahun. Saya ingat, setahun lalu sewaktu Pendar baru lahir saya kena 'baby blue'. Tiap hari rasanya capek, bete, ngantuk, gerah (waktu itu cuaca lagi sepanas neraka!). Sekarang saya kena 'baby bright red'. Tiap hari -asal bareng Pendar- rasanya senang-riang-suka-suka hura-hura. Saya masih sering merasa capek -apalagi karena dia sudah lincah banget- dan masih kurang tidur, tapi kalau melihat dia ketawa-tawa, rasanya kok ya pengen ketawa juga :)
Banyak cerita tentang Pendar yang terlewat, tak saya tulis di blog atau di agenda dan saya juga yakin tidak sedikit yang sudah terlupakan. Well, supaya tidak lupa lebih banyak lagi, lebih baik langsung ditulis di sini:
::: Pendar sudah bisa melangkah, tapi dipegangin. Senangnya..., semoga sebentar lagi bisa jalan sendiri ya, Nak.
::: Pendar anak gaul. Hehehe... Iya lho, dia senaaaaang... sekali kalau melihat anak kecil / bayi lain. Kalau kami ke rumah sakit buat imunisasi, dia suka teriak-teriak dan nunjuk-nunjuk anak lain. Dia juga paling hobi ngebolak-balik Majalah Ayahbunda dan melihat foto 'Dede-dede' atau 'Kaka-kaka'. Biasanya saya akan bilang, “Cium dedenya... Sun sayang dedenya dong.” Pendar lalu akan membungkuk, terus cuuup... foto si dede dicium deh :)
Eh, tapi Pendar malu-malu kalau ketemu orang gede. Kalau lagi digendong dan ada yang nyapa, kepalanya pasti langsung ditempel ke dada saya, trus mukanya nunduk. Hehehe :)
::: Pendar doyan nonton iklan. Mungkin semua anak kecil begitu, ya? Pendar bisa tidak berkedip kalau nonton iklan di TV, terutama yang bintang iklannya anak-anak. Dia paling suka iklan Dancow: “Sudah malaaam... Ikan bobooook... Ade nggak bobok?” Sehabis iklan, dia senyum-senyum sendiri.
::: Pendar bisa main cilukba. Saya baru sekali lihat, tempo hari bareng Yangti, Angku dan Om Zaki. Pas dibilang 'ciluuk...', dia nutup mata dengan kedua tangan. Begitu buka mata, kami langsung teriak 'baaa!!!
::: Pendar... ganteng! Huhuhu, tempo hari waktu Pendar diajak angku jalan keluar rumah, terus ketemu anak tukang sate yang dagang dekat rumah, dia menyapa “Ooh.. ini cucunya ya, Pak? Aduuh, gantengnyaaa...” Banyak juga yang begitu melihat Pendar langsung menebak, “Cowok, ya?” Yang masih 'agak' sopan biasanya bertanya dulu, “Ini cewek atau cowok sih?” Uhuk uhuk uhuk..
::: Pendar bisa bilang Mama dan Papa (meskipun kami ngotot mau dipanggil ayah bunda). Ini sih sudah bisa lama. Kemarin, pukul dua dini hari, dia tahu-tahu bangun dan ngoceh, “Mama ma ma ma ma... Papa pa pa pa pa...” Waktu saya jawab, “Bilang 'ayah' bisa ngga, Dek? Coba 'A-yaah...' “ Pendar langsung teriak “PAPAA!” Huihihi. Mungkin dia pikir “Suka-suka gue, dong. Ngatur-ngatur aja lo.”
Bunda love Pendar. Muah muah Adek Pendar!
Friday, July 27, 2007
Akeelah and the Bee
"You know that feeling when everything feels right? When you don't have to worry about tomorrow or yesterday, but you feel safe and you kno you're doing the best you can? There's a word for that kind of feeling. It's called love. L-O-V-E."Kadang-kadang nggak perlu film yang super-duper bagus, masuk box office dan dipuji banyak kritikus untuk membuat kita tersentuh.
Itu yang saya alami saat menonton film ini: "Akeelah and the Bee."
"Akeelah and the Bee", jenis film anak-anak dan ABG yang dulu sering saya tonton di layar RCTI waktu tayangan RCTI baru bisa dinikmati dengan dekoder. Ceritanya sederhana, endingnya tertebak dan penokohannya agak klise, tapi saya tetap suka. Lho, jadi suka apanya dong, ya? Hehehe...
Akeelah, gadis hitam manis berusia 11 tahun yang kurang perhatian. Ayahnya sudah meninggal, ibu dan kakak perempuannya sibuk. Akeelah sangat suka mengeja. She had something with words. Dia bisa mengeja kata-kata sulit yang belum tentu bisa dilakukan oleh anak-anak lain yang lebih tua atau orang dewasa sekalipun. Dengan mengeja, dia bisa melupakan kesedihannya karena ditinggal ayah.
Singkat cerita, karena desakan kepala sekolahnya, Akeelah akhirnya ikut kompetisi mengeja. Dibimbing Dr. Larabee -mantan dosen UCLA-, Akeelah maju dari tingkat lokal sampai nasional. Segala konflik, masalah serta hal-hal menyenangkan silih berganti muncul dalam kurun waktu itu.
Saya menonton Akeelah saat Pendar sedang tidur suatu siang. Ini namanya kemewahan. Sekarang saya sulit sekali menemukan waktu untuk menonton DVD. Baru 3/4 film berjalan, Pendar tahu-tahu melek. Waduh...
Tapi ternyata putri saya memang anak baik. Saya dudukkan dia di samping saya. Saya beri 'kotak isi segala rupa' yang memang sering dia acak-acak. Dan dia duduk tenang sampai film berakhir. Terkadang ikut melihat ke televisi, tapi kemudian sibuk sendiri lagi. Sekali-kali saya peluk dia sambil ikut-ikutan Akeelah mengeja. "Ayah: A-Y-A-H. Bunda: B-U-N-D-A. Pendar: P-E-N-D-A-R! P-E-N-D-A-R! P-E-N-D-A-R!" Pendar tertawa-tawa saat namanya dieja. Oh, how i love my baby girl.
Anyway, saya suka Akeelah and the Bee. Film sederhana, seperti hidup saya, tapi semua pemerannya bermain bagus sesuai porsinya. Saya suka Javier -sobat cowok Akeelah sekaligus lawannya dalam kompetisi mengeja. Duh, itu anak kalau sudah besar pasti ganteng. Huehehehe...
Saya suka karena film ini menghibur dan juga mendidik. Dia mengingatkan saya untuk tidak takut... pada diri saya sendiri. Dia mengingatkan bahwa ketakutan terbesar kita bukan karena kita tidak mampu, tapi justru karena sebaliknya. Dan kita merendahkan diri dengan berpikir 'siapalah saya'.
Saya suka happy ending.
Dulu saya justru suka sad ending, tragic ending. Tapi seiring usia dan banyaknya kenyataan hidup yang saya lihat dan rasakan sendiri (halah), sekarang saya lebih suka happy ending. Saya suka film yang membuat saya senang :)
Saya tak akan menganjurkan orang lain (kecuali anak-anak dan ABG) menonton Akeelah and the Bee, karena belum tentu (atau besar kemungkinan) efeknya tidak akan sama. Hehehe... Tapi kalau ada kesempatan menonton lagi -apalagi ditemani Pendar yang anteng di samping saya-, I'd really looooooovee.... to.
Papa
Pendar sudah bisa menceracau beberapa patah kata. Entahlah apa dia sesungguhnya memahami arti kata itu atau tidak.
Salah satu kata favoritnya sekarang adalah 'papa'.
Semua laki-laki di rumah dipanggil 'papa' oleh Pendar.
Ayah dipanggil 'papa' (Dan kami tetap kekeuh mengajarinya "A...YAAAH....")
Angku dipanggil 'papa'.
Om Omar dipanggil 'papa'.
Om Zaki dipanggil 'papa'.
Kemarin dua orang bapak-bapak menelepon di wartel kami.
Sejak mereka datang, menelepon, lalu membayar, Pendar menataaaap... terus.
Ketika mereka keluar, Pendar tiba-tiba memanggil "Papa!"
Weleh! Huehehehehe......
***Adek Pendar..., laki-laki selain ayah dan Nicholas Saputra, jangan dipanggil 'papa' ya Nak.. ;D
Salah satu kata favoritnya sekarang adalah 'papa'.
Semua laki-laki di rumah dipanggil 'papa' oleh Pendar.
Ayah dipanggil 'papa' (Dan kami tetap kekeuh mengajarinya "A...YAAAH....")
Angku dipanggil 'papa'.
Om Omar dipanggil 'papa'.
Om Zaki dipanggil 'papa'.
Kemarin dua orang bapak-bapak menelepon di wartel kami.
Sejak mereka datang, menelepon, lalu membayar, Pendar menataaaap... terus.
Ketika mereka keluar, Pendar tiba-tiba memanggil "Papa!"
Weleh! Huehehehehe......
***Adek Pendar..., laki-laki selain ayah dan Nicholas Saputra, jangan dipanggil 'papa' ya Nak.. ;D
Thursday, July 19, 2007
Hobinya mandi, tertawa, melihat cicak, teriak-teriak, joget dan ngoprek ponsel ayah :D
Lihatlah fotonya. Itu Pendar.
Semua di wajahnya serba besar: Mata, hidung, bibir...
Seperti ayahnya (semoga kalau sudah besar, badannya nggak sebesar badan ayah ya, Nak).
Saya paling suka melihat dia tertawa. Tawanya menular.
Saya juga suka berbaring di sampingnya. Biasanya dia akan ikut berbaring, lalu berbalik menghadap saya, lalu senyam-senyum :)
Pendar itu pelipur lara, penerang jiwa, penyemangat hari.
Muah muah adek...!!!
Monday, June 04, 2007
Probably
Life will probably be so much easier when I just stay home and spend the whole time with my daughter -Pendar.
But then again, "probably" is a powerful word.
But then again, "probably" is a powerful word.
Wednesday, May 23, 2007
Another day.
Seperti biasa, tadi pagi saya bangun jam empat subuh (!). Suatu hal yang tak mungkin terjadi kalau status saya masih lajang. Memanaskan air, mandi, sholat, main sama Pendar yang tahu-tahu kebangun, ganti baju, lalu cabut ke kantor sekitar 15 menit sebelum pukul 6. Sampai di kantor, sarapan nasi uduk, naik ke lantai tiga, dandan di toilet, nonton acara gosip di TV lalu duduk manis depan komputer. Dan sekarang baru jam setengah delapan pagi.
Dua minggu kemarin GILA. Saya GILA, maksudnya. Serasa dikejar-kejar syaiton (hehehe) dan hampir lupa napas. Mata perih karena menatap komputer dari pagi sampai malam. Tapi syukur, sekarang semua sudah lewat.
Seorang teman bilang saya berubah. Lebih pendiam.
Saya agak kaget karena ternyata dia memperhatikan. Akhir-akhir ini saya memang lebih malas ngomong. Teman lain pernah berkata, "Dunia ini tempat yang ribut." Sekarang saya baru menyadari kalau dia benar. Terlalu banyak konsep, teori, keluh-kesah, teriakan-teriakan, bebunyian. Bikin capek. Dan bikin saya semakin malas untuk ikut meramaikannya.
Selain itu, saya juga tidak sesabar dulu lagi. Sedikit-sedikit, jengkel. Sedikit-sedikit, kesal. Meskipun tidak saya perlihatkan, tapi semua mengendap di hati.
Membaca buku pun begitu. Dulu saya masih sabar membaca buku yang awalnya saya anggap membosankan. Siapa tahu, semakin banyak halaman yang dibaca, semakin menarik buku itu jadinya. Tapi sekarang, begitu vonis 'membosankan' saya jatuhkan (halah), buku itu saya lempar.
Sekarang saya bingung.
Sebenarnya saya mau ngomong apa, mau nulis apa?
Hmmm..., mungkin saya cuma ingin menulis sesuatu. Apa saja. Supaya halaman blog ini bertambah. Dan supaya apa yang terpendam dalam hati bisa keluar walau sedikit. Dan supaya saya terlatih (kembali) menulis hal lain yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Supaya saya tidak jadi robot yang gerak-geriknya sudah terprogram, atau jadi tukang yang hanya bekerja sesuai pesanan.
Saya ingin menulis sesuatu yang berarti, setidaknya buat saya. Tapi bagaimana saya bisa menulis sesuatu yang berarti kalau semangat untuk menulis hal remeh-temeh pun tak ada.
Ah, itu dia! Kata itu yang dari tadi saya "cari". Semangat!
(kata 'cari' sengaja saya beri tanda kutip karena sebenarnya dari tadi saya tidak dengan sengaja mencari apa pun. Saya tahu ada yang hilang, tapi saya tidak sedang mencari. Ternyata kata itu memunculkan dirinya sendiri)
Saya sedang mengumpulkan semangat saya lagi.
Untuk menjalani remeh-temeh kehidupan dan menuangkannya di sini.
Untuk mencari-cari ide dan perlahan-lahan mewujudkannya menjadi sesuatu yang berarti.
Untuk berangkat kerja tanpa merasa ada batu besar yang diikat di kaki.
Untuk menyadari bahwa hidup bukan cuma serangkaian rutinitas yang terus berulang.
Seperti biasa, tadi pagi saya bangun jam empat subuh (!). Suatu hal yang tak mungkin terjadi kalau status saya masih lajang. Memanaskan air, mandi, sholat, main sama Pendar yang tahu-tahu kebangun, ganti baju, lalu cabut ke kantor sekitar 15 menit sebelum pukul 6. Sampai di kantor, sarapan nasi uduk, naik ke lantai tiga, dandan di toilet, nonton acara gosip di TV lalu duduk manis depan komputer. Dan sekarang baru jam setengah delapan pagi.
Dua minggu kemarin GILA. Saya GILA, maksudnya. Serasa dikejar-kejar syaiton (hehehe) dan hampir lupa napas. Mata perih karena menatap komputer dari pagi sampai malam. Tapi syukur, sekarang semua sudah lewat.
Seorang teman bilang saya berubah. Lebih pendiam.
Saya agak kaget karena ternyata dia memperhatikan. Akhir-akhir ini saya memang lebih malas ngomong. Teman lain pernah berkata, "Dunia ini tempat yang ribut." Sekarang saya baru menyadari kalau dia benar. Terlalu banyak konsep, teori, keluh-kesah, teriakan-teriakan, bebunyian. Bikin capek. Dan bikin saya semakin malas untuk ikut meramaikannya.
Selain itu, saya juga tidak sesabar dulu lagi. Sedikit-sedikit, jengkel. Sedikit-sedikit, kesal. Meskipun tidak saya perlihatkan, tapi semua mengendap di hati.
Membaca buku pun begitu. Dulu saya masih sabar membaca buku yang awalnya saya anggap membosankan. Siapa tahu, semakin banyak halaman yang dibaca, semakin menarik buku itu jadinya. Tapi sekarang, begitu vonis 'membosankan' saya jatuhkan (halah), buku itu saya lempar.
Sekarang saya bingung.
Sebenarnya saya mau ngomong apa, mau nulis apa?
Hmmm..., mungkin saya cuma ingin menulis sesuatu. Apa saja. Supaya halaman blog ini bertambah. Dan supaya apa yang terpendam dalam hati bisa keluar walau sedikit. Dan supaya saya terlatih (kembali) menulis hal lain yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Supaya saya tidak jadi robot yang gerak-geriknya sudah terprogram, atau jadi tukang yang hanya bekerja sesuai pesanan.
Saya ingin menulis sesuatu yang berarti, setidaknya buat saya. Tapi bagaimana saya bisa menulis sesuatu yang berarti kalau semangat untuk menulis hal remeh-temeh pun tak ada.
Ah, itu dia! Kata itu yang dari tadi saya "cari". Semangat!
(kata 'cari' sengaja saya beri tanda kutip karena sebenarnya dari tadi saya tidak dengan sengaja mencari apa pun. Saya tahu ada yang hilang, tapi saya tidak sedang mencari. Ternyata kata itu memunculkan dirinya sendiri)
Saya sedang mengumpulkan semangat saya lagi.
Untuk menjalani remeh-temeh kehidupan dan menuangkannya di sini.
Untuk mencari-cari ide dan perlahan-lahan mewujudkannya menjadi sesuatu yang berarti.
Untuk berangkat kerja tanpa merasa ada batu besar yang diikat di kaki.
Untuk menyadari bahwa hidup bukan cuma serangkaian rutinitas yang terus berulang.
Tuesday, May 22, 2007
KERUPUK!
Lebih dari sebulan lalu, saya menerima e-mail dari sahabat lama yang (waktu itu) sedang menetap di Aceh. Di paragraf terakhir email itu, dia meminta saya berkisah tentang "kehidupan domestik" yang kini menjadi bagian dari diri aaya. Mungkin, daripada menghitung suara tokek atau mencabut kelopak bunga satu persatu, dia memilih bertanya (hei, saya mulai terdengar seperti dia). Anyway, jadi berceritalah saya.
Siapa sangka, email jawaban saya turn out to be one of my favorite e-mail that I ever wrote. Ini dia:
Subject: Re: nannoo.....nannnnoooo
From: "LARILARIKECIL"
Date: Thu, April 5, 2007 16:15
To: "JU"
Priority: Normal
> Eyi, my best pren.Coba ceritakan keindahan dari kehidupan mu.
> Secuplik embun bening dari kenyataan keseharian, kehidupan domestik.
> Ada enggan yang mengakar di bawah kesadaran rasanyah, enggan untuk menyentuh yang domestik itu.
> Tapi kalo kau ceritakan padaku keindahannyah, maulah aku juga mencicipinyah.
> Keseharian ketika lu jalani hidup berkeluargamu dengan berjibun komitmen dan tanggung jawab itu.
maaf bahasanya ya ey, kapan lagi dan sama siapa lagi bisa ngomong dengan cara sejijay ini hehehehehehehe
-Ju-
Keindahannya, Ju? The beauty is Pendar herself :)
Keindahannya adalah menemukan bahwa hal-hal paling sederhana dalam hidup ternyata membawa kebahagiaan.
Contohnya: Kerupuk. (Lho???) Hehehehehe...
Beberapa hari lalu, gue lagi ngegendong Pendar, sambil nonton TV. Di TV lagi ada acara "Sisi Lain' (kalau ngga salah) tentang proses pembuatan kerupuk.
As usual, gue mengajak dia bicara tentang apa yg gue lihat.
"Eeh.., itu tuh Dek, di TV lagi ada cara bikin "kerupuk".
Saat mengucapkan kata "kerupuk", gue menolehkan kepala dari TV ke dia.
And u know what, Ju? She laughed! She laughed at the sound of "kerupuk" (or so I thought).
Gue diam sebentar, agak ragu, lalu gue mengulang kata itu: "Kerupuk?"
N she goes "hehe.."
"Kerupuk?"
"Hehe"
Gue makin pede: "Keruuuuu...puk!"
N she goes again: "Hehe.."
Gue lanjut: "Keeeeee...rupuk!"
And my baby stil goes: "hehehe"...
Coba gue ucapkan kata ini keras-keras buat lo, Ju: KERUPUK!!!!
K-E-R-U-P-U-K!!! Do you even smile?
Senyum (apalagi ketawanya) seorang anak itu kuat banget, Ju. Indah banget. It's her weapon. Sebelum2 ini, gue juga suka sama anak kecil, tapi sama anak sendiri beda banget. Senyum anak lain indah, tapi senyum anak sendiri indaaaaaaaaah.... banget. (Trust me, lo nggak akan BENAR-BENAR MEMAHAMI apa yang gue katakan ini sebelum punya anak sendiri)
Kalau mengutip grup band tempo dulu 'Michael Learns to Rock':
"It's a picture of a thousand sunsets, it's a freedom of a thousand doves."
(BO! MLTR, BO!) :D :D :D
I'll go the distance to bring out the smile on her face.
Kalau di kantor lagi bete, lagi capek, lagi pusing, I simply remember her laughter/smile, n gue pasti langsung ikut senyum juga. Tentu aja, masalah kerjaan gue ga selesai cuma dengan tersenyum. Tapi memori tentang Pendar yang sedang ketawa adalah sanctuary gue sekarang.
Another story:
Dua hari yang lalu, malam-malam, Pendar belum tidur. I knew it's her bedtime, so gue gendong dia n I sang her a lullaby:
"Twinkle-twinkle little star, how I wonder what u are.."
After singing the song, I whispered it to her:
twinkle-twinkle-little-star
how-I-wonder-what-u-are
Dan mata Pendar mulai merem, melek, merem, melek, makin lama makin berat..
N it's just... simply beautiful. Ga tahu gimana ngejelasinnya.
.....................................
Gue nggak tahu apa dua potong cerita ini cukup "indah" sehingga bisa bikin lo mau nyicipin kehidupan domestik :D
But to tell you the truth, I'm not trying to do that. I'm not trying to lure you to enter the huge gate of "marriage, commitment, n responsibility" (aaaaawww...) :D
I believe in time, now. I believe in season.
So when your season come, embrace it with happiness, ya.
Take care, Ju
-Eyi-
Siapa sangka, email jawaban saya turn out to be one of my favorite e-mail that I ever wrote. Ini dia:
Subject: Re: nannoo.....nannnnoooo
From: "LARILARIKECIL"
Date: Thu, April 5, 2007 16:15
To: "JU"
Priority: Normal
> Eyi, my best pren.Coba ceritakan keindahan dari kehidupan mu.
> Secuplik embun bening dari kenyataan keseharian, kehidupan domestik.
> Ada enggan yang mengakar di bawah kesadaran rasanyah, enggan untuk menyentuh yang domestik itu.
> Tapi kalo kau ceritakan padaku keindahannyah, maulah aku juga mencicipinyah.
> Keseharian ketika lu jalani hidup berkeluargamu dengan berjibun komitmen dan tanggung jawab itu.
maaf bahasanya ya ey, kapan lagi dan sama siapa lagi bisa ngomong dengan cara sejijay ini hehehehehehehe
-Ju-
Keindahannya, Ju? The beauty is Pendar herself :)
Keindahannya adalah menemukan bahwa hal-hal paling sederhana dalam hidup ternyata membawa kebahagiaan.
Contohnya: Kerupuk. (Lho???) Hehehehehe...
Beberapa hari lalu, gue lagi ngegendong Pendar, sambil nonton TV. Di TV lagi ada acara "Sisi Lain' (kalau ngga salah) tentang proses pembuatan kerupuk.
As usual, gue mengajak dia bicara tentang apa yg gue lihat.
"Eeh.., itu tuh Dek, di TV lagi ada cara bikin "kerupuk".
Saat mengucapkan kata "kerupuk", gue menolehkan kepala dari TV ke dia.
And u know what, Ju? She laughed! She laughed at the sound of "kerupuk" (or so I thought).
Gue diam sebentar, agak ragu, lalu gue mengulang kata itu: "Kerupuk?"
N she goes "hehe.."
"Kerupuk?"
"Hehe"
Gue makin pede: "Keruuuuu...puk!"
N she goes again: "Hehe.."
Gue lanjut: "Keeeeee...rupuk!"
And my baby stil goes: "hehehe"...
Coba gue ucapkan kata ini keras-keras buat lo, Ju: KERUPUK!!!!
K-E-R-U-P-U-K!!! Do you even smile?
Senyum (apalagi ketawanya) seorang anak itu kuat banget, Ju. Indah banget. It's her weapon. Sebelum2 ini, gue juga suka sama anak kecil, tapi sama anak sendiri beda banget. Senyum anak lain indah, tapi senyum anak sendiri indaaaaaaaaah.... banget. (Trust me, lo nggak akan BENAR-BENAR MEMAHAMI apa yang gue katakan ini sebelum punya anak sendiri)
Kalau mengutip grup band tempo dulu 'Michael Learns to Rock':
"It's a picture of a thousand sunsets, it's a freedom of a thousand doves."
(BO! MLTR, BO!) :D :D :D
I'll go the distance to bring out the smile on her face.
Kalau di kantor lagi bete, lagi capek, lagi pusing, I simply remember her laughter/smile, n gue pasti langsung ikut senyum juga. Tentu aja, masalah kerjaan gue ga selesai cuma dengan tersenyum. Tapi memori tentang Pendar yang sedang ketawa adalah sanctuary gue sekarang.
Another story:
Dua hari yang lalu, malam-malam, Pendar belum tidur. I knew it's her bedtime, so gue gendong dia n I sang her a lullaby:
"Twinkle-twinkle little star, how I wonder what u are.."
After singing the song, I whispered it to her:
twinkle-twinkle-little-star
how-I-wonder-what-u-are
Dan mata Pendar mulai merem, melek, merem, melek, makin lama makin berat..
N it's just... simply beautiful. Ga tahu gimana ngejelasinnya.
.....................................
Gue nggak tahu apa dua potong cerita ini cukup "indah" sehingga bisa bikin lo mau nyicipin kehidupan domestik :D
But to tell you the truth, I'm not trying to do that. I'm not trying to lure you to enter the huge gate of "marriage, commitment, n responsibility" (aaaaawww...) :D
I believe in time, now. I believe in season.
So when your season come, embrace it with happiness, ya.
Take care, Ju
-Eyi-
Wednesday, March 21, 2007
My Lil' Princess
Ini dia, Pendar Ramadhani Anitya. Lima setengah bulan usianya. Alhamdulillah. Sudah pintar guling-gulingan. Beberapa hari ini suka teriak-teriak 'aaaaaaaaaa.....'. Kalau bangun subuh-subuh, pasti langsung senyum. Nggak nangis, nggak bengong, pasti senyum. Sayang Bundanya nggak punya kamera digital yang oke. Jadi foto adek Pendar sedikit :(
Nggak apa-apa ya, Nak. Kan duitnya ditabung buat beli rumah. Hehehehe...
Friday, January 05, 2007
Pendar Ramadhani Anitya
I'm back!
Akhirnya, setelah cuti melahirkan, minggu kemarin saya mulai kembali ke kantor, balik ke dunia nyata, meninggalkan bayi perempuan yang kini genap berusia tiga bulan di rumah.
Pendar Ramadhani Anitya namanya.
Saya yang memberi nama :)
Lahir di Jakarta, 4 Oktober 2006, 00:55 WIB.
Beratnya 3,285 kg, tinggi 48 cm.
I'm glad I came up with this name.
Saya suka kata itu: 'pendar', 'berpendar'. Semakna dengan 'cahaya', 'sinar', 'nur'.
Semoga kelak dia menjadi pendar dalam kehidupannya sendiri, syukur-syukur dalam kehidupan orang lain juga. Yang jelas, sebelum lahir pun dia sudah berpendar dalam hati saya, hati kami-orang tuanya.
Sayangnya, TERNYATA tidak semua orang pernah mendengar kata 'pendar'.
Seorang teman lama mengirim SMS yang isinya kira-kira: “Selamat atas kelahiran adik PENDRA”. Tadinya saya kira dia salah ketik atau bercanda, tapi ternyata dia serius. Serius salahnya :P Seminggu setelah itu, dia mengirim SMS lagi: “Eyi, gue mau ke rumah lo. Mau nengok PENDERA.” Ealah..., salah lagi. Sewaktu saya balas SMS-nya dengan “PENDAR, tauuuu....”, dia malah menjawab, “Ganti aja deh, nama anak lo. Biar gue ngga salah terus.” Huhuhu, asal-asalan...
Bukan cuma dia. Mertua saya -abah dan nek'nya Pendar- juga bingung mendengar nama itu. “Artinya apa? Nama dari mana?”
Buat saya, melahirkan Pendar mungkin the highest point of this year – or maybe of 27 years :)
Apa saja yang berubah setelah melahirkan Pendar? Well, di antaranya....:
1. Sekarang saya paham kenapa Malin Kundang dikutuk ibunya (Huehehe... kidding)
2. Saya berubah jadi ibu-ibu pekerja lainnya di kantor: Datang cepet, pulang cepet. In my case, datang jam setengah tujuh pagi, pulang jam empat atau setengah lima. Tamat sudah karier Eyi Si Perempuan Malam :D
3. Kalau jalan-jalan di mal (which I rarely do), rasanya resah dan gelisah. Keingatan Pendar yang dijaga ibu di rumah. Gulity feeling karena merasa saya seharusnya di rumah supaya Pendar bisa dapat ASI dan bukan susu formula.
4. Melihat-lihat baju di toko masih tetap menyenangkan, tapi sekarang ada suara di kepala “Nanti-nanti aja, deh.” Tapiiii.... kalau kepentok di toko perlengkapan bayi, rasanya betah berlama-lama. Segalanya terlihat lucu, semuanya bagus dan bikin mau beli :D
5. Saya lebih menghargai perempuan-perempuan yang sudah jadi ibu. Serius, sesaat setelah melahirkan Pendar, rasanya saya ingin menyalami semua perempuan istimewa itu sambil berkata “Baagoooooos... Huebaaaat...”. Khusus yang anaknya banyak, saya sembah sekalian aja-lah! :D Hihihi, hiperbolik deh..
6. Dulu, kalau melihat ibu-ibu yang bawa bayinya ke tempat umum, saya cuma membatin “Iiih.. bayinya lucu ya..” Nggak mikir macam-macam. Tapi kemarin sewaktu melihat anak bayi yang dibawa ke ITC, saya malah kasihan, “Duh... orang sebanyak ini.. Banyak virus, banyak kuman, banyak yang ngerokok, banyak yang batuk pilek... Semoga bayinya kuat.”
.................................................
Saya sudah harus mengakhiri posting ini, tapi belum ketemu kata-kata penutup yang pas (alah!). Masih banyak yang mau diceritakan, tapi nanti aja deh.
Dadah yuk bye bye
(hehehe, hi aa) ;)
Akhirnya, setelah cuti melahirkan, minggu kemarin saya mulai kembali ke kantor, balik ke dunia nyata, meninggalkan bayi perempuan yang kini genap berusia tiga bulan di rumah.
Pendar Ramadhani Anitya namanya.
Saya yang memberi nama :)
Lahir di Jakarta, 4 Oktober 2006, 00:55 WIB.
Beratnya 3,285 kg, tinggi 48 cm.
I'm glad I came up with this name.
Saya suka kata itu: 'pendar', 'berpendar'. Semakna dengan 'cahaya', 'sinar', 'nur'.
Semoga kelak dia menjadi pendar dalam kehidupannya sendiri, syukur-syukur dalam kehidupan orang lain juga. Yang jelas, sebelum lahir pun dia sudah berpendar dalam hati saya, hati kami-orang tuanya.
Sayangnya, TERNYATA tidak semua orang pernah mendengar kata 'pendar'.
Seorang teman lama mengirim SMS yang isinya kira-kira: “Selamat atas kelahiran adik PENDRA”. Tadinya saya kira dia salah ketik atau bercanda, tapi ternyata dia serius. Serius salahnya :P Seminggu setelah itu, dia mengirim SMS lagi: “Eyi, gue mau ke rumah lo. Mau nengok PENDERA.” Ealah..., salah lagi. Sewaktu saya balas SMS-nya dengan “PENDAR, tauuuu....”, dia malah menjawab, “Ganti aja deh, nama anak lo. Biar gue ngga salah terus.” Huhuhu, asal-asalan...
Bukan cuma dia. Mertua saya -abah dan nek'nya Pendar- juga bingung mendengar nama itu. “Artinya apa? Nama dari mana?”
Buat saya, melahirkan Pendar mungkin the highest point of this year – or maybe of 27 years :)
Apa saja yang berubah setelah melahirkan Pendar? Well, di antaranya....:
1. Sekarang saya paham kenapa Malin Kundang dikutuk ibunya (Huehehe... kidding)
2. Saya berubah jadi ibu-ibu pekerja lainnya di kantor: Datang cepet, pulang cepet. In my case, datang jam setengah tujuh pagi, pulang jam empat atau setengah lima. Tamat sudah karier Eyi Si Perempuan Malam :D
3. Kalau jalan-jalan di mal (which I rarely do), rasanya resah dan gelisah. Keingatan Pendar yang dijaga ibu di rumah. Gulity feeling karena merasa saya seharusnya di rumah supaya Pendar bisa dapat ASI dan bukan susu formula.
4. Melihat-lihat baju di toko masih tetap menyenangkan, tapi sekarang ada suara di kepala “Nanti-nanti aja, deh.” Tapiiii.... kalau kepentok di toko perlengkapan bayi, rasanya betah berlama-lama. Segalanya terlihat lucu, semuanya bagus dan bikin mau beli :D
5. Saya lebih menghargai perempuan-perempuan yang sudah jadi ibu. Serius, sesaat setelah melahirkan Pendar, rasanya saya ingin menyalami semua perempuan istimewa itu sambil berkata “Baagoooooos... Huebaaaat...”. Khusus yang anaknya banyak, saya sembah sekalian aja-lah! :D Hihihi, hiperbolik deh..
6. Dulu, kalau melihat ibu-ibu yang bawa bayinya ke tempat umum, saya cuma membatin “Iiih.. bayinya lucu ya..” Nggak mikir macam-macam. Tapi kemarin sewaktu melihat anak bayi yang dibawa ke ITC, saya malah kasihan, “Duh... orang sebanyak ini.. Banyak virus, banyak kuman, banyak yang ngerokok, banyak yang batuk pilek... Semoga bayinya kuat.”
.................................................
Saya sudah harus mengakhiri posting ini, tapi belum ketemu kata-kata penutup yang pas (alah!). Masih banyak yang mau diceritakan, tapi nanti aja deh.
Dadah yuk bye bye
(hehehe, hi aa) ;)
Friday, September 01, 2006
Goodbye
Sudah sekitar tiga tahun ngeblog, tapi terkadang saya masih sering terkagum-kagum pada wadah maya ini.
Ajaib aja.
Ajaib, hanya dengan membaca blog seseorang -tanpa berkomen, tanpa meninggalkan pesan di shoutbox-nya, tanpa menyapa, tanpa membuat dia tahu bahwa saya ada dan sering mengunjunginya- saya sudah bisa merasa dekat pada si empunya blog.
Sok kenal? Iya, mungkin. Padahal apa yang ditulis orang itu di blog mungkin cuma sepersekian dari kehidupannya, ya?
Seperti kejadian baru-baru ini.
Sekitar minggu lalu, saya berkunjung ke blog ayah tiga anak. Setelah membaca komen-komen di postingan terbarunya, saya dapat link ke blog ibu ini: Bunda Zidan & Syifa.
Begitu melihat halaman si Bunda Zidan-Syifa, saya baru sadar kalau dulu saya sudah pernah berkunjung ke sana.
Baca baca baca, lihat-lihat fotonya, lihat-lihat resepnya, melihat tampang pemilik blognya (kok mirip banget sama adiknya suaminya adik saya ya?), lalu terjadilah hal itu: Saya merasa mengenal si Bunda.
Besok-besoknya, saya datang dan datang lagi. Saya bongkar-bongkar archive-nya, jatuh cinta pada kedua anaknya yang manis dan pintar, tertawa-tawa membaca sebuah postingan, terharu di postingan yang lain.
Saya membatin dalam hati: Mbak ini nyenengin banget ya, orangnya? Sepertinya dia menikmati every single second of her life. Tulisannya ringan, lucu, dan berkisar kehidupan sehari-harinya di Singapura: Ngurusin anak, masak, bikin kue, ngajar orang lain bikin kue, jalan-jalan, makan-makan...
Apa adanya. Nggak pernah terjebak untuk menulis sesuatu yang... (apa ya namanya?) pretensius (???).
Dan anak-anaknya... Ah... tadi saya sudah bilang kan, saya jatuh cinta pada anak-anaknya? Tempo hari, setelah membaca sebuah postingan, saya jadi nggak sabar menunggu anak saya lahir dan jadi batita. Supaya bisa mendengar dia berceloteh.
Beberapa hari belakangan, dalam perjalanan pulang kantor, saya punya bahan cerita baru untuk dibagi pada suami. Biasanya dia senyam-senyum aja mendengar saya bercerita.
Dan saya masih juga belum menampakkan diri, meskipun sudah ada niat.
Rabu kemarin (30/8), waktu membuka blognya, saya kaget karena shoutbox si Bunda penuh dengan kalimat 'semoga cepat sembuh', 'semoga cepat sadar, ingat Zidan dan Syifa', 'semoga dikuatkan'.
Dari blog kawan-kawannya, saya jadi tahu kalau dia sedang terbaring koma di rumah sakit. Padahal, posting terakhir tanggal 29/8 masih bernada ceria karena ummi-nya si Bunda sedang berkunjung ke Singapura.
Aduh, sedihnya.. Beneran, saya sedih, bukan sok sedih (ngapain juga, ya?). Ikut berdoa, ikut baca Yassin menjelang Maghrib kemarin, ikut memantau update-an di blog-blog lain.
Lalu tadi pagi, dari blog ibu ini, saya dapat kabar that she didn't make it :(
Innalillahi wa innailaihi rajiuun...
Soe Hok Gie bilang, beruntunglah orang-orang yang mati muda dan yang paling sial itu orang yang berumur panjang.
Good people die young.
Selamat jalan, Mbak Inong. Kemarin saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya “dipertemukan” dengan kamu menjelang ajalmu. What should I learn from you? Maaf, saya nggak percaya sama yang namanya 'kebetulan'. There's gotta be something bigger behind all things.
I pray for you, your family, and especially your little ones. Semoga Allah menjaga kalian semua.
Saya nggak tahu apa ucapan Soe Hok Gie soal mati muda itu benar. Yang jelas, saya tahu kalau kamu MEMANG orang yang beruntung. Saya yakin, begitu banyak yang sayang sama kamu meskipun kamu mungkin belum pernah bertemu muka dengan sebagian orang-orang itu.
Dulu saya pernah membatin, kalau tulisan saya bisa menyentuh hati SATU orang saja, betapa beruntungnya saya.
Well Mbak..., you've touched mine, and I thank you for that.
Goodbye for now.
Ajaib aja.
Ajaib, hanya dengan membaca blog seseorang -tanpa berkomen, tanpa meninggalkan pesan di shoutbox-nya, tanpa menyapa, tanpa membuat dia tahu bahwa saya ada dan sering mengunjunginya- saya sudah bisa merasa dekat pada si empunya blog.
Sok kenal? Iya, mungkin. Padahal apa yang ditulis orang itu di blog mungkin cuma sepersekian dari kehidupannya, ya?
Seperti kejadian baru-baru ini.
Sekitar minggu lalu, saya berkunjung ke blog ayah tiga anak. Setelah membaca komen-komen di postingan terbarunya, saya dapat link ke blog ibu ini: Bunda Zidan & Syifa.
Begitu melihat halaman si Bunda Zidan-Syifa, saya baru sadar kalau dulu saya sudah pernah berkunjung ke sana.
Baca baca baca, lihat-lihat fotonya, lihat-lihat resepnya, melihat tampang pemilik blognya (kok mirip banget sama adiknya suaminya adik saya ya?), lalu terjadilah hal itu: Saya merasa mengenal si Bunda.
Besok-besoknya, saya datang dan datang lagi. Saya bongkar-bongkar archive-nya, jatuh cinta pada kedua anaknya yang manis dan pintar, tertawa-tawa membaca sebuah postingan, terharu di postingan yang lain.
Saya membatin dalam hati: Mbak ini nyenengin banget ya, orangnya? Sepertinya dia menikmati every single second of her life. Tulisannya ringan, lucu, dan berkisar kehidupan sehari-harinya di Singapura: Ngurusin anak, masak, bikin kue, ngajar orang lain bikin kue, jalan-jalan, makan-makan...
Apa adanya. Nggak pernah terjebak untuk menulis sesuatu yang... (apa ya namanya?) pretensius (???).
Dan anak-anaknya... Ah... tadi saya sudah bilang kan, saya jatuh cinta pada anak-anaknya? Tempo hari, setelah membaca sebuah postingan, saya jadi nggak sabar menunggu anak saya lahir dan jadi batita. Supaya bisa mendengar dia berceloteh.
Beberapa hari belakangan, dalam perjalanan pulang kantor, saya punya bahan cerita baru untuk dibagi pada suami. Biasanya dia senyam-senyum aja mendengar saya bercerita.
Dan saya masih juga belum menampakkan diri, meskipun sudah ada niat.
Rabu kemarin (30/8), waktu membuka blognya, saya kaget karena shoutbox si Bunda penuh dengan kalimat 'semoga cepat sembuh', 'semoga cepat sadar, ingat Zidan dan Syifa', 'semoga dikuatkan'.
Dari blog kawan-kawannya, saya jadi tahu kalau dia sedang terbaring koma di rumah sakit. Padahal, posting terakhir tanggal 29/8 masih bernada ceria karena ummi-nya si Bunda sedang berkunjung ke Singapura.
Aduh, sedihnya.. Beneran, saya sedih, bukan sok sedih (ngapain juga, ya?). Ikut berdoa, ikut baca Yassin menjelang Maghrib kemarin, ikut memantau update-an di blog-blog lain.
Lalu tadi pagi, dari blog ibu ini, saya dapat kabar that she didn't make it :(
Innalillahi wa innailaihi rajiuun...
Soe Hok Gie bilang, beruntunglah orang-orang yang mati muda dan yang paling sial itu orang yang berumur panjang.
Good people die young.
Selamat jalan, Mbak Inong. Kemarin saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya “dipertemukan” dengan kamu menjelang ajalmu. What should I learn from you? Maaf, saya nggak percaya sama yang namanya 'kebetulan'. There's gotta be something bigger behind all things.
I pray for you, your family, and especially your little ones. Semoga Allah menjaga kalian semua.
Saya nggak tahu apa ucapan Soe Hok Gie soal mati muda itu benar. Yang jelas, saya tahu kalau kamu MEMANG orang yang beruntung. Saya yakin, begitu banyak yang sayang sama kamu meskipun kamu mungkin belum pernah bertemu muka dengan sebagian orang-orang itu.
Dulu saya pernah membatin, kalau tulisan saya bisa menyentuh hati SATU orang saja, betapa beruntungnya saya.
Well Mbak..., you've touched mine, and I thank you for that.
Goodbye for now.
Tuesday, August 22, 2006
Di Depan Rutan Salemba
Engkau mungkin takkan pernah tahu
(dan sampai kapan pun aku takkan memberitahumu)
Siang terik itu aku tergugu sejenak di lapangan parkir,
di seberang rutan
Memandangi tembok tinggi yang menghalangi kita
Begitu dekat, hanya terhalang tembok
Begitu jauh, karena dihalangi tembok
Aku mengira-ngira,
sudah berapa kali pikiran itu melintas di kepalamu
Untuk melompati tembok
dan berlari mendapati anak istrimu
(dan sampai kapan pun aku takkan memberitahumu)
Siang terik itu aku tergugu sejenak di lapangan parkir,
di seberang rutan
Memandangi tembok tinggi yang menghalangi kita
Begitu dekat, hanya terhalang tembok
Begitu jauh, karena dihalangi tembok
Aku mengira-ngira,
sudah berapa kali pikiran itu melintas di kepalamu
Untuk melompati tembok
dan berlari mendapati anak istrimu
Sailor Moon VS Orang Kaya
Sekitar tahun 1997 lalu, saya bercita-cita jadi Sailor Moon, superheroine pembela kebenaran yang selalu tampak cantik dengan rok mininya.
Sekarang, hampir 10 tahun kemudian, cita-cita saya berubah: Saya 'cuma' ingin jadi orang kaya. Iya, orang berduit, supaya bisa memperbaiki pagar rumah tanpa banyak cingcong dan tak perlu terkenang-kenang pada para TKW dari kompleks sebelah -pelanggan VIP Wartel Global di masa jayanya- yang kini tak pernah datang lagi karena sudah pada punya handphone.
Sekarang, hampir 10 tahun kemudian, cita-cita saya berubah: Saya 'cuma' ingin jadi orang kaya. Iya, orang berduit, supaya bisa memperbaiki pagar rumah tanpa banyak cingcong dan tak perlu terkenang-kenang pada para TKW dari kompleks sebelah -pelanggan VIP Wartel Global di masa jayanya- yang kini tak pernah datang lagi karena sudah pada punya handphone.
Thursday, August 10, 2006
Sita oh Sita
Pas liputan tadi, ada bintang tamu: Sita RSD. Aduuuuww... cantiknya... Sejak pertama kali RSD muncul, Sita selalu jadi favorit gue. Ternyata aslinya jauh lebih cantik daripada di foto atau TV. Kulitnya putih, rambutnya panjang agak-agak bergelombang gitu, badannya tinggi, hidungnya mancung dan ada tahi lalat kecil di batang hidungnya.
Seperti testimonial Sita di acara tadi, awal tahun 2002 lalu, berat badannya masih 89 kg. Sekarang? Cukup 62 kg aja. Sembilan bulan pertama, dia berhasil turun sampe 22 kg! Hu hu hu, hebat amat...
Selama 7.5 bulan hamil, kayaknya gue nggak pernah ngebatin pengen anak gue nanti kayak siapa. Tapi tadi, di acara itu, tiba-tiba aja gue ngomong dalam hati: “Aduuh..., kalau anak gue cewek, semoga cantik kayak Sita RSD gitu yaa...” ;)
(Eh, tapi ntar orang2 malah bingung kali ya? Masa' muka ibu bapaknya semblep-semblep, tapi anaknya kinclong geneh??? Hehehehe... Amiiin...)
Terus, tadi juga pertama kalinya dalam hidup, gue punya niat untuk foto berdua artis!
Bwahahahha... Norak amat ya. Tapi beneran, sebelum2nya, siapa pun lewat depan gue sih bodo' amat (kecuali Udjo Project Pop. Waktu dulu dia mampir ke kantor gue, gue panas dingin :D Tapi sama Udjo sih lebih pengen kenalan, bukan pengen foto bareng).
Eh, tapi tadi foto bareng Sitanya ngga kesampean ding, soalnya dia keburu dibajak kru infotainment :P
Seperti testimonial Sita di acara tadi, awal tahun 2002 lalu, berat badannya masih 89 kg. Sekarang? Cukup 62 kg aja. Sembilan bulan pertama, dia berhasil turun sampe 22 kg! Hu hu hu, hebat amat...
Selama 7.5 bulan hamil, kayaknya gue nggak pernah ngebatin pengen anak gue nanti kayak siapa. Tapi tadi, di acara itu, tiba-tiba aja gue ngomong dalam hati: “Aduuh..., kalau anak gue cewek, semoga cantik kayak Sita RSD gitu yaa...” ;)
(Eh, tapi ntar orang2 malah bingung kali ya? Masa' muka ibu bapaknya semblep-semblep, tapi anaknya kinclong geneh??? Hehehehe... Amiiin...)
Terus, tadi juga pertama kalinya dalam hidup, gue punya niat untuk foto berdua artis!
Bwahahahha... Norak amat ya. Tapi beneran, sebelum2nya, siapa pun lewat depan gue sih bodo' amat (kecuali Udjo Project Pop. Waktu dulu dia mampir ke kantor gue, gue panas dingin :D Tapi sama Udjo sih lebih pengen kenalan, bukan pengen foto bareng).
Eh, tapi tadi foto bareng Sitanya ngga kesampean ding, soalnya dia keburu dibajak kru infotainment :P
Thursday, August 03, 2006
God's Opinion
"A baby is God's opinion that the world should go on."
(Carl Sandburg)
A really nice explanation, Carl :)
Thank you.
Now i know what to say to my (future) children when they ask me 'the difficult question.'
(Carl Sandburg)
A really nice explanation, Carl :)
Thank you.
Now i know what to say to my (future) children when they ask me 'the difficult question.'
Tuesday, July 18, 2006
Missing You
For the truth, I know takes longer.
I've the cunning of the tigger and the wisdom of the trees.
I won't be sad,refuse the sorrow.
I look forward tomorrow.
I'll release my anger,
'cause I'm proud to be a dread.
I'm kissing you.
Pride can stand a thousand trials
The strong will never fall
But watching stars without you,
My soul cried. Heaving heart is full of pain,
Oh, oh, the aching.
'Cause I'm kissing you, oh.
I'm kissing, oh.
Sebelum nikah, bahkan sebelum pacaran, masih PDKT, suami saya (yang saat itu masih 'calon') pernah bertanya sesuatu. Waktu itu kami sedang duduk di Bakoel Koffie Cikini (oh, I miss the place..), menikmati sore, ngobrol-ngobrol, membaca majalah gratisan. Dia memperlihatkan pada saya cara jitu bermain MasterMaze, saya bilang caranya curang.
Lalu pertanyaan itu terlontar,
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?" :D
Hehehe, kalau diingat-ingat lagi, kalimatnya gombal juga. Dan saat mengetik postingan ini saya baru kepikiran: mungkin saya bukan orang pertama yang dia tanyai seperti itu.
Anyway, waktu itu saya cuma menjawab lempeng, "Nggak pernah. Kalau kangen ya berarti karena orang itu jauh."
Dia mengangguk-angguk.
Lucunya, sekarang setelah kami nikah, saya jadi sering kangen sama dia, meskipun kami berada di ruangan yang sama, meskipun sedang berbaring samping-sampingan.
Terutama belakangan ini.
Sudah dua minggu ini kami pindah. Dari 'tempat itu' ke rumah orang tua saya. Finally, I got my freedom back, walaupun tidak 100% karena sekarang pun judulnya masih nebeng.
Berarti sudah dua minggu ini juga kami beradaptasi, khususnya dia. Selain beradaptasi dengan tempat tinggal baru (plus penghuninya yang kadang-kadang ajaib), dia juga sedang beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Kami juga harus beradaptasi dengan pengaturan waktu baru. Jam empat subuh bangun, pukul setengah enam pagi sudah harus berangkat ke kantor :( . Padahal, waktu masih tinggal di 'tempat itu' (yang notabene dekat dengan kantor), kami baru mandi pukul tujuh dan berangkat ke kantor sekitar setengah sembilan.
But well, everything has its own price, and I'm not complaining about this actually (at least, not yet, hehehe)
Bagi saya, yang lebih sulit dari beradaptasi pada kondisi-kondisi baru ini, adalah melihat suami saya beradaptasi. Kalau saya terbiasa melewati proses adaptasi dengan diam dan tahu-tahu mewek, dia beradaptasi dengan manyun dan ngomel- ngomel :P
Selain itu, sekarang setelah lebih dari setahun menikah, segala masalah rumah tangga yang 'klise tapi nyata' itu mulai (lebih sering) bermunculan: beda pengaturan uang, beda pendapat (dia merasa benar, saya merasa nggak salah, hehehe),beda kebiasaan, beda prioritas, beda kebutuhan, dan beda-beda lain yang membuat kami lebih sering perang tarik urat saraf.
Situasinya mungkin lebih sulit karena sekarang saya juga sedang mengandung; lebih cepat capek, lebih sensitif, lebih ingin dimaklumi.
Sejak pertama kali tahu saya hamil sampai sekarang (jalan tujuh bulan), entah sudah berapa puluh kali saya mendengar ucapan ini: "Orang hamil itu jangan stres... Jangan sedih... Jangan mikir yang berat-berat... Santai aja..."
TAPI BAGAIMANA MYUNGKIIIN WEICEEEEEEEE......????
Iya, bagaimana mungkin tidak stres kalau badan ini ogah diajak kerja sama.
Duduk agak lama = pinggang pegel, kadang-kadang punggung juga.
Berdiri agak lama = perut mengeras, memberat.
Berbaring = nyeri-nyeri di pinggang dan panggul.
Bangun setelah berbaring = tidak bisa berputar ke kanan karena sakit, tidak bisa mutar kiri karena sakit, tidak bisa langsung bangun ke depan karena sakit juga (ini yang paling menyiksa!)
Jalan biasa = berrraaat dan lambaaaattt...
Lari = apalagi dong ah!
Jadi ketika perubahan fisik, persoalan adaptasi dan masalah 'klise tapi nyata' ini harus dihadapi bersamaan, duh makan ati, makan ati! (Harusnya saat ini ada yang ngasih saya teh botol, ya. 'Kan udah makan ati...' Halah! :P )
Above all these, as I said before, I miss my hubby.
Dalam perjalanan pulang, di mobil, setelah menjemput saya dari kantor, dia kadang-kadang sudah tidak punya tenaga untuk mengobrol.
Sesampainya di rumah, setelah makan, bersih-bersih, dan shalat, dia langsung tidur. Kadang-kadang, ritualnya dibalik. Tidur dulu sampai jam 10, baru bangun dan melakukan sisanya.
Terkadang, kalau masih tersisa sedikit tenaga, dia lebih memilih main game komputer, refreshing katanya.
Saya maklum. Serius.
Selama dia nggak ngomel-ngomel (karena satu dan lain hal), I can still take it.
Tapi kemarin, waktu mendengar lagu Kissing You-nya Desree, saya tiba-tiba teringat pertanyaan yang dia ajukan dulu, ketika kami bahkan belum pacaran:
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?"
..........
Iya, pernah. Sekarang.
Miss you, baby bala bala..
I've the cunning of the tigger and the wisdom of the trees.
I won't be sad,refuse the sorrow.
I look forward tomorrow.
I'll release my anger,
'cause I'm proud to be a dread.
I'm kissing you.
Pride can stand a thousand trials
The strong will never fall
But watching stars without you,
My soul cried. Heaving heart is full of pain,
Oh, oh, the aching.
'Cause I'm kissing you, oh.
I'm kissing, oh.
Sebelum nikah, bahkan sebelum pacaran, masih PDKT, suami saya (yang saat itu masih 'calon') pernah bertanya sesuatu. Waktu itu kami sedang duduk di Bakoel Koffie Cikini (oh, I miss the place..), menikmati sore, ngobrol-ngobrol, membaca majalah gratisan. Dia memperlihatkan pada saya cara jitu bermain MasterMaze, saya bilang caranya curang.
Lalu pertanyaan itu terlontar,
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?" :D
Hehehe, kalau diingat-ingat lagi, kalimatnya gombal juga. Dan saat mengetik postingan ini saya baru kepikiran: mungkin saya bukan orang pertama yang dia tanyai seperti itu.
Anyway, waktu itu saya cuma menjawab lempeng, "Nggak pernah. Kalau kangen ya berarti karena orang itu jauh."
Dia mengangguk-angguk.
Lucunya, sekarang setelah kami nikah, saya jadi sering kangen sama dia, meskipun kami berada di ruangan yang sama, meskipun sedang berbaring samping-sampingan.
Terutama belakangan ini.
Sudah dua minggu ini kami pindah. Dari 'tempat itu' ke rumah orang tua saya. Finally, I got my freedom back, walaupun tidak 100% karena sekarang pun judulnya masih nebeng.
Berarti sudah dua minggu ini juga kami beradaptasi, khususnya dia. Selain beradaptasi dengan tempat tinggal baru (plus penghuninya yang kadang-kadang ajaib), dia juga sedang beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Kami juga harus beradaptasi dengan pengaturan waktu baru. Jam empat subuh bangun, pukul setengah enam pagi sudah harus berangkat ke kantor :( . Padahal, waktu masih tinggal di 'tempat itu' (yang notabene dekat dengan kantor), kami baru mandi pukul tujuh dan berangkat ke kantor sekitar setengah sembilan.
But well, everything has its own price, and I'm not complaining about this actually (at least, not yet, hehehe)
Bagi saya, yang lebih sulit dari beradaptasi pada kondisi-kondisi baru ini, adalah melihat suami saya beradaptasi. Kalau saya terbiasa melewati proses adaptasi dengan diam dan tahu-tahu mewek, dia beradaptasi dengan manyun dan ngomel- ngomel :P
Selain itu, sekarang setelah lebih dari setahun menikah, segala masalah rumah tangga yang 'klise tapi nyata' itu mulai (lebih sering) bermunculan: beda pengaturan uang, beda pendapat (dia merasa benar, saya merasa nggak salah, hehehe),beda kebiasaan, beda prioritas, beda kebutuhan, dan beda-beda lain yang membuat kami lebih sering perang tarik urat saraf.
Situasinya mungkin lebih sulit karena sekarang saya juga sedang mengandung; lebih cepat capek, lebih sensitif, lebih ingin dimaklumi.
Sejak pertama kali tahu saya hamil sampai sekarang (jalan tujuh bulan), entah sudah berapa puluh kali saya mendengar ucapan ini: "Orang hamil itu jangan stres... Jangan sedih... Jangan mikir yang berat-berat... Santai aja..."
TAPI BAGAIMANA MYUNGKIIIN WEICEEEEEEEE......????
Iya, bagaimana mungkin tidak stres kalau badan ini ogah diajak kerja sama.
Duduk agak lama = pinggang pegel, kadang-kadang punggung juga.
Berdiri agak lama = perut mengeras, memberat.
Berbaring = nyeri-nyeri di pinggang dan panggul.
Bangun setelah berbaring = tidak bisa berputar ke kanan karena sakit, tidak bisa mutar kiri karena sakit, tidak bisa langsung bangun ke depan karena sakit juga (ini yang paling menyiksa!)
Jalan biasa = berrraaat dan lambaaaattt...
Lari = apalagi dong ah!
Jadi ketika perubahan fisik, persoalan adaptasi dan masalah 'klise tapi nyata' ini harus dihadapi bersamaan, duh makan ati, makan ati! (Harusnya saat ini ada yang ngasih saya teh botol, ya. 'Kan udah makan ati...' Halah! :P )
Above all these, as I said before, I miss my hubby.
Dalam perjalanan pulang, di mobil, setelah menjemput saya dari kantor, dia kadang-kadang sudah tidak punya tenaga untuk mengobrol.
Sesampainya di rumah, setelah makan, bersih-bersih, dan shalat, dia langsung tidur. Kadang-kadang, ritualnya dibalik. Tidur dulu sampai jam 10, baru bangun dan melakukan sisanya.
Terkadang, kalau masih tersisa sedikit tenaga, dia lebih memilih main game komputer, refreshing katanya.
Saya maklum. Serius.
Selama dia nggak ngomel-ngomel (karena satu dan lain hal), I can still take it.
Tapi kemarin, waktu mendengar lagu Kissing You-nya Desree, saya tiba-tiba teringat pertanyaan yang dia ajukan dulu, ketika kami bahkan belum pacaran:
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?"
..........
Iya, pernah. Sekarang.
Miss you, baby bala bala..
Tuesday, June 20, 2006
Perasaan Paling Sepi
Menurut saya -setidaknya sampai saat ini- perasaan
paling sepi di dunia adalah ketika kamu pulang
ke rumah, lalu mendapati lampu kamar tidur
telah dipadamkan dan suamimu sudah terlelap
tanpa menunggumu karena kamu pulang terlambat.
Thursday, June 15, 2006
The Name: Cut Gianna Naifa Dharmawan
Bulan ini istimewa.
Kemarin, Kamis 14 Juni 2006, menjelang adzan Maghrib, keponakan saya lahir lewat proses operasi :)
Namanya seperti di atas itu. Cut Gianna Naifa Dharmawan.
Panggilannya pasti Gigi. Sejak sebelum menikah, adik saya dan suaminya sudah sepakat untuk memberi nama Gigi kalau kelak mereka punya anak perempuan. Dan kemarin mereka dapat anak perempuan. Thank U, Allah :)
Beratnya 2,4 kg. Tingginya (kalau nggak salah) 45 cm.
Mendengar beratnya ‘cuma’ segitu, saya kaget juga. Pasalnya, selama hamil, bobot adik saya naik sampai 22 kg! Ouch!
Bayinya putih. Tapi menurut cerita orang-orang, bayi masih bisa berubah-ubah.
Saya sendiri belum lihat langsung. Baru lihat di layar kamera digital.
Ajaib ya, adik saya kok bisa punya anak.
Padahal dia sendiri kan juga masih kanak-kanak... :D
Semalam waktu menengok dia di rumah sakit, saya takjub melihat adik saya yang bengep-bengep. Kayak petinju yang sudah bertarung sengit 10 ronde tapi akhirnya KO juga. Hehehe...
Saya baru sadar, ini pertama kalinya saya menjenguk orang yang benar-benar baru bersalin. Selama ini, saya hanya pernah melihat ibu-ibu setelah beberapa hari melahirkan. Saat saya datang, adik saya sudah mulai merasa perih-perih di perut. Efek biusnya sudah mulai menghilang, rupanya.
Saya jadi ingat salah satu adegan dalam film komedi situasi Suddenly Susan. Waktu itu Susan yang baru patah hati bertanya pada Nana, neneknya:
“Kenapa sih, kita harus bertemu pria-pria yang ‘salah’ dulu? Kenapa kita nggak langsung menemukan ‘the one’ saja?”
Si Nana menjawab:
“Maybe it’s the same as delivering a baby. You have to go through all the pain before finding out how full of magic he is.”
Welcome to the world, Baby Gigi!
Tante Eyi is here for you :)
PS: Kandungan saya sendiri sudah lima bulan lewat. Mual-mual sudah lama berlalu. Aah... senangnyaaa... Tapi sekarang sakit pinggang, sakit pinggul, sakit punggung menyerang. Halah...
Insya Allah, due-nya Oktober. Mohon doa restu ya teman-temaaaaan.... :D
Kemarin, Kamis 14 Juni 2006, menjelang adzan Maghrib, keponakan saya lahir lewat proses operasi :)
Namanya seperti di atas itu. Cut Gianna Naifa Dharmawan.
Panggilannya pasti Gigi. Sejak sebelum menikah, adik saya dan suaminya sudah sepakat untuk memberi nama Gigi kalau kelak mereka punya anak perempuan. Dan kemarin mereka dapat anak perempuan. Thank U, Allah :)
Beratnya 2,4 kg. Tingginya (kalau nggak salah) 45 cm.
Mendengar beratnya ‘cuma’ segitu, saya kaget juga. Pasalnya, selama hamil, bobot adik saya naik sampai 22 kg! Ouch!
Bayinya putih. Tapi menurut cerita orang-orang, bayi masih bisa berubah-ubah.
Saya sendiri belum lihat langsung. Baru lihat di layar kamera digital.
Ajaib ya, adik saya kok bisa punya anak.
Padahal dia sendiri kan juga masih kanak-kanak... :D
Semalam waktu menengok dia di rumah sakit, saya takjub melihat adik saya yang bengep-bengep. Kayak petinju yang sudah bertarung sengit 10 ronde tapi akhirnya KO juga. Hehehe...
Saya baru sadar, ini pertama kalinya saya menjenguk orang yang benar-benar baru bersalin. Selama ini, saya hanya pernah melihat ibu-ibu setelah beberapa hari melahirkan. Saat saya datang, adik saya sudah mulai merasa perih-perih di perut. Efek biusnya sudah mulai menghilang, rupanya.
Saya jadi ingat salah satu adegan dalam film komedi situasi Suddenly Susan. Waktu itu Susan yang baru patah hati bertanya pada Nana, neneknya:
“Kenapa sih, kita harus bertemu pria-pria yang ‘salah’ dulu? Kenapa kita nggak langsung menemukan ‘the one’ saja?”
Si Nana menjawab:
“Maybe it’s the same as delivering a baby. You have to go through all the pain before finding out how full of magic he is.”
Welcome to the world, Baby Gigi!
Tante Eyi is here for you :)
PS: Kandungan saya sendiri sudah lima bulan lewat. Mual-mual sudah lama berlalu. Aah... senangnyaaa... Tapi sekarang sakit pinggang, sakit pinggul, sakit punggung menyerang. Halah...
Insya Allah, due-nya Oktober. Mohon doa restu ya teman-temaaaaan.... :D
Gara-gara Bola?
Tadi malam, saya naik taksi tarif baru dari Kuningan ke arah Pondok Kopi.
Supirnya ngantuk!!!
Mula-mula saya nggak sadar. Tapi lama-kelamaan saya merasa laju mobilnya makin lama makin tidak enak. Sewaktu saya intip di kaca spion, halah, mata supir tinggal segaris!!!
Waktu mobil berhenti sejenak karena lampu merah, dia malah merem sa’merem-meremnya! Waktu jalan di depan agak lengang, dia justru jalan pelaaaan.... sekali.
Pagi ini, saya naik taksi lagi. Kali ini tarif lama. Dari sekitar Kampung Melayu ke Kuningan.
Suami saya turun duluan. Saya masih melaju dengan taksi itu menuju kantor.
Tak lama setelah suami saya turun, si supir tiba-tiba berteriak kuenceeeng... “YA ALLAAAAH.....!!!!!!!!!!!”
Huek! Sumpah, saya kaget! Kenapa nih orang? Sutris gara-gara macet? Ah, macetnya juga nggak seberapa...
Tapi ternyata yang kaget bukan cuma saya. Begitu melihat muka saya dari kaca spion, si supir juga langsung kaget.
“Eh, ibu, maaf Bu...” (Wah, salah dua kali nih orang! Udah bikin kaget, sekarang manggil gue ‘ibu’ pula. Kagak tahu gue paling nggak doyan dipanggil ‘ibu’..)
“Kenapa, Pak?”
“Nggak... Saya ngantuk...” (Halah!)
“Waduh, jangan ngantuk dong, Pak! Kan lagi nyupir...”
“Iya Bu. Saya kira udah nggak ada sewa... Soalnya tadi kan bapak udah turun.. Kalau lagi ngantuk dan nggak ada sewa, saya biasa tereak gitu. Saya jadi malu... (Salah tiga kali! Body segede gini, masa ngga kelihatan dari kaca spion???? Padahal, saya kan duduk tepat di belakang dia...)
“Begadang ya, Pak? Nonton bola ya?!”
“Nggak kok, Bu. Saya tidur jam sembilan. Tapi kenapa masih ngantuk ya? (Ah, masa sih? Masa sih? Masa sih???)
Menjelang siang, ketika sudah di kantor, saya mendengar kabar kalau salah satu supir kantor saya kecelakaan. Motornya ringsek pagi tadi. Alhamdulillah dia nggak apa-apa karena sudah keburu loncat.
Tanpa bertanya duduk perkaranya, saya langsung menuduh: “Pasti gara-gara ngantuk! Nonton bola ya, dia?!?!”
Hehehe, si Eyi suuzon aja, ya? Berburuk sangka sama event Piala Dunia. Padahal bisa saja mereka ngantuk karena alasan-asalan lain.
Ah, nggak kok... Saya seneng juga ada Piala Dunia. Soalnya, beberapa hari ini, jalanan selalu lengang ketika saya pulang sekitar jam tujuh malam. Sekalian aja tanding bolanya setahun penuh, biar jalanan tetap lancar...
Supirnya ngantuk!!!
Mula-mula saya nggak sadar. Tapi lama-kelamaan saya merasa laju mobilnya makin lama makin tidak enak. Sewaktu saya intip di kaca spion, halah, mata supir tinggal segaris!!!
Waktu mobil berhenti sejenak karena lampu merah, dia malah merem sa’merem-meremnya! Waktu jalan di depan agak lengang, dia justru jalan pelaaaan.... sekali.
Pagi ini, saya naik taksi lagi. Kali ini tarif lama. Dari sekitar Kampung Melayu ke Kuningan.
Suami saya turun duluan. Saya masih melaju dengan taksi itu menuju kantor.
Tak lama setelah suami saya turun, si supir tiba-tiba berteriak kuenceeeng... “YA ALLAAAAH.....!!!!!!!!!!!”
Huek! Sumpah, saya kaget! Kenapa nih orang? Sutris gara-gara macet? Ah, macetnya juga nggak seberapa...
Tapi ternyata yang kaget bukan cuma saya. Begitu melihat muka saya dari kaca spion, si supir juga langsung kaget.
“Eh, ibu, maaf Bu...” (Wah, salah dua kali nih orang! Udah bikin kaget, sekarang manggil gue ‘ibu’ pula. Kagak tahu gue paling nggak doyan dipanggil ‘ibu’..)
“Kenapa, Pak?”
“Nggak... Saya ngantuk...” (Halah!)
“Waduh, jangan ngantuk dong, Pak! Kan lagi nyupir...”
“Iya Bu. Saya kira udah nggak ada sewa... Soalnya tadi kan bapak udah turun.. Kalau lagi ngantuk dan nggak ada sewa, saya biasa tereak gitu. Saya jadi malu... (Salah tiga kali! Body segede gini, masa ngga kelihatan dari kaca spion???? Padahal, saya kan duduk tepat di belakang dia...)
“Begadang ya, Pak? Nonton bola ya?!”
“Nggak kok, Bu. Saya tidur jam sembilan. Tapi kenapa masih ngantuk ya? (Ah, masa sih? Masa sih? Masa sih???)
Menjelang siang, ketika sudah di kantor, saya mendengar kabar kalau salah satu supir kantor saya kecelakaan. Motornya ringsek pagi tadi. Alhamdulillah dia nggak apa-apa karena sudah keburu loncat.
Tanpa bertanya duduk perkaranya, saya langsung menuduh: “Pasti gara-gara ngantuk! Nonton bola ya, dia?!?!”
Hehehe, si Eyi suuzon aja, ya? Berburuk sangka sama event Piala Dunia. Padahal bisa saja mereka ngantuk karena alasan-asalan lain.
Ah, nggak kok... Saya seneng juga ada Piala Dunia. Soalnya, beberapa hari ini, jalanan selalu lengang ketika saya pulang sekitar jam tujuh malam. Sekalian aja tanding bolanya setahun penuh, biar jalanan tetap lancar...
Tuesday, May 23, 2006
Iseng
Minggu siang kemarin, hubby ngantuk.
He’s a morning person, tapi kalau menjelang siang biasanya tergoda untuk tidur lagi –terutama kalau di rumah.
Melihat dia nyaris ketiduran, saya langsung nggak rela. Soalnya, saya nggak ngantuk. Nanti kalau dia tidur, saya ngapain dong? Nonton TV, nggak ada acara bagus. Baca buku, lagi nggak mood.
Akhirnya, saya mencoba segala cara supaya dia nggak ketiduran.
Pertama, saya mendesak supaya dia bergeser. “Aa, awas dooong... Aku mau tidur di sini. Ini kan tempat tidur akyuuuu....” (ketika kami menggunakan kata ganti ‘aku’, berarti bisa dipastikan kami tidak dalam serius mode on)
Hubby bergeser malas-malasan, lalu membalikkan badan.
“Ih, punggungnya jerawatan! Nih, ada yang udah putih! Pencetin ya!”
“Hmmm..”
Saya lalu memencet asal-asalan, pokoknya asal dia nggak ketiduran.
“Aduh!”
“Nih, hampir pecah nih!” (Padahal nggak)
“Aduh!”
.......
“Aduh!”
Dia lalu menjauh dari saya, ke ujung tempat tidur sebelah sana.
“A, kenapa engkau berpaling dari akuuuu...????”
Diam sebentar, lalu saya mulai bernyanyi-nyanyi sendiri.
“Aku sediiiih.....
Duduk sendiriiii.....
Mama pergiiiiii.....
Papa pergiiiiii.....”
(Salah satu lagu dari masa kecil yang nggak pernah saya lupa. Penyanyinya Yoan Tanamal)
Ajaib, hubby langsung mendekat lagi, walaupun matanya masih merem. Mungkin kesian kalau istrinya beneran sedih ;)
“Diam doong... Ngantuk nih!”
“Ooo.. ngantuk, ya? Mau tidur ya? Mau dinyanyiin lagu pengantar tidur nggak?”
“Ssstt.. Diem!” Hubby berbalik badan lagi, memunggungi saya.
“Ya? Ya? Dinyanyiin, ya? Dinyanyiin, ya?”
.............
(Hmmm... nyanyi apa yang annoying, yaaa...?)
Diam sejenak, lalu saya tancap suara:
“Akang haajiiiiiii..... Sindang palit!” (lagu Sunda yang baru saya dengar beberapa hari lalu. Ngga tahu bener atau salah)
“Hehehe...” (eh, ketawa juga dia!)
“Palitna keee.....”
(Berhenti. Saya lupa lanjutan liriknya)
“Palitna ke mana, A’? Ke sungai Ci... apa?”
........... (nggak ngejawab)
“Palitna keee... sungai Ci.. Ci.. Cikokol...” (asal bangget!)
Hehehe...
Ternyata dia beneran ngantuk. Saya pun nyerah. Setelah terbengong-bengong sebentar, saya bangkit, lalu mandi. Sudah hampir azan dzuhur.
He’s a morning person, tapi kalau menjelang siang biasanya tergoda untuk tidur lagi –terutama kalau di rumah.
Melihat dia nyaris ketiduran, saya langsung nggak rela. Soalnya, saya nggak ngantuk. Nanti kalau dia tidur, saya ngapain dong? Nonton TV, nggak ada acara bagus. Baca buku, lagi nggak mood.
Akhirnya, saya mencoba segala cara supaya dia nggak ketiduran.
Pertama, saya mendesak supaya dia bergeser. “Aa, awas dooong... Aku mau tidur di sini. Ini kan tempat tidur akyuuuu....” (ketika kami menggunakan kata ganti ‘aku’, berarti bisa dipastikan kami tidak dalam serius mode on)
Hubby bergeser malas-malasan, lalu membalikkan badan.
“Ih, punggungnya jerawatan! Nih, ada yang udah putih! Pencetin ya!”
“Hmmm..”
Saya lalu memencet asal-asalan, pokoknya asal dia nggak ketiduran.
“Aduh!”
“Nih, hampir pecah nih!” (Padahal nggak)
“Aduh!”
.......
“Aduh!”
Dia lalu menjauh dari saya, ke ujung tempat tidur sebelah sana.
“A, kenapa engkau berpaling dari akuuuu...????”
Diam sebentar, lalu saya mulai bernyanyi-nyanyi sendiri.
“Aku sediiiih.....
Duduk sendiriiii.....
Mama pergiiiiii.....
Papa pergiiiiii.....”
(Salah satu lagu dari masa kecil yang nggak pernah saya lupa. Penyanyinya Yoan Tanamal)
Ajaib, hubby langsung mendekat lagi, walaupun matanya masih merem. Mungkin kesian kalau istrinya beneran sedih ;)
“Diam doong... Ngantuk nih!”
“Ooo.. ngantuk, ya? Mau tidur ya? Mau dinyanyiin lagu pengantar tidur nggak?”
“Ssstt.. Diem!” Hubby berbalik badan lagi, memunggungi saya.
“Ya? Ya? Dinyanyiin, ya? Dinyanyiin, ya?”
.............
(Hmmm... nyanyi apa yang annoying, yaaa...?)
Diam sejenak, lalu saya tancap suara:
“Akang haajiiiiiii..... Sindang palit!” (lagu Sunda yang baru saya dengar beberapa hari lalu. Ngga tahu bener atau salah)
“Hehehe...” (eh, ketawa juga dia!)
“Palitna keee.....”
(Berhenti. Saya lupa lanjutan liriknya)
“Palitna ke mana, A’? Ke sungai Ci... apa?”
........... (nggak ngejawab)
“Palitna keee... sungai Ci.. Ci.. Cikokol...” (asal bangget!)
Hehehe...
Ternyata dia beneran ngantuk. Saya pun nyerah. Setelah terbengong-bengong sebentar, saya bangkit, lalu mandi. Sudah hampir azan dzuhur.
Friday, May 19, 2006
A Nice Quote
Life may not be the party we hoped for.
But while we here, we should dance.
Hey, hey, lucu banget kutipannya.
Bikin semangat.
YAK! BERSEMANGAT! :D
But while we here, we should dance.
Hey, hey, lucu banget kutipannya.
Bikin semangat.
YAK! BERSEMANGAT! :D
Thursday, May 18, 2006
Depresi?
Dari sebuah majalah luar, Okt 2000:
Signs of Low-Grade Depression
1. You feel sad, dissatisfied or pessimistic most of the time, altough you still have days when you feel normal.
2. Your appetite changes.
3. You're tired most of the time.
4. You have insomnia or you're sleeping too much.
5. You're harder on yourself than you should be.
6. You're not working at your peak, and you're having trouble concentrating.
7. Simple decisions somehow take forever.
8. You feel that every day is more or less a struggle.
If you have 2 symptoms-especially the first one-see your doctor for a checkup, and if you're physically healthy, ask for a referral to a mental-health professional.
Dua dari delapan gejala, katanya.
Dan barusan saya mencontreng empat dalam hati.
Signs of Low-Grade Depression
1. You feel sad, dissatisfied or pessimistic most of the time, altough you still have days when you feel normal.
2. Your appetite changes.
3. You're tired most of the time.
4. You have insomnia or you're sleeping too much.
5. You're harder on yourself than you should be.
6. You're not working at your peak, and you're having trouble concentrating.
7. Simple decisions somehow take forever.
8. You feel that every day is more or less a struggle.
If you have 2 symptoms-especially the first one-see your doctor for a checkup, and if you're physically healthy, ask for a referral to a mental-health professional.
Dua dari delapan gejala, katanya.
Dan barusan saya mencontreng empat dalam hati.
Wednesday, April 26, 2006
An Imaginary Conversation with My Little One
Kemarin pagi, di kamar mandi
+ Bunda kok nangis? Sedih, ya?
- Nggak, De. Bunda nggak sedih. Bunda cuma kesel.
+ Kalo kesel kok nangis? Kalo nangis kan berarti sedih...
- ..... Iya, mungkin sedih sedikit.
+ Kenapa, Bunda? Gara-gara 'orang itu' ya?
- Iya, De. Dia-dia lagi, lagi-lagi dia.
+ Bunda jangan kesel, jangan sedih. Kalau Bunda sedih, dede jadi ikutan sedih.
- Aduuh..., maaf ya, Nak. Masa belum lahir aja kamu udah sedih juga. Nanti kalau udah lahir, semoga kamu ngga cengeng kayak Bunda, ya.
+ Makanya Bunda udahan dong nangisnya..
- Bunda udah nggak nangis lagi, kok.
+ ......
- De, cepet gede ya, Nak. Tumbuh yang sehat dan kuat. Nanti kalau Dede udah tujuh bulan di perut Bunda, ayah mau bawa kita pindah dari sini.
+ Kok mesti nunggu sampai tujuh bulan, Bun? Kenapa nggak besok aja?
- Soalnya perjanjian ayah sama bunda memang gitu, De.
+ Pindahnya ke mana sih, Bunda?
- Belum tahu sih, De...
+ Kok belum tahu?
- Bunda sama ayah mau cari-cari dulu. Pengennya, tinggal di tempat yang cuma ada kita bertiga aja: ayah, bunda, dede.
+ Asyiiik...
- Dede seneng?
+ Seneng, Bun!
- Bunda juga. Tos dulu, dong De..
+ Tossss!!!
(Saya menepuk lembut perut yang membuncit, lalu keluar dari kamar mandi)
End of Conversation
===================
+ Bunda kok nangis? Sedih, ya?
- Nggak, De. Bunda nggak sedih. Bunda cuma kesel.
+ Kalo kesel kok nangis? Kalo nangis kan berarti sedih...
- ..... Iya, mungkin sedih sedikit.
+ Kenapa, Bunda? Gara-gara 'orang itu' ya?
- Iya, De. Dia-dia lagi, lagi-lagi dia.
+ Bunda jangan kesel, jangan sedih. Kalau Bunda sedih, dede jadi ikutan sedih.
- Aduuh..., maaf ya, Nak. Masa belum lahir aja kamu udah sedih juga. Nanti kalau udah lahir, semoga kamu ngga cengeng kayak Bunda, ya.
+ Makanya Bunda udahan dong nangisnya..
- Bunda udah nggak nangis lagi, kok.
+ ......
- De, cepet gede ya, Nak. Tumbuh yang sehat dan kuat. Nanti kalau Dede udah tujuh bulan di perut Bunda, ayah mau bawa kita pindah dari sini.
+ Kok mesti nunggu sampai tujuh bulan, Bun? Kenapa nggak besok aja?
- Soalnya perjanjian ayah sama bunda memang gitu, De.
+ Pindahnya ke mana sih, Bunda?
- Belum tahu sih, De...
+ Kok belum tahu?
- Bunda sama ayah mau cari-cari dulu. Pengennya, tinggal di tempat yang cuma ada kita bertiga aja: ayah, bunda, dede.
+ Asyiiik...
- Dede seneng?
+ Seneng, Bun!
- Bunda juga. Tos dulu, dong De..
+ Tossss!!!
(Saya menepuk lembut perut yang membuncit, lalu keluar dari kamar mandi)
End of Conversation
===================
Tuesday, April 04, 2006
Friday, March 10, 2006
Friday, January 20, 2006
:(
Kenapa ya? Makhluk yang namanya cowok biasanya males disuruh ke dokter? Kalau nggak pakai tarik-tarikan urat leher dulu pasti nggak sah. :(
Wednesday, January 18, 2006
Unwell
All day staring at the ceiling
Making friends with shadows on my wall
All night hearing voices telling me
That I should get some sleep
Because tomorrow might be good for something
Hold on
Feeling like I'm heading for a breakdown
And I don't know why
But I'm not crazy, I'm just a little unwell
I know right now you can't tell
But stay awhile and maybe then you'll see
A different side of me
I'm not crazy, I'm just a little impaired
I know right now you don't care
But soon enough you're gonna think of me
And how I used to be...me
I'm talking to myself in public
Dodging glances on the train
And I know, I know they've all been talking bout me
I can hear them whisper
And it makes me think there must be something wrong with me
Out of all the hours thinking
Somehow I've lost my mind
But I'm not crazy, I'm just a little unwell
I know right now you can't tell
But stay awhile and maybe then you'll see
A different side of me
I'm not crazy, I'm just a little impaired
I know right now you don't care
But soon enough you're gonna think of me
And how I used to be
I've been talking in my sleep
Pretty soon they'll come to get me
Yeah, they're taking me away
...............................................
Ini soundtrack saya tahun lalu.
I wasn't well.
Entah kenapa.
Hope things will get better this year.
I believe things will get better this year.
Making friends with shadows on my wall
All night hearing voices telling me
That I should get some sleep
Because tomorrow might be good for something
Hold on
Feeling like I'm heading for a breakdown
And I don't know why
But I'm not crazy, I'm just a little unwell
I know right now you can't tell
But stay awhile and maybe then you'll see
A different side of me
I'm not crazy, I'm just a little impaired
I know right now you don't care
But soon enough you're gonna think of me
And how I used to be...me
I'm talking to myself in public
Dodging glances on the train
And I know, I know they've all been talking bout me
I can hear them whisper
And it makes me think there must be something wrong with me
Out of all the hours thinking
Somehow I've lost my mind
But I'm not crazy, I'm just a little unwell
I know right now you can't tell
But stay awhile and maybe then you'll see
A different side of me
I'm not crazy, I'm just a little impaired
I know right now you don't care
But soon enough you're gonna think of me
And how I used to be
I've been talking in my sleep
Pretty soon they'll come to get me
Yeah, they're taking me away
...............................................
Ini soundtrack saya tahun lalu.
I wasn't well.
Entah kenapa.
Hope things will get better this year.
I believe things will get better this year.
Demam ‘Narutooooo!!!!’
Suami saya sedang tergila-gila Naruto – kartun Jepang yang katanya pernah ditayangkan di Trans TV, tapi nggak sampai tamat.
Mulanya sih saya senang saja, ikutan nonton dan ngikutin seri demi seri. Tapi nggak berapa lama, saya mulai bosan. Ceritanya sebenarnya lumayan menarik, tapi kagak nahan banget dah (!) kalau si jagoan udah berhadap-hadapan dengan musuhnya. Bukannya langsung mulai duel, mereka ngobrol dululah, flash back dululah, menganalisa kekuatan masing-masing dululah, tatap-tatapan dululah... HALAH! KESUEN, MAS!!!
Tapi suami saya mah teteeuup.... Pagi, siang, sore, malam, kapanpun ada kesempatan, pasti NARUTOOOO!!!
Tadinya saya pikir, “Paling nggak lama. Emang seberapa panjang sih, ceritanya?” Tapi ternyata oh ternyata...
Satu keping CD itu ada 25 episode, padahal total kepingannya ada TUJUH (!), kalau nggak salah. Sampai sekarang, kepingan di rumah kami baru ada tiga atau empat gitu. Berarti sisanya masih... BANYAK! Omigod..
:D :D :D
Mulanya sih saya senang saja, ikutan nonton dan ngikutin seri demi seri. Tapi nggak berapa lama, saya mulai bosan. Ceritanya sebenarnya lumayan menarik, tapi kagak nahan banget dah (!) kalau si jagoan udah berhadap-hadapan dengan musuhnya. Bukannya langsung mulai duel, mereka ngobrol dululah, flash back dululah, menganalisa kekuatan masing-masing dululah, tatap-tatapan dululah... HALAH! KESUEN, MAS!!!
Tapi suami saya mah teteeuup.... Pagi, siang, sore, malam, kapanpun ada kesempatan, pasti NARUTOOOO!!!
Tadinya saya pikir, “Paling nggak lama. Emang seberapa panjang sih, ceritanya?” Tapi ternyata oh ternyata...
Satu keping CD itu ada 25 episode, padahal total kepingannya ada TUJUH (!), kalau nggak salah. Sampai sekarang, kepingan di rumah kami baru ada tiga atau empat gitu. Berarti sisanya masih... BANYAK! Omigod..
:D :D :D
Cewek Matre Cewek Matre...
Sebelum nikah, saya punya rekening di dua bank: Bank BCA dan Bank Mandiri.
Sekarang, setelah nikah, tambah satu bank lagi: Bank Rommy. Huhehehe..
Ternyata enak juga. Kalau kurang dana, tinggal bilang, “Bagi duit dooong...” Ke mana-mana dibayarin, ongkos dibayarin, makan dibayarin, pulsa abis tinggal minta diisiin, dompet tipis minta ditambahin.
Tentu saja, nggak ada satu hal pun di dunia ini yang BENER-BENER ENAK TANPA ADA TAPINYA. Karena gaji dia sudah habis untuk ini itu, gaji saya nggak boleh terlalu banyak diutak-atik. Harus ditabung, buat beli rumah. Amin amin amin... Tapi akibatnya, gerak-gerik saya jadi terbatas. Mau beli ini itu rada susah. Beli ini nggak boleh, beli itu apalagi. Hehehe...
PS: Ini postingan pertama di tahun baru. Nggak penting buat di-posting dan dibaca sama semua orang, sebenarnya. Tapi untuk membangkitkan semangat ngeblog yang benar-benar mengendur di tahun lalu, saya bertekad untuk lebih sering menulis (lagi) di sini. Apa pun isinya, bagaimanapun cara penulisannya. Segala yang terlintas di kepala saya (coba) tulis saja. Mohon doa restu, semoga saya tak terjebak dalam kemalasan dan kejenuhan berkepanjangan lagi ;)
Sekarang, setelah nikah, tambah satu bank lagi: Bank Rommy. Huhehehe..
Ternyata enak juga. Kalau kurang dana, tinggal bilang, “Bagi duit dooong...” Ke mana-mana dibayarin, ongkos dibayarin, makan dibayarin, pulsa abis tinggal minta diisiin, dompet tipis minta ditambahin.
Tentu saja, nggak ada satu hal pun di dunia ini yang BENER-BENER ENAK TANPA ADA TAPINYA. Karena gaji dia sudah habis untuk ini itu, gaji saya nggak boleh terlalu banyak diutak-atik. Harus ditabung, buat beli rumah. Amin amin amin... Tapi akibatnya, gerak-gerik saya jadi terbatas. Mau beli ini itu rada susah. Beli ini nggak boleh, beli itu apalagi. Hehehe...
PS: Ini postingan pertama di tahun baru. Nggak penting buat di-posting dan dibaca sama semua orang, sebenarnya. Tapi untuk membangkitkan semangat ngeblog yang benar-benar mengendur di tahun lalu, saya bertekad untuk lebih sering menulis (lagi) di sini. Apa pun isinya, bagaimanapun cara penulisannya. Segala yang terlintas di kepala saya (coba) tulis saja. Mohon doa restu, semoga saya tak terjebak dalam kemalasan dan kejenuhan berkepanjangan lagi ;)
Tuesday, November 29, 2005
A Three Seconds Perfection...
............
is when you wake up early in the morning
when it’s still chill and dark and the rest of your world is still sleeping,
realizing that you are laying on your own bed,
in your own room,
with your husband beside you,
and your own family in the other rooms,
knowing that today is Sunday,
and you can do anything you want,
and you dont have to go to the fucking office,
and doing the fucking job.
PERFECT
(mengenang satu hari sempurna, Minggu 27 November 2005)
is when you wake up early in the morning
when it’s still chill and dark and the rest of your world is still sleeping,
realizing that you are laying on your own bed,
in your own room,
with your husband beside you,
and your own family in the other rooms,
knowing that today is Sunday,
and you can do anything you want,
and you dont have to go to the fucking office,
and doing the fucking job.
PERFECT
(mengenang satu hari sempurna, Minggu 27 November 2005)
Tuesday, November 22, 2005
Doain Ya....
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Ada sesuatu yang sedang saya inginkan. Usaha sudah dilakukan, mungkin belum optimal, apalagi maksimal (emang ada bedanya?), tapi setidaknya itu yang bisa dilakukan dalam waktu cukup singkat.
Katanya, keputusannya besok. Jadi sekarang saya sedang H2C alias 'harap harap cemas' ;)
Deg-degan sih nggak, tapi tetap berharap. Ahai! :D
May the best happen-lah! Amiiin...
Hehehe...
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Doain saya, ya
Ada sesuatu yang sedang saya inginkan. Usaha sudah dilakukan, mungkin belum optimal, apalagi maksimal (emang ada bedanya?), tapi setidaknya itu yang bisa dilakukan dalam waktu cukup singkat.
Katanya, keputusannya besok. Jadi sekarang saya sedang H2C alias 'harap harap cemas' ;)
Deg-degan sih nggak, tapi tetap berharap. Ahai! :D
May the best happen-lah! Amiiin...
Hehehe...
The End of the Holiday
HOLIDAY IS OVER
OVER IS HOLIDAY
IS HOLIDAY OVER
OVER HOLIDAY IS
:(
Bye-bye Holiday! I'll see you soon..
OVER IS HOLIDAY
IS HOLIDAY OVER
OVER HOLIDAY IS
:(
Bye-bye Holiday! I'll see you soon..
Thursday, October 13, 2005
Asing
Pagi ini, seperti biasa, saya turun dari mikrolet setelah melewati underpass (abaikan fakta ini. Ini tidak penting). Setelah itu, saya melangkah menuju tempat pemberhentian kopaja.
Tep tep tep tep tep tep tep tep tep tep....
Hep, sampai.
Berdiri saya di sana.
Menunggu sejenak.
.....................
Lalu tep tep tep tep, Hep, datanglah wanita ini. Orang kantoran, dengan kemeja hitam garis-garis dan celana hitam pula.
Saya melihatnya sekilas, lalu.......... TENG....... Sial, saya merasakannya lagi!!!
Perasaan itu lagi! Saya pikir dia sudah lama hilang.
Perasaan apa?
Perasaan asing.
Dulu saya kerap merasakannya. Rasa yang sulit saya terangkan sebenarnya. Rasa asing, saya menyebutnya. Sebentuk rasa tak nyaman, kosong dalam dada, aneh, menggelikan, membuat saya berpikir ‘hey i don’t belong in this place’, lalu ingin kabur dan meringkuk sendirian di pojok ruangan entah di mana.
Sebelum naik kopaja yang datang kemudian, saya bertemu seorang teman kantor. Kami ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan dan perasaan itu masih terus ada. Saya bicara dengannya, tapi saya benar-benar merasa berjarak, merasa saya tidak seharusnya berada di sana, tidak seharusnya mengobrol dengan dia.
Tep tep tep tep tep tep tep tep tep tep....
Hep, sampai.
Berdiri saya di sana.
Menunggu sejenak.
.....................
Lalu tep tep tep tep, Hep, datanglah wanita ini. Orang kantoran, dengan kemeja hitam garis-garis dan celana hitam pula.
Saya melihatnya sekilas, lalu.......... TENG....... Sial, saya merasakannya lagi!!!
Perasaan itu lagi! Saya pikir dia sudah lama hilang.
Perasaan apa?
Perasaan asing.
Dulu saya kerap merasakannya. Rasa yang sulit saya terangkan sebenarnya. Rasa asing, saya menyebutnya. Sebentuk rasa tak nyaman, kosong dalam dada, aneh, menggelikan, membuat saya berpikir ‘hey i don’t belong in this place’, lalu ingin kabur dan meringkuk sendirian di pojok ruangan entah di mana.
Sebelum naik kopaja yang datang kemudian, saya bertemu seorang teman kantor. Kami ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan dan perasaan itu masih terus ada. Saya bicara dengannya, tapi saya benar-benar merasa berjarak, merasa saya tidak seharusnya berada di sana, tidak seharusnya mengobrol dengan dia.
Wednesday, October 12, 2005
Here's to You :)
One of the things I love most about my husband is: He’s not afraid to love me... OUTLOUD.
He’s not afraid to show anyone, anywhere, anytime, that he loves me. Ahai!
Hehehe, iya, benar.
Dia bisa begitu santainya memanggil saya ‘sayang’ di depan siapapun: Orang tua saya, orang tua dia, eyang saya, nenek dia, saudara-saudara saya, saudara-saudara dia, teman-teman saya, kawan-kawan dia, pelayan restoran, supir taksi, siMbok, orang-orang tak dikenal... Well, you got my point.
Dia juga nggak canggung mencium (kening) saya di pinggir jalan, memandangi saya (yang duduk di jok belakang mobil) dari kaca spion sambil senyum-senyum (padahal selain kami berdua, ada orang tua dan eyang saya di mobil itu), mengirim cake ke kantor dengan tulisan besar-besar di atasnya: ‘Selamat Ulang Tahun Eyi Sayang’, atau... ber-Mmmmmmmuah di telepon untuk menyudahi pembicaraan dan membuat teman-teman kantor di sekitarnya bersuit-suiiit.. atau berteriak “Dicium tuh telepon!” ;D
Hehehe, penting ya?
PENTING!
Apalagi buat saya, yang selama ini mengira kalau laki-laki tidak bisa mencintai dengan cara itu. Saya, yang sering malu dan canggung untuk banyak hal.
Tentu saja, SEBAGIAN BESAR contoh di atas terjadi sebelum kami menikah.
Waktu itu, saya sampai punya motto: ‘Everyday is a valentine’s day.’
Sekarang, setelah hampir setengah tahun menikah, tentu saja mottonya berubah:
NOT everyday is a valentine’s day ;p Makin lama, kegiatan menye-menye begitu makin berkurang. Yang bertambah malah frekuensi berantemnya. Huehehehe...
“Iyalah..., masa mau honeymoon terus?” kata semua orang.
“Mauuu!” kata saya. Saya sih mau. Masa ada yang ngga mau sih? :D
Anyway, kadang-kadang kangen juga sama hal menye-menye gitu.
Baru ingat.
Awal September lalu, pagi-pagi, saya sedang mandi. Dia nonton TV di ruang depan. Tak berapa lama, ponsel saya bunyi, ada SMS masuk.
Sehabis mandi, saya masuk kamar dan langsung meraih ponsel.
Lho?
It was my husband. Dia mengirim SMS dari ruang depan.
Pesannya?
I love you more each day, Ade sayang.
Huhuhu...
..............................................................
HAPPY BIRTHDAY, HUNY...
Wish you all the best. Like they all say, you're only 29 once. This is the end of your 20s, so live your best life :)
Here's to YOU.
See..., i'm loving you outloud now ;)
Oh btw, sampai nanti malam.
Makan makan makan makan makan makan makan makan....
Tenaaang..., tante yang bayar.. :D
He’s not afraid to show anyone, anywhere, anytime, that he loves me. Ahai!
Hehehe, iya, benar.
Dia bisa begitu santainya memanggil saya ‘sayang’ di depan siapapun: Orang tua saya, orang tua dia, eyang saya, nenek dia, saudara-saudara saya, saudara-saudara dia, teman-teman saya, kawan-kawan dia, pelayan restoran, supir taksi, siMbok, orang-orang tak dikenal... Well, you got my point.
Dia juga nggak canggung mencium (kening) saya di pinggir jalan, memandangi saya (yang duduk di jok belakang mobil) dari kaca spion sambil senyum-senyum (padahal selain kami berdua, ada orang tua dan eyang saya di mobil itu), mengirim cake ke kantor dengan tulisan besar-besar di atasnya: ‘Selamat Ulang Tahun Eyi Sayang’, atau... ber-Mmmmmmmuah di telepon untuk menyudahi pembicaraan dan membuat teman-teman kantor di sekitarnya bersuit-suiiit.. atau berteriak “Dicium tuh telepon!” ;D
Hehehe, penting ya?
PENTING!
Apalagi buat saya, yang selama ini mengira kalau laki-laki tidak bisa mencintai dengan cara itu. Saya, yang sering malu dan canggung untuk banyak hal.
Tentu saja, SEBAGIAN BESAR contoh di atas terjadi sebelum kami menikah.
Waktu itu, saya sampai punya motto: ‘Everyday is a valentine’s day.’
Sekarang, setelah hampir setengah tahun menikah, tentu saja mottonya berubah:
NOT everyday is a valentine’s day ;p Makin lama, kegiatan menye-menye begitu makin berkurang. Yang bertambah malah frekuensi berantemnya. Huehehehe...
“Iyalah..., masa mau honeymoon terus?” kata semua orang.
“Mauuu!” kata saya. Saya sih mau. Masa ada yang ngga mau sih? :D
Anyway, kadang-kadang kangen juga sama hal menye-menye gitu.
Baru ingat.
Awal September lalu, pagi-pagi, saya sedang mandi. Dia nonton TV di ruang depan. Tak berapa lama, ponsel saya bunyi, ada SMS masuk.
Sehabis mandi, saya masuk kamar dan langsung meraih ponsel.
Lho?
It was my husband. Dia mengirim SMS dari ruang depan.
Pesannya?
I love you more each day, Ade sayang.
Huhuhu...
..............................................................
HAPPY BIRTHDAY, HUNY...
Wish you all the best. Like they all say, you're only 29 once. This is the end of your 20s, so live your best life :)
Here's to YOU.
See..., i'm loving you outloud now ;)
Oh btw, sampai nanti malam.
Makan makan makan makan makan makan makan makan....
Tenaaang..., tante yang bayar.. :D
Wednesday, September 14, 2005
Kangen (lagi)
Saya kangen rasa itu. Kangen duduk di depan PC dan mengklak-klik mouse, loncat dari satu blog ke blog lain, feeling warm inside, meninggalkan pesan dan komen di sana-sini, senang karena (merasa) kenal banyak orang baru tanpa proses adaptasi (saya selalu sulit beradaptasi), kagum saat menemukan blog dengan cerita menarik atau mungkin cerita sederhana tapi dituturkan secara menarik.
Saya kangen mengurai kata-kata tidak penting di dalam kepala, mengetik sampai kantor hampir kosong dan ditanya redpel majalah tetangga, “Eyi, kehidupannya cuma di depan komputer itu ya?” Kangen pada kesediaan tangan untuk menuruti kemauan otak dan hati ketika ada ide atau pikiran melintas, kangen mengklik ‘publish post’ di blogger.com.
Kok sekarang nggak seperti dulu, ya?
Saya kangen mengurai kata-kata tidak penting di dalam kepala, mengetik sampai kantor hampir kosong dan ditanya redpel majalah tetangga, “Eyi, kehidupannya cuma di depan komputer itu ya?” Kangen pada kesediaan tangan untuk menuruti kemauan otak dan hati ketika ada ide atau pikiran melintas, kangen mengklik ‘publish post’ di blogger.com.
Kok sekarang nggak seperti dulu, ya?
Wednesday, September 07, 2005
SYUKURIN!!!!
HUAHAHAHAHHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA......
SYUKURIN!!!! SYUKURIN!!!! RASAKAN ITU,WAHAI KALIAN ORANG-ORANG SOMBONG BERSUARA KERAS YANG NGGAK PUNYA MANNER!!!! YA BAPAKNYA, YA IBUNYA, YA TANTENYA, YA ANAKNYA, YA PONAKANNYA, YA TEMANNYA, YA KERABATNYA, YA KRONI-KRONINYA!!!! SYUKURIN...!!! RASAKAN ITU, WAHAI KALIAN ORANG-ORANG TAK BERHATI YANG HANYA INGIN SUARANYA DIDENGAR DAN TIDAK MAU MENDENGAR SUARA ORANG LAIN!!!! RASAKAN ITU, WAHAI KALIAN YANG KETIKA MURKA MAKA SEDAPAT MUNGKIN SELURUH DUNIA HARUS MENGETAHUINYA!!!! HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...... MALU! MALU! MALU! NANGIS! NANGIS!!
SYUKURIN!!!! SYUKURIN!!!! RASAKAN ITU,WAHAI KALIAN ORANG-ORANG SOMBONG BERSUARA KERAS YANG NGGAK PUNYA MANNER!!!! YA BAPAKNYA, YA IBUNYA, YA TANTENYA, YA ANAKNYA, YA PONAKANNYA, YA TEMANNYA, YA KERABATNYA, YA KRONI-KRONINYA!!!! SYUKURIN...!!! RASAKAN ITU, WAHAI KALIAN ORANG-ORANG TAK BERHATI YANG HANYA INGIN SUARANYA DIDENGAR DAN TIDAK MAU MENDENGAR SUARA ORANG LAIN!!!! RASAKAN ITU, WAHAI KALIAN YANG KETIKA MURKA MAKA SEDAPAT MUNGKIN SELURUH DUNIA HARUS MENGETAHUINYA!!!! HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...... MALU! MALU! MALU! NANGIS! NANGIS!!
Wednesday, August 10, 2005
Lama Nggak Nge-blog
Kangen ngeblog deh..
Udah lama banget rasanya sejak tulisan terakhir. Bukannya nggak ada cerita, tapi lagi bosen banget aja kayaknya. Kemarin-kemarin itu, jangankan posting di blog sendiri, ngelongok postingan orang lain aja nggak sesering dulu lagi.
Saya juga bosen sama layout blog ini. Pengen ganti layout lain, pengen masuk-masukin foto juga biar ga plain banget kayak gini, tapi... (apa lagi?) mualesssss...
Beberapa minggu ini lagi banyak kerjaan. Ah, nggak banyak-banyak banget sih, cuma rasanya lagi lebih ribet aja dari edisi kemarin. Akhir Minggu ini Insya Allah mau liputan ke luar kota dan masih ada utang satu artikel. Dan bukannya ngerjain itu artikel, saya malah sibuk berkeluh kesah di sini.
Hmmm..., ada cerita apa ya???
Seharusnya sih banyak. Tanggal 17 besok, saya berarti sudah menikah selama empat bulan :) So many stories, so little time so much to do. Banyak enaknya, banyak kesel- keselannya juga. Hehehe..
Hari Minggu tanggal 7 Agustus kemarin, adik perempuan saya yang nikah. IYA, KAWINNYA DALAM TAHUN YANG SAMA. SO WHAT GITU LHOOOOOOH?!?! Ada suara-suara sumbang yang bilang seharusnya nggak boleh, tapi aduuh.. gimana ya, Bismillah aja deh. Lagian adik saya itu udah pacaran hampir enam tahun sama (mantan) cowoknya itu, jadi daripada ditunda- tunda, ya udah dikawinin aja. Udah sama-sama lulus, sama- sama kerja, sama-sama mau, sama-sama siap lahir batin, jadi kenapa kita mesti menghalang-halangi kalau niat mereka baik? Cerita acara kawinannya sendiri lumayan seru. Nanti-nanti aja diceritain.
Udah ya, mau ngetik artikel lagi nih. Doain semoga selesai. Amin...
Udah lama banget rasanya sejak tulisan terakhir. Bukannya nggak ada cerita, tapi lagi bosen banget aja kayaknya. Kemarin-kemarin itu, jangankan posting di blog sendiri, ngelongok postingan orang lain aja nggak sesering dulu lagi.
Saya juga bosen sama layout blog ini. Pengen ganti layout lain, pengen masuk-masukin foto juga biar ga plain banget kayak gini, tapi... (apa lagi?) mualesssss...
Beberapa minggu ini lagi banyak kerjaan. Ah, nggak banyak-banyak banget sih, cuma rasanya lagi lebih ribet aja dari edisi kemarin. Akhir Minggu ini Insya Allah mau liputan ke luar kota dan masih ada utang satu artikel. Dan bukannya ngerjain itu artikel, saya malah sibuk berkeluh kesah di sini.
Hmmm..., ada cerita apa ya???
Seharusnya sih banyak. Tanggal 17 besok, saya berarti sudah menikah selama empat bulan :) So many stories, so little time so much to do. Banyak enaknya, banyak kesel- keselannya juga. Hehehe..
Hari Minggu tanggal 7 Agustus kemarin, adik perempuan saya yang nikah. IYA, KAWINNYA DALAM TAHUN YANG SAMA. SO WHAT GITU LHOOOOOOH?!?! Ada suara-suara sumbang yang bilang seharusnya nggak boleh, tapi aduuh.. gimana ya, Bismillah aja deh. Lagian adik saya itu udah pacaran hampir enam tahun sama (mantan) cowoknya itu, jadi daripada ditunda- tunda, ya udah dikawinin aja. Udah sama-sama lulus, sama- sama kerja, sama-sama mau, sama-sama siap lahir batin, jadi kenapa kita mesti menghalang-halangi kalau niat mereka baik? Cerita acara kawinannya sendiri lumayan seru. Nanti-nanti aja diceritain.
Udah ya, mau ngetik artikel lagi nih. Doain semoga selesai. Amin...
Friday, June 17, 2005
What is Blue?
Blue is the sea
Blue is the sky
Blue is the happy tears running down a mother's cheek
Blue is beautiful
Blue is the thought rambling on your mind
Blue is hope
Blue is the boyband playing on TV
Blue is a pond hidden deep in the forest
Blue...
is the way I feel right now :'<
Blue is the sky
Blue is the happy tears running down a mother's cheek
Blue is beautiful
Blue is the thought rambling on your mind
Blue is hope
Blue is the boyband playing on TV
Blue is a pond hidden deep in the forest
Blue...
is the way I feel right now :'<
Si Mulut Besi
Akulah Si Mulut Besi
Aku kejam lagi keji
Bila aku pasang aksi
Semua orang pasti ngeri
Hai kamu Si Mulut Besi!
Pergi kamu dari sini!
Jangan tertawa hahahihi!
Nanti kami tambah benci!
Akulah Si Mulut Besi
Sadis jahat tak berhati
Jika aku unjuk gigi
Pontang-panting kalian lari
Hai kamu Si Mulut Besi!
Sudah buruk lagi tuli!
Enyah kamu dari sini!
Biar kami sepi sendiri
Aku kejam lagi keji
Bila aku pasang aksi
Semua orang pasti ngeri
Hai kamu Si Mulut Besi!
Pergi kamu dari sini!
Jangan tertawa hahahihi!
Nanti kami tambah benci!
Akulah Si Mulut Besi
Sadis jahat tak berhati
Jika aku unjuk gigi
Pontang-panting kalian lari
Hai kamu Si Mulut Besi!
Sudah buruk lagi tuli!
Enyah kamu dari sini!
Biar kami sepi sendiri
Tuesday, June 07, 2005
A New Motto (Ayo, Eyiii....!!!!)
BERANI KARENA BENAR!!!!
(dan jangan pernah takut walaupun salah ;> )
Thursday, June 02, 2005
About Letting Go
"Beruntunglah kita bila pernah memiliki seseorang yang begitu berharga sampai membuat kita sulit mengucapkan selamat tinggal."
Ternyata benar. Semua yang kita berikan pada orang lain:Ucapan, perbuatan, hadiah, sekecil apapun, sengaja atau tidak, asal diberikan dengan ikhlas, ternyata bisa jadi sesuatu buat orang itu.
***Makasih Dee, buat ngingetin gue :)
Ternyata benar. Semua yang kita berikan pada orang lain:Ucapan, perbuatan, hadiah, sekecil apapun, sengaja atau tidak, asal diberikan dengan ikhlas, ternyata bisa jadi sesuatu buat orang itu.
***Makasih Dee, buat ngingetin gue :)
Friday, April 29, 2005
5W1H
What?
Saya menikah.
When?
Minggu, 17 April 2005 kemarin.
Akadnya pukul 9.00. Molor SATU SETENGAH JAM dari rencana awal. Don't blame me. Perias yang seharusnya datang pukul lima subuh itu baru kelihatan bulat kondenya (bukan batang hidungnya) pukul setengah tujuh pagi! Begitu dia muncul dengan dandanan rapi, saya langsung membatin: Ohh.. nih orang telat karena kelamaan dandan sendiri kali ya?
On the other side, saya sebenarnya girang karena dia terlambat. Bukan apa-apa, saya butuh waktu sekitar setengah jam sampai empat puluh lima menit kemarin untuk memasang lensa kontak. Iya, saya tahu, orang lain mungkin cuma perlu dua detik. Mau apa lagi? I'm a chicken shit. Menempelkan benda asing itu ke bola mata saya? Ewwwww....
Resepsinya pukul setengah dua belas, molor setengah jam dari rencana semula. Seorang teman yang "sangat mengenal" saya bertanya selesai acara, "Lo tuh kawin aja ga bisa ga telat, ya?" Hehe, saya emang rajanya ngaret.
Where?
Graha Kencana BKKBN, Halim, Jakarta Timur.
Why?
Well, why not?
Sebelum ini, saya tak pernah berpikir soal pernikahan. Uh uh, never. Saya tak punya impian tentang pernikahan ideal ala saya. Ada teman ingin pernikahan sederhana yang anggun, ada lagi yang ingin pesta malam hari di Kafe Dedaunan, diterangi obor, ada yang ingin pesta taman. Tapi saya tak punya gambaran apapun.
Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya pada saya, "Kenapa lo memutuskan untuk nikah sama dia?" Saya jadi mikir, kenapa ya..?? Saya lupa. Iya, saya lupa apa yang ada di pikiran saya ketika pertama kali menjawab "iya". Mungkin saya menjawab "iya" karena saya justru tak berpikir macam-macam. Padahal waktu itu kami baru-baru saja pacaran. Baru berapa lamanya, saya lupa. Dia juga lupa. Dia lupa kapan dan di mana persisnya mengajak saya menikah.
Yang saya ingat: rasa yang nyaman, hati yang tenang. Bukan kembang api meletup-letup dalam dada, tapi terang lilin yang hangat dan membawa tentram.
Who?
Namanya Rommy . Saya mengenalnya pertama kali lewat blognya (jangan salah orang, dia tidak pakai nama aslinya di blog ;> ) Kami bertemu waktu acara jalan-jalan dengan blogger lainnya, Februari 2004 kemarin. Dia nyaris tidak ikut karena ada penugasan liputan. Di detik-detik terakhir, dia dapat kabar kalau penugasannya diundur. Dan jadilah kami bertemu. Mungkin sudah jalannya begitu.
Thanks to pencipta blogger, whoever u are man :)
Makasih juga buat Jabrik, Okke, dan Atta: Tiga orang pertama yang blognya 'menggoda' saya untuk akhirnya membuat blog sendiri.
How?
How... How apa nih? How was it? How was the wedding, maksudnya?
Well, acara pernikahannya alhamdulillah lancar-lancar aja, meskipun pake ngaret.
How's marriage? So far so good. Saya sendiri suka lupa kalau sudah nikah :D Rasanya seperti masih pacaran, tapi sudah boleh tinggal bareng. Hehehehe....
Pernah dengar cerita soal istri-istri yang memarahi suaminya karena si suami memencet odol dari tengah dan bukan dari bawah? Siapa coba yang belum? Dulu saya pernah berpikir cerita seperti itu terlalu mengada-ada, tapi kejadian sejenis ternyata kami alami sendiri. Bedanya, dia yang memarahi saya:
Dia: Kalau habis dari kamar mandi, klosetnya ditutup dong.. Terus gayungnya ditaruh di pinggir bak, jangan dibiarin di dalam.
Saya: Oo... Iya. Emangnya kenapa?
Dia: Ya biar rapi aja.
Ya ampun, ternyata cerita-cerita itu beneran ya!
Biasanya juga, istri yang membangunkan suami pagi-pagi. But i'm not a morning person. Sekarang malah dia yang membangunkan saya tiap subuh. Saya butuh usaha yang teramat sangat keras buat membuka mata. Selesai solat jamaah, dia biasanya masih duduk di sajadah, baca Quran. Saya? Saya juga masih duduk di belakangnya dengan punggung menempel ke lemari. Ketiduran lagi! Huehehehe...
Jangan marah kalo istrinya bandel ya, Sayang.. U know i luv u so much. Mmmmmmmwaahh! (huhuhu, ngerayu..)
Saya menikah.
When?
Minggu, 17 April 2005 kemarin.
Akadnya pukul 9.00. Molor SATU SETENGAH JAM dari rencana awal. Don't blame me. Perias yang seharusnya datang pukul lima subuh itu baru kelihatan bulat kondenya (bukan batang hidungnya) pukul setengah tujuh pagi! Begitu dia muncul dengan dandanan rapi, saya langsung membatin: Ohh.. nih orang telat karena kelamaan dandan sendiri kali ya?
On the other side, saya sebenarnya girang karena dia terlambat. Bukan apa-apa, saya butuh waktu sekitar setengah jam sampai empat puluh lima menit kemarin untuk memasang lensa kontak. Iya, saya tahu, orang lain mungkin cuma perlu dua detik. Mau apa lagi? I'm a chicken shit. Menempelkan benda asing itu ke bola mata saya? Ewwwww....
Resepsinya pukul setengah dua belas, molor setengah jam dari rencana semula. Seorang teman yang "sangat mengenal" saya bertanya selesai acara, "Lo tuh kawin aja ga bisa ga telat, ya?" Hehe, saya emang rajanya ngaret.
Where?
Graha Kencana BKKBN, Halim, Jakarta Timur.
Why?
Well, why not?
Sebelum ini, saya tak pernah berpikir soal pernikahan. Uh uh, never. Saya tak punya impian tentang pernikahan ideal ala saya. Ada teman ingin pernikahan sederhana yang anggun, ada lagi yang ingin pesta malam hari di Kafe Dedaunan, diterangi obor, ada yang ingin pesta taman. Tapi saya tak punya gambaran apapun.
Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya pada saya, "Kenapa lo memutuskan untuk nikah sama dia?" Saya jadi mikir, kenapa ya..?? Saya lupa. Iya, saya lupa apa yang ada di pikiran saya ketika pertama kali menjawab "iya". Mungkin saya menjawab "iya" karena saya justru tak berpikir macam-macam. Padahal waktu itu kami baru-baru saja pacaran. Baru berapa lamanya, saya lupa. Dia juga lupa. Dia lupa kapan dan di mana persisnya mengajak saya menikah.
Yang saya ingat: rasa yang nyaman, hati yang tenang. Bukan kembang api meletup-letup dalam dada, tapi terang lilin yang hangat dan membawa tentram.
Who?
Namanya Rommy . Saya mengenalnya pertama kali lewat blognya (jangan salah orang, dia tidak pakai nama aslinya di blog ;> ) Kami bertemu waktu acara jalan-jalan dengan blogger lainnya, Februari 2004 kemarin. Dia nyaris tidak ikut karena ada penugasan liputan. Di detik-detik terakhir, dia dapat kabar kalau penugasannya diundur. Dan jadilah kami bertemu. Mungkin sudah jalannya begitu.
Thanks to pencipta blogger, whoever u are man :)
Makasih juga buat Jabrik, Okke, dan Atta: Tiga orang pertama yang blognya 'menggoda' saya untuk akhirnya membuat blog sendiri.
How?
How... How apa nih? How was it? How was the wedding, maksudnya?
Well, acara pernikahannya alhamdulillah lancar-lancar aja, meskipun pake ngaret.
How's marriage? So far so good. Saya sendiri suka lupa kalau sudah nikah :D Rasanya seperti masih pacaran, tapi sudah boleh tinggal bareng. Hehehehe....
Pernah dengar cerita soal istri-istri yang memarahi suaminya karena si suami memencet odol dari tengah dan bukan dari bawah? Siapa coba yang belum? Dulu saya pernah berpikir cerita seperti itu terlalu mengada-ada, tapi kejadian sejenis ternyata kami alami sendiri. Bedanya, dia yang memarahi saya:
Dia: Kalau habis dari kamar mandi, klosetnya ditutup dong.. Terus gayungnya ditaruh di pinggir bak, jangan dibiarin di dalam.
Saya: Oo... Iya. Emangnya kenapa?
Dia: Ya biar rapi aja.
Ya ampun, ternyata cerita-cerita itu beneran ya!
Biasanya juga, istri yang membangunkan suami pagi-pagi. But i'm not a morning person. Sekarang malah dia yang membangunkan saya tiap subuh. Saya butuh usaha yang teramat sangat keras buat membuka mata. Selesai solat jamaah, dia biasanya masih duduk di sajadah, baca Quran. Saya? Saya juga masih duduk di belakangnya dengan punggung menempel ke lemari. Ketiduran lagi! Huehehehe...
Jangan marah kalo istrinya bandel ya, Sayang.. U know i luv u so much. Mmmmmmmwaahh! (huhuhu, ngerayu..)
Monday, April 04, 2005
Ulang Tahun (Lagi)
Alhamdulillah, bisa ulang tahun lagi tahun ini :)
Sudah (atau masih) 26 tahun saya. Jadi ingat tahun lalu, merayakan ulang tahun dengan pergi sendirian ke Bogor
..................................................................................................................................... OOps, udah dijemput. Postingan ditunggu sampai besok (atau lusa, atau hari lain. Seperti semboyan saya: "Jangan tunda besok apa yang bisa dikerjakan lusa").
Happy birthday dear me :)
Sudah (atau masih) 26 tahun saya. Jadi ingat tahun lalu, merayakan ulang tahun dengan pergi sendirian ke Bogor
..................................................................................................................................... OOps, udah dijemput. Postingan ditunggu sampai besok (atau lusa, atau hari lain. Seperti semboyan saya: "Jangan tunda besok apa yang bisa dikerjakan lusa").
Happy birthday dear me :)
Friday, March 04, 2005
Tidak Sempurna
Saya tahu, saya tidak sempurna.
Saya jauh dari itu.
Saya tahu tidak ada manusia yang sempurna.
Tapi ketidaksempurnaan kadang melelahkan.
Kamu melakukan A B C D lalu kamu pikir itu cukup tapi ternyata tidak karena kamu akan salah kalau tidak melakukan E lalu setelah itu ada F dan sebelum kamu bisa melakukannya, muncul lagi G dan kamu mulai berpikir mungkin nanti ada H I J K L M N O P Q R S...
t-i-d-a-k--s-e-m-p-u-r-n-a
Ketidaksempurnaan itu seperti galon air yang bocor di mana-mana.
Kamu mencoba mengisinya sampai penuh lalu 'menambal' bagian yang bocor dengan jarimu. Satu jari dua jari tiga jari empat jari, lalu kamu mulai takut jumlah jemarimu tak cukup dan galon airnya tidak akan pernah penuh.
Saya jauh dari itu.
Saya tahu tidak ada manusia yang sempurna.
Tapi ketidaksempurnaan kadang melelahkan.
Kamu melakukan A B C D lalu kamu pikir itu cukup tapi ternyata tidak karena kamu akan salah kalau tidak melakukan E lalu setelah itu ada F dan sebelum kamu bisa melakukannya, muncul lagi G dan kamu mulai berpikir mungkin nanti ada H I J K L M N O P Q R S...
t-i-d-a-k--s-e-m-p-u-r-n-a
Ketidaksempurnaan itu seperti galon air yang bocor di mana-mana.
Kamu mencoba mengisinya sampai penuh lalu 'menambal' bagian yang bocor dengan jarimu. Satu jari dua jari tiga jari empat jari, lalu kamu mulai takut jumlah jemarimu tak cukup dan galon airnya tidak akan pernah penuh.
Thursday, February 24, 2005
A Conversation, Few Years Ago
Gue:
Gimana seandainya seluruh alam semesta ini cuma latar belakang sebuah film? Gimana seandainya kita semua adalah tokoh-tokoh dalam film yang sedang dibuat –atau mungkin ditonton- oleh Tuhan?
Dan selayaknya sebuah film yang pemeran utamanya PASTI hanya beberapa orang saja, bagaimana kalau gue cuma seorang figuran kecil dan apa pun yang gue lakukan atau katakan sebenarnya ga terlalu berarti, ga penting, dan ga ngaruh.
Mungkin ga, sih?
Seorang teman:
Hmmm..... mungkin aja.
Tapi tenang aja, Ey... Kalau semua ini memang cuma sebuah film, lo sedang duduk di samping pemeran utamanya kok ;-)
Gimana seandainya seluruh alam semesta ini cuma latar belakang sebuah film? Gimana seandainya kita semua adalah tokoh-tokoh dalam film yang sedang dibuat –atau mungkin ditonton- oleh Tuhan?
Dan selayaknya sebuah film yang pemeran utamanya PASTI hanya beberapa orang saja, bagaimana kalau gue cuma seorang figuran kecil dan apa pun yang gue lakukan atau katakan sebenarnya ga terlalu berarti, ga penting, dan ga ngaruh.
Mungkin ga, sih?
Seorang teman:
Hmmm..... mungkin aja.
Tapi tenang aja, Ey... Kalau semua ini memang cuma sebuah film, lo sedang duduk di samping pemeran utamanya kok ;-)
Thursday, January 27, 2005
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang
siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
Petikan dari:
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, 1987
SAPARDI EMANG DAHSYAT!
siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
Petikan dari:
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, 1987
SAPARDI EMANG DAHSYAT!
Thursday, January 20, 2005
Satu Pagi, Sebuah Mikrolet, Seorang Pemuda
Pagi itu -seperti biasa- saya mencegat mikrolet di
perempatan lampu merah dekat rumah. Setelah mikrolet
jurusan Cawang itu datang, saya -seperti biasa-
memilih duduk paling pojok, dekat jendela belakang yang
besar itu. Tepat di depan saya, duduk seorang pemuda
bertopi, telinganya tersumbat earphone. Ini juga biasa.
Yang tidak biasa adalah ketika saya tiba-tiba melihat
dia mulai mengangguk-angguk.
Apa yang kamu pikirkan kalau melihat seorang pemuda memakai earphone sambil mengangguk-angguk?
"Ah, dia pasti sedang mengikuti beat musiknya."
Begitu? Iya, saya juga -biasanya- berpikir begitu.
Tapi ada sesuatu yang tidak biasa dari anggukan- anggukan si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.
Bagaimana saya menjelaskannya?
..............................
Dia mengangguk dengan beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak keras menghentak.
Jelas? Belum, ya?
Jadi begini: Kalau satu anggukan = 'tep', maka yang dia lakukan begitu mengangguk adalah 'tepteptepteptep'. Pendek-pendek, cepat, dan agak keras menghentak. Setelah itu diam. Tak lama, dia ber-'tepteptepteptep' lagi.
Terus? Kamu mungkin bertanya, apa yang aneh dari itu? Apa yang 'tidak biasa'? Tidak, seharusnya mungkin tidak aneh, biasa saja. Tapi saya tak bisa menganggap begitu.
Kenapa?
Karena saya tiba-tiba teringat masa kecil saya.
Dulu, jaman SD, saya nyaris selalu punya kebiasaan jelek. Salah satunya -ya, tul!- mengangguk-angguk itu. Beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak menghentak.
Saya sendiri tidak tahu kapan kebiasaan itu berawal, atau kenapa. Yang saya ingat, tahu-tahu saya jadi sering mengangguk-angguk. Saya terganggu juga sebenarnya, dan berusaha menghilangkan kebiasaan itu. Kalau keinginan untuk mengangguk datang, saya tahan sekuat mungkin. Tapi biasanya gagal. Tak berapa lama, saya kembali mengangguk-angguk lagi, lebih keras dari biasanya malah, sebagai pelampiasan hasrat mengangguk yang tadi sempat ditahan.
Lalu suatu hari kebiasaan mengangguk itu hilang.
Kok bisa?
Karena saya menggantinya dengan kebiasaan lain.
Bukan jadi menggeleng, tapi berkata 'eb'('e' bedak, bukan 'e' bebek). Ya, betul.
'Eb'. Coba bilang 'eb', tapi katupkan mulutmu. 'Eb', tanpa membuka mulut. Ya, begitu. Tiap beberapa menit sekali, saya spontan berucap 'eb'.
Kebiasaan ini juga akhirnya hilang suatu hari, tapi saya kemudian punya kebiasaan jelek lain (tentunya). Tahu-tahu, saya terbiasa menjulurkan leher. Pendek saja, asal terasa di leher ya sudah.
Masih ada lagi. Saya pernah punya kebiasaan menggosok dan memencet hidung, terutama kalau sedang grogi. Walhasil, hidung saya sekarang adalah organ tubuh yang cukup sering kena sindir orang lain karena bentuknya yang memang mengundang komentar:( Hehehe...
Saraf?
Sepertinya bukan. Toh sekarang saya bisa berhenti dan tak punya kebiasaan jelek lagi. Kata seorang teman yang lulusan fakultas psikologi, saya dulu pasti memiliki tingkat kecemasannya tinggi. Kecemasan itu ditekan sedemikian rupa lalu keluar dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan jelek itu.
Aneh?
Memang. Tapi sepertinya penjelasan soal 'tingkat kecemasan yang tinggi' itu memang masuk akal. Saya dulu MEMANG sering cemas berlebihan, takut pada banyak hal, dan kurang percaya diri. Semua itu masih suka terbawa-bawa sampai sekarang, tapi -syukurlah- dalam taraf yang sudah tak terlalu mengkhawatirkan. Minimal tidak sampai membuat saya mengangguk, ber-'eb', atau menjulurkan leher.
Kembali ke pagi itu, di mikrolet, saat saya bertemu si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone dan cara mengangguknya mengingatkan saya pada (salah satu) kebiasaan jelek saya dulu.
Saya memalingkan wajah dari dia, tak berani memandang lagi. Bahkan ketika beberapa orang di samping saya turun, saya bergeser menjauh.
Kenapa?
Karena saya tiba-tiba merasa takut kalau anggukannya itu menular. Saya takut kalau tahu-tahu saya terbiasa mengangguk-angguk lagi.
Dari sudut mata, saya melihat dia mengangguk lagi, seketika saya merasa jijik.
Lho? Kenapa mesti jijik?
Mungkin saya tidak jijik pada dia, atau anggukannya. Mungkin saya jijik karena teringat kalau saya dulu punya kebiasaan yang menjijikkan. Tak tahulah, saya nggak ngerti juga. Yang saya tahu, saya makin merasa tidak nyaman berada semikrolet dengan pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.
Saya mulai menimbang-nimbang. Apa saya harus keluar dari mikrolet itu dan berganti mikrolet lain?
Ah!
Apa yang kamu pikirkan kalau melihat seorang pemuda memakai earphone sambil mengangguk-angguk?
"Ah, dia pasti sedang mengikuti beat musiknya."
Begitu? Iya, saya juga -biasanya- berpikir begitu.
Tapi ada sesuatu yang tidak biasa dari anggukan- anggukan si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.
Bagaimana saya menjelaskannya?
..............................
Dia mengangguk dengan beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak keras menghentak.
Jelas? Belum, ya?
Jadi begini: Kalau satu anggukan = 'tep', maka yang dia lakukan begitu mengangguk adalah 'tepteptepteptep'. Pendek-pendek, cepat, dan agak keras menghentak. Setelah itu diam. Tak lama, dia ber-'tepteptepteptep' lagi.
Terus? Kamu mungkin bertanya, apa yang aneh dari itu? Apa yang 'tidak biasa'? Tidak, seharusnya mungkin tidak aneh, biasa saja. Tapi saya tak bisa menganggap begitu.
Kenapa?
Karena saya tiba-tiba teringat masa kecil saya.
Dulu, jaman SD, saya nyaris selalu punya kebiasaan jelek. Salah satunya -ya, tul!- mengangguk-angguk itu. Beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak menghentak.
Saya sendiri tidak tahu kapan kebiasaan itu berawal, atau kenapa. Yang saya ingat, tahu-tahu saya jadi sering mengangguk-angguk. Saya terganggu juga sebenarnya, dan berusaha menghilangkan kebiasaan itu. Kalau keinginan untuk mengangguk datang, saya tahan sekuat mungkin. Tapi biasanya gagal. Tak berapa lama, saya kembali mengangguk-angguk lagi, lebih keras dari biasanya malah, sebagai pelampiasan hasrat mengangguk yang tadi sempat ditahan.
Lalu suatu hari kebiasaan mengangguk itu hilang.
Kok bisa?
Karena saya menggantinya dengan kebiasaan lain.
Bukan jadi menggeleng, tapi berkata 'eb'('e' bedak, bukan 'e' bebek). Ya, betul.
'Eb'. Coba bilang 'eb', tapi katupkan mulutmu. 'Eb', tanpa membuka mulut. Ya, begitu. Tiap beberapa menit sekali, saya spontan berucap 'eb'.
Kebiasaan ini juga akhirnya hilang suatu hari, tapi saya kemudian punya kebiasaan jelek lain (tentunya). Tahu-tahu, saya terbiasa menjulurkan leher. Pendek saja, asal terasa di leher ya sudah.
Masih ada lagi. Saya pernah punya kebiasaan menggosok dan memencet hidung, terutama kalau sedang grogi. Walhasil, hidung saya sekarang adalah organ tubuh yang cukup sering kena sindir orang lain karena bentuknya yang memang mengundang komentar:( Hehehe...
Saraf?
Sepertinya bukan. Toh sekarang saya bisa berhenti dan tak punya kebiasaan jelek lagi. Kata seorang teman yang lulusan fakultas psikologi, saya dulu pasti memiliki tingkat kecemasannya tinggi. Kecemasan itu ditekan sedemikian rupa lalu keluar dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan jelek itu.
Aneh?
Memang. Tapi sepertinya penjelasan soal 'tingkat kecemasan yang tinggi' itu memang masuk akal. Saya dulu MEMANG sering cemas berlebihan, takut pada banyak hal, dan kurang percaya diri. Semua itu masih suka terbawa-bawa sampai sekarang, tapi -syukurlah- dalam taraf yang sudah tak terlalu mengkhawatirkan. Minimal tidak sampai membuat saya mengangguk, ber-'eb', atau menjulurkan leher.
Kembali ke pagi itu, di mikrolet, saat saya bertemu si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone dan cara mengangguknya mengingatkan saya pada (salah satu) kebiasaan jelek saya dulu.
Saya memalingkan wajah dari dia, tak berani memandang lagi. Bahkan ketika beberapa orang di samping saya turun, saya bergeser menjauh.
Kenapa?
Karena saya tiba-tiba merasa takut kalau anggukannya itu menular. Saya takut kalau tahu-tahu saya terbiasa mengangguk-angguk lagi.
Dari sudut mata, saya melihat dia mengangguk lagi, seketika saya merasa jijik.
Lho? Kenapa mesti jijik?
Mungkin saya tidak jijik pada dia, atau anggukannya. Mungkin saya jijik karena teringat kalau saya dulu punya kebiasaan yang menjijikkan. Tak tahulah, saya nggak ngerti juga. Yang saya tahu, saya makin merasa tidak nyaman berada semikrolet dengan pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.
Saya mulai menimbang-nimbang. Apa saya harus keluar dari mikrolet itu dan berganti mikrolet lain?
Ah!
Monday, January 03, 2005
Wednesday, December 29, 2004
Kata Driver Kantor tentang Bencana di Aceh
"Bukannya saya ngarepin ketimpa musibah, Mbak, tapi kenapa ya Tuhan nggak ngedatengin bencana besar itu ke Jakarta aja? Padahal Jakarta kan pusatnya segala kemaksiatan, kejahatan. Kenapa justru orang-orang daerah melulu yang ketimpa bencana?"
Thursday, December 23, 2004
50% Padang, 25% Jawa, 25% Sunda
Setahun lagi, dua tahun lagi, lima tahun lagi, tigapuluhtujuh tahun lagi, nggak akan ada yang berubah. It will still be me.
It's just me.
It's just me.
Ralat (Think Positive!!!)
i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time
Running Out of Time
im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time
SHOOT! I'M RUNNING OUT OF TIME!!!
SHOOT! I'M RUNNING OUT OF TIME!!!
Tuesday, December 14, 2004
Thursday, December 02, 2004
The Perfect Year
i dont need a crowded ballroom
all i really need is here
if you're with me
next year will be
the perfect year..
By.... (lupa penyanyinya)
all i really need is here
if you're with me
next year will be
the perfect year..
By.... (lupa penyanyinya)
Thursday, November 25, 2004
Serpihan
Beberapa hari lalu, lagu ini tiba-tiba melintas di kepala:
towet towet
towet towet
senang hatiku.. towet towet
towet towet
baju baruku..
Akhir pekan kemarin, berdiri di kamar mandi, sudah siap mandi, selembar kertas tabloid bekas di tangan, sebuah cerpen di sana. Membaca cerpen, sambil berdiri di kamar mandi, padahal sudah siap mandi (bagi saya, mandi itu perlu persiapan). Cerpennya jelek, jadi saya relakan kertas tabloid itu sebagai bungkus pembalut bekas.
Memandang keluar dari jendela taksi. Hujan. Musim hujan sudah datang. Jakarta basah. Harusnya bersyukur, ya? Atau tidak? Karena hujan biasanya diikuti dengan macet dan banjir. Cuaca begini cuma enak untuk tidur.
Tadi. Menekan sederet nomor ponsel dan lagu pengganti nada sambung itu mengalun.
Have yourself a merry little christmas
Let your heart be light
From now on,
our troubles will be out of sight....
Saya selalu suka lagu ini. Saya jatuh hati pada lagu ini, pada suasana Natal dalam film-film produksi Hollywood.
Sore, bandara Soekarno-Hatta. Es krim A&W cokelat vanila kami ternyata membuat iri gadis kecil yang duduk di sebelah bersama ibunya. Sang ayah terpaksa bangkit dan membelikan es krim untuknya, lalu bangkit lagi dan tergopoh-gopoh mencari tisu basah karena lelehan es krim mengotori muka dan baju si gadis kecil.
Sebuah pertanyaan, "Ibu, andai saja boleh memilih, maukah kamu menerima saya sebagai anakmu?"
Ini serpihan, teman. Saya hanya sedang mengumpulkan serpihan.
towet towet
towet towet
senang hatiku.. towet towet
towet towet
baju baruku..
Akhir pekan kemarin, berdiri di kamar mandi, sudah siap mandi, selembar kertas tabloid bekas di tangan, sebuah cerpen di sana. Membaca cerpen, sambil berdiri di kamar mandi, padahal sudah siap mandi (bagi saya, mandi itu perlu persiapan). Cerpennya jelek, jadi saya relakan kertas tabloid itu sebagai bungkus pembalut bekas.
Memandang keluar dari jendela taksi. Hujan. Musim hujan sudah datang. Jakarta basah. Harusnya bersyukur, ya? Atau tidak? Karena hujan biasanya diikuti dengan macet dan banjir. Cuaca begini cuma enak untuk tidur.
Tadi. Menekan sederet nomor ponsel dan lagu pengganti nada sambung itu mengalun.
Have yourself a merry little christmas
Let your heart be light
From now on,
our troubles will be out of sight....
Saya selalu suka lagu ini. Saya jatuh hati pada lagu ini, pada suasana Natal dalam film-film produksi Hollywood.
Sore, bandara Soekarno-Hatta. Es krim A&W cokelat vanila kami ternyata membuat iri gadis kecil yang duduk di sebelah bersama ibunya. Sang ayah terpaksa bangkit dan membelikan es krim untuknya, lalu bangkit lagi dan tergopoh-gopoh mencari tisu basah karena lelehan es krim mengotori muka dan baju si gadis kecil.
Sebuah pertanyaan, "Ibu, andai saja boleh memilih, maukah kamu menerima saya sebagai anakmu?"
Ini serpihan, teman. Saya hanya sedang mengumpulkan serpihan.
Monday, November 22, 2004
Syawal 1425 H
Hai kalian..
Minal Aidin Wal Faidzin...
Maaf lahir batin...
Semoga Lebarannya kemarin asyik..
Ngomong-ngomong, tahun ini kok nggak ada SMS 'seputih salju sebening embun' ya? :D
Minal Aidin Wal Faidzin...
Maaf lahir batin...
Semoga Lebarannya kemarin asyik..
Ngomong-ngomong, tahun ini kok nggak ada SMS 'seputih salju sebening embun' ya? :D
Wednesday, November 10, 2004
Da Vinci Code
Akhirnya, selesai juga baca Da Vinci Code..
Dan seluruh dunia berkata serempak, "KEMANE AJE, MPOOOK???" :D
Hehehe.. Sudah begitu banyak review, komentar, artikel, tanggapan, kritik, dan pujian terhadap buku ini, jadi dengan penuh kesadaran, saya tidak akan menulis berpanjang-panjang soal Da Vinci Code. Basi.
Satu kata: DAHSYAT!!
Beberapa kata: Rasanya bener-bener seperti nonton film kelas satu. Pace-nya yang cepat, deskripsinya yang mendetail, thriller-nya, dramanya, ceritanya(pasti).
Trus, KALAU MISALNYA saya disuruh menulis komentar untuk backcover Da Vinci Code (yeah right..), maka tulisannya akan berbunyi seperti ini:
"Inilah buku PERTAMA yang membuat saya merasa tidak percaya diri untuk menulis novel."
(Great, kemarin alasannya males, dan sekarang ga PD???) Hehehe..
PS: Buat JABRIK(!), DASAR SPOILER!!! Gara-gara baca postingan kamu, saya jadi tahu duluan siapa dalangnya :( Btw, Liv Tyler sih nggak cocok jadi Sophie. Yang cocok itu Sophie Marceau.
Dan seluruh dunia berkata serempak, "KEMANE AJE, MPOOOK???" :D
Hehehe.. Sudah begitu banyak review, komentar, artikel, tanggapan, kritik, dan pujian terhadap buku ini, jadi dengan penuh kesadaran, saya tidak akan menulis berpanjang-panjang soal Da Vinci Code. Basi.
Satu kata: DAHSYAT!!
Beberapa kata: Rasanya bener-bener seperti nonton film kelas satu. Pace-nya yang cepat, deskripsinya yang mendetail, thriller-nya, dramanya, ceritanya(pasti).
Trus, KALAU MISALNYA saya disuruh menulis komentar untuk backcover Da Vinci Code (yeah right..), maka tulisannya akan berbunyi seperti ini:
"Inilah buku PERTAMA yang membuat saya merasa tidak percaya diri untuk menulis novel."
(Great, kemarin alasannya males, dan sekarang ga PD???) Hehehe..
PS: Buat JABRIK(!), DASAR SPOILER!!! Gara-gara baca postingan kamu, saya jadi tahu duluan siapa dalangnya :( Btw, Liv Tyler sih nggak cocok jadi Sophie. Yang cocok itu Sophie Marceau.
Subscribe to:
Posts (Atom)
