Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Friday, March 04, 2011

JUMP!!

Apa itu cinta? Saya tak pernah tahu bagaimana menjelaskannya. Atau bahkan apakah saya tahu penjelasannya.

Sayang, perhatian, peduli, rindu, rasa ingin memiliki, ingin selalu bersama: Apa itu berarti cinta?

Pencarian saya tentang definisi cinta berakhir ketika Pendar lahir.
I know I love her. I know it's love. I feel it.

Dan sekarang, kalau saja ada yang bertanya pada saya apa itu 'cinta', ini jawaban saya:

"Saya tak bisa berenang. Tapi saya tahu, saya yakin, kalau suatu hari nanti orang yang saya cinta--AMITAMIT, GOD FORBID-- nyemplung entah ke mana, hell I KNOW I WOULD JUMP! Saya akan lompat dan menolong dia, walau saya tahu saya tak bisa berenang.
...Karena saya cinta."

Dalam prakteknya, penjelasan di atas mungkin cuma jadi metafor. Sekarang saya tahu, cinta adalah memberikan, melakukan sesuatu buat seseorang--walau kamu tidak tahu apa kamu bisa menanggung konsekuensi dari pemberian atau tindakan itu terhadap dirimu sendiri.

Tapi satu hal yang kamu tahu pasti: Kamu tidak akan mau melihat dia sengsara. Kamu cuma mau orang itu bahagia.

And that's, my friends, is what I call love.

How Deep is Your Love?

Level 1:
Ingin melihat orang itu bahagia, HANYA DAN HANYA JIKA dia bahagia karena kamu, atau ketika bersama kamu.

Level 2:
Ingin melihat orang itu bahagia, APA PUN alasannya. Apakah dia bahagia karena kamu dan bersama kamu atau tidak.

Level 3:
Ingin melihat orang itu bahagia, WALAUPUN itu berarti mengorbankan (sebagian) kebahagiaanmu sendiri.

Friday, September 21, 2007

Tuhan dalam Sekantung Buah Plastik

Membaca posting salah satu pengarang favorit saya -Dee- di 'sini' membuat saya berpikir, dan juga teringat akan sesuatu.

Dua pertanyaan itu: Apa itu Cinta? Apa itu Tuhan?

Bagi saya, menjawab pertanyaan pertama kini lebih mudah.
Cinta adalah Pendar, love is Pendar. Titik.
Saya tidak menjelaskan lebih panjang atau lebih baik dari itu.

Dan Tuhan?
Tuhan saya muncul dalam kenangan tentang sekantung mainan buah plastik yang dibeli ibu di pasar pagi Rawamangun.

Waktu itu saya masih SD. Kelas berapa tepatnya, saya lupa.
Saya sedang bermain di rumah saudara sepupu di bilangan Kelapa Gading. Kakak sepupu saya itu punya sekantung mainan buah-buahan plastik. Saya lupa apa saja buah-buahannya. Mungkin ada apel, jeruk, pisang... Standar.
Entah kenapa -mungkin karena pada dasarnya saya doyan makan?- saya sangat terkesan. Saya ingin, sangat ingin punya mainan yang sama. Tapi bagaimana caranya? Saya tak punya uang. Saya tak pernah diberi uang jajan sewaktu masih SD – kecuali kalau ibu bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan.

Malamnya, sebelum tidur, setelah berbaring di ranjang, saya memejamkan mata dan berdoa dalam hati: “Allah, Eyi pengen mainan buah-buahan plastik seperti punya Uni Meitia. Amin...”

Tepat keesokan paginya, kami sekeluarga -ibu, ayah, saya dan adik perempuan- pergi ke pasar. Sementara ibu belanja, ayah mengajak saya dan adik menunggu di warung Padang dalam pasar. Rasanya baru sebentar, ibu sudah muncul lagi sambil menenteng sekeranjang belanjaan. Dia lalu menyodorkan sesuatu pada saya. “Ini buat Eyi.”

Itu dia. Tepat seperti yang saya minta tadi malam pada Tuhan. Sekantung mainan buah-buahan plastik. Mainan itu nyata, saya menggenggamnya.

Saya takjub. “Kok cepet banget, Tuhan?”


Tahun-tahun berlalu.
Dalam perjalanan waktu, sejak peristiwa buah plastik itu hingga sekarang, saya pernah meragukan perintah salat, konsep surga-neraka, perhitungan pahala-dosa dan entah apa lagi.

Tapi saya tak pernah mempertanyakan Tuhan. Saya tahu Dia ada di dekat saya: melihat, mendengarkan—bahkan kalimat yang tak terucapkan, memahami dan menjawab...