tulisan itu sebenarnya sudah selesai. profil tiga halaman yang saya buat PAKAI HATI. tapi dibalikin lagi. ganti format jadi q&a katanya. selain itu tulisannya ga sesuai pakem yang selama ini ada, jadi harus diubah.
iya, emang agak beda, tapi kl diperhatiin, itu sama sekali ga keluar pakem. saya cuma membuatnya jadi 'agak beda'. bosen. bosen sama yang selama ini ada dan terus diulang-ulang.
sekarang mau nulis lagi jadi males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males. males.
tulisan itu sudah selesai. dan saya bikinnya PAKE HATI. PAKE HATI!(jarang2 nulis pake hati) Sekarang, begitu harus nulis lagi, saya udah ilfil. saya bilang dalam hati 'ya udah, sekarang ga usah pake hati bikinnya.' tapi tetep aja sebel. sebel. sebel. sebel. sebel. sebel. sebel.
beginilah risikonya jadi penulis yang juga pegawai, atau jadi pegawai yang menulis? Hhhhh..
Tuesday, August 31, 2004
Wednesday, August 25, 2004
Dari Seorang Teman
"Salah satu cara terbaik mengisi hari mungkin dengan membiarkan hari mengisimu."
Selamat nikmati hari! Get relax!
Have a nice day everyone!
Sender:
*u*e***
0818xxxxxxxx
Sent:
25-Aug-2004
10:10:40
*Thank's, bro. Amazing how words can inspire us, huh? :)
Selamat nikmati hari! Get relax!
Have a nice day everyone!
Sender:
*u*e***
0818xxxxxxxx
Sent:
25-Aug-2004
10:10:40
*Thank's, bro. Amazing how words can inspire us, huh? :)
Tuesday, August 10, 2004
Hootie and the Blowfish
Kalau hidup ini film,
dan saya adalah pemeran utamanya,
maka soundtrack yang sekarang sedang mengalun adalah lagu Hootie and the Blowfish:
"Well there's nothing I can do
I only wanna be with you
You can call me a fool
I only wanna be with you..."
*Maaf, saya tak pandai berkata-kata.
Ataukah bahagia tak menginspirasi sebaik derita?
dan saya adalah pemeran utamanya,
maka soundtrack yang sekarang sedang mengalun adalah lagu Hootie and the Blowfish:
"Well there's nothing I can do
I only wanna be with you
You can call me a fool
I only wanna be with you..."
*Maaf, saya tak pandai berkata-kata.
Ataukah bahagia tak menginspirasi sebaik derita?
Wednesday, July 28, 2004
Gua Kecil
Kadang-kadang,
saya cuma ingin punya gua kecil,
tempat mundur dari semua hiruk-pikuk dunia.
Gua kecil,
tempat saya bisa memilih apa yang ingin dan tak ingin saya kerjakan,
tempat bebas dari kewajiban bicara, berbasa-basi, menjelaskan, memutuskan, menentukan,
tempat boleh berbuat bodoh tanpa merasa jadi orang bodoh,
tempat tak lagi memikirkan pendapat orang lain, apalagi pendapat diri sendiri.
Gua kecil,
hanya ada saya,
atau orang-orang tertentu yang saya ajak masuk ke dalamnya.
saya cuma ingin punya gua kecil,
tempat mundur dari semua hiruk-pikuk dunia.
Gua kecil,
tempat saya bisa memilih apa yang ingin dan tak ingin saya kerjakan,
tempat bebas dari kewajiban bicara, berbasa-basi, menjelaskan, memutuskan, menentukan,
tempat boleh berbuat bodoh tanpa merasa jadi orang bodoh,
tempat tak lagi memikirkan pendapat orang lain, apalagi pendapat diri sendiri.
Gua kecil,
hanya ada saya,
atau orang-orang tertentu yang saya ajak masuk ke dalamnya.
Friday, July 23, 2004
Semalam
Semalam, di kamar, saya dan adik perempuan.
........................................................
+ Kalo pake celana item ini gimana?
- Jangan!
+ Kenapa?
- Lo jadi keliatan gendut banget.
+ (buang celana hitam ke kasur) Kalo gue pake celana item lo aja gimana?
- Celana item gue? Yang mana?
+ Yang itu... yang item...
- Yang 'Executive'?
+ Yang 'Executive' mah celana gue tadi!
- Lo kira celana gue bukan 'Executive?'
+ Lho? Emangnya iya?'
- Bukan.
+ Yeeee.... Terus gue pake apaan dong? Atau pake celana biasa aja ya?
......................................................
+ Atasannya pake kemeja putih ini gimana?
- Mmmmmm..... (pasang tampang ga setuju)
+ Abis apa lagi?
- Kenapa ga pake baju terusan lo aja sih?
+ Yang mana?
- Yang mana lagi? Yang dulu suka lo pake.
+ Hah? Itu? (ngeluarin baju terusan dari lemari) Yang ini?
- Iya. Itu lebih rapi.
+ (pake baju terusan) Emangnya ga berlebihan ya?
- Ya nggaklah!
+ Lo yakin?
- Iya!
+ Tapi terus tasnya nggak bisa pake yang biasa. Pake apa dong?
- Ya yang item kulit aja.
+ Itu kan udah jelek banget!
- Nggak, ah.
+ Iya! Nih. lihat pinggirnya udah ngelupas.
- Lagian! Beli tas baru dong!
+ Iya deh. Ntar.
..........................................................
+ Rambut gue berantakan banget.
- Dibando aja.
+ Hah? (coba pake bando) Kayak gini?
- Kok jadi aneh? Dijepit aja coba.
+ (coba ngejepit rambut) Gini?
- Kayak anak kecil. Jangan gitu ngejepitnya. Sini gue jepitin.
+ Aduuuh.. ga usah deh.. Ntar sebelum nyampe juga udah gue lepas lagi..
..........................................................
- ...... (lagi tidur)
+ Donna! Don!(ngeguncang-guncang bahu si adik perempuan).
- Mmmmmmm...????
+ Lo YAKIN baju terusannya ga berlebihan?
- KAGAAAAAAAKKKKK!!!!!
Bukan mau ke pesta, bukan mejeng di tipi, bukan mau kencan, bukan wawancara kerja, bukan ketemu narasumber kelas atas, tapi sumpah, bikin kelimpungan banget. :)
........................................................
+ Kalo pake celana item ini gimana?
- Jangan!
+ Kenapa?
- Lo jadi keliatan gendut banget.
+ (buang celana hitam ke kasur) Kalo gue pake celana item lo aja gimana?
- Celana item gue? Yang mana?
+ Yang itu... yang item...
- Yang 'Executive'?
+ Yang 'Executive' mah celana gue tadi!
- Lo kira celana gue bukan 'Executive?'
+ Lho? Emangnya iya?'
- Bukan.
+ Yeeee.... Terus gue pake apaan dong? Atau pake celana biasa aja ya?
......................................................
+ Atasannya pake kemeja putih ini gimana?
- Mmmmmm..... (pasang tampang ga setuju)
+ Abis apa lagi?
- Kenapa ga pake baju terusan lo aja sih?
+ Yang mana?
- Yang mana lagi? Yang dulu suka lo pake.
+ Hah? Itu? (ngeluarin baju terusan dari lemari) Yang ini?
- Iya. Itu lebih rapi.
+ (pake baju terusan) Emangnya ga berlebihan ya?
- Ya nggaklah!
+ Lo yakin?
- Iya!
+ Tapi terus tasnya nggak bisa pake yang biasa. Pake apa dong?
- Ya yang item kulit aja.
+ Itu kan udah jelek banget!
- Nggak, ah.
+ Iya! Nih. lihat pinggirnya udah ngelupas.
- Lagian! Beli tas baru dong!
+ Iya deh. Ntar.
..........................................................
+ Rambut gue berantakan banget.
- Dibando aja.
+ Hah? (coba pake bando) Kayak gini?
- Kok jadi aneh? Dijepit aja coba.
+ (coba ngejepit rambut) Gini?
- Kayak anak kecil. Jangan gitu ngejepitnya. Sini gue jepitin.
+ Aduuuh.. ga usah deh.. Ntar sebelum nyampe juga udah gue lepas lagi..
..........................................................
- ...... (lagi tidur)
+ Donna! Don!(ngeguncang-guncang bahu si adik perempuan).
- Mmmmmmm...????
+ Lo YAKIN baju terusannya ga berlebihan?
- KAGAAAAAAAKKKKK!!!!!
Bukan mau ke pesta, bukan mejeng di tipi, bukan mau kencan, bukan wawancara kerja, bukan ketemu narasumber kelas atas, tapi sumpah, bikin kelimpungan banget. :)
Wednesday, June 30, 2004
The Season
I have something with words.
Ada beberapa kata yang menurut saya lebih indah dari kata-kata lain. Salah satunya, 'musim', 'season'.
Apartemen Four Seasons, lagu Boyz II Men; 'Four Seasons of Loneliness', Nine Seasons-boysband Indonesia yang dulunya bernama ME.
Waktu SMP dulu, saya pernah membaca sebuah cerita bersambung di majalah Gadis, 'Menanti Musim Berganti'. Pengarangnya adalah salah satu penulis favorit saya di zaman itu: Tika Wisnu, kalau tidak salah.
Tahun kemarin, saya terkagum-kagum pada satu lagu di album Norah Jones, judulnya 'Shoot the Moon'. Tapi tentu saja, semua lagu di album itu mengagumkan.
the summer days are gone too soon
you shoot the moon
and miss completely
and now you're left to face the gloom
the empty room that once smelled sweetly
of all the flowers you plucked
if only you knew the reason
why you had to each be lonely
was it just the season?
now the fall is here again
you can't begin to give in
it's all over
when the snows come rolling through
you're rolling too with some new lover
will you think of times you told me
that you knew the reason
why we had to each be lonely
it was just the season
Cerita itu, lagu itu, jadi jimat yang kemudian saya bawa-bawa ketika menjalani hari. Waktu saya sedih, saya berbisik dalam hati, "Nggak apa-apa, Ey. It's just the season of sadness. Sebentar lagi musim ini berganti. Lihat saja." Waktu saya merindukan masa-masa indah bersama beberapa sahabat lama, saya katakan pada diri sendiri, "Tiap musim akan berulang. Kalaupun musim itu tak kembali, akan datang musim lain yang tak kalah indah."
Bukankah hidup memang cuma deretan musim yang silih berganti?
Dulu, ada musimnya ketika saya tak pernah mau jauh dari ibu saya. Lalu musim itu pergi. Saya jadi lebih suka sendirian di rumah.
Dulu, ada musimnya ketika saya tergila-gila main orang-orangan kertas. Lalu musim itu beranjak. Saya jadi lebih suka berkumpul dengan teman-teman: nonton VCD, ke mal, ngobrolin cowok.
Dulu, ada musimnya ketika saya memandang semua kejadian begitu hitam atau putih. Lalu musim itu mengabur. Kini banyak hal yang tampak sangat abu-abu.
Iya, betul. Hidup memang cuma deretan musim yang silih berganti.
dan sekarang..
adalah musimnya..
memalingkan wajah..
yang bersemu merah..
karena tatapmu..
tak jua lepas dari mataku..
Ada beberapa kata yang menurut saya lebih indah dari kata-kata lain. Salah satunya, 'musim', 'season'.
Apartemen Four Seasons, lagu Boyz II Men; 'Four Seasons of Loneliness', Nine Seasons-boysband Indonesia yang dulunya bernama ME.
Waktu SMP dulu, saya pernah membaca sebuah cerita bersambung di majalah Gadis, 'Menanti Musim Berganti'. Pengarangnya adalah salah satu penulis favorit saya di zaman itu: Tika Wisnu, kalau tidak salah.
Tahun kemarin, saya terkagum-kagum pada satu lagu di album Norah Jones, judulnya 'Shoot the Moon'. Tapi tentu saja, semua lagu di album itu mengagumkan.
the summer days are gone too soon
you shoot the moon
and miss completely
and now you're left to face the gloom
the empty room that once smelled sweetly
of all the flowers you plucked
if only you knew the reason
why you had to each be lonely
was it just the season?
now the fall is here again
you can't begin to give in
it's all over
when the snows come rolling through
you're rolling too with some new lover
will you think of times you told me
that you knew the reason
why we had to each be lonely
it was just the season
Cerita itu, lagu itu, jadi jimat yang kemudian saya bawa-bawa ketika menjalani hari. Waktu saya sedih, saya berbisik dalam hati, "Nggak apa-apa, Ey. It's just the season of sadness. Sebentar lagi musim ini berganti. Lihat saja." Waktu saya merindukan masa-masa indah bersama beberapa sahabat lama, saya katakan pada diri sendiri, "Tiap musim akan berulang. Kalaupun musim itu tak kembali, akan datang musim lain yang tak kalah indah."
Bukankah hidup memang cuma deretan musim yang silih berganti?
Dulu, ada musimnya ketika saya tak pernah mau jauh dari ibu saya. Lalu musim itu pergi. Saya jadi lebih suka sendirian di rumah.
Dulu, ada musimnya ketika saya tergila-gila main orang-orangan kertas. Lalu musim itu beranjak. Saya jadi lebih suka berkumpul dengan teman-teman: nonton VCD, ke mal, ngobrolin cowok.
Dulu, ada musimnya ketika saya memandang semua kejadian begitu hitam atau putih. Lalu musim itu mengabur. Kini banyak hal yang tampak sangat abu-abu.
Iya, betul. Hidup memang cuma deretan musim yang silih berganti.
dan sekarang..
adalah musimnya..
memalingkan wajah..
yang bersemu merah..
karena tatapmu..
tak jua lepas dari mataku..
Thursday, June 24, 2004
Sedikit Narsis(?) ;)
Sudah beberapa minggu ini (atau bulan, ya?), saya BENCI BANGET(!!!) sama rambut saya. Panjangnya udah tanggung, ujungnya keluar-keluar, berantakan, acak-acakan. Niat potong rambut sih ada , tapi belum sempet. Masih nunggu waktu yang tepat untuk menggunakan voucher potong rambut gratis dari seorang teman.
Tapi siang ini, pas ngacaan di kamar mandi dan ngeliat pantulannya, kok saya tiba-tiba berpikir, "Eh, bagus juga ni rambut. Sesuai kepribadian (maksudnya kepribadiannya nanggung dan acak-acakan gitu?). Apa ga usah dipotong aja kali, ya?"
Hehe.. Duile Eyi... ;)
Tapi siang ini, pas ngacaan di kamar mandi dan ngeliat pantulannya, kok saya tiba-tiba berpikir, "Eh, bagus juga ni rambut. Sesuai kepribadian (maksudnya kepribadiannya nanggung dan acak-acakan gitu?). Apa ga usah dipotong aja kali, ya?"
Hehe.. Duile Eyi... ;)
Wednesday, June 16, 2004
Ibu; Sekarang dan Dulu
Saya mencintaimu, Ibu. Iya, cinta, saya yakin. Saya mencintaimu karena.. Nanti dulu, adakah cinta butuh 'karena'? Saya mencintaimu karena cinta itu sendiri. Karena rasa hangat yang merambat ketika episode-episode masa kecil itu terputar ulang dalam kepala.
Saya telanjang, memeluk pinggul ibu erat-erat, mata terpejam, kepala tengadah. Pelan-pelan, guyuran air jatuh ke kepala, membasahi rambut dan seluruh tubuh. Lagi, lalu lagi, lalu lagi. Lalu wangi shampo bayi dan pijitan lembut di kepala. Lalu air lagi, lalu lagi, lalu lagi.
Lalu pertanyaan itu: "Nanti kalau aku udah gede trus punya suami, tapi belum bisa keramas sendiri gimana?"
Dan jawabannya: "Nanti lama-lama juga bisa.."
Saya ingat. Saya ingat perasaan lega dan nyaman yang selalu hadir ketika kamu menjemput saya di sekolah. Saya ingat betapa gelisahnya saya ketika kamu tak ada, dan begitu girangnya saya kala kamu pulang.
But nothing stays the same, they say.
Ada apa dengan kita? Sosokmu berubah jadi telunjuk besar yang menuntut saya untuk bertindak, bersikap, bertutur, berpakaian, bersahabat, berpacaran, berdiri (iya, BERDIRI!) seperti yang kamu mau.
Lalu pergilah saya. Saya tiadakan kamu dalam sebagian besar langkah saya. Kenapa? Karena segalanya hanya akan bertambah rumit kalau kamu tahu. Karena tiap aksi hanya akan mengundang reaksi yang tak saya harapkan. Jadi saya pergi.
Kamu tak ada, ibu. Kamu tak tahu kalau putri sulungmu ini pernah beberapa kali kabur ke Bandung untuk bertemu seorang laki-laki. Kamu tak ada di malam-malam jahanam saya, ketika saya terisak keras sampai begitu sulit bernapas. Kamu tak tahu kalau saya pernah membenturkan kepala ke kaca jendela karena menyesali satu perbuatan tolol yang saya lakukan.
Tapi saya mencintai kamu, ibu. Dan saya yakin kalau kamu mencintai saya ratusan kali lipat lebih besar. Jadi maafkan saya, ampuni saya karena kemarin saya telah memantapkan hati: Kelak, saya tak ingin jadi ibu seperti kamu.
Saya telanjang, memeluk pinggul ibu erat-erat, mata terpejam, kepala tengadah. Pelan-pelan, guyuran air jatuh ke kepala, membasahi rambut dan seluruh tubuh. Lagi, lalu lagi, lalu lagi. Lalu wangi shampo bayi dan pijitan lembut di kepala. Lalu air lagi, lalu lagi, lalu lagi.
Lalu pertanyaan itu: "Nanti kalau aku udah gede trus punya suami, tapi belum bisa keramas sendiri gimana?"
Dan jawabannya: "Nanti lama-lama juga bisa.."
Saya ingat. Saya ingat perasaan lega dan nyaman yang selalu hadir ketika kamu menjemput saya di sekolah. Saya ingat betapa gelisahnya saya ketika kamu tak ada, dan begitu girangnya saya kala kamu pulang.
But nothing stays the same, they say.
Ada apa dengan kita? Sosokmu berubah jadi telunjuk besar yang menuntut saya untuk bertindak, bersikap, bertutur, berpakaian, bersahabat, berpacaran, berdiri (iya, BERDIRI!) seperti yang kamu mau.
Lalu pergilah saya. Saya tiadakan kamu dalam sebagian besar langkah saya. Kenapa? Karena segalanya hanya akan bertambah rumit kalau kamu tahu. Karena tiap aksi hanya akan mengundang reaksi yang tak saya harapkan. Jadi saya pergi.
Kamu tak ada, ibu. Kamu tak tahu kalau putri sulungmu ini pernah beberapa kali kabur ke Bandung untuk bertemu seorang laki-laki. Kamu tak ada di malam-malam jahanam saya, ketika saya terisak keras sampai begitu sulit bernapas. Kamu tak tahu kalau saya pernah membenturkan kepala ke kaca jendela karena menyesali satu perbuatan tolol yang saya lakukan.
Tapi saya mencintai kamu, ibu. Dan saya yakin kalau kamu mencintai saya ratusan kali lipat lebih besar. Jadi maafkan saya, ampuni saya karena kemarin saya telah memantapkan hati: Kelak, saya tak ingin jadi ibu seperti kamu.
Tuesday, June 08, 2004
:(
Huhuhu.. dicekek-cekek deadline. Bentar lagi mungkin dicekek beneran sama redaktur.
Yah, beginilah kalau punya motto: "Jangan kerjakan sekarang apa yang bisa ditunda sampai nanti." Hehehe..
Yah, beginilah kalau punya motto: "Jangan kerjakan sekarang apa yang bisa ditunda sampai nanti." Hehehe..
Thursday, June 03, 2004
Sepenggal Kemarin
Gara-gara ngebongkar laci meja kantor, jadi ketemu gambar ini lagi.
Sebelum ada yang bertanya: Bukan saya yang menggambar.
Friday, May 28, 2004
Thursday, May 27, 2004
Jatuh Cinta
Kata Aa' Gym, jatuh cinta itu seperti memasukkan ayam kampung ke dalam kamar. Susah ngusirnya. Kalaupun bisa diusir, kamar kita sudah berantakan. Penuh jejak dan bau di mana-mana.
Iya, A', bener. Berantakan, penuh jejak, dan bau...
Iya, A', bener. Berantakan, penuh jejak, dan bau...
Thursday, May 20, 2004
Muhammad Zaki Zulkarnain
Langit kelam. Laut murka. Angin meniup kencang
bak orang kesetanan.
Siangkah? Malamkah? Entah. Semua gelap.
Itu adikku! Ia berlari di atas bebatuan yang menggigil ditampar ombak.
...........................
Oh bukan, bukan dia. Adikku bukan bocah kecil kurus yang sepertinya belum lancar melafazkan huruf 'r' itu.
...........................
Iya! Itu dia! Itu pasti dia! Itu adikku! Itu adikku!
Ia berlari di atas bebatuan yang menggigil ditampar ombak...
'Adik, jangan ke sana!'
Aku berlari mengejarnya.
Laut makin ganas. Gulungan ombak menebal, mencakar angkasa.
Adik!
Hup! Dapat! Ia dalam pelukku kini. Tubuhnya yang ringkih menegang, ketakutan.
'Jangan takut, adik. Takkan kulepas. Sampai kapan pun takkan kulepas.'
...........................
Aku tak tahu bagaimana akhirnya kami mencapai bibir pantai. Tak tahu bagaimana kami melewati neraka dunia itu. Basah. Dingin. Ngeri. Di belakang, laut belum berhenti mengamuk. Langit hanya hitam.
'Tapi lihat, adik. Tlah kutepati janjiku. Tak kulepas kau barang sedetik. Kita selamat. Kita selamat.'
Kubaringkan tubuhnya di pasir pantai. Matanya terpejam. Lama ia kutatap sebelum akhirnya kesadaran datang menghantam.
Bukan 'kita' yang selamat. 'Aku' selamat. 'Ia' tidak. Ia berlalu dalam pelukku. Adikku, pergi dalam pelukku.
...........................
Namanya Muhammad Zaki Zulkarnain. Semua orang memanggilnya Zaki. Februari kemarin, umurnya genap 14 tahun. Kulit hitam, badan gempal, berkacamata minus. Zaki, adik bungsu saya.
You are my sunshine, my only sunshine You make me happy when the sky is grey You never know dear How much i love you Please don't take my sunshine away
Setiap menyanyikan lagu ini, saya selalu teringat Zaki. He is my sunshine. Tak pernah sedih, tak pernah merasa punya masalah, jarang kesal, jarang marah. Suaranya lantang. Bagi Zaki, tiada hari tanpa bernyanyi.
Suatu hari saya pernah bertanya: "Caranya gimana sih, Zak, supaya bisa seneng terus kayak kamu?" Jawabnya: "Mmm... banyak tidur dan main PS!"
Zaki, adik bungsu saya, memang luar biasa MALASnya. Malas mandi(!), malas belajar, malas membuat PR. Kalau suatu hari nanti dia menulis buku, mungkin buku pertamanya akan berjudul '101 Cara Menghukum Siswa yang Tak Membuat PR'. Waktu masih SD, Zaki kenyang dengan berbagai jenis hukuman: Berdiri depan kelas, berdiri depan kelas sambil mengangkat satu kaki, dikeluarkan dari kelas, lari keliling lapangan, skotjam(?), memunguti sampah di halaman, membersihkan WC.
Sejak kecil, dia bukan anak yang takut pada orang asing. Dia ramah, senang mengobrol, suka bercanda, doyan plesetan. Cuma Zaki yang bisa membuat ibu saya yang sedang mengomel panjang lebar jadi tertawa-tawa.
Zaki, adik bungsu saya.
...............................
Malam itu, ketika saya bermimpi tentang amuk laut yang merenggutnya, tempat tidur Zaki basah. Akil baliq dia, rupanya.
Lalu apa artinya? Adakah mimpi punya arti? Seorang teman memberi pendapat, "Mungkin sudah saatnya kamu melepas dia, Ey. Dia sudah besar sekarang. Bukan anak kecil yang harus selalu kamu lindungi lagi."
Mungkin saja. Mungkin sekali.
Zaki, if you ever read this someday, Mbak Eyi just want to say that I love you soooo.. very much. Jadilah kamu laki-laki dewasa yang baik. Lebih baik lagi, jadilah kamu orang yang selalu bahagia, as you are now. I won't always be here, but I know that whatever happen, you will always be good. Luv you, 'Ndut! Mmmmuach!!!
Siangkah? Malamkah? Entah. Semua gelap.
Itu adikku! Ia berlari di atas bebatuan yang menggigil ditampar ombak.
...........................
Oh bukan, bukan dia. Adikku bukan bocah kecil kurus yang sepertinya belum lancar melafazkan huruf 'r' itu.
...........................
Iya! Itu dia! Itu pasti dia! Itu adikku! Itu adikku!
Ia berlari di atas bebatuan yang menggigil ditampar ombak...
'Adik, jangan ke sana!'
Aku berlari mengejarnya.
Laut makin ganas. Gulungan ombak menebal, mencakar angkasa.
Adik!
Hup! Dapat! Ia dalam pelukku kini. Tubuhnya yang ringkih menegang, ketakutan.
'Jangan takut, adik. Takkan kulepas. Sampai kapan pun takkan kulepas.'
...........................
Aku tak tahu bagaimana akhirnya kami mencapai bibir pantai. Tak tahu bagaimana kami melewati neraka dunia itu. Basah. Dingin. Ngeri. Di belakang, laut belum berhenti mengamuk. Langit hanya hitam.
'Tapi lihat, adik. Tlah kutepati janjiku. Tak kulepas kau barang sedetik. Kita selamat. Kita selamat.'
Kubaringkan tubuhnya di pasir pantai. Matanya terpejam. Lama ia kutatap sebelum akhirnya kesadaran datang menghantam.
Bukan 'kita' yang selamat. 'Aku' selamat. 'Ia' tidak. Ia berlalu dalam pelukku. Adikku, pergi dalam pelukku.
...........................
Namanya Muhammad Zaki Zulkarnain. Semua orang memanggilnya Zaki. Februari kemarin, umurnya genap 14 tahun. Kulit hitam, badan gempal, berkacamata minus. Zaki, adik bungsu saya.
You are my sunshine, my only sunshine You make me happy when the sky is grey You never know dear How much i love you Please don't take my sunshine away
Setiap menyanyikan lagu ini, saya selalu teringat Zaki. He is my sunshine. Tak pernah sedih, tak pernah merasa punya masalah, jarang kesal, jarang marah. Suaranya lantang. Bagi Zaki, tiada hari tanpa bernyanyi.
Suatu hari saya pernah bertanya: "Caranya gimana sih, Zak, supaya bisa seneng terus kayak kamu?" Jawabnya: "Mmm... banyak tidur dan main PS!"
Zaki, adik bungsu saya, memang luar biasa MALASnya. Malas mandi(!), malas belajar, malas membuat PR. Kalau suatu hari nanti dia menulis buku, mungkin buku pertamanya akan berjudul '101 Cara Menghukum Siswa yang Tak Membuat PR'. Waktu masih SD, Zaki kenyang dengan berbagai jenis hukuman: Berdiri depan kelas, berdiri depan kelas sambil mengangkat satu kaki, dikeluarkan dari kelas, lari keliling lapangan, skotjam(?), memunguti sampah di halaman, membersihkan WC.
Sejak kecil, dia bukan anak yang takut pada orang asing. Dia ramah, senang mengobrol, suka bercanda, doyan plesetan. Cuma Zaki yang bisa membuat ibu saya yang sedang mengomel panjang lebar jadi tertawa-tawa.
Zaki, adik bungsu saya.
...............................
Malam itu, ketika saya bermimpi tentang amuk laut yang merenggutnya, tempat tidur Zaki basah. Akil baliq dia, rupanya.
Lalu apa artinya? Adakah mimpi punya arti? Seorang teman memberi pendapat, "Mungkin sudah saatnya kamu melepas dia, Ey. Dia sudah besar sekarang. Bukan anak kecil yang harus selalu kamu lindungi lagi."
Mungkin saja. Mungkin sekali.
Zaki, if you ever read this someday, Mbak Eyi just want to say that I love you soooo.. very much. Jadilah kamu laki-laki dewasa yang baik. Lebih baik lagi, jadilah kamu orang yang selalu bahagia, as you are now. I won't always be here, but I know that whatever happen, you will always be good. Luv you, 'Ndut! Mmmmuach!!!
Wednesday, May 12, 2004
A New Template
Template baru (lagi!). Yang ini dari Blogger. Bakalan banyak yg pakai nggak, ya? Ah, gak apa-apa, deh.
Thursday, May 06, 2004
Bla bla bla.. (kayaknya lebih baik ga dibaca)
It's raining outside.
Saya masih di kantor, menghadap layar komputer. Hanya segelintir orang tersisa di lantai tiga. Selain itu, ada empat laki-laki yang harus digarap jadi tulisan delapan halaman: Antonio Banderas, Kevin Costner, Mel Gibson, dan Jack Nicholson.
Mau nulis, tapi nggak juga. Mau pulang, tapi nggak juga. Mau jalan, tapi nggak juga. Nggak tahu mau ngapain.
Detik ini, di atas segalanya, saya cuma pengen komputer di kantor ini menyediakan fasilitas chatting.
Mata kiri saya perih. Bintitan dia. Kalau ngedip, rasanya ada yang ngganjel. Heran, what's wrong with me? Beberapa minggu lalu, jempol kiri kejepit pintu patas AC. Kemarin, sariawan di lidah yang parah banget sampai efeknya ke kuping. Kalau ngomong atau ngunyah, kupingnya langsung tuiiiingggggg... suaaaakiiiiiiiittt... Sariawan hampir sembuh, betis kena knalpot motor. Bekasnya belum hilang sampai sekarang. Ehh... sekarang mata bintitan..
...........
Mungkin perlu diruwat. Buang sial. Atau potong rambut? Mbak Manda udah teriak-teriak, "Cukur!!! Udah gondrong tuh rambut!" Atau.. ganti nama, kali? Kalau bisa dan boleh, nama apa yang akan saya pilih? Dulu, sebelum diberi nama Sherly Puspita, orang tua saya terpikir untuk menamai saya Karina. Untung nggak jadi. Kebagusan kayaknya. Pilihan lainnya Gravel. Iya, artinya 'batu kerikil'. Saya sebenarnya suka, tapi nama itu bisa menimbulkan harapan yang terlalu tinggi. "Gravel". Mungkin lebih cocok kalau kulit saya lebih putih, dan rambutnya agak kecoklatan :)
Azan Isya dari masjid depan. Sudah lewat jam tujuh.
Saya haus. Pengen minum, tapi nggak juga. Males ngambilnya.
Pengen pulang. Naik taksi kayaknya enak, tapi kemarin udah naik taksi, pagi ini udah naik taksi, masa malamnya naik taksi lagi? Boros. Lagipula, naik taksi malam-malam dan sendirian itu mengerikan.
Sekarang ada Dido, White Flag. Saya baru ngeh sama liriknya:
i know you think that i shouldn't still love you or tell you that
but if i didn't say it, well i'd still have felt it, where's the sense in that
i promise i'm not trying to make your life harder or return to where we were..
Dulu saya pernah berpikir: Pasti tak ada yang baru tentang cinta. Segala yang kita alami sekarang, pernah dialami sedikitnya oleh satu orang entah kapan dan di mana. Apa, coba? Perselingkuhan? Perjodohan? Putus karena beda agama? Putus lalu nyesel dan balik lagi? Putus lalu pengen balik tapi nggak bisa balik? Putus lalu bunuh diri? Pacaran bertahun-tahun lalu kawin? Pacaran bertahun-tahun lalu putus dan malah kawin sama orang yang baru dikenal sebulan? Pacaran jarak jauh dan sukses? Naksir orang yang udah punya pacar? Ditaksir orang tapi udah punya pacar? Naksir tujuh tahun tapi begitu pacaran cuma bertahan tujuh bulan? Pacaran lalu putus lalu pacaran lagi lalu putus lagi lalu pacaran lagi lalu putus lagi? Kawin lalu bahagia selamanya? Kawin lalu cerai? Kawin lalu nggak bahagia tapi nggak cerai juga? Kawin lalu dipukulin?
Luka baru (atau bunga baru), tapi semuanya cerita lama. Nyaris tak ada yang terlalu istimewa lagi ketika dikisahkan. Hanya bisa jadi istimewa bila penyampaiannya cukup cantik. Tergantung pembungkus. Maka, saya setuju sekali dengan iklan Nokia(?) yang bunyinya: "Karena fungsi saja takkan memuaskan Anda." Eh, nyambung nggak, ya? Ah, bodo'. Gak penting. Ga ada yang penting (selain mata yang bintitan dan betis tompel keceplak knalpot motor).
Blog ini juga ga penting.
...................
Eh, penting deh, penting deh. BUAT SAYA. Jadi judulnya gini seharusnya:
larilarikecil --> ENAK DIBACA DAN PENTING
Huehehhehhehehehehehe.... HUEEKH!!! Ngomongnya aja malu..
Atau begini:
larilarikecil --> ENAK DITULIS DAN PENTING
Nah, ini lebih bener. Nulisnya enak, dibaca belum tentu.
Tiba-tiba ingat: Katanya, tiap orang punya potensi untuk jadi gila. Saya curiga, malam ini potensi saya melonjak tinggi. :)
Jadi? Udah jam 8, saya mesti pulang. Sebelumnya, saya mau ngambil minum dulu. Ini penting, karena saya sudah teramat sangat haus sekali.
Btw, kok dari tadi ngga ada SMS/telpon yang masuk, ya?
Hmmm.. begini: Kalau pas saya ngambil minum ada yang nge-sms atau nelpon, maka kalau dia perempuan akan saya anggap sebagai saudara dan bila dia laki-laki akan saya anggap........(apa, ya?) saudara juga deh! Biar gampang. Soalnya kalau dianggap pacar kan belum tentu sayanya mau..(LHO?) UDAAAH!! AYO AMBIL MINUM!!!!!
......................
Udah ngambil minum. Nggak ada SMS, berarti nggak dapet tambahan saudara.
Udah ah, pulang. Malam garing nasional ini harus segera diakhiri. Mari kita tutup dengan bacaan Hamdallah: Alhamdulillahirrabilalamiin..
**Buat Jeng Okke, untuk chat kita yang Mahatidakpenting kemarin dan untuk kata 'ga penting'nya. (hehehe, sebenarnya nggak seniat itu kok, Ke, baru kepikiran di kalimat2 akhir, tapi gpp deh. Siapa tahu kalau ada "dedicated to..."-nya, postingan ini jadi RADA penting sedikit. Ciieh..)
Iya, iya, saya tahu. Kalau blog ini bisa nimpuk, saya udah benjol dari tadi.
Saya masih di kantor, menghadap layar komputer. Hanya segelintir orang tersisa di lantai tiga. Selain itu, ada empat laki-laki yang harus digarap jadi tulisan delapan halaman: Antonio Banderas, Kevin Costner, Mel Gibson, dan Jack Nicholson.
Mau nulis, tapi nggak juga. Mau pulang, tapi nggak juga. Mau jalan, tapi nggak juga. Nggak tahu mau ngapain.
Detik ini, di atas segalanya, saya cuma pengen komputer di kantor ini menyediakan fasilitas chatting.
Mata kiri saya perih. Bintitan dia. Kalau ngedip, rasanya ada yang ngganjel. Heran, what's wrong with me? Beberapa minggu lalu, jempol kiri kejepit pintu patas AC. Kemarin, sariawan di lidah yang parah banget sampai efeknya ke kuping. Kalau ngomong atau ngunyah, kupingnya langsung tuiiiingggggg... suaaaakiiiiiiiittt... Sariawan hampir sembuh, betis kena knalpot motor. Bekasnya belum hilang sampai sekarang. Ehh... sekarang mata bintitan..
...........
Mungkin perlu diruwat. Buang sial. Atau potong rambut? Mbak Manda udah teriak-teriak, "Cukur!!! Udah gondrong tuh rambut!" Atau.. ganti nama, kali? Kalau bisa dan boleh, nama apa yang akan saya pilih? Dulu, sebelum diberi nama Sherly Puspita, orang tua saya terpikir untuk menamai saya Karina. Untung nggak jadi. Kebagusan kayaknya. Pilihan lainnya Gravel. Iya, artinya 'batu kerikil'. Saya sebenarnya suka, tapi nama itu bisa menimbulkan harapan yang terlalu tinggi. "Gravel". Mungkin lebih cocok kalau kulit saya lebih putih, dan rambutnya agak kecoklatan :)
Azan Isya dari masjid depan. Sudah lewat jam tujuh.
Saya haus. Pengen minum, tapi nggak juga. Males ngambilnya.
Pengen pulang. Naik taksi kayaknya enak, tapi kemarin udah naik taksi, pagi ini udah naik taksi, masa malamnya naik taksi lagi? Boros. Lagipula, naik taksi malam-malam dan sendirian itu mengerikan.
Sekarang ada Dido, White Flag. Saya baru ngeh sama liriknya:
i know you think that i shouldn't still love you or tell you that
but if i didn't say it, well i'd still have felt it, where's the sense in that
i promise i'm not trying to make your life harder or return to where we were..
Dulu saya pernah berpikir: Pasti tak ada yang baru tentang cinta. Segala yang kita alami sekarang, pernah dialami sedikitnya oleh satu orang entah kapan dan di mana. Apa, coba? Perselingkuhan? Perjodohan? Putus karena beda agama? Putus lalu nyesel dan balik lagi? Putus lalu pengen balik tapi nggak bisa balik? Putus lalu bunuh diri? Pacaran bertahun-tahun lalu kawin? Pacaran bertahun-tahun lalu putus dan malah kawin sama orang yang baru dikenal sebulan? Pacaran jarak jauh dan sukses? Naksir orang yang udah punya pacar? Ditaksir orang tapi udah punya pacar? Naksir tujuh tahun tapi begitu pacaran cuma bertahan tujuh bulan? Pacaran lalu putus lalu pacaran lagi lalu putus lagi lalu pacaran lagi lalu putus lagi? Kawin lalu bahagia selamanya? Kawin lalu cerai? Kawin lalu nggak bahagia tapi nggak cerai juga? Kawin lalu dipukulin?
Luka baru (atau bunga baru), tapi semuanya cerita lama. Nyaris tak ada yang terlalu istimewa lagi ketika dikisahkan. Hanya bisa jadi istimewa bila penyampaiannya cukup cantik. Tergantung pembungkus. Maka, saya setuju sekali dengan iklan Nokia(?) yang bunyinya: "Karena fungsi saja takkan memuaskan Anda." Eh, nyambung nggak, ya? Ah, bodo'. Gak penting. Ga ada yang penting (selain mata yang bintitan dan betis tompel keceplak knalpot motor).
Blog ini juga ga penting.
...................
Eh, penting deh, penting deh. BUAT SAYA. Jadi judulnya gini seharusnya:
larilarikecil --> ENAK DIBACA DAN PENTING
Huehehhehhehehehehehe.... HUEEKH!!! Ngomongnya aja malu..
Atau begini:
larilarikecil --> ENAK DITULIS DAN PENTING
Nah, ini lebih bener. Nulisnya enak, dibaca belum tentu.
Tiba-tiba ingat: Katanya, tiap orang punya potensi untuk jadi gila. Saya curiga, malam ini potensi saya melonjak tinggi. :)
Jadi? Udah jam 8, saya mesti pulang. Sebelumnya, saya mau ngambil minum dulu. Ini penting, karena saya sudah teramat sangat haus sekali.
Btw, kok dari tadi ngga ada SMS/telpon yang masuk, ya?
Hmmm.. begini: Kalau pas saya ngambil minum ada yang nge-sms atau nelpon, maka kalau dia perempuan akan saya anggap sebagai saudara dan bila dia laki-laki akan saya anggap........(apa, ya?) saudara juga deh! Biar gampang. Soalnya kalau dianggap pacar kan belum tentu sayanya mau..(LHO?) UDAAAH!! AYO AMBIL MINUM!!!!!
......................
Udah ngambil minum. Nggak ada SMS, berarti nggak dapet tambahan saudara.
Udah ah, pulang. Malam garing nasional ini harus segera diakhiri. Mari kita tutup dengan bacaan Hamdallah: Alhamdulillahirrabilalamiin..
**Buat Jeng Okke, untuk chat kita yang Mahatidakpenting kemarin dan untuk kata 'ga penting'nya. (hehehe, sebenarnya nggak seniat itu kok, Ke, baru kepikiran di kalimat2 akhir, tapi gpp deh. Siapa tahu kalau ada "dedicated to..."-nya, postingan ini jadi RADA penting sedikit. Ciieh..)
Iya, iya, saya tahu. Kalau blog ini bisa nimpuk, saya udah benjol dari tadi.
Tuesday, May 04, 2004
Wednesday, April 28, 2004
Tolong Beritahu
Ada teman laki-laki yang selama ini nyuntik. Saya nggak pernah tahu.
Terus, apa yang akan saya lakukan?
Ngga ada.
Kami ngga sedekat itu sampai saya merasa cukup nyaman untuk bisa sekadar... Sekadar apa ya? Mungkin sekadar bertanya 'ada apa'(?) atau 'apa yang bisa saya bantu'(?) atau apalah.
Apa yang seharusnya dilakukan ketika kita tahu ada orang di sekitar kita yang sedang kecanduan?
Saya nggak tahu.
Kalau kamu tahu, tolong beritahu saya.
Terus, apa yang akan saya lakukan?
Ngga ada.
Kami ngga sedekat itu sampai saya merasa cukup nyaman untuk bisa sekadar... Sekadar apa ya? Mungkin sekadar bertanya 'ada apa'(?) atau 'apa yang bisa saya bantu'(?) atau apalah.
Apa yang seharusnya dilakukan ketika kita tahu ada orang di sekitar kita yang sedang kecanduan?
Saya nggak tahu.
Kalau kamu tahu, tolong beritahu saya.
Thursday, April 15, 2004
040404
Sore itu, 4 April 2004, di stasiun Bogor. Langit biru cerah. Biru cerah
biru cerah biru cerah. Hati saya juga cerah. Juga cerah juga cerah
juga cerah.
Kereta jabotabek yang tadi saya tumpangi sudah beberapa lama berhenti. Kaki saya melangkah di sampingnya, melewati gerbong demi gerbong, menuju peron.
Tak usah kaucari makna hadirnya diriku
Aku di sini untukmu
Mungkin memberi arti cinta pada dirimu
Aku di sini untukmu
Saya selalu suka pengamen kereta.
.......
Seperti biasanya kalau sedang libur, hari itu saya bangun siang. Buka mata, meraih telepon genggam di atas meja. Sudah ada beberapa SMS masuk. Selain mengucapkan selamat ulang tahun,sebagian besar juga menyuruh bangun: "Bangun! Ingat umur!" Membuat saya bertanya, memangnya orang tua(?) nggak boleh bangun siang?
Mau ke mana saya hari ini?
Hari ini, 040404, saya 1/4 abad. Saya tidak pernah membuat peristiwa hari lahir jadi sesuatu yang heboh, tapi hei, ini kan umur 25!!! Seperempat abad! Dan sekarang tanggal 4 bulan 4 tahun 04!
Hati kecil: Terus kenapa?
Hati besar: Ya pasti istimewa dong! Lihat aja tanggalnya! Itu tanggal cantik!
Hati kecil: Ah sumpe lo..
Hati besar: Yang seperti ini hanya akan kita temui 36 tahun lagi ketika Insya Allah kita berusia 61 tahun: 040440. Lalu 4 tahun sesudahnya: 040444.
Hati kecil: Ya trus kenapa? Malahan, lo tahu ga sih, buat orang Cina, 4 itu angka sial!
Hati besar: Tapi kan kita bukan orang Cina!
Singkat cerita, saya memutuskan hati besar menang.
Hari ini saya HARUS pergi dari rumah dan melakukan sesuatu yang lebih istimewa, minimal lain dari biasanya. Saya rasa keputusan itu juga karena otak saya ikut campur.
Otak: Ulang tahun gini, daripada disuruh nyokap jaga wartel atau beres-beres rumah, emang mendingan pergi, sih. Ke mana kek..
Wah, bener juga. Ya', saya MESTI pergi!!!
Tapi ke mana? Ngapain? Sama siapa?
.......
Ayo pikir. Apa yang sudah lama saya inginkan, tapi belum kesampaian? Mmm.., saya ingin naik busway! Di kepala saya langsung terbayang beberapa nama yang mungkin bisa diajak jalan-jalan naik bus kacang garuda itu.
Hati besar: Masa ulang tahun ke-25 cuma pengen naik busway?!?
Iya, ya. Masa cuma naik busway?
Terus, saya pengen apa lagi dong?
........
Saya pengeeen...berfoto pakai baju Bodo. Hehehe, malu ngakunya, tapi ini bener-bener keinginan yang sudah lama sekali terpendam dan sampai sekarang belum hilang.
Percakapan via telepon beberapa tahun lalu:
Teman: Halo.
Saya: Halo. Eh, lo punya baju Bodo gak?
Teman: Baju bodo? Buat apa?
Saya : Buat foto.
Teman: Hah?
Saya: Iya, gue pengen aja difoto pake baju Bodo. Baju Bodo kan cantik.
Teman: Hah?
Saya: Iya. Punya, nggak?
Teman(teriak ke nyokapnya): Maaaa... di sini ada baju Bodo ga, sih...??
Kakaknya teman (di latar belakang): Orang bodo banyak! Baju bodo mah gak ada!
Teman: Lo sewa aja di salon. Kan ada salon-salon yang nyewain baju adat.
Saya: Nyewa? Niat banget, gue!
Teman: Ya sekarang aja lo niat banget pake nelpon gue segala!!
Saya: ...... (Iya, juga)
Singkat cerita lagi, akhirnya saya memutuskan ke Bogor. Hehehe, nggak nyambung...
Saya ingat, ada Putri Novotel cantik, teman seperjuangan waktu masih kuliah di Depok, yang tinggal di sana. Begitu saya SMS, dia langsung setuju untuk jadi guide.
Jam dua siang, berangkatlah saya ke Kota Hujan, berbekal pesan dari adik-adik: "Pulangnya jangan malam-malam, ya! Kan kita kepengen ditraktir!"
Ke Bogor.
Kereta jabotabek seperti biasa penuh sesak. Ibu-ibu, bapak-bapak, mas-mas tengil, mbak-mbak, mahasiswa, anak-anak, tukang buah, tukang tisu, tukang minuman, 991 bau bercampur satu. Lebih mengesalkan lagi, saya harus menunggu dua abad di stasiun Tebet.
Perjalanannya sendiri juga cukup panjang, tapi begitu kereta sampai di tujuan dan kaki saya menjejak di stasiun Bogor, semua terbayar.
Ke Bogor.
Melewati taman topi lagi, makan burger gerobak sendirian depan Matahari Dept. Store, suara teman lama: "Eyi, kok tumben, sih?!?", antrian Roti Unyil, perjalanan dengan angkot, menelusuri jalanan berobor menuju Kafe Dedaunan, tertawa..
Bahagia sekali. Rasanya seperti berada di tempat yang jauh, seperti meninggalkan semua di belakang. Padahal, itu cuma Bogor. Padahal, saya hanya di sana sekitar empat jam.
Di detik-detik akhir perjalanan, ketika saya dan si Putri Novotel Cantik sedang menunggu hasil foto boks keluar, saya KECEPLOSAN bicara soal ulang tahun.
Dia: Lho? Jadi lo ulang tahun hari ini?
Saya: .......
Dia: Ya ampun! Jadi ini dalam rangka ulang tahun???
Saya: Hehehe, gue keceplosan. Seharusnya gue ngomongnya nanti, pas kita udah mau pisah.
Dia: Eyiii, selamat ulang tahuuun... (sun kiri sun kanan)
Saya: Hehehe..
Dia: Kok lo sendirian?
Saya: .......... Kan gue sama elo..
Dia: (bengong sebentar) Waah.. my pleasure..
Kami memang bukan sahabat karib. Tapi untunglah, saya kuliah di jurusan yang murid satu angkatannya sedikit sehingga satu sama lain tidak merasa asing.
..............
Rumah, 22.00 WIB
Pintu wartel saya buka. "Oi, artisnya udah datang, nih! Jadi pergi, nggak?" Jadilah kami sekeluarga makan bersama di luar. Dipikir-pikir, sudah lama sekali tidak pergi berenam sekaligus.
..............
Dalam sholat malam itu, saya mengucap syukur atas semua yang Dia berikan. Usia, rezeki, keluarga, teman, langit biru Bogor, Kafe Dedaunan, perjalanan dengan kereta Jabotabek, roti Unyil rasa cokelat keju, pizza Super Supreme ukuran besar...
Entah dari mana datangnya, sungguh bukan saya yang mengundang, ada rasa mencelat keluar lewat ujung mata: Rasa yang tak tertawar dengan lembaran rupiah yang keluar, berbagai hidangan lezat, perjalanan setengah hari, pertemuan dengan teman lama, makan bersama lagi dengan keluarga.
Entah dari mana datangnya, sungguh bukan saya yang mengundang, ada rasa, mencelat keluar lewat ujung mata..
Kereta jabotabek yang tadi saya tumpangi sudah beberapa lama berhenti. Kaki saya melangkah di sampingnya, melewati gerbong demi gerbong, menuju peron.
Tak usah kaucari makna hadirnya diriku
Aku di sini untukmu
Mungkin memberi arti cinta pada dirimu
Aku di sini untukmu
Saya selalu suka pengamen kereta.
.......
Seperti biasanya kalau sedang libur, hari itu saya bangun siang. Buka mata, meraih telepon genggam di atas meja. Sudah ada beberapa SMS masuk. Selain mengucapkan selamat ulang tahun,sebagian besar juga menyuruh bangun: "Bangun! Ingat umur!" Membuat saya bertanya, memangnya orang tua(?) nggak boleh bangun siang?
Mau ke mana saya hari ini?
Hari ini, 040404, saya 1/4 abad. Saya tidak pernah membuat peristiwa hari lahir jadi sesuatu yang heboh, tapi hei, ini kan umur 25!!! Seperempat abad! Dan sekarang tanggal 4 bulan 4 tahun 04!
Hati kecil: Terus kenapa?
Hati besar: Ya pasti istimewa dong! Lihat aja tanggalnya! Itu tanggal cantik!
Hati kecil: Ah sumpe lo..
Hati besar: Yang seperti ini hanya akan kita temui 36 tahun lagi ketika Insya Allah kita berusia 61 tahun: 040440. Lalu 4 tahun sesudahnya: 040444.
Hati kecil: Ya trus kenapa? Malahan, lo tahu ga sih, buat orang Cina, 4 itu angka sial!
Hati besar: Tapi kan kita bukan orang Cina!
Singkat cerita, saya memutuskan hati besar menang.
Hari ini saya HARUS pergi dari rumah dan melakukan sesuatu yang lebih istimewa, minimal lain dari biasanya. Saya rasa keputusan itu juga karena otak saya ikut campur.
Otak: Ulang tahun gini, daripada disuruh nyokap jaga wartel atau beres-beres rumah, emang mendingan pergi, sih. Ke mana kek..
Wah, bener juga. Ya', saya MESTI pergi!!!
Tapi ke mana? Ngapain? Sama siapa?
.......
Ayo pikir. Apa yang sudah lama saya inginkan, tapi belum kesampaian? Mmm.., saya ingin naik busway! Di kepala saya langsung terbayang beberapa nama yang mungkin bisa diajak jalan-jalan naik bus kacang garuda itu.
Hati besar: Masa ulang tahun ke-25 cuma pengen naik busway?!?
Iya, ya. Masa cuma naik busway?
Terus, saya pengen apa lagi dong?
........
Saya pengeeen...berfoto pakai baju Bodo. Hehehe, malu ngakunya, tapi ini bener-bener keinginan yang sudah lama sekali terpendam dan sampai sekarang belum hilang.
Percakapan via telepon beberapa tahun lalu:
Teman: Halo.
Saya: Halo. Eh, lo punya baju Bodo gak?
Teman: Baju bodo? Buat apa?
Saya : Buat foto.
Teman: Hah?
Saya: Iya, gue pengen aja difoto pake baju Bodo. Baju Bodo kan cantik.
Teman: Hah?
Saya: Iya. Punya, nggak?
Teman(teriak ke nyokapnya): Maaaa... di sini ada baju Bodo ga, sih...??
Kakaknya teman (di latar belakang): Orang bodo banyak! Baju bodo mah gak ada!
Teman: Lo sewa aja di salon. Kan ada salon-salon yang nyewain baju adat.
Saya: Nyewa? Niat banget, gue!
Teman: Ya sekarang aja lo niat banget pake nelpon gue segala!!
Saya: ...... (Iya, juga)
Singkat cerita lagi, akhirnya saya memutuskan ke Bogor. Hehehe, nggak nyambung...
Saya ingat, ada Putri Novotel cantik, teman seperjuangan waktu masih kuliah di Depok, yang tinggal di sana. Begitu saya SMS, dia langsung setuju untuk jadi guide.
Jam dua siang, berangkatlah saya ke Kota Hujan, berbekal pesan dari adik-adik: "Pulangnya jangan malam-malam, ya! Kan kita kepengen ditraktir!"
Ke Bogor.
Kereta jabotabek seperti biasa penuh sesak. Ibu-ibu, bapak-bapak, mas-mas tengil, mbak-mbak, mahasiswa, anak-anak, tukang buah, tukang tisu, tukang minuman, 991 bau bercampur satu. Lebih mengesalkan lagi, saya harus menunggu dua abad di stasiun Tebet.
Perjalanannya sendiri juga cukup panjang, tapi begitu kereta sampai di tujuan dan kaki saya menjejak di stasiun Bogor, semua terbayar.
Ke Bogor.
Melewati taman topi lagi, makan burger gerobak sendirian depan Matahari Dept. Store, suara teman lama: "Eyi, kok tumben, sih?!?", antrian Roti Unyil, perjalanan dengan angkot, menelusuri jalanan berobor menuju Kafe Dedaunan, tertawa..
Bahagia sekali. Rasanya seperti berada di tempat yang jauh, seperti meninggalkan semua di belakang. Padahal, itu cuma Bogor. Padahal, saya hanya di sana sekitar empat jam.
Di detik-detik akhir perjalanan, ketika saya dan si Putri Novotel Cantik sedang menunggu hasil foto boks keluar, saya KECEPLOSAN bicara soal ulang tahun.
Dia: Lho? Jadi lo ulang tahun hari ini?
Saya: .......
Dia: Ya ampun! Jadi ini dalam rangka ulang tahun???
Saya: Hehehe, gue keceplosan. Seharusnya gue ngomongnya nanti, pas kita udah mau pisah.
Dia: Eyiii, selamat ulang tahuuun... (sun kiri sun kanan)
Saya: Hehehe..
Dia: Kok lo sendirian?
Saya: .......... Kan gue sama elo..
Dia: (bengong sebentar) Waah.. my pleasure..
Kami memang bukan sahabat karib. Tapi untunglah, saya kuliah di jurusan yang murid satu angkatannya sedikit sehingga satu sama lain tidak merasa asing.
..............
Rumah, 22.00 WIB
Pintu wartel saya buka. "Oi, artisnya udah datang, nih! Jadi pergi, nggak?" Jadilah kami sekeluarga makan bersama di luar. Dipikir-pikir, sudah lama sekali tidak pergi berenam sekaligus.
..............
Dalam sholat malam itu, saya mengucap syukur atas semua yang Dia berikan. Usia, rezeki, keluarga, teman, langit biru Bogor, Kafe Dedaunan, perjalanan dengan kereta Jabotabek, roti Unyil rasa cokelat keju, pizza Super Supreme ukuran besar...
Entah dari mana datangnya, sungguh bukan saya yang mengundang, ada rasa mencelat keluar lewat ujung mata: Rasa yang tak tertawar dengan lembaran rupiah yang keluar, berbagai hidangan lezat, perjalanan setengah hari, pertemuan dengan teman lama, makan bersama lagi dengan keluarga.
Entah dari mana datangnya, sungguh bukan saya yang mengundang, ada rasa, mencelat keluar lewat ujung mata..
Tuesday, April 06, 2004
A Belated Countdown
Lusa kemarin, tanggal 4 April 2004, saya seharusnya bilang begini:
SAAATUUUUU!!!!!!!!!!!
Happy birthday 2 me
Happy birthday 2 me
Happy birthday dear Eyi....
Happy birthday 2 me...!!!!
Jieee...25 tahun nih, gue.
Celingak celinguk, celingak celinguk...
Hehehe, kok biasa aja ya? Nggak ada yang "DUARR" tiba2 berubah atau gimana gitu...
SAAATUUUUU!!!!!!!!!!!
Happy birthday 2 me
Happy birthday 2 me
Happy birthday dear Eyi....
Happy birthday 2 me...!!!!
Jieee...25 tahun nih, gue.
Celingak celinguk, celingak celinguk...
Hehehe, kok biasa aja ya? Nggak ada yang "DUARR" tiba2 berubah atau gimana gitu...
Saturday, April 03, 2004
The Countdown
Harusnya kemarin, tgl 2 April saya bilang gini:
TIGAAAAAA!!!!!
Dan sekarang, tgl 3 April, saya bilang gini:
DUAAAAAAA!!!!!!!!!
TIGAAAAAA!!!!!
Dan sekarang, tgl 3 April, saya bilang gini:
DUAAAAAAA!!!!!!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)