Another day.
Seperti biasa, tadi pagi saya bangun jam empat subuh (!). Suatu hal yang tak mungkin terjadi kalau status saya masih lajang. Memanaskan air, mandi, sholat, main sama Pendar yang tahu-tahu kebangun, ganti baju, lalu cabut ke kantor sekitar 15 menit sebelum pukul 6. Sampai di kantor, sarapan nasi uduk, naik ke lantai tiga, dandan di toilet, nonton acara gosip di TV lalu duduk manis depan komputer. Dan sekarang baru jam setengah delapan pagi.
Dua minggu kemarin GILA. Saya GILA, maksudnya. Serasa dikejar-kejar syaiton (hehehe) dan hampir lupa napas. Mata perih karena menatap komputer dari pagi sampai malam. Tapi syukur, sekarang semua sudah lewat.
Seorang teman bilang saya berubah. Lebih pendiam.
Saya agak kaget karena ternyata dia memperhatikan. Akhir-akhir ini saya memang lebih malas ngomong. Teman lain pernah berkata, "Dunia ini tempat yang ribut." Sekarang saya baru menyadari kalau dia benar. Terlalu banyak konsep, teori, keluh-kesah, teriakan-teriakan, bebunyian. Bikin capek. Dan bikin saya semakin malas untuk ikut meramaikannya.
Selain itu, saya juga tidak sesabar dulu lagi. Sedikit-sedikit, jengkel. Sedikit-sedikit, kesal. Meskipun tidak saya perlihatkan, tapi semua mengendap di hati.
Membaca buku pun begitu. Dulu saya masih sabar membaca buku yang awalnya saya anggap membosankan. Siapa tahu, semakin banyak halaman yang dibaca, semakin menarik buku itu jadinya. Tapi sekarang, begitu vonis 'membosankan' saya jatuhkan (halah), buku itu saya lempar.
Sekarang saya bingung.
Sebenarnya saya mau ngomong apa, mau nulis apa?
Hmmm..., mungkin saya cuma ingin menulis sesuatu. Apa saja. Supaya halaman blog ini bertambah. Dan supaya apa yang terpendam dalam hati bisa keluar walau sedikit. Dan supaya saya terlatih (kembali) menulis hal lain yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Supaya saya tidak jadi robot yang gerak-geriknya sudah terprogram, atau jadi tukang yang hanya bekerja sesuai pesanan.
Saya ingin menulis sesuatu yang berarti, setidaknya buat saya. Tapi bagaimana saya bisa menulis sesuatu yang berarti kalau semangat untuk menulis hal remeh-temeh pun tak ada.
Ah, itu dia! Kata itu yang dari tadi saya "cari". Semangat!
(kata 'cari' sengaja saya beri tanda kutip karena sebenarnya dari tadi saya tidak dengan sengaja mencari apa pun. Saya tahu ada yang hilang, tapi saya tidak sedang mencari. Ternyata kata itu memunculkan dirinya sendiri)
Saya sedang mengumpulkan semangat saya lagi.
Untuk menjalani remeh-temeh kehidupan dan menuangkannya di sini.
Untuk mencari-cari ide dan perlahan-lahan mewujudkannya menjadi sesuatu yang berarti.
Untuk berangkat kerja tanpa merasa ada batu besar yang diikat di kaki.
Untuk menyadari bahwa hidup bukan cuma serangkaian rutinitas yang terus berulang.
Wednesday, May 23, 2007
Tuesday, May 22, 2007
KERUPUK!
Lebih dari sebulan lalu, saya menerima e-mail dari sahabat lama yang (waktu itu) sedang menetap di Aceh. Di paragraf terakhir email itu, dia meminta saya berkisah tentang "kehidupan domestik" yang kini menjadi bagian dari diri aaya. Mungkin, daripada menghitung suara tokek atau mencabut kelopak bunga satu persatu, dia memilih bertanya (hei, saya mulai terdengar seperti dia). Anyway, jadi berceritalah saya.
Siapa sangka, email jawaban saya turn out to be one of my favorite e-mail that I ever wrote. Ini dia:
Subject: Re: nannoo.....nannnnoooo
From: "LARILARIKECIL"
Date: Thu, April 5, 2007 16:15
To: "JU"
Priority: Normal
> Eyi, my best pren.Coba ceritakan keindahan dari kehidupan mu.
> Secuplik embun bening dari kenyataan keseharian, kehidupan domestik.
> Ada enggan yang mengakar di bawah kesadaran rasanyah, enggan untuk menyentuh yang domestik itu.
> Tapi kalo kau ceritakan padaku keindahannyah, maulah aku juga mencicipinyah.
> Keseharian ketika lu jalani hidup berkeluargamu dengan berjibun komitmen dan tanggung jawab itu.
maaf bahasanya ya ey, kapan lagi dan sama siapa lagi bisa ngomong dengan cara sejijay ini hehehehehehehe
-Ju-
Keindahannya, Ju? The beauty is Pendar herself :)
Keindahannya adalah menemukan bahwa hal-hal paling sederhana dalam hidup ternyata membawa kebahagiaan.
Contohnya: Kerupuk. (Lho???) Hehehehehe...
Beberapa hari lalu, gue lagi ngegendong Pendar, sambil nonton TV. Di TV lagi ada acara "Sisi Lain' (kalau ngga salah) tentang proses pembuatan kerupuk.
As usual, gue mengajak dia bicara tentang apa yg gue lihat.
"Eeh.., itu tuh Dek, di TV lagi ada cara bikin "kerupuk".
Saat mengucapkan kata "kerupuk", gue menolehkan kepala dari TV ke dia.
And u know what, Ju? She laughed! She laughed at the sound of "kerupuk" (or so I thought).
Gue diam sebentar, agak ragu, lalu gue mengulang kata itu: "Kerupuk?"
N she goes "hehe.."
"Kerupuk?"
"Hehe"
Gue makin pede: "Keruuuuu...puk!"
N she goes again: "Hehe.."
Gue lanjut: "Keeeeee...rupuk!"
And my baby stil goes: "hehehe"...
Coba gue ucapkan kata ini keras-keras buat lo, Ju: KERUPUK!!!!
K-E-R-U-P-U-K!!! Do you even smile?
Senyum (apalagi ketawanya) seorang anak itu kuat banget, Ju. Indah banget. It's her weapon. Sebelum2 ini, gue juga suka sama anak kecil, tapi sama anak sendiri beda banget. Senyum anak lain indah, tapi senyum anak sendiri indaaaaaaaaah.... banget. (Trust me, lo nggak akan BENAR-BENAR MEMAHAMI apa yang gue katakan ini sebelum punya anak sendiri)
Kalau mengutip grup band tempo dulu 'Michael Learns to Rock':
"It's a picture of a thousand sunsets, it's a freedom of a thousand doves."
(BO! MLTR, BO!) :D :D :D
I'll go the distance to bring out the smile on her face.
Kalau di kantor lagi bete, lagi capek, lagi pusing, I simply remember her laughter/smile, n gue pasti langsung ikut senyum juga. Tentu aja, masalah kerjaan gue ga selesai cuma dengan tersenyum. Tapi memori tentang Pendar yang sedang ketawa adalah sanctuary gue sekarang.
Another story:
Dua hari yang lalu, malam-malam, Pendar belum tidur. I knew it's her bedtime, so gue gendong dia n I sang her a lullaby:
"Twinkle-twinkle little star, how I wonder what u are.."
After singing the song, I whispered it to her:
twinkle-twinkle-little-star
how-I-wonder-what-u-are
Dan mata Pendar mulai merem, melek, merem, melek, makin lama makin berat..
N it's just... simply beautiful. Ga tahu gimana ngejelasinnya.
.....................................
Gue nggak tahu apa dua potong cerita ini cukup "indah" sehingga bisa bikin lo mau nyicipin kehidupan domestik :D
But to tell you the truth, I'm not trying to do that. I'm not trying to lure you to enter the huge gate of "marriage, commitment, n responsibility" (aaaaawww...) :D
I believe in time, now. I believe in season.
So when your season come, embrace it with happiness, ya.
Take care, Ju
-Eyi-
Siapa sangka, email jawaban saya turn out to be one of my favorite e-mail that I ever wrote. Ini dia:
Subject: Re: nannoo.....nannnnoooo
From: "LARILARIKECIL"
Date: Thu, April 5, 2007 16:15
To: "JU"
Priority: Normal
> Eyi, my best pren.Coba ceritakan keindahan dari kehidupan mu.
> Secuplik embun bening dari kenyataan keseharian, kehidupan domestik.
> Ada enggan yang mengakar di bawah kesadaran rasanyah, enggan untuk menyentuh yang domestik itu.
> Tapi kalo kau ceritakan padaku keindahannyah, maulah aku juga mencicipinyah.
> Keseharian ketika lu jalani hidup berkeluargamu dengan berjibun komitmen dan tanggung jawab itu.
maaf bahasanya ya ey, kapan lagi dan sama siapa lagi bisa ngomong dengan cara sejijay ini hehehehehehehe
-Ju-
Keindahannya, Ju? The beauty is Pendar herself :)
Keindahannya adalah menemukan bahwa hal-hal paling sederhana dalam hidup ternyata membawa kebahagiaan.
Contohnya: Kerupuk. (Lho???) Hehehehehe...
Beberapa hari lalu, gue lagi ngegendong Pendar, sambil nonton TV. Di TV lagi ada acara "Sisi Lain' (kalau ngga salah) tentang proses pembuatan kerupuk.
As usual, gue mengajak dia bicara tentang apa yg gue lihat.
"Eeh.., itu tuh Dek, di TV lagi ada cara bikin "kerupuk".
Saat mengucapkan kata "kerupuk", gue menolehkan kepala dari TV ke dia.
And u know what, Ju? She laughed! She laughed at the sound of "kerupuk" (or so I thought).
Gue diam sebentar, agak ragu, lalu gue mengulang kata itu: "Kerupuk?"
N she goes "hehe.."
"Kerupuk?"
"Hehe"
Gue makin pede: "Keruuuuu...puk!"
N she goes again: "Hehe.."
Gue lanjut: "Keeeeee...rupuk!"
And my baby stil goes: "hehehe"...
Coba gue ucapkan kata ini keras-keras buat lo, Ju: KERUPUK!!!!
K-E-R-U-P-U-K!!! Do you even smile?
Senyum (apalagi ketawanya) seorang anak itu kuat banget, Ju. Indah banget. It's her weapon. Sebelum2 ini, gue juga suka sama anak kecil, tapi sama anak sendiri beda banget. Senyum anak lain indah, tapi senyum anak sendiri indaaaaaaaaah.... banget. (Trust me, lo nggak akan BENAR-BENAR MEMAHAMI apa yang gue katakan ini sebelum punya anak sendiri)
Kalau mengutip grup band tempo dulu 'Michael Learns to Rock':
"It's a picture of a thousand sunsets, it's a freedom of a thousand doves."
(BO! MLTR, BO!) :D :D :D
I'll go the distance to bring out the smile on her face.
Kalau di kantor lagi bete, lagi capek, lagi pusing, I simply remember her laughter/smile, n gue pasti langsung ikut senyum juga. Tentu aja, masalah kerjaan gue ga selesai cuma dengan tersenyum. Tapi memori tentang Pendar yang sedang ketawa adalah sanctuary gue sekarang.
Another story:
Dua hari yang lalu, malam-malam, Pendar belum tidur. I knew it's her bedtime, so gue gendong dia n I sang her a lullaby:
"Twinkle-twinkle little star, how I wonder what u are.."
After singing the song, I whispered it to her:
twinkle-twinkle-little-star
how-I-wonder-what-u-are
Dan mata Pendar mulai merem, melek, merem, melek, makin lama makin berat..
N it's just... simply beautiful. Ga tahu gimana ngejelasinnya.
.....................................
Gue nggak tahu apa dua potong cerita ini cukup "indah" sehingga bisa bikin lo mau nyicipin kehidupan domestik :D
But to tell you the truth, I'm not trying to do that. I'm not trying to lure you to enter the huge gate of "marriage, commitment, n responsibility" (aaaaawww...) :D
I believe in time, now. I believe in season.
So when your season come, embrace it with happiness, ya.
Take care, Ju
-Eyi-
Wednesday, March 21, 2007
My Lil' Princess
Ini dia, Pendar Ramadhani Anitya. Lima setengah bulan usianya. Alhamdulillah. Sudah pintar guling-gulingan. Beberapa hari ini suka teriak-teriak 'aaaaaaaaaa.....'. Kalau bangun subuh-subuh, pasti langsung senyum. Nggak nangis, nggak bengong, pasti senyum. Sayang Bundanya nggak punya kamera digital yang oke. Jadi foto adek Pendar sedikit :(
Nggak apa-apa ya, Nak. Kan duitnya ditabung buat beli rumah. Hehehehe...
Friday, January 05, 2007
Pendar Ramadhani Anitya
I'm back!
Akhirnya, setelah cuti melahirkan, minggu kemarin saya mulai kembali ke kantor, balik ke dunia nyata, meninggalkan bayi perempuan yang kini genap berusia tiga bulan di rumah.
Pendar Ramadhani Anitya namanya.
Saya yang memberi nama :)
Lahir di Jakarta, 4 Oktober 2006, 00:55 WIB.
Beratnya 3,285 kg, tinggi 48 cm.
I'm glad I came up with this name.
Saya suka kata itu: 'pendar', 'berpendar'. Semakna dengan 'cahaya', 'sinar', 'nur'.
Semoga kelak dia menjadi pendar dalam kehidupannya sendiri, syukur-syukur dalam kehidupan orang lain juga. Yang jelas, sebelum lahir pun dia sudah berpendar dalam hati saya, hati kami-orang tuanya.
Sayangnya, TERNYATA tidak semua orang pernah mendengar kata 'pendar'.
Seorang teman lama mengirim SMS yang isinya kira-kira: “Selamat atas kelahiran adik PENDRA”. Tadinya saya kira dia salah ketik atau bercanda, tapi ternyata dia serius. Serius salahnya :P Seminggu setelah itu, dia mengirim SMS lagi: “Eyi, gue mau ke rumah lo. Mau nengok PENDERA.” Ealah..., salah lagi. Sewaktu saya balas SMS-nya dengan “PENDAR, tauuuu....”, dia malah menjawab, “Ganti aja deh, nama anak lo. Biar gue ngga salah terus.” Huhuhu, asal-asalan...
Bukan cuma dia. Mertua saya -abah dan nek'nya Pendar- juga bingung mendengar nama itu. “Artinya apa? Nama dari mana?”
Buat saya, melahirkan Pendar mungkin the highest point of this year – or maybe of 27 years :)
Apa saja yang berubah setelah melahirkan Pendar? Well, di antaranya....:
1. Sekarang saya paham kenapa Malin Kundang dikutuk ibunya (Huehehe... kidding)
2. Saya berubah jadi ibu-ibu pekerja lainnya di kantor: Datang cepet, pulang cepet. In my case, datang jam setengah tujuh pagi, pulang jam empat atau setengah lima. Tamat sudah karier Eyi Si Perempuan Malam :D
3. Kalau jalan-jalan di mal (which I rarely do), rasanya resah dan gelisah. Keingatan Pendar yang dijaga ibu di rumah. Gulity feeling karena merasa saya seharusnya di rumah supaya Pendar bisa dapat ASI dan bukan susu formula.
4. Melihat-lihat baju di toko masih tetap menyenangkan, tapi sekarang ada suara di kepala “Nanti-nanti aja, deh.” Tapiiii.... kalau kepentok di toko perlengkapan bayi, rasanya betah berlama-lama. Segalanya terlihat lucu, semuanya bagus dan bikin mau beli :D
5. Saya lebih menghargai perempuan-perempuan yang sudah jadi ibu. Serius, sesaat setelah melahirkan Pendar, rasanya saya ingin menyalami semua perempuan istimewa itu sambil berkata “Baagoooooos... Huebaaaat...”. Khusus yang anaknya banyak, saya sembah sekalian aja-lah! :D Hihihi, hiperbolik deh..
6. Dulu, kalau melihat ibu-ibu yang bawa bayinya ke tempat umum, saya cuma membatin “Iiih.. bayinya lucu ya..” Nggak mikir macam-macam. Tapi kemarin sewaktu melihat anak bayi yang dibawa ke ITC, saya malah kasihan, “Duh... orang sebanyak ini.. Banyak virus, banyak kuman, banyak yang ngerokok, banyak yang batuk pilek... Semoga bayinya kuat.”
.................................................
Saya sudah harus mengakhiri posting ini, tapi belum ketemu kata-kata penutup yang pas (alah!). Masih banyak yang mau diceritakan, tapi nanti aja deh.
Dadah yuk bye bye
(hehehe, hi aa) ;)
Akhirnya, setelah cuti melahirkan, minggu kemarin saya mulai kembali ke kantor, balik ke dunia nyata, meninggalkan bayi perempuan yang kini genap berusia tiga bulan di rumah.
Pendar Ramadhani Anitya namanya.
Saya yang memberi nama :)
Lahir di Jakarta, 4 Oktober 2006, 00:55 WIB.
Beratnya 3,285 kg, tinggi 48 cm.
I'm glad I came up with this name.
Saya suka kata itu: 'pendar', 'berpendar'. Semakna dengan 'cahaya', 'sinar', 'nur'.
Semoga kelak dia menjadi pendar dalam kehidupannya sendiri, syukur-syukur dalam kehidupan orang lain juga. Yang jelas, sebelum lahir pun dia sudah berpendar dalam hati saya, hati kami-orang tuanya.
Sayangnya, TERNYATA tidak semua orang pernah mendengar kata 'pendar'.
Seorang teman lama mengirim SMS yang isinya kira-kira: “Selamat atas kelahiran adik PENDRA”. Tadinya saya kira dia salah ketik atau bercanda, tapi ternyata dia serius. Serius salahnya :P Seminggu setelah itu, dia mengirim SMS lagi: “Eyi, gue mau ke rumah lo. Mau nengok PENDERA.” Ealah..., salah lagi. Sewaktu saya balas SMS-nya dengan “PENDAR, tauuuu....”, dia malah menjawab, “Ganti aja deh, nama anak lo. Biar gue ngga salah terus.” Huhuhu, asal-asalan...
Bukan cuma dia. Mertua saya -abah dan nek'nya Pendar- juga bingung mendengar nama itu. “Artinya apa? Nama dari mana?”
Buat saya, melahirkan Pendar mungkin the highest point of this year – or maybe of 27 years :)
Apa saja yang berubah setelah melahirkan Pendar? Well, di antaranya....:
1. Sekarang saya paham kenapa Malin Kundang dikutuk ibunya (Huehehe... kidding)
2. Saya berubah jadi ibu-ibu pekerja lainnya di kantor: Datang cepet, pulang cepet. In my case, datang jam setengah tujuh pagi, pulang jam empat atau setengah lima. Tamat sudah karier Eyi Si Perempuan Malam :D
3. Kalau jalan-jalan di mal (which I rarely do), rasanya resah dan gelisah. Keingatan Pendar yang dijaga ibu di rumah. Gulity feeling karena merasa saya seharusnya di rumah supaya Pendar bisa dapat ASI dan bukan susu formula.
4. Melihat-lihat baju di toko masih tetap menyenangkan, tapi sekarang ada suara di kepala “Nanti-nanti aja, deh.” Tapiiii.... kalau kepentok di toko perlengkapan bayi, rasanya betah berlama-lama. Segalanya terlihat lucu, semuanya bagus dan bikin mau beli :D
5. Saya lebih menghargai perempuan-perempuan yang sudah jadi ibu. Serius, sesaat setelah melahirkan Pendar, rasanya saya ingin menyalami semua perempuan istimewa itu sambil berkata “Baagoooooos... Huebaaaat...”. Khusus yang anaknya banyak, saya sembah sekalian aja-lah! :D Hihihi, hiperbolik deh..
6. Dulu, kalau melihat ibu-ibu yang bawa bayinya ke tempat umum, saya cuma membatin “Iiih.. bayinya lucu ya..” Nggak mikir macam-macam. Tapi kemarin sewaktu melihat anak bayi yang dibawa ke ITC, saya malah kasihan, “Duh... orang sebanyak ini.. Banyak virus, banyak kuman, banyak yang ngerokok, banyak yang batuk pilek... Semoga bayinya kuat.”
.................................................
Saya sudah harus mengakhiri posting ini, tapi belum ketemu kata-kata penutup yang pas (alah!). Masih banyak yang mau diceritakan, tapi nanti aja deh.
Dadah yuk bye bye
(hehehe, hi aa) ;)
Friday, September 01, 2006
Goodbye
Sudah sekitar tiga tahun ngeblog, tapi terkadang saya masih sering terkagum-kagum pada wadah maya ini.
Ajaib aja.
Ajaib, hanya dengan membaca blog seseorang -tanpa berkomen, tanpa meninggalkan pesan di shoutbox-nya, tanpa menyapa, tanpa membuat dia tahu bahwa saya ada dan sering mengunjunginya- saya sudah bisa merasa dekat pada si empunya blog.
Sok kenal? Iya, mungkin. Padahal apa yang ditulis orang itu di blog mungkin cuma sepersekian dari kehidupannya, ya?
Seperti kejadian baru-baru ini.
Sekitar minggu lalu, saya berkunjung ke blog ayah tiga anak. Setelah membaca komen-komen di postingan terbarunya, saya dapat link ke blog ibu ini: Bunda Zidan & Syifa.
Begitu melihat halaman si Bunda Zidan-Syifa, saya baru sadar kalau dulu saya sudah pernah berkunjung ke sana.
Baca baca baca, lihat-lihat fotonya, lihat-lihat resepnya, melihat tampang pemilik blognya (kok mirip banget sama adiknya suaminya adik saya ya?), lalu terjadilah hal itu: Saya merasa mengenal si Bunda.
Besok-besoknya, saya datang dan datang lagi. Saya bongkar-bongkar archive-nya, jatuh cinta pada kedua anaknya yang manis dan pintar, tertawa-tawa membaca sebuah postingan, terharu di postingan yang lain.
Saya membatin dalam hati: Mbak ini nyenengin banget ya, orangnya? Sepertinya dia menikmati every single second of her life. Tulisannya ringan, lucu, dan berkisar kehidupan sehari-harinya di Singapura: Ngurusin anak, masak, bikin kue, ngajar orang lain bikin kue, jalan-jalan, makan-makan...
Apa adanya. Nggak pernah terjebak untuk menulis sesuatu yang... (apa ya namanya?) pretensius (???).
Dan anak-anaknya... Ah... tadi saya sudah bilang kan, saya jatuh cinta pada anak-anaknya? Tempo hari, setelah membaca sebuah postingan, saya jadi nggak sabar menunggu anak saya lahir dan jadi batita. Supaya bisa mendengar dia berceloteh.
Beberapa hari belakangan, dalam perjalanan pulang kantor, saya punya bahan cerita baru untuk dibagi pada suami. Biasanya dia senyam-senyum aja mendengar saya bercerita.
Dan saya masih juga belum menampakkan diri, meskipun sudah ada niat.
Rabu kemarin (30/8), waktu membuka blognya, saya kaget karena shoutbox si Bunda penuh dengan kalimat 'semoga cepat sembuh', 'semoga cepat sadar, ingat Zidan dan Syifa', 'semoga dikuatkan'.
Dari blog kawan-kawannya, saya jadi tahu kalau dia sedang terbaring koma di rumah sakit. Padahal, posting terakhir tanggal 29/8 masih bernada ceria karena ummi-nya si Bunda sedang berkunjung ke Singapura.
Aduh, sedihnya.. Beneran, saya sedih, bukan sok sedih (ngapain juga, ya?). Ikut berdoa, ikut baca Yassin menjelang Maghrib kemarin, ikut memantau update-an di blog-blog lain.
Lalu tadi pagi, dari blog ibu ini, saya dapat kabar that she didn't make it :(
Innalillahi wa innailaihi rajiuun...
Soe Hok Gie bilang, beruntunglah orang-orang yang mati muda dan yang paling sial itu orang yang berumur panjang.
Good people die young.
Selamat jalan, Mbak Inong. Kemarin saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya “dipertemukan” dengan kamu menjelang ajalmu. What should I learn from you? Maaf, saya nggak percaya sama yang namanya 'kebetulan'. There's gotta be something bigger behind all things.
I pray for you, your family, and especially your little ones. Semoga Allah menjaga kalian semua.
Saya nggak tahu apa ucapan Soe Hok Gie soal mati muda itu benar. Yang jelas, saya tahu kalau kamu MEMANG orang yang beruntung. Saya yakin, begitu banyak yang sayang sama kamu meskipun kamu mungkin belum pernah bertemu muka dengan sebagian orang-orang itu.
Dulu saya pernah membatin, kalau tulisan saya bisa menyentuh hati SATU orang saja, betapa beruntungnya saya.
Well Mbak..., you've touched mine, and I thank you for that.
Goodbye for now.
Ajaib aja.
Ajaib, hanya dengan membaca blog seseorang -tanpa berkomen, tanpa meninggalkan pesan di shoutbox-nya, tanpa menyapa, tanpa membuat dia tahu bahwa saya ada dan sering mengunjunginya- saya sudah bisa merasa dekat pada si empunya blog.
Sok kenal? Iya, mungkin. Padahal apa yang ditulis orang itu di blog mungkin cuma sepersekian dari kehidupannya, ya?
Seperti kejadian baru-baru ini.
Sekitar minggu lalu, saya berkunjung ke blog ayah tiga anak. Setelah membaca komen-komen di postingan terbarunya, saya dapat link ke blog ibu ini: Bunda Zidan & Syifa.
Begitu melihat halaman si Bunda Zidan-Syifa, saya baru sadar kalau dulu saya sudah pernah berkunjung ke sana.
Baca baca baca, lihat-lihat fotonya, lihat-lihat resepnya, melihat tampang pemilik blognya (kok mirip banget sama adiknya suaminya adik saya ya?), lalu terjadilah hal itu: Saya merasa mengenal si Bunda.
Besok-besoknya, saya datang dan datang lagi. Saya bongkar-bongkar archive-nya, jatuh cinta pada kedua anaknya yang manis dan pintar, tertawa-tawa membaca sebuah postingan, terharu di postingan yang lain.
Saya membatin dalam hati: Mbak ini nyenengin banget ya, orangnya? Sepertinya dia menikmati every single second of her life. Tulisannya ringan, lucu, dan berkisar kehidupan sehari-harinya di Singapura: Ngurusin anak, masak, bikin kue, ngajar orang lain bikin kue, jalan-jalan, makan-makan...
Apa adanya. Nggak pernah terjebak untuk menulis sesuatu yang... (apa ya namanya?) pretensius (???).
Dan anak-anaknya... Ah... tadi saya sudah bilang kan, saya jatuh cinta pada anak-anaknya? Tempo hari, setelah membaca sebuah postingan, saya jadi nggak sabar menunggu anak saya lahir dan jadi batita. Supaya bisa mendengar dia berceloteh.
Beberapa hari belakangan, dalam perjalanan pulang kantor, saya punya bahan cerita baru untuk dibagi pada suami. Biasanya dia senyam-senyum aja mendengar saya bercerita.
Dan saya masih juga belum menampakkan diri, meskipun sudah ada niat.
Rabu kemarin (30/8), waktu membuka blognya, saya kaget karena shoutbox si Bunda penuh dengan kalimat 'semoga cepat sembuh', 'semoga cepat sadar, ingat Zidan dan Syifa', 'semoga dikuatkan'.
Dari blog kawan-kawannya, saya jadi tahu kalau dia sedang terbaring koma di rumah sakit. Padahal, posting terakhir tanggal 29/8 masih bernada ceria karena ummi-nya si Bunda sedang berkunjung ke Singapura.
Aduh, sedihnya.. Beneran, saya sedih, bukan sok sedih (ngapain juga, ya?). Ikut berdoa, ikut baca Yassin menjelang Maghrib kemarin, ikut memantau update-an di blog-blog lain.
Lalu tadi pagi, dari blog ibu ini, saya dapat kabar that she didn't make it :(
Innalillahi wa innailaihi rajiuun...
Soe Hok Gie bilang, beruntunglah orang-orang yang mati muda dan yang paling sial itu orang yang berumur panjang.
Good people die young.
Selamat jalan, Mbak Inong. Kemarin saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya “dipertemukan” dengan kamu menjelang ajalmu. What should I learn from you? Maaf, saya nggak percaya sama yang namanya 'kebetulan'. There's gotta be something bigger behind all things.
I pray for you, your family, and especially your little ones. Semoga Allah menjaga kalian semua.
Saya nggak tahu apa ucapan Soe Hok Gie soal mati muda itu benar. Yang jelas, saya tahu kalau kamu MEMANG orang yang beruntung. Saya yakin, begitu banyak yang sayang sama kamu meskipun kamu mungkin belum pernah bertemu muka dengan sebagian orang-orang itu.
Dulu saya pernah membatin, kalau tulisan saya bisa menyentuh hati SATU orang saja, betapa beruntungnya saya.
Well Mbak..., you've touched mine, and I thank you for that.
Goodbye for now.
Tuesday, August 22, 2006
Di Depan Rutan Salemba
Engkau mungkin takkan pernah tahu
(dan sampai kapan pun aku takkan memberitahumu)
Siang terik itu aku tergugu sejenak di lapangan parkir,
di seberang rutan
Memandangi tembok tinggi yang menghalangi kita
Begitu dekat, hanya terhalang tembok
Begitu jauh, karena dihalangi tembok
Aku mengira-ngira,
sudah berapa kali pikiran itu melintas di kepalamu
Untuk melompati tembok
dan berlari mendapati anak istrimu
(dan sampai kapan pun aku takkan memberitahumu)
Siang terik itu aku tergugu sejenak di lapangan parkir,
di seberang rutan
Memandangi tembok tinggi yang menghalangi kita
Begitu dekat, hanya terhalang tembok
Begitu jauh, karena dihalangi tembok
Aku mengira-ngira,
sudah berapa kali pikiran itu melintas di kepalamu
Untuk melompati tembok
dan berlari mendapati anak istrimu
Sailor Moon VS Orang Kaya
Sekitar tahun 1997 lalu, saya bercita-cita jadi Sailor Moon, superheroine pembela kebenaran yang selalu tampak cantik dengan rok mininya.
Sekarang, hampir 10 tahun kemudian, cita-cita saya berubah: Saya 'cuma' ingin jadi orang kaya. Iya, orang berduit, supaya bisa memperbaiki pagar rumah tanpa banyak cingcong dan tak perlu terkenang-kenang pada para TKW dari kompleks sebelah -pelanggan VIP Wartel Global di masa jayanya- yang kini tak pernah datang lagi karena sudah pada punya handphone.
Sekarang, hampir 10 tahun kemudian, cita-cita saya berubah: Saya 'cuma' ingin jadi orang kaya. Iya, orang berduit, supaya bisa memperbaiki pagar rumah tanpa banyak cingcong dan tak perlu terkenang-kenang pada para TKW dari kompleks sebelah -pelanggan VIP Wartel Global di masa jayanya- yang kini tak pernah datang lagi karena sudah pada punya handphone.
Thursday, August 10, 2006
Sita oh Sita
Pas liputan tadi, ada bintang tamu: Sita RSD. Aduuuuww... cantiknya... Sejak pertama kali RSD muncul, Sita selalu jadi favorit gue. Ternyata aslinya jauh lebih cantik daripada di foto atau TV. Kulitnya putih, rambutnya panjang agak-agak bergelombang gitu, badannya tinggi, hidungnya mancung dan ada tahi lalat kecil di batang hidungnya.
Seperti testimonial Sita di acara tadi, awal tahun 2002 lalu, berat badannya masih 89 kg. Sekarang? Cukup 62 kg aja. Sembilan bulan pertama, dia berhasil turun sampe 22 kg! Hu hu hu, hebat amat...
Selama 7.5 bulan hamil, kayaknya gue nggak pernah ngebatin pengen anak gue nanti kayak siapa. Tapi tadi, di acara itu, tiba-tiba aja gue ngomong dalam hati: “Aduuh..., kalau anak gue cewek, semoga cantik kayak Sita RSD gitu yaa...” ;)
(Eh, tapi ntar orang2 malah bingung kali ya? Masa' muka ibu bapaknya semblep-semblep, tapi anaknya kinclong geneh??? Hehehehe... Amiiin...)
Terus, tadi juga pertama kalinya dalam hidup, gue punya niat untuk foto berdua artis!
Bwahahahha... Norak amat ya. Tapi beneran, sebelum2nya, siapa pun lewat depan gue sih bodo' amat (kecuali Udjo Project Pop. Waktu dulu dia mampir ke kantor gue, gue panas dingin :D Tapi sama Udjo sih lebih pengen kenalan, bukan pengen foto bareng).
Eh, tapi tadi foto bareng Sitanya ngga kesampean ding, soalnya dia keburu dibajak kru infotainment :P
Seperti testimonial Sita di acara tadi, awal tahun 2002 lalu, berat badannya masih 89 kg. Sekarang? Cukup 62 kg aja. Sembilan bulan pertama, dia berhasil turun sampe 22 kg! Hu hu hu, hebat amat...
Selama 7.5 bulan hamil, kayaknya gue nggak pernah ngebatin pengen anak gue nanti kayak siapa. Tapi tadi, di acara itu, tiba-tiba aja gue ngomong dalam hati: “Aduuh..., kalau anak gue cewek, semoga cantik kayak Sita RSD gitu yaa...” ;)
(Eh, tapi ntar orang2 malah bingung kali ya? Masa' muka ibu bapaknya semblep-semblep, tapi anaknya kinclong geneh??? Hehehehe... Amiiin...)
Terus, tadi juga pertama kalinya dalam hidup, gue punya niat untuk foto berdua artis!
Bwahahahha... Norak amat ya. Tapi beneran, sebelum2nya, siapa pun lewat depan gue sih bodo' amat (kecuali Udjo Project Pop. Waktu dulu dia mampir ke kantor gue, gue panas dingin :D Tapi sama Udjo sih lebih pengen kenalan, bukan pengen foto bareng).
Eh, tapi tadi foto bareng Sitanya ngga kesampean ding, soalnya dia keburu dibajak kru infotainment :P
Thursday, August 03, 2006
God's Opinion
"A baby is God's opinion that the world should go on."
(Carl Sandburg)
A really nice explanation, Carl :)
Thank you.
Now i know what to say to my (future) children when they ask me 'the difficult question.'
(Carl Sandburg)
A really nice explanation, Carl :)
Thank you.
Now i know what to say to my (future) children when they ask me 'the difficult question.'
Tuesday, July 18, 2006
Missing You
For the truth, I know takes longer.
I've the cunning of the tigger and the wisdom of the trees.
I won't be sad,refuse the sorrow.
I look forward tomorrow.
I'll release my anger,
'cause I'm proud to be a dread.
I'm kissing you.
Pride can stand a thousand trials
The strong will never fall
But watching stars without you,
My soul cried. Heaving heart is full of pain,
Oh, oh, the aching.
'Cause I'm kissing you, oh.
I'm kissing, oh.
Sebelum nikah, bahkan sebelum pacaran, masih PDKT, suami saya (yang saat itu masih 'calon') pernah bertanya sesuatu. Waktu itu kami sedang duduk di Bakoel Koffie Cikini (oh, I miss the place..), menikmati sore, ngobrol-ngobrol, membaca majalah gratisan. Dia memperlihatkan pada saya cara jitu bermain MasterMaze, saya bilang caranya curang.
Lalu pertanyaan itu terlontar,
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?" :D
Hehehe, kalau diingat-ingat lagi, kalimatnya gombal juga. Dan saat mengetik postingan ini saya baru kepikiran: mungkin saya bukan orang pertama yang dia tanyai seperti itu.
Anyway, waktu itu saya cuma menjawab lempeng, "Nggak pernah. Kalau kangen ya berarti karena orang itu jauh."
Dia mengangguk-angguk.
Lucunya, sekarang setelah kami nikah, saya jadi sering kangen sama dia, meskipun kami berada di ruangan yang sama, meskipun sedang berbaring samping-sampingan.
Terutama belakangan ini.
Sudah dua minggu ini kami pindah. Dari 'tempat itu' ke rumah orang tua saya. Finally, I got my freedom back, walaupun tidak 100% karena sekarang pun judulnya masih nebeng.
Berarti sudah dua minggu ini juga kami beradaptasi, khususnya dia. Selain beradaptasi dengan tempat tinggal baru (plus penghuninya yang kadang-kadang ajaib), dia juga sedang beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Kami juga harus beradaptasi dengan pengaturan waktu baru. Jam empat subuh bangun, pukul setengah enam pagi sudah harus berangkat ke kantor :( . Padahal, waktu masih tinggal di 'tempat itu' (yang notabene dekat dengan kantor), kami baru mandi pukul tujuh dan berangkat ke kantor sekitar setengah sembilan.
But well, everything has its own price, and I'm not complaining about this actually (at least, not yet, hehehe)
Bagi saya, yang lebih sulit dari beradaptasi pada kondisi-kondisi baru ini, adalah melihat suami saya beradaptasi. Kalau saya terbiasa melewati proses adaptasi dengan diam dan tahu-tahu mewek, dia beradaptasi dengan manyun dan ngomel- ngomel :P
Selain itu, sekarang setelah lebih dari setahun menikah, segala masalah rumah tangga yang 'klise tapi nyata' itu mulai (lebih sering) bermunculan: beda pengaturan uang, beda pendapat (dia merasa benar, saya merasa nggak salah, hehehe),beda kebiasaan, beda prioritas, beda kebutuhan, dan beda-beda lain yang membuat kami lebih sering perang tarik urat saraf.
Situasinya mungkin lebih sulit karena sekarang saya juga sedang mengandung; lebih cepat capek, lebih sensitif, lebih ingin dimaklumi.
Sejak pertama kali tahu saya hamil sampai sekarang (jalan tujuh bulan), entah sudah berapa puluh kali saya mendengar ucapan ini: "Orang hamil itu jangan stres... Jangan sedih... Jangan mikir yang berat-berat... Santai aja..."
TAPI BAGAIMANA MYUNGKIIIN WEICEEEEEEEE......????
Iya, bagaimana mungkin tidak stres kalau badan ini ogah diajak kerja sama.
Duduk agak lama = pinggang pegel, kadang-kadang punggung juga.
Berdiri agak lama = perut mengeras, memberat.
Berbaring = nyeri-nyeri di pinggang dan panggul.
Bangun setelah berbaring = tidak bisa berputar ke kanan karena sakit, tidak bisa mutar kiri karena sakit, tidak bisa langsung bangun ke depan karena sakit juga (ini yang paling menyiksa!)
Jalan biasa = berrraaat dan lambaaaattt...
Lari = apalagi dong ah!
Jadi ketika perubahan fisik, persoalan adaptasi dan masalah 'klise tapi nyata' ini harus dihadapi bersamaan, duh makan ati, makan ati! (Harusnya saat ini ada yang ngasih saya teh botol, ya. 'Kan udah makan ati...' Halah! :P )
Above all these, as I said before, I miss my hubby.
Dalam perjalanan pulang, di mobil, setelah menjemput saya dari kantor, dia kadang-kadang sudah tidak punya tenaga untuk mengobrol.
Sesampainya di rumah, setelah makan, bersih-bersih, dan shalat, dia langsung tidur. Kadang-kadang, ritualnya dibalik. Tidur dulu sampai jam 10, baru bangun dan melakukan sisanya.
Terkadang, kalau masih tersisa sedikit tenaga, dia lebih memilih main game komputer, refreshing katanya.
Saya maklum. Serius.
Selama dia nggak ngomel-ngomel (karena satu dan lain hal), I can still take it.
Tapi kemarin, waktu mendengar lagu Kissing You-nya Desree, saya tiba-tiba teringat pertanyaan yang dia ajukan dulu, ketika kami bahkan belum pacaran:
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?"
..........
Iya, pernah. Sekarang.
Miss you, baby bala bala..
I've the cunning of the tigger and the wisdom of the trees.
I won't be sad,refuse the sorrow.
I look forward tomorrow.
I'll release my anger,
'cause I'm proud to be a dread.
I'm kissing you.
Pride can stand a thousand trials
The strong will never fall
But watching stars without you,
My soul cried. Heaving heart is full of pain,
Oh, oh, the aching.
'Cause I'm kissing you, oh.
I'm kissing, oh.
Sebelum nikah, bahkan sebelum pacaran, masih PDKT, suami saya (yang saat itu masih 'calon') pernah bertanya sesuatu. Waktu itu kami sedang duduk di Bakoel Koffie Cikini (oh, I miss the place..), menikmati sore, ngobrol-ngobrol, membaca majalah gratisan. Dia memperlihatkan pada saya cara jitu bermain MasterMaze, saya bilang caranya curang.
Lalu pertanyaan itu terlontar,
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?" :D
Hehehe, kalau diingat-ingat lagi, kalimatnya gombal juga. Dan saat mengetik postingan ini saya baru kepikiran: mungkin saya bukan orang pertama yang dia tanyai seperti itu.
Anyway, waktu itu saya cuma menjawab lempeng, "Nggak pernah. Kalau kangen ya berarti karena orang itu jauh."
Dia mengangguk-angguk.
Lucunya, sekarang setelah kami nikah, saya jadi sering kangen sama dia, meskipun kami berada di ruangan yang sama, meskipun sedang berbaring samping-sampingan.
Terutama belakangan ini.
Sudah dua minggu ini kami pindah. Dari 'tempat itu' ke rumah orang tua saya. Finally, I got my freedom back, walaupun tidak 100% karena sekarang pun judulnya masih nebeng.
Berarti sudah dua minggu ini juga kami beradaptasi, khususnya dia. Selain beradaptasi dengan tempat tinggal baru (plus penghuninya yang kadang-kadang ajaib), dia juga sedang beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Kami juga harus beradaptasi dengan pengaturan waktu baru. Jam empat subuh bangun, pukul setengah enam pagi sudah harus berangkat ke kantor :( . Padahal, waktu masih tinggal di 'tempat itu' (yang notabene dekat dengan kantor), kami baru mandi pukul tujuh dan berangkat ke kantor sekitar setengah sembilan.
But well, everything has its own price, and I'm not complaining about this actually (at least, not yet, hehehe)
Bagi saya, yang lebih sulit dari beradaptasi pada kondisi-kondisi baru ini, adalah melihat suami saya beradaptasi. Kalau saya terbiasa melewati proses adaptasi dengan diam dan tahu-tahu mewek, dia beradaptasi dengan manyun dan ngomel- ngomel :P
Selain itu, sekarang setelah lebih dari setahun menikah, segala masalah rumah tangga yang 'klise tapi nyata' itu mulai (lebih sering) bermunculan: beda pengaturan uang, beda pendapat (dia merasa benar, saya merasa nggak salah, hehehe),beda kebiasaan, beda prioritas, beda kebutuhan, dan beda-beda lain yang membuat kami lebih sering perang tarik urat saraf.
Situasinya mungkin lebih sulit karena sekarang saya juga sedang mengandung; lebih cepat capek, lebih sensitif, lebih ingin dimaklumi.
Sejak pertama kali tahu saya hamil sampai sekarang (jalan tujuh bulan), entah sudah berapa puluh kali saya mendengar ucapan ini: "Orang hamil itu jangan stres... Jangan sedih... Jangan mikir yang berat-berat... Santai aja..."
TAPI BAGAIMANA MYUNGKIIIN WEICEEEEEEEE......????
Iya, bagaimana mungkin tidak stres kalau badan ini ogah diajak kerja sama.
Duduk agak lama = pinggang pegel, kadang-kadang punggung juga.
Berdiri agak lama = perut mengeras, memberat.
Berbaring = nyeri-nyeri di pinggang dan panggul.
Bangun setelah berbaring = tidak bisa berputar ke kanan karena sakit, tidak bisa mutar kiri karena sakit, tidak bisa langsung bangun ke depan karena sakit juga (ini yang paling menyiksa!)
Jalan biasa = berrraaat dan lambaaaattt...
Lari = apalagi dong ah!
Jadi ketika perubahan fisik, persoalan adaptasi dan masalah 'klise tapi nyata' ini harus dihadapi bersamaan, duh makan ati, makan ati! (Harusnya saat ini ada yang ngasih saya teh botol, ya. 'Kan udah makan ati...' Halah! :P )
Above all these, as I said before, I miss my hubby.
Dalam perjalanan pulang, di mobil, setelah menjemput saya dari kantor, dia kadang-kadang sudah tidak punya tenaga untuk mengobrol.
Sesampainya di rumah, setelah makan, bersih-bersih, dan shalat, dia langsung tidur. Kadang-kadang, ritualnya dibalik. Tidur dulu sampai jam 10, baru bangun dan melakukan sisanya.
Terkadang, kalau masih tersisa sedikit tenaga, dia lebih memilih main game komputer, refreshing katanya.
Saya maklum. Serius.
Selama dia nggak ngomel-ngomel (karena satu dan lain hal), I can still take it.
Tapi kemarin, waktu mendengar lagu Kissing You-nya Desree, saya tiba-tiba teringat pertanyaan yang dia ajukan dulu, ketika kami bahkan belum pacaran:
"Have you ever missed someone, even if the person is sitting right next to you?"
..........
Iya, pernah. Sekarang.
Miss you, baby bala bala..
Tuesday, June 20, 2006
Perasaan Paling Sepi
Menurut saya -setidaknya sampai saat ini- perasaan
paling sepi di dunia adalah ketika kamu pulang
ke rumah, lalu mendapati lampu kamar tidur
telah dipadamkan dan suamimu sudah terlelap
tanpa menunggumu karena kamu pulang terlambat.
Thursday, June 15, 2006
The Name: Cut Gianna Naifa Dharmawan
Bulan ini istimewa.
Kemarin, Kamis 14 Juni 2006, menjelang adzan Maghrib, keponakan saya lahir lewat proses operasi :)
Namanya seperti di atas itu. Cut Gianna Naifa Dharmawan.
Panggilannya pasti Gigi. Sejak sebelum menikah, adik saya dan suaminya sudah sepakat untuk memberi nama Gigi kalau kelak mereka punya anak perempuan. Dan kemarin mereka dapat anak perempuan. Thank U, Allah :)
Beratnya 2,4 kg. Tingginya (kalau nggak salah) 45 cm.
Mendengar beratnya ‘cuma’ segitu, saya kaget juga. Pasalnya, selama hamil, bobot adik saya naik sampai 22 kg! Ouch!
Bayinya putih. Tapi menurut cerita orang-orang, bayi masih bisa berubah-ubah.
Saya sendiri belum lihat langsung. Baru lihat di layar kamera digital.
Ajaib ya, adik saya kok bisa punya anak.
Padahal dia sendiri kan juga masih kanak-kanak... :D
Semalam waktu menengok dia di rumah sakit, saya takjub melihat adik saya yang bengep-bengep. Kayak petinju yang sudah bertarung sengit 10 ronde tapi akhirnya KO juga. Hehehe...
Saya baru sadar, ini pertama kalinya saya menjenguk orang yang benar-benar baru bersalin. Selama ini, saya hanya pernah melihat ibu-ibu setelah beberapa hari melahirkan. Saat saya datang, adik saya sudah mulai merasa perih-perih di perut. Efek biusnya sudah mulai menghilang, rupanya.
Saya jadi ingat salah satu adegan dalam film komedi situasi Suddenly Susan. Waktu itu Susan yang baru patah hati bertanya pada Nana, neneknya:
“Kenapa sih, kita harus bertemu pria-pria yang ‘salah’ dulu? Kenapa kita nggak langsung menemukan ‘the one’ saja?”
Si Nana menjawab:
“Maybe it’s the same as delivering a baby. You have to go through all the pain before finding out how full of magic he is.”
Welcome to the world, Baby Gigi!
Tante Eyi is here for you :)
PS: Kandungan saya sendiri sudah lima bulan lewat. Mual-mual sudah lama berlalu. Aah... senangnyaaa... Tapi sekarang sakit pinggang, sakit pinggul, sakit punggung menyerang. Halah...
Insya Allah, due-nya Oktober. Mohon doa restu ya teman-temaaaaan.... :D
Kemarin, Kamis 14 Juni 2006, menjelang adzan Maghrib, keponakan saya lahir lewat proses operasi :)
Namanya seperti di atas itu. Cut Gianna Naifa Dharmawan.
Panggilannya pasti Gigi. Sejak sebelum menikah, adik saya dan suaminya sudah sepakat untuk memberi nama Gigi kalau kelak mereka punya anak perempuan. Dan kemarin mereka dapat anak perempuan. Thank U, Allah :)
Beratnya 2,4 kg. Tingginya (kalau nggak salah) 45 cm.
Mendengar beratnya ‘cuma’ segitu, saya kaget juga. Pasalnya, selama hamil, bobot adik saya naik sampai 22 kg! Ouch!
Bayinya putih. Tapi menurut cerita orang-orang, bayi masih bisa berubah-ubah.
Saya sendiri belum lihat langsung. Baru lihat di layar kamera digital.
Ajaib ya, adik saya kok bisa punya anak.
Padahal dia sendiri kan juga masih kanak-kanak... :D
Semalam waktu menengok dia di rumah sakit, saya takjub melihat adik saya yang bengep-bengep. Kayak petinju yang sudah bertarung sengit 10 ronde tapi akhirnya KO juga. Hehehe...
Saya baru sadar, ini pertama kalinya saya menjenguk orang yang benar-benar baru bersalin. Selama ini, saya hanya pernah melihat ibu-ibu setelah beberapa hari melahirkan. Saat saya datang, adik saya sudah mulai merasa perih-perih di perut. Efek biusnya sudah mulai menghilang, rupanya.
Saya jadi ingat salah satu adegan dalam film komedi situasi Suddenly Susan. Waktu itu Susan yang baru patah hati bertanya pada Nana, neneknya:
“Kenapa sih, kita harus bertemu pria-pria yang ‘salah’ dulu? Kenapa kita nggak langsung menemukan ‘the one’ saja?”
Si Nana menjawab:
“Maybe it’s the same as delivering a baby. You have to go through all the pain before finding out how full of magic he is.”
Welcome to the world, Baby Gigi!
Tante Eyi is here for you :)
PS: Kandungan saya sendiri sudah lima bulan lewat. Mual-mual sudah lama berlalu. Aah... senangnyaaa... Tapi sekarang sakit pinggang, sakit pinggul, sakit punggung menyerang. Halah...
Insya Allah, due-nya Oktober. Mohon doa restu ya teman-temaaaaan.... :D
Gara-gara Bola?
Tadi malam, saya naik taksi tarif baru dari Kuningan ke arah Pondok Kopi.
Supirnya ngantuk!!!
Mula-mula saya nggak sadar. Tapi lama-kelamaan saya merasa laju mobilnya makin lama makin tidak enak. Sewaktu saya intip di kaca spion, halah, mata supir tinggal segaris!!!
Waktu mobil berhenti sejenak karena lampu merah, dia malah merem sa’merem-meremnya! Waktu jalan di depan agak lengang, dia justru jalan pelaaaan.... sekali.
Pagi ini, saya naik taksi lagi. Kali ini tarif lama. Dari sekitar Kampung Melayu ke Kuningan.
Suami saya turun duluan. Saya masih melaju dengan taksi itu menuju kantor.
Tak lama setelah suami saya turun, si supir tiba-tiba berteriak kuenceeeng... “YA ALLAAAAH.....!!!!!!!!!!!”
Huek! Sumpah, saya kaget! Kenapa nih orang? Sutris gara-gara macet? Ah, macetnya juga nggak seberapa...
Tapi ternyata yang kaget bukan cuma saya. Begitu melihat muka saya dari kaca spion, si supir juga langsung kaget.
“Eh, ibu, maaf Bu...” (Wah, salah dua kali nih orang! Udah bikin kaget, sekarang manggil gue ‘ibu’ pula. Kagak tahu gue paling nggak doyan dipanggil ‘ibu’..)
“Kenapa, Pak?”
“Nggak... Saya ngantuk...” (Halah!)
“Waduh, jangan ngantuk dong, Pak! Kan lagi nyupir...”
“Iya Bu. Saya kira udah nggak ada sewa... Soalnya tadi kan bapak udah turun.. Kalau lagi ngantuk dan nggak ada sewa, saya biasa tereak gitu. Saya jadi malu... (Salah tiga kali! Body segede gini, masa ngga kelihatan dari kaca spion???? Padahal, saya kan duduk tepat di belakang dia...)
“Begadang ya, Pak? Nonton bola ya?!”
“Nggak kok, Bu. Saya tidur jam sembilan. Tapi kenapa masih ngantuk ya? (Ah, masa sih? Masa sih? Masa sih???)
Menjelang siang, ketika sudah di kantor, saya mendengar kabar kalau salah satu supir kantor saya kecelakaan. Motornya ringsek pagi tadi. Alhamdulillah dia nggak apa-apa karena sudah keburu loncat.
Tanpa bertanya duduk perkaranya, saya langsung menuduh: “Pasti gara-gara ngantuk! Nonton bola ya, dia?!?!”
Hehehe, si Eyi suuzon aja, ya? Berburuk sangka sama event Piala Dunia. Padahal bisa saja mereka ngantuk karena alasan-asalan lain.
Ah, nggak kok... Saya seneng juga ada Piala Dunia. Soalnya, beberapa hari ini, jalanan selalu lengang ketika saya pulang sekitar jam tujuh malam. Sekalian aja tanding bolanya setahun penuh, biar jalanan tetap lancar...
Supirnya ngantuk!!!
Mula-mula saya nggak sadar. Tapi lama-kelamaan saya merasa laju mobilnya makin lama makin tidak enak. Sewaktu saya intip di kaca spion, halah, mata supir tinggal segaris!!!
Waktu mobil berhenti sejenak karena lampu merah, dia malah merem sa’merem-meremnya! Waktu jalan di depan agak lengang, dia justru jalan pelaaaan.... sekali.
Pagi ini, saya naik taksi lagi. Kali ini tarif lama. Dari sekitar Kampung Melayu ke Kuningan.
Suami saya turun duluan. Saya masih melaju dengan taksi itu menuju kantor.
Tak lama setelah suami saya turun, si supir tiba-tiba berteriak kuenceeeng... “YA ALLAAAAH.....!!!!!!!!!!!”
Huek! Sumpah, saya kaget! Kenapa nih orang? Sutris gara-gara macet? Ah, macetnya juga nggak seberapa...
Tapi ternyata yang kaget bukan cuma saya. Begitu melihat muka saya dari kaca spion, si supir juga langsung kaget.
“Eh, ibu, maaf Bu...” (Wah, salah dua kali nih orang! Udah bikin kaget, sekarang manggil gue ‘ibu’ pula. Kagak tahu gue paling nggak doyan dipanggil ‘ibu’..)
“Kenapa, Pak?”
“Nggak... Saya ngantuk...” (Halah!)
“Waduh, jangan ngantuk dong, Pak! Kan lagi nyupir...”
“Iya Bu. Saya kira udah nggak ada sewa... Soalnya tadi kan bapak udah turun.. Kalau lagi ngantuk dan nggak ada sewa, saya biasa tereak gitu. Saya jadi malu... (Salah tiga kali! Body segede gini, masa ngga kelihatan dari kaca spion???? Padahal, saya kan duduk tepat di belakang dia...)
“Begadang ya, Pak? Nonton bola ya?!”
“Nggak kok, Bu. Saya tidur jam sembilan. Tapi kenapa masih ngantuk ya? (Ah, masa sih? Masa sih? Masa sih???)
Menjelang siang, ketika sudah di kantor, saya mendengar kabar kalau salah satu supir kantor saya kecelakaan. Motornya ringsek pagi tadi. Alhamdulillah dia nggak apa-apa karena sudah keburu loncat.
Tanpa bertanya duduk perkaranya, saya langsung menuduh: “Pasti gara-gara ngantuk! Nonton bola ya, dia?!?!”
Hehehe, si Eyi suuzon aja, ya? Berburuk sangka sama event Piala Dunia. Padahal bisa saja mereka ngantuk karena alasan-asalan lain.
Ah, nggak kok... Saya seneng juga ada Piala Dunia. Soalnya, beberapa hari ini, jalanan selalu lengang ketika saya pulang sekitar jam tujuh malam. Sekalian aja tanding bolanya setahun penuh, biar jalanan tetap lancar...
Tuesday, May 23, 2006
Iseng
Minggu siang kemarin, hubby ngantuk.
He’s a morning person, tapi kalau menjelang siang biasanya tergoda untuk tidur lagi –terutama kalau di rumah.
Melihat dia nyaris ketiduran, saya langsung nggak rela. Soalnya, saya nggak ngantuk. Nanti kalau dia tidur, saya ngapain dong? Nonton TV, nggak ada acara bagus. Baca buku, lagi nggak mood.
Akhirnya, saya mencoba segala cara supaya dia nggak ketiduran.
Pertama, saya mendesak supaya dia bergeser. “Aa, awas dooong... Aku mau tidur di sini. Ini kan tempat tidur akyuuuu....” (ketika kami menggunakan kata ganti ‘aku’, berarti bisa dipastikan kami tidak dalam serius mode on)
Hubby bergeser malas-malasan, lalu membalikkan badan.
“Ih, punggungnya jerawatan! Nih, ada yang udah putih! Pencetin ya!”
“Hmmm..”
Saya lalu memencet asal-asalan, pokoknya asal dia nggak ketiduran.
“Aduh!”
“Nih, hampir pecah nih!” (Padahal nggak)
“Aduh!”
.......
“Aduh!”
Dia lalu menjauh dari saya, ke ujung tempat tidur sebelah sana.
“A, kenapa engkau berpaling dari akuuuu...????”
Diam sebentar, lalu saya mulai bernyanyi-nyanyi sendiri.
“Aku sediiiih.....
Duduk sendiriiii.....
Mama pergiiiiii.....
Papa pergiiiiii.....”
(Salah satu lagu dari masa kecil yang nggak pernah saya lupa. Penyanyinya Yoan Tanamal)
Ajaib, hubby langsung mendekat lagi, walaupun matanya masih merem. Mungkin kesian kalau istrinya beneran sedih ;)
“Diam doong... Ngantuk nih!”
“Ooo.. ngantuk, ya? Mau tidur ya? Mau dinyanyiin lagu pengantar tidur nggak?”
“Ssstt.. Diem!” Hubby berbalik badan lagi, memunggungi saya.
“Ya? Ya? Dinyanyiin, ya? Dinyanyiin, ya?”
.............
(Hmmm... nyanyi apa yang annoying, yaaa...?)
Diam sejenak, lalu saya tancap suara:
“Akang haajiiiiiii..... Sindang palit!” (lagu Sunda yang baru saya dengar beberapa hari lalu. Ngga tahu bener atau salah)
“Hehehe...” (eh, ketawa juga dia!)
“Palitna keee.....”
(Berhenti. Saya lupa lanjutan liriknya)
“Palitna ke mana, A’? Ke sungai Ci... apa?”
........... (nggak ngejawab)
“Palitna keee... sungai Ci.. Ci.. Cikokol...” (asal bangget!)
Hehehe...
Ternyata dia beneran ngantuk. Saya pun nyerah. Setelah terbengong-bengong sebentar, saya bangkit, lalu mandi. Sudah hampir azan dzuhur.
He’s a morning person, tapi kalau menjelang siang biasanya tergoda untuk tidur lagi –terutama kalau di rumah.
Melihat dia nyaris ketiduran, saya langsung nggak rela. Soalnya, saya nggak ngantuk. Nanti kalau dia tidur, saya ngapain dong? Nonton TV, nggak ada acara bagus. Baca buku, lagi nggak mood.
Akhirnya, saya mencoba segala cara supaya dia nggak ketiduran.
Pertama, saya mendesak supaya dia bergeser. “Aa, awas dooong... Aku mau tidur di sini. Ini kan tempat tidur akyuuuu....” (ketika kami menggunakan kata ganti ‘aku’, berarti bisa dipastikan kami tidak dalam serius mode on)
Hubby bergeser malas-malasan, lalu membalikkan badan.
“Ih, punggungnya jerawatan! Nih, ada yang udah putih! Pencetin ya!”
“Hmmm..”
Saya lalu memencet asal-asalan, pokoknya asal dia nggak ketiduran.
“Aduh!”
“Nih, hampir pecah nih!” (Padahal nggak)
“Aduh!”
.......
“Aduh!”
Dia lalu menjauh dari saya, ke ujung tempat tidur sebelah sana.
“A, kenapa engkau berpaling dari akuuuu...????”
Diam sebentar, lalu saya mulai bernyanyi-nyanyi sendiri.
“Aku sediiiih.....
Duduk sendiriiii.....
Mama pergiiiiii.....
Papa pergiiiiii.....”
(Salah satu lagu dari masa kecil yang nggak pernah saya lupa. Penyanyinya Yoan Tanamal)
Ajaib, hubby langsung mendekat lagi, walaupun matanya masih merem. Mungkin kesian kalau istrinya beneran sedih ;)
“Diam doong... Ngantuk nih!”
“Ooo.. ngantuk, ya? Mau tidur ya? Mau dinyanyiin lagu pengantar tidur nggak?”
“Ssstt.. Diem!” Hubby berbalik badan lagi, memunggungi saya.
“Ya? Ya? Dinyanyiin, ya? Dinyanyiin, ya?”
.............
(Hmmm... nyanyi apa yang annoying, yaaa...?)
Diam sejenak, lalu saya tancap suara:
“Akang haajiiiiiii..... Sindang palit!” (lagu Sunda yang baru saya dengar beberapa hari lalu. Ngga tahu bener atau salah)
“Hehehe...” (eh, ketawa juga dia!)
“Palitna keee.....”
(Berhenti. Saya lupa lanjutan liriknya)
“Palitna ke mana, A’? Ke sungai Ci... apa?”
........... (nggak ngejawab)
“Palitna keee... sungai Ci.. Ci.. Cikokol...” (asal bangget!)
Hehehe...
Ternyata dia beneran ngantuk. Saya pun nyerah. Setelah terbengong-bengong sebentar, saya bangkit, lalu mandi. Sudah hampir azan dzuhur.
Friday, May 19, 2006
A Nice Quote
Life may not be the party we hoped for.
But while we here, we should dance.
Hey, hey, lucu banget kutipannya.
Bikin semangat.
YAK! BERSEMANGAT! :D
But while we here, we should dance.
Hey, hey, lucu banget kutipannya.
Bikin semangat.
YAK! BERSEMANGAT! :D
Thursday, May 18, 2006
Depresi?
Dari sebuah majalah luar, Okt 2000:
Signs of Low-Grade Depression
1. You feel sad, dissatisfied or pessimistic most of the time, altough you still have days when you feel normal.
2. Your appetite changes.
3. You're tired most of the time.
4. You have insomnia or you're sleeping too much.
5. You're harder on yourself than you should be.
6. You're not working at your peak, and you're having trouble concentrating.
7. Simple decisions somehow take forever.
8. You feel that every day is more or less a struggle.
If you have 2 symptoms-especially the first one-see your doctor for a checkup, and if you're physically healthy, ask for a referral to a mental-health professional.
Dua dari delapan gejala, katanya.
Dan barusan saya mencontreng empat dalam hati.
Signs of Low-Grade Depression
1. You feel sad, dissatisfied or pessimistic most of the time, altough you still have days when you feel normal.
2. Your appetite changes.
3. You're tired most of the time.
4. You have insomnia or you're sleeping too much.
5. You're harder on yourself than you should be.
6. You're not working at your peak, and you're having trouble concentrating.
7. Simple decisions somehow take forever.
8. You feel that every day is more or less a struggle.
If you have 2 symptoms-especially the first one-see your doctor for a checkup, and if you're physically healthy, ask for a referral to a mental-health professional.
Dua dari delapan gejala, katanya.
Dan barusan saya mencontreng empat dalam hati.
Wednesday, April 26, 2006
An Imaginary Conversation with My Little One
Kemarin pagi, di kamar mandi
+ Bunda kok nangis? Sedih, ya?
- Nggak, De. Bunda nggak sedih. Bunda cuma kesel.
+ Kalo kesel kok nangis? Kalo nangis kan berarti sedih...
- ..... Iya, mungkin sedih sedikit.
+ Kenapa, Bunda? Gara-gara 'orang itu' ya?
- Iya, De. Dia-dia lagi, lagi-lagi dia.
+ Bunda jangan kesel, jangan sedih. Kalau Bunda sedih, dede jadi ikutan sedih.
- Aduuh..., maaf ya, Nak. Masa belum lahir aja kamu udah sedih juga. Nanti kalau udah lahir, semoga kamu ngga cengeng kayak Bunda, ya.
+ Makanya Bunda udahan dong nangisnya..
- Bunda udah nggak nangis lagi, kok.
+ ......
- De, cepet gede ya, Nak. Tumbuh yang sehat dan kuat. Nanti kalau Dede udah tujuh bulan di perut Bunda, ayah mau bawa kita pindah dari sini.
+ Kok mesti nunggu sampai tujuh bulan, Bun? Kenapa nggak besok aja?
- Soalnya perjanjian ayah sama bunda memang gitu, De.
+ Pindahnya ke mana sih, Bunda?
- Belum tahu sih, De...
+ Kok belum tahu?
- Bunda sama ayah mau cari-cari dulu. Pengennya, tinggal di tempat yang cuma ada kita bertiga aja: ayah, bunda, dede.
+ Asyiiik...
- Dede seneng?
+ Seneng, Bun!
- Bunda juga. Tos dulu, dong De..
+ Tossss!!!
(Saya menepuk lembut perut yang membuncit, lalu keluar dari kamar mandi)
End of Conversation
===================
+ Bunda kok nangis? Sedih, ya?
- Nggak, De. Bunda nggak sedih. Bunda cuma kesel.
+ Kalo kesel kok nangis? Kalo nangis kan berarti sedih...
- ..... Iya, mungkin sedih sedikit.
+ Kenapa, Bunda? Gara-gara 'orang itu' ya?
- Iya, De. Dia-dia lagi, lagi-lagi dia.
+ Bunda jangan kesel, jangan sedih. Kalau Bunda sedih, dede jadi ikutan sedih.
- Aduuh..., maaf ya, Nak. Masa belum lahir aja kamu udah sedih juga. Nanti kalau udah lahir, semoga kamu ngga cengeng kayak Bunda, ya.
+ Makanya Bunda udahan dong nangisnya..
- Bunda udah nggak nangis lagi, kok.
+ ......
- De, cepet gede ya, Nak. Tumbuh yang sehat dan kuat. Nanti kalau Dede udah tujuh bulan di perut Bunda, ayah mau bawa kita pindah dari sini.
+ Kok mesti nunggu sampai tujuh bulan, Bun? Kenapa nggak besok aja?
- Soalnya perjanjian ayah sama bunda memang gitu, De.
+ Pindahnya ke mana sih, Bunda?
- Belum tahu sih, De...
+ Kok belum tahu?
- Bunda sama ayah mau cari-cari dulu. Pengennya, tinggal di tempat yang cuma ada kita bertiga aja: ayah, bunda, dede.
+ Asyiiik...
- Dede seneng?
+ Seneng, Bun!
- Bunda juga. Tos dulu, dong De..
+ Tossss!!!
(Saya menepuk lembut perut yang membuncit, lalu keluar dari kamar mandi)
End of Conversation
===================
Tuesday, April 04, 2006
Friday, March 10, 2006
Friday, January 20, 2006
:(
Kenapa ya? Makhluk yang namanya cowok biasanya males disuruh ke dokter? Kalau nggak pakai tarik-tarikan urat leher dulu pasti nggak sah. :(
Subscribe to:
Posts (Atom)