Thursday, February 24, 2005

A Conversation, Few Years Ago

Gue:
Gimana seandainya seluruh alam semesta ini cuma latar belakang sebuah film? Gimana seandainya kita semua adalah tokoh-tokoh dalam film yang sedang dibuat –atau mungkin ditonton- oleh Tuhan?
Dan selayaknya sebuah film yang pemeran utamanya PASTI hanya beberapa orang saja, bagaimana kalau gue cuma seorang figuran kecil dan apa pun yang gue lakukan atau katakan sebenarnya ga terlalu berarti, ga penting, dan ga ngaruh.
Mungkin ga, sih?

Seorang teman:
Hmmm..... mungkin aja.
Tapi tenang aja, Ey... Kalau semua ini memang cuma sebuah film, lo sedang duduk di samping pemeran utamanya kok ;-)

Thursday, January 27, 2005

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari

aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang
siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


Petikan dari:
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, 1987


SAPARDI EMANG DAHSYAT!

Thursday, January 20, 2005

Satu Pagi, Sebuah Mikrolet, Seorang Pemuda

Pagi itu -seperti biasa- saya mencegat mikrolet di perempatan lampu merah dekat rumah. Setelah mikrolet jurusan Cawang itu datang, saya -seperti biasa- memilih duduk paling pojok, dekat jendela belakang yang besar itu. Tepat di depan saya, duduk seorang pemuda bertopi, telinganya tersumbat earphone. Ini juga biasa. Yang tidak biasa adalah ketika saya tiba-tiba melihat dia mulai mengangguk-angguk.

Apa yang kamu pikirkan kalau melihat seorang pemuda memakai earphone sambil mengangguk-angguk?
"Ah, dia pasti sedang mengikuti beat musiknya."
Begitu? Iya, saya juga -biasanya- berpikir begitu.

Tapi ada sesuatu yang tidak biasa dari anggukan- anggukan si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.

Bagaimana saya menjelaskannya?
..............................
Dia mengangguk dengan beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak keras menghentak.

Jelas? Belum, ya?
Jadi begini: Kalau satu anggukan = 'tep', maka yang dia lakukan begitu mengangguk adalah 'tepteptepteptep'. Pendek-pendek, cepat, dan agak keras menghentak. Setelah itu diam. Tak lama, dia ber-'tepteptepteptep' lagi.

Terus? Kamu mungkin bertanya, apa yang aneh dari itu? Apa yang 'tidak biasa'? Tidak, seharusnya mungkin tidak aneh, biasa saja. Tapi saya tak bisa menganggap begitu.

Kenapa?
Karena saya tiba-tiba teringat masa kecil saya.
Dulu, jaman SD, saya nyaris selalu punya kebiasaan jelek. Salah satunya -ya, tul!- mengangguk-angguk itu. Beberapa anggukan pendek, cepat, dan agak menghentak.
Saya sendiri tidak tahu kapan kebiasaan itu berawal, atau kenapa. Yang saya ingat, tahu-tahu saya jadi sering mengangguk-angguk. Saya terganggu juga sebenarnya, dan berusaha menghilangkan kebiasaan itu. Kalau keinginan untuk mengangguk datang, saya tahan sekuat mungkin. Tapi biasanya gagal. Tak berapa lama, saya kembali mengangguk-angguk lagi, lebih keras dari biasanya malah, sebagai pelampiasan hasrat mengangguk yang tadi sempat ditahan.

Lalu suatu hari kebiasaan mengangguk itu hilang.
Kok bisa?
Karena saya menggantinya dengan kebiasaan lain.
Bukan jadi menggeleng, tapi berkata 'eb'('e' bedak, bukan 'e' bebek). Ya, betul.
'Eb'. Coba bilang 'eb', tapi katupkan mulutmu. 'Eb', tanpa membuka mulut. Ya, begitu. Tiap beberapa menit sekali, saya spontan berucap 'eb'.

Kebiasaan ini juga akhirnya hilang suatu hari, tapi saya kemudian punya kebiasaan jelek lain (tentunya). Tahu-tahu, saya terbiasa menjulurkan leher. Pendek saja, asal terasa di leher ya sudah.

Masih ada lagi. Saya pernah punya kebiasaan menggosok dan memencet hidung, terutama kalau sedang grogi. Walhasil, hidung saya sekarang adalah organ tubuh yang cukup sering kena sindir orang lain karena bentuknya yang memang mengundang komentar:( Hehehe...

Saraf?
Sepertinya bukan. Toh sekarang saya bisa berhenti dan tak punya kebiasaan jelek lagi. Kata seorang teman yang lulusan fakultas psikologi, saya dulu pasti memiliki tingkat kecemasannya tinggi. Kecemasan itu ditekan sedemikian rupa lalu keluar dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan jelek itu.

Aneh?
Memang. Tapi sepertinya penjelasan soal 'tingkat kecemasan yang tinggi' itu memang masuk akal. Saya dulu MEMANG sering cemas berlebihan, takut pada banyak hal, dan kurang percaya diri. Semua itu masih suka terbawa-bawa sampai sekarang, tapi -syukurlah- dalam taraf yang sudah tak terlalu mengkhawatirkan. Minimal tidak sampai membuat saya mengangguk, ber-'eb', atau menjulurkan leher.


Kembali ke pagi itu, di mikrolet, saat saya bertemu si pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone dan cara mengangguknya mengingatkan saya pada (salah satu) kebiasaan jelek saya dulu.

Saya memalingkan wajah dari dia, tak berani memandang lagi. Bahkan ketika beberapa orang di samping saya turun, saya bergeser menjauh.

Kenapa?
Karena saya tiba-tiba merasa takut kalau anggukannya itu menular. Saya takut kalau tahu-tahu saya terbiasa mengangguk-angguk lagi.

Dari sudut mata, saya melihat dia mengangguk lagi, seketika saya merasa jijik.
Lho? Kenapa mesti jijik?
Mungkin saya tidak jijik pada dia, atau anggukannya. Mungkin saya jijik karena teringat kalau saya dulu punya kebiasaan yang menjijikkan. Tak tahulah, saya nggak ngerti juga. Yang saya tahu, saya makin merasa tidak nyaman berada semikrolet dengan pemuda bertopi yang telinganya tersumbat earphone itu.

Saya mulai menimbang-nimbang. Apa saya harus keluar dari mikrolet itu dan berganti mikrolet lain?
Ah!

Monday, January 03, 2005

1 Januari Kemarin

Terima kasih Tuhan...






...untuk mengurai kusut dalam kepalaku.

Wednesday, December 29, 2004

Kata Driver Kantor tentang Bencana di Aceh

"Bukannya saya ngarepin ketimpa musibah, Mbak, tapi kenapa ya Tuhan nggak ngedatengin bencana besar itu ke Jakarta aja? Padahal Jakarta kan pusatnya segala kemaksiatan, kejahatan. Kenapa justru orang-orang daerah melulu yang ketimpa bencana?"

Thursday, December 23, 2004

50% Padang, 25% Jawa, 25% Sunda

Setahun lagi, dua tahun lagi, lima tahun lagi, tigapuluhtujuh tahun lagi, nggak akan ada yang berubah. It will still be me.

It's just me.

Ralat (Think Positive!!!)

i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time i still have enough time


Running Out of Time

im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time im running out of time


SHOOT! I'M RUNNING OUT OF TIME!!!

Tuesday, December 14, 2004

Pekerjaan ini. Masihkah saya menginginkannya?

Thursday, December 02, 2004

The Perfect Year

i dont need a crowded ballroom
all i really need is here
if you're with me
next year will be
the perfect year..


By.... (lupa penyanyinya)

Thursday, November 25, 2004

Serpihan

Beberapa hari lalu, lagu ini tiba-tiba melintas di kepala:
towet towet
towet towet
senang hatiku.. towet towet
towet towet
baju baruku..

Akhir pekan kemarin, berdiri di kamar mandi, sudah siap mandi, selembar kertas tabloid bekas di tangan, sebuah cerpen di sana. Membaca cerpen, sambil berdiri di kamar mandi, padahal sudah siap mandi (bagi saya, mandi itu perlu persiapan). Cerpennya jelek, jadi saya relakan kertas tabloid itu sebagai bungkus pembalut bekas.

Memandang keluar dari jendela taksi. Hujan. Musim hujan sudah datang. Jakarta basah. Harusnya bersyukur, ya? Atau tidak? Karena hujan biasanya diikuti dengan macet dan banjir. Cuaca begini cuma enak untuk tidur.

Tadi. Menekan sederet nomor ponsel dan lagu pengganti nada sambung itu mengalun.
Have yourself a merry little christmas
Let your heart be light
From now on,
our troubles will be out of sight....
Saya selalu suka lagu ini. Saya jatuh hati pada lagu ini, pada suasana Natal dalam film-film produksi Hollywood.

Sore, bandara Soekarno-Hatta. Es krim A&W cokelat vanila kami ternyata membuat iri gadis kecil yang duduk di sebelah bersama ibunya. Sang ayah terpaksa bangkit dan membelikan es krim untuknya, lalu bangkit lagi dan tergopoh-gopoh mencari tisu basah karena lelehan es krim mengotori muka dan baju si gadis kecil.

Sebuah pertanyaan, "Ibu, andai saja boleh memilih, maukah kamu menerima saya sebagai anakmu?"


Ini serpihan, teman. Saya hanya sedang mengumpulkan serpihan.

Monday, November 22, 2004

Syawal 1425 H

Hai kalian..
Minal Aidin Wal Faidzin...
Maaf lahir batin...
Semoga Lebarannya kemarin asyik..
Ngomong-ngomong, tahun ini kok nggak ada SMS 'seputih salju sebening embun' ya? :D

Wednesday, November 10, 2004

Da Vinci Code

Akhirnya, selesai juga baca Da Vinci Code..

Dan seluruh dunia berkata serempak, "KEMANE AJE, MPOOOK???" :D

Hehehe.. Sudah begitu banyak review, komentar, artikel, tanggapan, kritik, dan pujian terhadap buku ini, jadi dengan penuh kesadaran, saya tidak akan menulis berpanjang-panjang soal Da Vinci Code. Basi.

Satu kata: DAHSYAT!!
Beberapa kata: Rasanya bener-bener seperti nonton film kelas satu. Pace-nya yang cepat, deskripsinya yang mendetail, thriller-nya, dramanya, ceritanya(pasti).

Trus, KALAU MISALNYA saya disuruh menulis komentar untuk backcover Da Vinci Code (yeah right..), maka tulisannya akan berbunyi seperti ini:
"Inilah buku PERTAMA yang membuat saya merasa tidak percaya diri untuk menulis novel."
(Great, kemarin alasannya males, dan sekarang ga PD???) Hehehe..

PS: Buat JABRIK(!), DASAR SPOILER!!! Gara-gara baca postingan kamu, saya jadi tahu duluan siapa dalangnya :( Btw, Liv Tyler sih nggak cocok jadi Sophie. Yang cocok itu Sophie Marceau.

Tuesday, November 09, 2004

Alangkah menakutkannya pertemuan,
karena perpisahan mengintai di belakangnya
Alangkah mengerikannya harap,
karena kecewa menanti di baliknya
Alangkah menyebalkannya janji,
karena ada ingkar walau tak pasti
Alangkah perihnya cinta,
karena benci tinggal sekedip mata..

Friday, October 29, 2004

Always be My Baby

Kemarin kami baru ketawa-tawa, senang-senang, ngopi-ngopi, jalan-jalan, senyum-senyum, sayang-sayang.
Hari ini kami diam-diam, kesal-kesal, ngambek-ngambek, sedih-sedih..

Yah, namanya juga hidup, namanya juga dua orang, namanya juga dua kepala.
.........................................

Jumat ini bau weekend sudah menyengat, jadi walaupun deadline (banget), suasana kantor lebih santai. Supaya nggak terlalu manyun, ambil walkman aja, deh. Sudah ada Mariah Carey di dalamnya. Pencet play. Ceklek.

We were as one
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'll let you fly
'Cause I know in my heart
Our love will never die
............................


Liriknya sih sama sekali tidak pas dengan situasi sekarang, tapi entah kenapa, mungkin karena beatnya, mungkin karena alunan musiknya, badan mulai goyang kiri (TOING!), goyang kanan (TOING!). Sambil dengar musik, tangan membalik-balik majalah. Ada biomini Jackie Kennedy yang ternyata belum pernah saya baca.

You'll always be a part of me
I'm part of you indefinitely
Boy dont you know you cant escape
Ooh darling 'cause you'll always be my baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're ever gonna shake me
Oh darling 'cause you'll always be my baby
............................


Mariah Carey, Jackie Kennedy, artikel menopause yang baru seperempat jadi menggantung di layar monitor..
Lalu tiba-tiba, pertama kalinya sejak entah berapa bulan ini merasa sumpek di kantor, saya merasa sangat rileks.
Hei, ini masih kantor yang sama, kan?
Jadi ingat kata Dewi Lestari, “Vacation is a state of mind”.

I aint gonna cry
And I won't beg you to stay
If you're determined to leave boy
I will not stand in your way
But inevitably you'll be back again
'Cause you know in your heart babe
Our love will never end

I know that you'll be back boy
When your days and your nights get a
little bit colder
I know that you'll be right back baby
Oh baby believe me it's only a matter of time

Selesai. Turun ke bawah untuk makan siang (saya tidak puasa hari ini) lalu berjalan ke bank di gedung belakang (katanya ‘menabung pangkal kaya, pelit pangkal disumpahin’). Mataharinya cukup ramah. Setelah beberapa jam terkurung di gedung ber-AC, jalan-jalan sejenak di luar rupanya menyenangkan.

Balik ke meja, komputer, dan kursi kantor yang amat sangat tidak ergonomis sekali. Pukul satu tigapuluh menit. Shalat Jumat sudah selesai dari tadi pasti. Dan sehabis menuntaskan postingan ini, saya akan meraih gagang telepon dan menghubunginya. Berharap semoga tadi dia juga mendengarkan Mariah Carey (atau apapun) dan sekarang sudah berada dalam suasana hati yang enak. Atau minimal, sudah kangen saya (mungkin nggak ya?).

Ok, here we go. Wish me luck!

Bismillah..

Wednesday, October 20, 2004

Bulan Puasa

Happy fasting everybody, walaupun telat.. (but then again, 'telat' is my middle name).
Selamat Ramadhan 1425 H, selamat puasa. Maap maap kalau ada sala kate, sala tulis, sala komen.. :)


.................................

MAAK!!! LAPER MAAAAKKK!!!
Hehehehehe...

Tuesday, October 12, 2004

For You Know Who

Selamat ulang tahun, Sayang... :)

Semoga selalu sehat..
Semoga panjang umur..
Semoga tambah pinter.. (biar bisa cari beasiswa atau kerjaan di luar negeri, jadi kalau INSYA ALLAH kita nikah dan punya anak, anaknya lahir di luar. huhuhu.. kayaknya keyen aja gichu ;> )
Semoga tambah sabar..(terutama ngadepin saya yang biang telat, berantakan, pemales, dan kadang2 mikirnya ga panjang2 banget. hehehe..)
Semoga lebih rajin olahraga..(biar sehat koook..., bukannya biar langsing. tapi yaaa itu bonus aja sih ;> )
Semoga lebih bisa mikir positif.. (ingat: energy follow the mind energy follow the mind energy follow the mind energy follow the mind..)
Semoga kariernya lebih bagus.. (supaya kalau suatu hari nanti saya jadi penulis kere yang kerjanya di rumah doang, kamu tetap bisa ngebiayaain kita. huehehehehe)

Hmmm... kok doanya buat kepentingan pribadi gini, ya? :D :D

................
................

Di atas semuanya, semoga kamu selalu bahagia dan ikhlas, meskipun sebagian (atau semua) harapan di atas nggak terkabul.
Semoga kamu selalu ingat dan diingat Allah.
Semoga apapun yang terjadi pada kita, kita tetap saling sayang, tetap bersahabat, dan tetap menganggap apa yang kita miliki sekarang sebagai sesuatu yang berharga.

Amin.

Luv u, hunny. Mmmmmmmwahh!!! :)

Mmmm.. Trus, makan-makannya di mana? Huhuhu..teteeeeeep...

Wednesday, October 06, 2004

Kenapa, ya?

Saya ini kenapa, ya?
Sudah beberapa minggu (atau bulan?), saya dihinggapi 'PENYAKIT MALES NGAPA2IN'. Karena itulah blog ini lama terbengkalai. Tunggu, jangan keliru. Males itu memang penyakit bawaan saya sejak dulu. Selama ini sih malesnya masih dalam tahap wajar (MENURUT SAYA!), tapi 'PENYAKIT MALES NGAPA2IN' yang sekarang ini kayaknya parah banget, udah akut.

Penyakit ini tentu ngga bisa dibawa ke dokter, tapi menurut diagnosa pribadi, sepertinya saya jenuh.. Jenuh sama kerjaan, sama rutinitas, jenuh harus bolak-balik Kalimalang-Kuningan tiap hari (desak2an di bus, macet, panas, polusi, bising, bising, bising, bising, PUSING!!).

Lalu gimana?
Enak kali ya, kalo bisa liburan. Bukan, bukan sehari dua, tapi seminggu penuh, minimal.

Trus mau ngapain?
Hmmmm..enak kali ya, kalau bisa ke Lombok. Membenamkan telapak kaki ke pasir putih yang basah, menghirup udara pantai, menanti matahari terbenam.

Okelah. Lombok mungkin terlalu jauh atau terlalu mustahil, saya mungkin akan cukup puas dengan Ancol. Iya, Ancol. IYA, ANCOL!! Menggelar tikar di pinggir pantai, makan nasi rames, dan minum teh tawar dalam kantong plastik yang kalau mau minum harus digigit ujungnya. Hmmm, saya dan adik perempuan saya (yang sama-sama doyan makan) pernah mengeluarkan dalil: 'Tak ada satu tempat pun yang di dunia ini yang lebih cocok untuk makan nasi rames kecuali Pantai Ancol.' :))

Enak kali ya, kalau bisa ke... ke.... mmmm....
Sejujurnya, saya tidak tahu mau ke mana. Anywhere but here, I guess. Kabur seminggu, itu saja. Mungkin saya tidak perlu Ancol, Lombok, pasir putih, atau matahari terbenam. Mungkin saya cuma perlu sebuah ruangan sejuk untuk tidur atau rebahan seharian. Kalau bosan, saya tinggal bangun, menarik sebuah buku dan membaca. Kalau bosan lagi, buku itu tinggal saya lempar lalu ganti dengan buku lain, atau koran, atau majalah. Kalau bosan lagi, saya tinggal menonton TV atau VCD. Kalau masih bosan, saya tinggal rebahan lagi, menutup mata..
Nanti dulu, lusa kemarin saya sudah melakukan itu. Tapi cuma sehari. Kurang lama, berarti..

Wednesday, September 22, 2004

A Prayer

Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother
Dear God, please help my brother

Amen.

Wednesday, September 15, 2004

Teroris dan Torey Hayden

Ia terdiam. Di hadapannya, seorang pria duduk meminum teh. Pria itu anggota kelompok teroris Tamil Tigers yang beberapa detik lalu, entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul di rumahnya dan menodongkan senjata.

Ia tak kaget. Sebagai pendiri salah satu komunitas Buddha di Sri Lanka, ia sudah lama menjadi target pembunuhan Tamil Tigers. Ia tahu, cepat atau lambat, seseorang akan datang dan berusaha merampas nyawanya. Kalau bukan pria yang sedang minum teh itu, pasti orang lain. Jadi ketika pria itu datang, ia sama sekali tidak terkejut.

“Bila Anda mau menembak saya, silakan. Tapi sebelumnya, masuklah dulu dan minum secangkir teh. Ceritakan kenapa Anda begitu ingin membunuh saya. Bagaimanapun, Anda berhutang penjelasan. Anda bisa membunuh saya setelahnya.”

Pria itu –si (calon) pembunuh- terperangah. Hanya sebuah undangan minum teh, memang. Namun bila yang mengundang adalah laki-laki yang sedang ditodongnya dengan senjata?
Singkat cerita, (mungkin) karena kagum dan penasaran, si (calon) pembunuh masuk. Menikmati secangkir teh, berbincang-bincang dengan laki-laki itu, dan akhirnya pulang tanpa melepas tembakan.

Too good to be true? Mungkin. Tapi saya termasuk orang yang lebih suka berpikir positif (setidaknya ‘berusaha’ begitu). Mungkin saja, laki-laki pendiri komunitas Buddha itu memang punya kharisma luar biasa atau aura positif yang begitu pekat (atau apalah namanya) sehingga mampu mempengaruhi si (calon) pembunuh. Mungkin saja, yang kita butuhkan memang cuma telinga untuk menyimak dan pikiran yang terbuka. Jadi, atas asumsi cerita ini benar, it’s simply wonderfull.
(BTW, saya jadi ingat seorang teman yang pernah menyentak saya dengan perkataan, “Kamu tuh maunya mikir yang indah-indah aja, yang bagus-bagus aja. Dunia ini nggak begitu!” Saya lupa kalimat persisnya, tapi saya ingat betul nada sewotnya.)

Kisah pria (calon) pembunuh dan laki-laki target pembunuhannya itu dituturkan pada saya oleh Torey Hayden, seorang psikolog, terapis, pengajar anak-anak luar biasa, sekaligus penulis buku bestseller 'Sheila. Luka Hati Seorang Gadis Kecil'.

..............................................................

Kamis, 9 September 2004 lalu, setelah siang harinya dikejutkan dan dibuat sedih oleh peristiwa meledaknya bom di depan Kedubes Australia, Kuningan, saya sebenarnya cuma ingin cepat pulang. Tapi saya masih punya janji wawancara dengan Torey Hayden pukul tujuh malam. Saya pikir, peristiwa bom Kuningan itu akan membuatnya memundurkan jadwal wawancara ke hari lain. Ternyata saya salah. Torey malah memajukan wawancara ke pukul lima sore.

Jadi berangkatlah saya. Hal pertama yang kami bicarakan begitu bertemu muka adalah –tentu saja- bom tadi siang.
“I wasn’t frightened. I’m very much believe that if it’s my day to die then i shall die and if it isn’t, i wont. So there’s no point worrying about that in the interim.
To me, the terorist is like a child having a tantrum. A child having a tantrum is a child out of control. Nothing is more inappropriate for handling that child than to be afraid of what he’s doing, to be frightened or to be upset by his actions. He’s so overcome by sense of powerlessness, by lack of a voice, by frustration of his situation. He just can’t control it any longer and it explodes. I think it’s the same situation that these terorists are feeling. They’re feeling powerless, they lack of voice, they dont know how else to express themselves than violently. We need sane people around them who can say ‘yes i understand how you feel. But we get to find a different way to solve the problem.’ So i dont feel frightened.”
Lalu barulah saya mendengar kisah percobaan pembunuhan yang gagal itu.

.............................................................

Rasanya tulisan ini harus diakhiri, karena sudah terlalu panjang. Masih banyak yang ingin saya bagi, tapi yah sudahlah. Saya juga belum menemukan kalimat penutup yang pas, tapi yaa.. ya sudah. Sudah saja.
(Huh, malas banget ga sih ending-nya?)