Monday, May 19, 2008

Sedih

Menurut saya, menyedihkan bila seorang perempuan baru dianggap berhasil oleh suami (dan mertuanya) hanya bila rumahnya selalu rapi dan bisa masak.

Apakah dia bekerja dari Senin sampai Jumat, berdesak-desakan tiap sore di kemacetan kota sampai (selalu) merasa pusing dan mual, dan ikut berkontribusi pada keuangan keluarga, itu tentu bukan ukuran (siapa suruh kerja?).

Apakah dia tidak pernah belanja baju, sepatu atau batal ikut kelas yoga bulan ini supaya bisa menyisihkan uang karena masih banyak keperluan, itu tentu hal biasa.

Apakah dia menghabiskan akhir pekannya dengan mengurus anak, satu kali memandikan, dua kali menyeboki, berkali-kali mengganti baju+celana+pampers, mengendong, meredakan tangis, menyiapkan makanan, tiga kali menyuapi berjam-jam sambil hilir-mudik karena si anak tidak mau diam sehingga Senin paginya kaki si perempuan masih pegal-pegal, itu tentu bukan prestasi (ribuan perempuan lain toh mengerjakannya tiap hari?).

......

2 comments:

Jufe said...

tetep ajah buat banyak orang elo perempuan sekaligus ibu yang hebat..gw salah satunya di antara banyak orang yang merasa gitu..

Anonymous said...

Justru menurut saya (sebagai seorang istri-yg-bekerja-di-2-tempat), masyarakat sekarang (maksud saya: bbrp orang dlm keluarga saya) kok kayaknya malah lebih menganggap perempuan (baca: saya) berhasil saat berkarir diluar rumah dan bisa menghasilkan uang? mereka lbh menghargai perempuan yg bisa bekerja dan punya gaji sendiri.

instead of give some respect to those who prefer to stay at home as a full-time housewife.