Ini bahasa Indonesianya:
4 adalah 4 10 adalah 10 4 bukan 10 14 bukan 40
Yang ini bahasa Cinanya:
si shi si shi shi shi si bu shi shi shi si bu shi si shi
Ini kalimat bahasa Cina favorit saya. Kapan-kapan, kalau kita ketemu, saya ajari kalian melafalkannya. Meski ga bisa ngomong bahasa Cina, tapi kl udah bisa ber-si shi si shi shi shi aja sih, pasti berasa jago. Dijamin!!! ;)
Wednesday, March 31, 2004
:) VS :(
Beberapa minggu belakangan ini, kalimat yang sering dilontarkan teman-teman pada saya adalah, "Senyum dong, Ey..." atau "Eyi, senyum!!!" atau "Kenapa, sih? Kok muka lo begitu?"
Iya, nih. Kayaknya perlu belajar senyum lagi.
Iya, nih. Kayaknya perlu belajar senyum lagi.
Wednesday, March 24, 2004
Harusnya
Harusnya di dunia ini ada peraturan:
"Kalau lo lagi bete sama seseorang, lo SAMA SEKALI NGGAK BOLEH melampiaskannya pada orang lain"!
Nggak adil, tauk!
"Kalau lo lagi bete sama seseorang, lo SAMA SEKALI NGGAK BOLEH melampiaskannya pada orang lain"!
Nggak adil, tauk!
Monday, March 22, 2004
About "Mystic River"
Sometimes when you love someone TOO MUCH, your heart explode & you get blind, then at this very point, you're easily fuck up. (eyi)
Saya nonton film ini satu setengah kali. Yang pertama di TIM, janjian ketemu temen. Sambil nunggu,...."Eh, ada Mystic River!" Karena emang pengen nonton, saya beli tiketnya. Satu jam kemudian, HP saya bergetar. Terpaksalah, Mystic Rivernya diakhiri. Baru hari ini saya tahu siapa pembunuh Katie Markum.
A friend: "Kamu gimana, sih? Masa nunggu orang sambil nonton? Mana filmnya emang yang pengen kamu tonton lagi!"
Saya (dalam hati): "Iya juga, ya?"
Saya nonton film ini satu setengah kali. Yang pertama di TIM, janjian ketemu temen. Sambil nunggu,...."Eh, ada Mystic River!" Karena emang pengen nonton, saya beli tiketnya. Satu jam kemudian, HP saya bergetar. Terpaksalah, Mystic Rivernya diakhiri. Baru hari ini saya tahu siapa pembunuh Katie Markum.
A friend: "Kamu gimana, sih? Masa nunggu orang sambil nonton? Mana filmnya emang yang pengen kamu tonton lagi!"
Saya (dalam hati): "Iya juga, ya?"
Friday, March 12, 2004
...
Apa yang kamu rindukan dari masa kecil?
Kalau saya, kemewahan untuk dimaklumi, kesempatan untuk menangis, guling-gulingan, teriak AAAAAAAAAAARRRRRGGGGGGGGGGGGGGGHHHH kapanpun saya mau. Anak kecil mana pun yang nangis sambil guling2an cuma akan mengundang kalimat, "Dasar anak-anak" atau "Anak siapa, sih?" atau "Untung bukan anak gue" atau "Jangan sampe.. gue punya anak kayak gitu". Coba kl saya yg begitu? Bisa dicap sinting.
Saya capek, lahir batin.
Ada bungkusan kosong yang sudah beberapa lama saya seret. Memang kosong, tapi kenapa semakin lama makin terasa berat?
Saya ingat artikel di Kompas Minggu kemarin. "Satu hari, perempuan akan terbangun dan bertanya, 'ke mana perginya diriku?'" Terlalu banyak yang diberikan, sampai tak tersisa ruang untuk diri sendiri.
Kemarin malam, waktu kepala sedang penuh-penuhnya, seorang teman menelepon, berkeluh kesah tentang pacarnya. Pengeeen... bgt bilang, "Gue sayang sama elo, tapi kl curhatnya besok aja gimana?" Tapi kalimat itu juga ngga keluar. Kalau sampai keluar, besok2 dia akan bertanya, "Waktu itu lo kenapa, Ey?" Dan sumpah, i'm not in the mood for explaining things.
Kota ini juga bertambah menyebalkan. Kerumitan yang tak berujung. Bising, kotor, bau, MACET(!!!!!!). Akibatnya, saya harus menunggu malam, baru pulang. Menghabiskan waktu di kantor (dan membuat redpel majalah tetangga berkomentar, "Eyi, kehidupannya cuma di depan komputer itu, ya?"), atau chatting di warnet (di kantor ga bisa chatting!), atau jalan sama teman, atau menghamburkan uang untuk hal-hal kecil yang saking kecilnya sampai membuat saya bingung di pertengahan bulan: 'Duit gue kemane aja, sih?'
Saya pengen sendirian, di tempat yang tenang (sekarang saya tahu kenapa saya betah berlama-lama di kamar mandi. itu satu-satunya tempat di mana saya benar-benar bisa sendirian).
........................
Nggak ah, saya pengen ditemenin. Tapi yang menemani ngga boleh berisik. Diam, diam saja. Jangan bersuara, jangan bertanya, jangan menjelaskan, jangan marah-marah, jangan apa pun juga. Duduk saja, temani saya. Diam.
Kalau saya, kemewahan untuk dimaklumi, kesempatan untuk menangis, guling-gulingan, teriak AAAAAAAAAAARRRRRGGGGGGGGGGGGGGGHHHH kapanpun saya mau. Anak kecil mana pun yang nangis sambil guling2an cuma akan mengundang kalimat, "Dasar anak-anak" atau "Anak siapa, sih?" atau "Untung bukan anak gue" atau "Jangan sampe.. gue punya anak kayak gitu". Coba kl saya yg begitu? Bisa dicap sinting.
Saya capek, lahir batin.
Ada bungkusan kosong yang sudah beberapa lama saya seret. Memang kosong, tapi kenapa semakin lama makin terasa berat?
Saya ingat artikel di Kompas Minggu kemarin. "Satu hari, perempuan akan terbangun dan bertanya, 'ke mana perginya diriku?'" Terlalu banyak yang diberikan, sampai tak tersisa ruang untuk diri sendiri.
Kemarin malam, waktu kepala sedang penuh-penuhnya, seorang teman menelepon, berkeluh kesah tentang pacarnya. Pengeeen... bgt bilang, "Gue sayang sama elo, tapi kl curhatnya besok aja gimana?" Tapi kalimat itu juga ngga keluar. Kalau sampai keluar, besok2 dia akan bertanya, "Waktu itu lo kenapa, Ey?" Dan sumpah, i'm not in the mood for explaining things.
Kota ini juga bertambah menyebalkan. Kerumitan yang tak berujung. Bising, kotor, bau, MACET(!!!!!!). Akibatnya, saya harus menunggu malam, baru pulang. Menghabiskan waktu di kantor (dan membuat redpel majalah tetangga berkomentar, "Eyi, kehidupannya cuma di depan komputer itu, ya?"), atau chatting di warnet (di kantor ga bisa chatting!), atau jalan sama teman, atau menghamburkan uang untuk hal-hal kecil yang saking kecilnya sampai membuat saya bingung di pertengahan bulan: 'Duit gue kemane aja, sih?'
Saya pengen sendirian, di tempat yang tenang (sekarang saya tahu kenapa saya betah berlama-lama di kamar mandi. itu satu-satunya tempat di mana saya benar-benar bisa sendirian).
........................
Nggak ah, saya pengen ditemenin. Tapi yang menemani ngga boleh berisik. Diam, diam saja. Jangan bersuara, jangan bertanya, jangan menjelaskan, jangan marah-marah, jangan apa pun juga. Duduk saja, temani saya. Diam.
Tuesday, March 09, 2004
WHAT?!?!
Pasti ada yang salah, nih...
(Btw, Pip, thanx ya)
I'm Joey Tribbiani from Friends!
Take the Friends Quiz here.
created by
stomps.
(Btw, Pip, thanx ya)
I'm Joey Tribbiani from Friends!
Take the Friends Quiz here.
created by
Friday, March 05, 2004
Wednesday, March 03, 2004
Sosok Tanpa Wujud
Pasti pernah baca Harry Potter, kan? Terus nonton filmnya juga? ....
Btw, kenapa saya sering menyinggung Harry Potter di blog ini ya? Ya
udah, ganti deh.
Pernah baca Lupus, dong? Filmnya juga nggak ketinggalan, kan? (Kok malah Lupus, sih?)
Bagi saya, bertemu orang-orang dari dunia maya itu seperti membaca novel, kemudian menonton filmnya. Saat membaca novel, kepala kita biasanya otomatis melukis sendiri para tokohnya. Buku yang sama akan menghasilkan ratusan, ribuan Lupus atau jutaan Harry Potter yang berbeda (sori nih, balik2nya ke Potter lagi). Lupus di kepala saya mungkin sama sekali tidak mirip dengan yang ada di kepala kamu.
Membaca blog orang lain juga begitu, setidaknya buat saya. Membaca satu blog (apalagi berulang kali) menimbulkan kesan, menciptakan gambaran. Mungkin bukan fisik, tapi karakter, pembawaan.
Tanggal 27-28 Februari kemarin, saya dapat kesempatan bertemu dengan dua belas orang blogger. Acaranya? Trekking ke Cibodas.
Waktu pertama kali ketemu 12 orang itu, saya heran sendiri. Gila, ternyata blog-blog itu memang ada yang punya. Ada sosok di balik setiap kata, kalimat, dan tanda baca di sana. Dan sosok itu sekarang berwujud.
Dari 12 orang, saya paling sering berkunjung ke blognya Atta, Roi, Balq, dan Serny (tp Serny jarang ngapdet :p). Saya juga beberapa kali ke tempat Iqbal, walau ga sering komentar. Belakangan, saya mampir ke blognya Mas Aip dan Ollie karena mau ikutan trekking, tapi belum sempet baca-baca banyak.
Atta, seperti orang-orang lain, saya juga kaget ngelihat kamu. Kalau dilihat dari blognya, Atta itu pasti kalem, jarang ngomong, penuh perenungan :) Ternyata oh ternyata, kamu rame banget, doyan ngakak, dan ngga ada matinya kl lihat kamera. Saya ketipu! Hehehehe...
Tapi kamu juga merasa ketipu sama saya, kan?
"Gue kirain lo tuh rame. Trus kl dilihat dari nama lo, 'eyi', gue pikir lo orangnya kecil."
Hehe, gimana kl kita tukeran blog aja, Ta?
Balq, kamu ngga jauh beda dari bayangan saya. Friendly, santai, doyan jalan (yg terakhir ini cuma kesimpulan dari gambar blognya aja sih). Anyway, makasih buat jadi EO trekking kemarin. Kamu cekatan banget. Bikin kopi, menyulap sandal putus jd nyambung lg (eh, kalo putus sama pacar bisa tolong disambungin juga ga? ;p), nawarin cemilan pas yg lain kecapekan. TOB!
Roi, terus terang saya nggak punya gambaran kamu itu seperti apa. Tiap kali mau nge-klik blog kamu, saya malah kebayang semangka merah di sudut kiri itu. Hehehe.. But it's really nice to finally meet you, satu-satunya orang yang saya kenal yang (dulunya) doyan minum air kolam.. Huihihihi.. Btw, saya gak ngelihat asapnya tuh..
Serny... Wah, yang ini sih ngga usah dikomentarin, deh. Kartunya udah di saya semua. Ya kan, Ser? ;)
Iqbal, nama blog kamu boleh 'hiddenhate', dan gambar blognya juga boleh serem, tapi ternyata kamu orangnya santai, gampang ketawa, dan kayaknya easy going. Gimana rasanya terus2an dijadiin model kayak kemarin?
Mas Aip, nama 'si aip' ini bikin saya ngira Mas Aip itu masih kecil. Cowok kelahiran 1980-an gt.. Heheheheh...sori ya. Sekali lagi, makasih karena Mas Aip dan Mbak Wiena udah mau direpotin kami-kami. Kalian berdua ramah2 dan baik banget. And wonderful hosts too!
Ollie, thank you buat tebengan pergi-pulangnya. Saya kagum banget sama stamina kamu. Jarang minum, langkah ringan, ga pake ngos-ngosan, masih bisa nyanyi-nyanyi dan nantangin saya buat ngerequest lagu!!!
Desy, Eko, Detta, Chipie, saya baru melongok ke blog kalian setelah kita ketemu kemarin. Kalau tadi saya pakai perumpamaan 'seperti baca Lupus kemudian nonton filmnya', buat kalian perumpamaannya adalah 'seperti nonton Ca Bau Kan kemudian baru baca bukunya'(apaan sih, Eyi???). Hehehehe..
Desy, kamu kalem banget, baik aslinya maupun blognya. Nggak tahu deh kalau sama si Abang. Hehehehe.. Makasih udah ngebawain payung saya. Waktu itu saya rebet banget ya? ;)
Eko, temen seperjalanan, kamu jauh lebih rame di blog. Kayak saya juga kali ;p (Hehe, takut diprotes Serny, nih). Thanx udah gantian nyetir sama Ollie sampe rumah saya. Keep in touch, ya.
Detta & Chipie, makasih banyak buat half hour show-nya. Ngelihat kalian milih2 sate aja udah seru! ;D Det, salam buat Om Akbar. Pesennya: Sing sabar, sing tawakal, Om..
Buat kalian semua, makasih makasih makasih. Kalian semua baik. Sori kalau saya bikin salah. Dan terakhir, kalau saya diem, jangan dikira nggak menikmati suasana. It's just me :)
Pernah baca Lupus, dong? Filmnya juga nggak ketinggalan, kan? (Kok malah Lupus, sih?)
Bagi saya, bertemu orang-orang dari dunia maya itu seperti membaca novel, kemudian menonton filmnya. Saat membaca novel, kepala kita biasanya otomatis melukis sendiri para tokohnya. Buku yang sama akan menghasilkan ratusan, ribuan Lupus atau jutaan Harry Potter yang berbeda (sori nih, balik2nya ke Potter lagi). Lupus di kepala saya mungkin sama sekali tidak mirip dengan yang ada di kepala kamu.
Membaca blog orang lain juga begitu, setidaknya buat saya. Membaca satu blog (apalagi berulang kali) menimbulkan kesan, menciptakan gambaran. Mungkin bukan fisik, tapi karakter, pembawaan.
Tanggal 27-28 Februari kemarin, saya dapat kesempatan bertemu dengan dua belas orang blogger. Acaranya? Trekking ke Cibodas.
Waktu pertama kali ketemu 12 orang itu, saya heran sendiri. Gila, ternyata blog-blog itu memang ada yang punya. Ada sosok di balik setiap kata, kalimat, dan tanda baca di sana. Dan sosok itu sekarang berwujud.
Dari 12 orang, saya paling sering berkunjung ke blognya Atta, Roi, Balq, dan Serny (tp Serny jarang ngapdet :p). Saya juga beberapa kali ke tempat Iqbal, walau ga sering komentar. Belakangan, saya mampir ke blognya Mas Aip dan Ollie karena mau ikutan trekking, tapi belum sempet baca-baca banyak.
Atta, seperti orang-orang lain, saya juga kaget ngelihat kamu. Kalau dilihat dari blognya, Atta itu pasti kalem, jarang ngomong, penuh perenungan :) Ternyata oh ternyata, kamu rame banget, doyan ngakak, dan ngga ada matinya kl lihat kamera. Saya ketipu! Hehehehe...
Tapi kamu juga merasa ketipu sama saya, kan?
"Gue kirain lo tuh rame. Trus kl dilihat dari nama lo, 'eyi', gue pikir lo orangnya kecil."
Hehe, gimana kl kita tukeran blog aja, Ta?
Balq, kamu ngga jauh beda dari bayangan saya. Friendly, santai, doyan jalan (yg terakhir ini cuma kesimpulan dari gambar blognya aja sih). Anyway, makasih buat jadi EO trekking kemarin. Kamu cekatan banget. Bikin kopi, menyulap sandal putus jd nyambung lg (eh, kalo putus sama pacar bisa tolong disambungin juga ga? ;p), nawarin cemilan pas yg lain kecapekan. TOB!
Roi, terus terang saya nggak punya gambaran kamu itu seperti apa. Tiap kali mau nge-klik blog kamu, saya malah kebayang semangka merah di sudut kiri itu. Hehehe.. But it's really nice to finally meet you, satu-satunya orang yang saya kenal yang (dulunya) doyan minum air kolam.. Huihihihi.. Btw, saya gak ngelihat asapnya tuh..
Serny... Wah, yang ini sih ngga usah dikomentarin, deh. Kartunya udah di saya semua. Ya kan, Ser? ;)
Iqbal, nama blog kamu boleh 'hiddenhate', dan gambar blognya juga boleh serem, tapi ternyata kamu orangnya santai, gampang ketawa, dan kayaknya easy going. Gimana rasanya terus2an dijadiin model kayak kemarin?
Mas Aip, nama 'si aip' ini bikin saya ngira Mas Aip itu masih kecil. Cowok kelahiran 1980-an gt.. Heheheheh...sori ya. Sekali lagi, makasih karena Mas Aip dan Mbak Wiena udah mau direpotin kami-kami. Kalian berdua ramah2 dan baik banget. And wonderful hosts too!
Ollie, thank you buat tebengan pergi-pulangnya. Saya kagum banget sama stamina kamu. Jarang minum, langkah ringan, ga pake ngos-ngosan, masih bisa nyanyi-nyanyi dan nantangin saya buat ngerequest lagu!!!
Desy, Eko, Detta, Chipie, saya baru melongok ke blog kalian setelah kita ketemu kemarin. Kalau tadi saya pakai perumpamaan 'seperti baca Lupus kemudian nonton filmnya', buat kalian perumpamaannya adalah 'seperti nonton Ca Bau Kan kemudian baru baca bukunya'(apaan sih, Eyi???). Hehehehe..
Desy, kamu kalem banget, baik aslinya maupun blognya. Nggak tahu deh kalau sama si Abang. Hehehehe.. Makasih udah ngebawain payung saya. Waktu itu saya rebet banget ya? ;)
Eko, temen seperjalanan, kamu jauh lebih rame di blog. Kayak saya juga kali ;p (Hehe, takut diprotes Serny, nih). Thanx udah gantian nyetir sama Ollie sampe rumah saya. Keep in touch, ya.
Detta & Chipie, makasih banyak buat half hour show-nya. Ngelihat kalian milih2 sate aja udah seru! ;D Det, salam buat Om Akbar. Pesennya: Sing sabar, sing tawakal, Om..
Buat kalian semua, makasih makasih makasih. Kalian semua baik. Sori kalau saya bikin salah. Dan terakhir, kalau saya diem, jangan dikira nggak menikmati suasana. It's just me :)
Wednesday, February 18, 2004
Tuesday, February 17, 2004
Musim Kawin
Iya, kan? Iya, kan? Sekarang musim kawin, kan? Coba hitung, berapa undangan yang datang beberapa minggu belakangan ini. Coba hitung, berapa banyak janur yang harus kamu lalui ketika sedang menuju tempat resepsi perkawinan seorang teman atau kerabat.
Teman-teman saya menikah, teman-temannya teman-teman saya menikah, sepupu-sepupu saya menikah, adik saya...rencananya juga menikah tahun ini.
Mungkin karena bulan haji. Bulan baik. Mungkin karena Valentine juga. Love is in the air. Mungkin karena umur. Katanya, umur segini memang sudah sewajarnya mendapat undangan lebih banyak dari biasanya.
I always love wedding. Satu-satunya yang nggak enak cuma menanggapi pertanyaan, "Mana cowoknya? Kok nggak kelihatan? Kapan nyusul? Udah ada calon, belum sih?"
Truz, mungkin karena terbawa suasana, semua orang tiba-tiba gatel jadi mak comblang dadakan.
Percakapan langsung I
Bokap: "Tadi di pesta, Tante *** nanyain kamu, Ey. Katanya, 'Si Eyi udah lulus, kan? Udah kerja? Jodohin aja ama anak gue.' "
Nyokap: "Ah, mama ngga mau besanan sama dia. Nyebelin. Pokoknya kamu jangan sama anaknyalah."
(yee...yang mau juga siapa?)
Percakapan langsung II
Nyokap (lagi): Temen mama, Tante **** dari kemarin2 pengen ngenalin kamu ke anaknya. Dia udah tiga kali ngomong, lho!
Percakapan langsung III
...sekonyong-konyong...
Temen kantor: Kamu mau nggak, aku kenalin sama adiknya pacarku?
(Hah? Lho, kok tiba-tiba ngomong gini?)
Via telpon
temen SMA: Hai, Ey. Bla bla bla bla bla... Eh, si ITU kabarnya gimana? Oh, udah putus? Wah, bagus dooong.... Berarti gue bisa ngejodohin elo sama si *****. Aduuh, dia tuh anaknya baiiiik... banget.
Via YM:
temen kuliah: blablabla..
larilarikecil: blablablabla..
temen kuliah: Lo sekarang lagi ada cowok, nggak?
larilarikecil: Hehehe, nggak.
temen kuliah: Mau nggak gue kenalin sama temen gue?
neruifhcweutgfirjwhfwioaj?!?!?!?!?!
Lagi ada apa, sih? Do I miss something here?
Teman-teman saya menikah, teman-temannya teman-teman saya menikah, sepupu-sepupu saya menikah, adik saya...rencananya juga menikah tahun ini.
Mungkin karena bulan haji. Bulan baik. Mungkin karena Valentine juga. Love is in the air. Mungkin karena umur. Katanya, umur segini memang sudah sewajarnya mendapat undangan lebih banyak dari biasanya.
I always love wedding. Satu-satunya yang nggak enak cuma menanggapi pertanyaan, "Mana cowoknya? Kok nggak kelihatan? Kapan nyusul? Udah ada calon, belum sih?"
Truz, mungkin karena terbawa suasana, semua orang tiba-tiba gatel jadi mak comblang dadakan.
Percakapan langsung I
Bokap: "Tadi di pesta, Tante *** nanyain kamu, Ey. Katanya, 'Si Eyi udah lulus, kan? Udah kerja? Jodohin aja ama anak gue.' "
Nyokap: "Ah, mama ngga mau besanan sama dia. Nyebelin. Pokoknya kamu jangan sama anaknyalah."
(yee...yang mau juga siapa?)
Percakapan langsung II
Nyokap (lagi): Temen mama, Tante **** dari kemarin2 pengen ngenalin kamu ke anaknya. Dia udah tiga kali ngomong, lho!
Percakapan langsung III
...sekonyong-konyong...
Temen kantor: Kamu mau nggak, aku kenalin sama adiknya pacarku?
(Hah? Lho, kok tiba-tiba ngomong gini?)
Via telpon
temen SMA: Hai, Ey. Bla bla bla bla bla... Eh, si ITU kabarnya gimana? Oh, udah putus? Wah, bagus dooong.... Berarti gue bisa ngejodohin elo sama si *****. Aduuh, dia tuh anaknya baiiiik... banget.
Via YM:
temen kuliah: blablabla..
larilarikecil: blablablabla..
temen kuliah: Lo sekarang lagi ada cowok, nggak?
larilarikecil: Hehehe, nggak.
temen kuliah: Mau nggak gue kenalin sama temen gue?
neruifhcweutgfirjwhfwioaj?!?!?!?!?!
Lagi ada apa, sih? Do I miss something here?
Monday, February 16, 2004
In Love with the Past
"Kok tanda tangan lo arahnya dari belakang ke depan, sih?"
Kalimat ini sering terlontar kl ada yang melihat saya menandatangani sesuatu.
"Iya. Soalnya gue orang yang ga pernah bisa melepas masa lalu. Maunya noleh ke belakang."
Ini jawaban saya. Bercanda, sebenarnya. Tapi kalau dipikir-pikir, ada benernya juga.
Nggak tahu kenapa dan kapan sadarnya, saya suka berbagai hal yang berkonotasi 'lama', 'kuno','jebot'.
Saya pecinta buku bekas. Selain murah (ini kecintaan saya satu lagi: cinta BARANG MURAH!), saya suka pemikiran bahwa buku itu pernah dimiliki orang lain -entah siapa, di satu tempat -entah di mana, pada satu waktu, -entah kapan. Bukannya tidak senang dengan buku baru yang bersih dan masih dalam plastik, tapi ada sesuatu dari halaman-halaman kecoklatan yang aromanya khas dan kadang menyisakan jejak si pemilik lama.
'Nickolas, Michael, London 84' - dari buku kumpulan cerita HC Andersen
(London? Lalu bagaimana si buku bisa sampai di Depok? Mm... mungkin Nickolas dan Michael itu anak diplomat yang ayahnya ditugaskan di Indonesia. Atau mereka kebetulan sedang berlibur di Indonesia. Waktu kembali ke London, buku itu tertinggal di kamar hotel lalu ditemukan seorang roomboy yang kemudian menjualnya beserta koran-koran lama. Lalu si buku berpindah dari satu tangan ke tangan lain sampai akhirnya saya beli dalam sebuah bazar buku di kampus FISIP UI tahun '99. Atau mungkin sejarahnya sama sekali lain dari yang saya bayangkan. Siapa tahu?)
'Untuk Kariani yang lagi nganggur. Semoga suka bukunya. Luv,... (tanda tangannya nggak kebaca), 14 Februari 89' - dari "13 Espionage Stories"
(14 Februari? So maybe this is a valentine's gift? .... Kariani marah karena dikhianati pacarnya, lalu semua barang pemberian si pacar dikumpulkan di halaman belakang untuk dibakar. Sedetik sebelum menuangkan bensin, adik laki-lakinya yang berpikiran praktis dan agak materialistis melempar ide: "Ngapain dibakar? Mendingan dijual semua, terus duitnya buat makan-makan, deh."
Atau.. Kariani ternyata menikah dengan pria lain. Satu malam sang suami menemukan buku itu dalam kardus, "Lho, Ma? Kok kado valentine dari si kampret masih disimpen sih? Aku nggak mau tahu, pokoknya buku ini harus disingkirkan!!!
Atau... mungkin tak ada kaitannya dengan Valentine sama sekali. Masa kado Valentinenya buku tentang spionase, sih?)
'Liem Ie Nio, 1954' - dari "Christmas Carol", Charles Dickens (1954? Mama saya bahkan belum lahir)
Saya penikmat musik oldies. Sampai sekarang, saya tidak tahu banyak soal siapa menyanyikan apa, lagu ini dipopulerkan tahun berapa, dst, tapi setiap mendengar lagu jaman dulu, saya selalu senang. Walau nggak sesenang itu sampai rela berburu ke mana-mana...(pikir-pikir, saya memang tidak pernah BENAR-BENAR suka dengan satu jenis barang sampai jadi kolektor fanatik)
Saya penggemar film-film lama, terutama film Indonesia tahun '70-an, terutama lagi yang bintangnya Rano Karno. Rasanya nggak pernah bosan menonton "Gita Cinta dari SMA" dan sekuelnya, "Puspa Indah Taman Hati". Tiap kali diputar di TV, saya pasti nonton. Saya juga suka film-filmnya Ateng & Iskak, apalagi "Ateng Minta Kawin". They're just terific. Terus, saya nggak pernah kapok nonton Warkop versi mahasiswa. Meskipun sudah hapal di mana bagian-bagian lucunya, masih bisa ketawa.
Saya suka "My Girl", "Forest Gump", "Grease", salah satunya karena settingnya lama.
Saya TERAMAT SANGAT TERTARIK SEKALI dengan ide penjelajahan waktu; mesin yang melintasi batas dan ruang. Kalau suatu hari mesin semacam itu tercipta, saya rela jadi kelinci percobaan. Dan daripada mengintip masa depan, saya lebih ingin kembali ke masa lalu.
Saya jarang membuang barang. Alasannya: kenangan. Saya punya botol minyak kayu putih kosong yang sudah 10 tahun saya simpan karena si botol mengingatkan saya akan satu minggu menyenangkan yang pernah saya alami. Saya punya pensil 2B super pendek yang saya pinjam dari seorang kecengan di bangku SMP. Saya menyimpan surat, tiket kereta, tiket bioskop, segepok struk wartel, bahkan bon makan; Semua yang mengingatkan saya pada pacar pertama.
...
So I guess, if I had to be one of the character in Charles Dickens's Christmas Carol, I'd choose 'the Ghost of the Past'.
Kalimat ini sering terlontar kl ada yang melihat saya menandatangani sesuatu.
"Iya. Soalnya gue orang yang ga pernah bisa melepas masa lalu. Maunya noleh ke belakang."
Ini jawaban saya. Bercanda, sebenarnya. Tapi kalau dipikir-pikir, ada benernya juga.
Nggak tahu kenapa dan kapan sadarnya, saya suka berbagai hal yang berkonotasi 'lama', 'kuno','jebot'.
Saya pecinta buku bekas. Selain murah (ini kecintaan saya satu lagi: cinta BARANG MURAH!), saya suka pemikiran bahwa buku itu pernah dimiliki orang lain -entah siapa, di satu tempat -entah di mana, pada satu waktu, -entah kapan. Bukannya tidak senang dengan buku baru yang bersih dan masih dalam plastik, tapi ada sesuatu dari halaman-halaman kecoklatan yang aromanya khas dan kadang menyisakan jejak si pemilik lama.
'Nickolas, Michael, London 84' - dari buku kumpulan cerita HC Andersen
(London? Lalu bagaimana si buku bisa sampai di Depok? Mm... mungkin Nickolas dan Michael itu anak diplomat yang ayahnya ditugaskan di Indonesia. Atau mereka kebetulan sedang berlibur di Indonesia. Waktu kembali ke London, buku itu tertinggal di kamar hotel lalu ditemukan seorang roomboy yang kemudian menjualnya beserta koran-koran lama. Lalu si buku berpindah dari satu tangan ke tangan lain sampai akhirnya saya beli dalam sebuah bazar buku di kampus FISIP UI tahun '99. Atau mungkin sejarahnya sama sekali lain dari yang saya bayangkan. Siapa tahu?)
'Untuk Kariani yang lagi nganggur. Semoga suka bukunya. Luv,... (tanda tangannya nggak kebaca), 14 Februari 89' - dari "13 Espionage Stories"
(14 Februari? So maybe this is a valentine's gift? .... Kariani marah karena dikhianati pacarnya, lalu semua barang pemberian si pacar dikumpulkan di halaman belakang untuk dibakar. Sedetik sebelum menuangkan bensin, adik laki-lakinya yang berpikiran praktis dan agak materialistis melempar ide: "Ngapain dibakar? Mendingan dijual semua, terus duitnya buat makan-makan, deh."
Atau.. Kariani ternyata menikah dengan pria lain. Satu malam sang suami menemukan buku itu dalam kardus, "Lho, Ma? Kok kado valentine dari si kampret masih disimpen sih? Aku nggak mau tahu, pokoknya buku ini harus disingkirkan!!!
Atau... mungkin tak ada kaitannya dengan Valentine sama sekali. Masa kado Valentinenya buku tentang spionase, sih?)
'Liem Ie Nio, 1954' - dari "Christmas Carol", Charles Dickens (1954? Mama saya bahkan belum lahir)
Saya penikmat musik oldies. Sampai sekarang, saya tidak tahu banyak soal siapa menyanyikan apa, lagu ini dipopulerkan tahun berapa, dst, tapi setiap mendengar lagu jaman dulu, saya selalu senang. Walau nggak sesenang itu sampai rela berburu ke mana-mana...(pikir-pikir, saya memang tidak pernah BENAR-BENAR suka dengan satu jenis barang sampai jadi kolektor fanatik)
Saya penggemar film-film lama, terutama film Indonesia tahun '70-an, terutama lagi yang bintangnya Rano Karno. Rasanya nggak pernah bosan menonton "Gita Cinta dari SMA" dan sekuelnya, "Puspa Indah Taman Hati". Tiap kali diputar di TV, saya pasti nonton. Saya juga suka film-filmnya Ateng & Iskak, apalagi "Ateng Minta Kawin". They're just terific. Terus, saya nggak pernah kapok nonton Warkop versi mahasiswa. Meskipun sudah hapal di mana bagian-bagian lucunya, masih bisa ketawa.
Saya suka "My Girl", "Forest Gump", "Grease", salah satunya karena settingnya lama.
Saya TERAMAT SANGAT TERTARIK SEKALI dengan ide penjelajahan waktu; mesin yang melintasi batas dan ruang. Kalau suatu hari mesin semacam itu tercipta, saya rela jadi kelinci percobaan. Dan daripada mengintip masa depan, saya lebih ingin kembali ke masa lalu.
Saya jarang membuang barang. Alasannya: kenangan. Saya punya botol minyak kayu putih kosong yang sudah 10 tahun saya simpan karena si botol mengingatkan saya akan satu minggu menyenangkan yang pernah saya alami. Saya punya pensil 2B super pendek yang saya pinjam dari seorang kecengan di bangku SMP. Saya menyimpan surat, tiket kereta, tiket bioskop, segepok struk wartel, bahkan bon makan; Semua yang mengingatkan saya pada pacar pertama.
...
So I guess, if I had to be one of the character in Charles Dickens's Christmas Carol, I'd choose 'the Ghost of the Past'.
Tuesday, February 03, 2004
Jagain Mbak War
Di depan rumah saya ada neon box biru putih bertuliskan Wartel Global Com. Kapan tepatnya si neon box itu berdiri di sana, saya lupa. Wartelnya sendiri, kalau nggak salah, dari tahun 2000. Ekses krisis moneter. Waktu itu si bokap terpaksa jual beli mobil (iya, jual mobil, beli peralatan wartel).
Karena namanya Global Com, banyak orang yang ketipu. Awal-awal buka, banyak yang masuk dan celingak-celinguk, "Internetnya di mana, Mbak?" Pas dijawab, "Nggak ada", mereka nanya lagi, "Kok namanya pake 'com'?"
Jagain wartel itu seperti ngejaga bayi. Nggak bisa ditinggal, maksudnya. Sejak ada wartel, kami sekeluarga jarang pergi dengan formasi lengkap. Minimal harus ada satu orang yang tinggal buat jaga wartel. Puncaknya, Lebaran kemarin, saya dan adek nggak ke mana-mana pas hari pertama. Alasan nyokap, "Sayang kl wartelnya ditinggal. Lagi rame, nih." Saya nyengir, adek saya ngamuk.
Jaga wartel itu mesti sabar, terutama menghadapi mereka yang udah nelpon tapi nggak bawa uang :p Kejadian ini cukup sering. Ada yang uangnya kurang dikit, ada yang kurang banyak (biasanya yang model gini harus ninggalin KTP). Trus mereka sambil senyum malu-malu akan berkata, "Bentar ya, Mbak. Saya ambil duit dulu." Banyak yang balik, ada juga yang nggak. Ada juga IBU-IBU(!!) yang setelah menelepon puluhan ribu (!!!) bisa dengan santainya ngomong 'nggak bawa uang'. Diminta ninggalin KTP, nggak bawa KTP. Nah, lho! Lain lagi nih orang! Begitu kami nyerah dan bilang, "Ya udah, deh, Bu", dia bukannya keluar, malah masuk KBU lagi. "Lho lho lho? Ealah..Bu, kok malah mau nelpon lagi?!?!?"
Jadi penjaga wartel kadang-kadang terasa seperti bartender atau bencong salon, yang banyak denger curhatan pelanggan. Selama kami sekeluarga gantian jaga, udah banyak cerita yang kami tampung. Saya sendiri beberapa kali menangkap basah beberapa perempuan yang nangis pas nelpon atau setelah nelpon (pengen banget bisa sekadar nyapa, 'kenapa, mbak?' tapi belum tentu dia suka ditanya, kan?).
Waktu itu, malam-malam, ada cewek datang dan ngakunya sih sedang dikejar-kejar orang. Dia sembunyi sekitar setengah jam di balik meja wartel, sambil nelpon temennya, minta dijemput. Kepalanya pakai wig, kakinya tidak beralas, tubuhnya dibalut tank top, dan pakai celana ketat (bukan mau menghakimi, ini cuma penggambaran cewek itu :p). Untung, dia akhirnya dijemput temannya.
Yang agak serem (minimal buat saya) juga ada. Waktu itu ada bapak-bapak datang. Nyokap yang kebetulan lagi jaga. Setelah curhat bla bla bla tentang kondisi rumah tangganya, dia tahu-tahu ngomong, "Gimana kalau saya bunuh aja istri saya, Bu?" Waaaaaaa......
(Tx, Don)
Karena namanya Global Com, banyak orang yang ketipu. Awal-awal buka, banyak yang masuk dan celingak-celinguk, "Internetnya di mana, Mbak?" Pas dijawab, "Nggak ada", mereka nanya lagi, "Kok namanya pake 'com'?"
Jagain wartel itu seperti ngejaga bayi. Nggak bisa ditinggal, maksudnya. Sejak ada wartel, kami sekeluarga jarang pergi dengan formasi lengkap. Minimal harus ada satu orang yang tinggal buat jaga wartel. Puncaknya, Lebaran kemarin, saya dan adek nggak ke mana-mana pas hari pertama. Alasan nyokap, "Sayang kl wartelnya ditinggal. Lagi rame, nih." Saya nyengir, adek saya ngamuk.
Jaga wartel itu mesti sabar, terutama menghadapi mereka yang udah nelpon tapi nggak bawa uang :p Kejadian ini cukup sering. Ada yang uangnya kurang dikit, ada yang kurang banyak (biasanya yang model gini harus ninggalin KTP). Trus mereka sambil senyum malu-malu akan berkata, "Bentar ya, Mbak. Saya ambil duit dulu." Banyak yang balik, ada juga yang nggak. Ada juga IBU-IBU(!!) yang setelah menelepon puluhan ribu (!!!) bisa dengan santainya ngomong 'nggak bawa uang'. Diminta ninggalin KTP, nggak bawa KTP. Nah, lho! Lain lagi nih orang! Begitu kami nyerah dan bilang, "Ya udah, deh, Bu", dia bukannya keluar, malah masuk KBU lagi. "Lho lho lho? Ealah..Bu, kok malah mau nelpon lagi?!?!?"
Jadi penjaga wartel kadang-kadang terasa seperti bartender atau bencong salon, yang banyak denger curhatan pelanggan. Selama kami sekeluarga gantian jaga, udah banyak cerita yang kami tampung. Saya sendiri beberapa kali menangkap basah beberapa perempuan yang nangis pas nelpon atau setelah nelpon (pengen banget bisa sekadar nyapa, 'kenapa, mbak?' tapi belum tentu dia suka ditanya, kan?).
Waktu itu, malam-malam, ada cewek datang dan ngakunya sih sedang dikejar-kejar orang. Dia sembunyi sekitar setengah jam di balik meja wartel, sambil nelpon temennya, minta dijemput. Kepalanya pakai wig, kakinya tidak beralas, tubuhnya dibalut tank top, dan pakai celana ketat (bukan mau menghakimi, ini cuma penggambaran cewek itu :p). Untung, dia akhirnya dijemput temannya.
Yang agak serem (minimal buat saya) juga ada. Waktu itu ada bapak-bapak datang. Nyokap yang kebetulan lagi jaga. Setelah curhat bla bla bla tentang kondisi rumah tangganya, dia tahu-tahu ngomong, "Gimana kalau saya bunuh aja istri saya, Bu?" Waaaaaaa......
(Tx, Don)
Friday, January 30, 2004
Pe eR 2004
Tahun 2004 ini, Pe eR saya adalah 'to be more impulsive'.
Caranya begini:
1. Belajar bilang TIDAK ketika pengen bilang TIDAK
2. Belajar NONJOK ketika emang pengen NONJOK
3. Belajar untuk MARAH-MARAH ketika lagi pengen MARAH
4. Belajar bilang, "DIEM LO, BANGSAT!" ketika orang yang sedang bicara itu memang sudah harus dibungkam
Di blog ini Isman pernah berkomentar, "Being an emotional bulimic is never a good thing". Iya juga, ya. Tapi buat saya yang sudah hampir seperempat abad hidup dengan menelan hampir semua emosi negatif, 'being an emotional bulimic' really is an achievement.
*Sigh* Right now I just want to explode..
Caranya begini:
1. Belajar bilang TIDAK ketika pengen bilang TIDAK
2. Belajar NONJOK ketika emang pengen NONJOK
3. Belajar untuk MARAH-MARAH ketika lagi pengen MARAH
4. Belajar bilang, "DIEM LO, BANGSAT!" ketika orang yang sedang bicara itu memang sudah harus dibungkam
Di blog ini Isman pernah berkomentar, "Being an emotional bulimic is never a good thing". Iya juga, ya. Tapi buat saya yang sudah hampir seperempat abad hidup dengan menelan hampir semua emosi negatif, 'being an emotional bulimic' really is an achievement.
*Sigh* Right now I just want to explode..
Monday, January 26, 2004
Kayaknya Bener, Deh ;)
-Sensitive- You're Sensitive, and you'd like to
stay that way. Sorry,listened to a bit too much
Jewel there. You're sweet and very emotionally
charged. You definitely love the person you're
with, and always want to know how they're
feeling so you can make sure they're happy.
What Kind of Girlfriend Are You?
brought to you by Quizilla
Tuesday, January 20, 2004
Bete II
Semalam, di rumah...
Masuk kamar, ganti baju, *GUBRAK*, tidur..
...................................
"Ey, bangun Ey. Ada Ally McBeal."
"Hmmm.."
"Ally McBeal, Ey!"
"Mmmm.."
Pagi ini, di kantor...
"Kemarin gue mau SMS elo, I'. Kan Sting jadi bintang tamu di Ally McBeal."
"HAH! STING?!!? DI ALLY MCBEAL?? HUAAAAA.... NYESEEEL.."
Masuk kamar, ganti baju, *GUBRAK*, tidur..
...................................
"Ey, bangun Ey. Ada Ally McBeal."
"Hmmm.."
"Ally McBeal, Ey!"
"Mmmm.."
Pagi ini, di kantor...
"Kemarin gue mau SMS elo, I'. Kan Sting jadi bintang tamu di Ally McBeal."
"HAH! STING?!!? DI ALLY MCBEAL?? HUAAAAA.... NYESEEEL.."
Bete I
Kalau saya nggak bisa memahami seseorang (dengan kelakukan tertentu yang tidak terlalu menyenangkan), saya lalu berusaha sekadar maklum. Biasanya berhasil.
Tapi kadang-kadang -seperti sekarang, misalnya- memaklumi terus-terusan itu CAPEK!!!! Bikin BETE!!!!!
Tapi kadang-kadang -seperti sekarang, misalnya- memaklumi terus-terusan itu CAPEK!!!! Bikin BETE!!!!!
Friday, January 16, 2004
Tea in the Sahara
My sister and i, have this wish before we die. And it may sounds strange. As if our minds are deranged. Please don't ask us why. Beneath the sheltering sky. We have the strange obsession. You have the means in your posession.
Tea in the Sahara with you...
Tea in the Sahara with you...
The young man agreed. He would satisfy their need. So they danced for his pleasure. With the joy you could not measure. They would wait for him here. The same place every year. Beneath the sheltering sky. Across the desert he would fly.
Tea in the Sahara with you...
Tea in the Sahara with you...
The sky turned to black. Would he ever come back. They would climb a high dune. They would pray to the moon. But he'd never return. So the sisters would burn. As their eyes searched the land. With their cups still full of sand.
Tea in the Sahara with you...
Beberapa hari yang lalu, di kantor, waktu kepala saya pusing dan hidung meler, lagu ini mengalun terus-menerus di kepala. Setiap buka mulut untuk nyanyi, yang keluar cuma "tea in the Sahara with you.., tea in the Sahara with you.." I couldn't think of any other song! Judulnya -seperti reffrainnya- Tea in the Sahara. The Police, best band evah'! Saya cuma pernah dengar satu album, Greatest Hitsnya, dan nggak ada satu pun lagu di album itu yang saya nggak suka.
Saya baru tahu The Police tahun 1999. Seorang laki-laki memperkenalkan mereka. Dari laki-laki itu juga, saya yang waktu itu cuma tahu lagu-lagu top forty, jadi ngeh sama grup-grup band dan penyanyi lama: The Who, The Doors, ELP, Deep Purple, Led Zeppelin, Matt Monro (ooh, I love his song: "Softly as I Leave You"), John Denver (and I'm KREEZZZYY of "Annie's Song"!!!), Sinatra...
Sekarang, setelah empat tahun putus dari dia, kami sudah benar-benar jadi sahabat. Semua perasaan, keinginan, impian, sudah lama lenyap. Tapi ternyata -selain kenangan- ada satu yang dia tinggalkan buat saya. Satu yang sampai sekarang nggak bisa lepas.
Tea in the Sahara with you...
Tea in the Sahara with you...
(But actually..., I'd rather have coffee :p)
Tea in the Sahara with you...
Tea in the Sahara with you...
The young man agreed. He would satisfy their need. So they danced for his pleasure. With the joy you could not measure. They would wait for him here. The same place every year. Beneath the sheltering sky. Across the desert he would fly.
Tea in the Sahara with you...
Tea in the Sahara with you...
The sky turned to black. Would he ever come back. They would climb a high dune. They would pray to the moon. But he'd never return. So the sisters would burn. As their eyes searched the land. With their cups still full of sand.
Tea in the Sahara with you...
Beberapa hari yang lalu, di kantor, waktu kepala saya pusing dan hidung meler, lagu ini mengalun terus-menerus di kepala. Setiap buka mulut untuk nyanyi, yang keluar cuma "tea in the Sahara with you.., tea in the Sahara with you.." I couldn't think of any other song! Judulnya -seperti reffrainnya- Tea in the Sahara. The Police, best band evah'! Saya cuma pernah dengar satu album, Greatest Hitsnya, dan nggak ada satu pun lagu di album itu yang saya nggak suka.
Saya baru tahu The Police tahun 1999. Seorang laki-laki memperkenalkan mereka. Dari laki-laki itu juga, saya yang waktu itu cuma tahu lagu-lagu top forty, jadi ngeh sama grup-grup band dan penyanyi lama: The Who, The Doors, ELP, Deep Purple, Led Zeppelin, Matt Monro (ooh, I love his song: "Softly as I Leave You"), John Denver (and I'm KREEZZZYY of "Annie's Song"!!!), Sinatra...
Sekarang, setelah empat tahun putus dari dia, kami sudah benar-benar jadi sahabat. Semua perasaan, keinginan, impian, sudah lama lenyap. Tapi ternyata -selain kenangan- ada satu yang dia tinggalkan buat saya. Satu yang sampai sekarang nggak bisa lepas.
Tea in the Sahara with you...
Tea in the Sahara with you...
(But actually..., I'd rather have coffee :p)
Friday, January 09, 2004
DIAM!
Bila hanya diam aku tak tahu.
Batu juga diam kamu kan bukan batu.
(Ya atau Tidak, Iwan Fals)
Bagaimana bisa mengerti.
Sedang kita belum berpikir.
Bagaimana bisa dianggap diam.
Sedang kita belum bicara.
(Awang-awang, Iwan Fals)
Aku coba untuk tak merasa.
Hindari kejamnya dunia.
Namun senantiasa.
Menjadi khayal semata.
Kau diam ... membisu ...
(Diam Membisu, Betrayer)
Takkan diam, diam, diam.
Kan diam, diam, diam.
(Takkan Diam, Vessel)
Kau marah padaku, aku diam. Kau maki diriku, aku diam.
Kau ludahi aku, aku diam.
Kau usir diriku, aku diam.
...Kau tunjuk mukaku, aku diam.
Kau hina diriku, aku diam.
Kau jambak rambutku, aku diam.
Kau paksa ku berbuat, ku tak diam.
(Diam, Potret)
Berapa lama diam .
Cermin katakan bangkit.
Pohon-pohon terkurung.
Kura-kura terbius.
(Panggilan dari Gunung, Iwan Fals)
Kuletakkan sejenak beban memberat.
Duduk diam pikiran mengawang.
Ternyata langit tak sebiru dulu.
Kita alpa terabaikan selalu.
(Dunia Baru, KLa Project)
...Untuk seorang teman -suami satu istri, ayah dua anak- yang sudah seminggu ini diam.
Thursday, January 08, 2004
SMS (Menye-menye 2)
Sesaat sebelum menyebrang, pahaku bergetar. Bukan, itu telepon genggam dalam saku celana. Keypad active..., opening... (sebentar lagi, sebentar lagi..) DUAR!!!! Tubuhku melayang. Jauh, jauh. Sebelum semuanya, menghilang dari pandangan, menjelma kenangan, cuma satu, hanya satu yang mengganggu pikiran: SMS tadi, adakah itu kamu?
Subscribe to:
Posts (Atom)